Beranda blog Halaman 9

Kehangatan di Elelim: Saat Prajurit TNI dan Warga Papua Menjalin Persaudaraan

0

Kepedulian di Tanah Papua, Satgas Yonif 521/DY Bangun Kedekatan dengan Warga Elelim

YALIMO,TelusuR.ID – Kehadiran prajurit TNI di wilayah Papua Pegunungan tidak hanya menjalankan tugas pengamanan, tetapi juga membangun hubungan sosial yang erat dengan masyarakat. Hal itu terlihat dalam kegiatan anjangsana dan silaturahmi yang dilakukan personel Satgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan Yonif 521/DY di Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Senin (15/6/2026).

Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, para prajurit mendatangi rumah-rumah warga untuk berdialog secara langsung. Mereka mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat, berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat komunikasi sosial yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Satgas Yonif 521/DY untuk terus menjaga kedekatan dengan masyarakat, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat di wilayah penugasan.

Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., mengatakan bahwa silaturahmi merupakan salah satu pendekatan penting dalam pembinaan teritorial yang bertujuan membangun rasa saling percaya dan mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat.

“Kami ingin terus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai aparat yang bertugas menjaga keamanan wilayah, tetapi juga sebagai sahabat dan keluarga yang siap membantu. Kedekatan seperti ini menjadi modal penting dalam menciptakan suasana yang aman, damai, dan harmonis,” ujarnya.

Menurut Rahadyan, melalui interaksi langsung dengan warga, personel Satgas dapat memahami kondisi riil yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, berbagai program bantuan dan kegiatan sosial yang dijalankan dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan warga setempat.

Kehadiran prajurit Satgas Yonif 521/DY mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satu tokoh masyarakat Distrik Elelim, Bapak Kapela, mengaku senang dengan perhatian dan kepedulian yang selama ini ditunjukkan para prajurit kepada warga.

Ia menilai keberadaan Satgas tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga turut membantu berbagai kegiatan kemasyarakatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami merasa senang karena bapak-bapak TNI sering datang, berkomunikasi dengan masyarakat, dan membantu warga. Hubungan yang sudah baik ini kami harapkan terus terjaga demi keamanan dan kesejahteraan bersama,” katanya.

Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna tersebut, Satgas Yonif 521/DY kembali menunjukkan bahwa pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugas di Papua. Di tengah berbagai tantangan wilayah, kehadiran prajurit tidak hanya menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga membangun jembatan persaudaraan, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan rasa saling percaya antara TNI dan masyarakat Papua.

Dengan semangat kepedulian dan kebersamaan, Satgas Yonif 521/DY terus berkomitmen mendukung pembangunan wilayah dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua Pegunungan, demi terciptanya kondisi yang aman, damai, dan sejahtera.

Tembus Kampus Impian: 98 Santri MAN 3 Jombang Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Lolos SNBT 2026

0

JOMBANG, TelusuR.id – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Jombang kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam berkualitas tinggi di Jawa Timur. Madrasah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini sukses menorehkan prestasi gemilang dalam skala nasional.

Prestasi membanggakan tersebut lahir dari keberhasilan 98 peserta didiknya yang dinyatakan lolos dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2026. Puluhan santri tersebut berhasil mengamankan kursi panas di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta favorit di seluruh penjuru Indonesia.

Capaian luar biasa ini tidak didapatkan dengan cara yang instan oleh para peserta didik. Mereka harus melewati serangkaian proses persiapan panjang yang penuh dengan tantangan akademis, kerja keras yang menguras energi, serta untaian doa yang tidak pernah putus di lingkungan pesantren.

Sejumlah kampus top tanah air pun berhasil ditaklukkan oleh para santri MAN 3 Jombang ini. Di antaranya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), serta Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Selain itu, sebaran kelulusan juga mencakup Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Jember, Universitas Palangkaraya, Universitas Trunojoyo Madura, UPN Veteran, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Politeknik Negeri Bali, hingga Politeknik Negeri Samarinda.

Tidak ketinggalan, rumpun Universitas Islam Negeri (UIN) juga menjadi pelabuhan studi para santri. Beberapa di antaranya sukses diterima di UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Salah satu peserta didik yang berhasil mengamankan tiket kelulusan tersebut adalah Nadifa Aulia, siswi kelas XII-9. Nadifa dinyatakan diterima di program studi yang persaingannya sangat ketat, yakni Ilmu Komunikasi di UPN “Veteran” Jawa Timur.

Nadifa menuturkan bahwa perjalanannya menuju gerbang kelulusan SNBT sama sekali tidak berjalan dengan mudah. Ia harus berjuang keras menjaga konsistensi belajar di tengah padatnya aktivitas pesantren, mengikuti bimbingan belajar intensif, serta aktif berkonsultasi dengan guru.

“Saat pengumuman, saya hanya berharap mendapatkan hasil terbaik. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos SNBT dan diterima di kampus impian. Tantangan terbesar saya adalah menghadapi soal-soal tingkat kesulitan tinggi yang butuh pemahaman mendalam,” ungkap Nadifa penuh syukur.

Kisah haru dan bahagia juga datang dari siswa kelas XII lainnya, Abdullah Muhammad Ar-Rusyd. Remaja ini mengaku sempat diliputi rasa tidak percaya ketika melihat layar pengumuman berwarna hijau yang menyatakan dirinya lolos seleksi nasional tersebut.

Rasa tidak percaya itu muncul karena berkaca pada hasil uji coba (try out) berkala yang ia ikuti sebelumnya sering kali belum mencapai nilai memuaskan. Namun, berkat ketekunan belajar yang dievaluasi setiap hari dan dukungan penuh dari keluarga, ia mampu membuktikan kapasitasnya.

“Perasaan saya campur aduk antara senang dan tidak percaya. Namun, selama satu tahun terakhir saya terus berusaha keras, mengikuti bimbingan belajar, dan mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Alhamdulillah usaha tersebut membuahkan hasil,” tuturnya ramah.

Sementara itu, Zaky Fadlurrohman, siswa dari kelas XII-1, ikut membagikan sudut pandangnya mengenai peta kompetisi SNBT tahun ini. Menurut Zaky, tantangan terbesar yang dihadapinya adalah materi ujian yang cenderung rumit dan membutuhkan nalar kritis yang tajam.

Zaky menjelaskan bahwa banyak soal ujian yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills). Bahkan, beberapa materi yang diujikan pada umumnya baru dipelajari oleh para mahasiswa di tingkat semester awal perkuliahan.

“Awalnya saya kesulitan karena beberapa materi belum pernah dipelajari secara khusus di sekolah. Namun, setelah mendapat materi tambahan dari madrasah dan rutin latihan soal secara bertahap, saya mulai memahami konsepnya hingga akhirnya bisa lolos,” jelas Zaky.

Keberhasilan massal 98 peserta didik ini menjadi bukti autentik bahwa perpaduan antara kerja keras, kedisiplinan belajar, serta kekuatan spiritual di lingkungan pondok pesantren merupakan kunci utama dalam meraih prestasi. Faktor lingkungan madrasah yang suportif terbukti mampu mendongkrak potensi siswa.

Merespons capaian emas ini, Pelaksana Harian (PLH) Kepala MAN 3 Jombang, KH Syifa’ Malik, M.Pd.I., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi tertingginya. Beliau berharap capaian ini dapat menjadi keran inspirasi yang terus mengalir bagi adik-adik kelas mereka kelak.

“Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi peserta didik lainnya untuk terus berjuang meraih cita-cita. Jangan pernah mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan akademik, karena proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil,” pungkas KH Syifa’ Malik menutup keterangannya.

Dari Shanghai ke Likupang: Pelajaran Besar tentang Teknologi, Pariwisata, dan Masa Depan Indonesia

0

Likupang, Mutiara Maritim yang Tak Boleh Kehilangan Jiwa

Oleh: Abdullah Rasyid
Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan
Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN

TelusuR.ID – Sabtu dan Minggu pekan lalu, kami, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN, melakukan Studi Strategis ke Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Perjalanan ini lebih dari sekadar kunjungan akademik. Ia menjadi ruang refleksi tentang bagaimana teori pemerintahan, kebijakan publik, pembangunan daerah, teknologi, dan realitas sosial bertemu dalam satu lanskap yang nyata.

Beberapa waktu sebelumnya, kami memperoleh kesempatan belajar di Fudan University, Shanghai, salah satu pusat pemikiran global mengenai tata kelola modern. Di sana, kami melihat bagaimana konsep digital governance, kecerdasan buatan, dan evidence-based policy diterjemahkan menjadi sistem pemerintahan yang cepat, terukur, dan berbasis data.

Namun Minahasa Utara menghadirkan pelajaran yang berbeda sekaligus tak kalah penting. Jika Shanghai menunjukkan bagaimana teknologi dapat mempercepat pelayanan publik, maka Likupang mengingatkan bahwa inti pembangunan tetaplah manusia. Tata kelola yang baik bukan hanya soal kecanggihan sistem digital, melainkan kemampuan negara menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, identitas budaya, dan keberlanjutan ruang hidup masyarakat.

Di situlah Likupang menjadi menarik. Kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah laboratorium hidup tentang bagaimana Indonesia mengelola pembangunan di tengah arus investasi, pariwisata, dan tuntutan pertumbuhan ekonomi.

Dari bibir Pantai Likupang, alasan kawasan ini dipilih sebagai salah satu destinasi prioritas nasional terasa begitu jelas. Hamparan pasir putih, laut berwarna biru jernih, pulau-pulau kecil yang menghijau, serta suasana yang masih relatif alami menghadirkan lanskap yang sulit diabaikan.

Namun membaca Likupang hanya sebagai kartu pos pariwisata adalah kekeliruan.

Likupang bukan semata pantai, resort, atau kawasan ekonomi khusus. Ia adalah ruang hidup masyarakat pesisir, simpul budaya maritim, sekaligus etalase masa depan pembangunan Indonesia di kawasan timur.

Karena itu, pertanyaan mendasar yang harus dijawab bukanlah seberapa banyak wisatawan yang dapat didatangkan, melainkan apakah Indonesia mampu membangun destinasi kelas dunia tanpa mengorbankan akar sosial, budaya, dan ekologinya.

Selama bertahun-tahun, wajah pariwisata Sulawesi Utara lebih banyak diwakili Manado dan Bunaken. Bunaken telah lama menjadi ikon wisata bahari dunia. Sementara Likupang tumbuh dalam ketenangan, menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tersentuh.

Kini situasinya berubah. Melalui Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional Manado-Likupang, kawasan ini ditempatkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru sektor pariwisata nasional.

Modal yang dimiliki pun tidak sedikit. Ada Bunaken yang telah mendunia. Ada posisi strategis dalam kawasan Coral Triangle yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang sebagai pengungkit investasi. Ada kekayaan budaya Minahasa, dukungan Bandara Sam Ratulangi, serta potensi wisata bahari, budaya, kuliner, desa wisata, hingga ekowisata yang dapat saling terhubung dalam satu ekosistem.

Namun sejarah pembangunan pariwisata di berbagai daerah menunjukkan satu hal: potensi besar selalu datang bersama risiko yang besar pula.

Bali menghadapi tekanan akibat kepadatan wisatawan dan semakin terbatasnya ruang hidup masyarakat lokal. Labuan Bajo berhadapan dengan tantangan konservasi lingkungan. Borobudur harus menjaga keseimbangan antara kunjungan wisata dan daya dukung kawasan.

Pelajaran yang muncul sangat jelas. Banyak destinasi mengalami degradasi bukan karena kurang promosi, melainkan karena terlalu dieksploitasi tanpa tata kelola yang memadai.

Likupang tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.

Masa depan kawasan ini tidak bisa semata-mata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan. Ukuran keberhasilannya harus lebih substansial: apakah masyarakat lokal ikut merasakan manfaat ekonomi, apakah UMKM tumbuh, apakah nelayan memperoleh peluang baru, apakah desa wisata berkembang, dan apakah lingkungan tetap terjaga.

Pertanyaan yang lebih penting lagi adalah apakah laut tetap bersih, terumbu karang tetap hidup, dan budaya lokal tetap menjadi identitas utama destinasi.

Di sinilah konsep tata kelola modern menemukan relevansinya.

Pariwisata abad ke-21 tidak cukup dibangun melalui promosi dan pembangunan fisik semata. Ia membutuhkan data yang akurat, sistem pengelolaan yang terintegrasi, pemetaan daya dukung lingkungan, serta kemampuan membaca dampak sosial dan ekonomi secara berkelanjutan.

Data harus menjadi dasar pengambilan keputusan. Arus wisatawan harus dapat dipantau. Dampak lingkungan harus diukur. Distribusi manfaat ekonomi harus dapat dievaluasi. Masyarakat lokal harus menjadi bagian dari perencanaan, bukan sekadar objek pembangunan.

Peringatan para pemikir dunia menjadi relevan dalam konteks ini.

Pakar kecerdasan buatan dari University of California, Berkeley, Stuart Russell, pernah mengingatkan bahwa tantangan terbesar manusia bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan institusi untuk mengelolanya secara bijaksana.

Sementara ekonom MIT, Daron Acemoglu, menegaskan bahwa teknologi hanya akan membawa manfaat jika diarahkan melalui kebijakan yang inklusif.

Dalam konteks Likupang, pertanyaannya sederhana: apakah investasi dan teknologi akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, atau justru membuat mereka menjadi penonton di tanahnya sendiri?

Karena itu, pengembangan Likupang harus berangkat dari paradigma baru. Dunia pariwisata kini bergerak meninggalkan konsep mass tourism menuju pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Wisatawan modern tidak lagi sekadar mencari tempat yang indah. Mereka mencari pengalaman yang otentik, dekat dengan budaya lokal, menghargai lingkungan, dan memiliki dampak positif bagi masyarakat setempat.

Likupang memiliki semua modal untuk menjawab tren tersebut.

Kawasan ini tidak boleh tumbuh hanya sebagai kumpulan hotel dan pantai eksotis. Likupang harus menjadi destinasi yang menawarkan cerita, budaya, pengalaman maritim, kekayaan kuliner, dan kehangatan masyarakat Minahasa.

Karena itu, Manado, Bunaken, dan Likupang perlu dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem pariwisata.

Manado berfungsi sebagai gerbang utama dan pusat layanan. Bunaken menjadi mahkota wisata bahari yang harus dijaga keberlanjutannya. Sementara Likupang berkembang sebagai destinasi premium yang menawarkan pengalaman baru.

Konsep Integrated Manado-Bunaken-Likupang Tourism Corridor menjadi penting karena wisatawan modern tidak lagi melihat destinasi sebagai titik-titik yang terpisah. Mereka mencari pengalaman yang terhubung, mulai dari aksesibilitas, atraksi wisata, kuliner, budaya, hingga konservasi.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi masih besar. Konsentrasi kunjungan masih bertumpu pada lokasi tertentu. Konektivitas antarwilayah perlu diperkuat. Tekanan terhadap ekosistem laut masih menjadi isu. Risiko bencana alam juga harus menjadi bagian dari perencanaan.

Dengan kata lain, Likupang membutuhkan lebih dari sekadar promosi besar-besaran. Kawasan ini membutuhkan manajemen destinasi yang serius.

Manajemen destinasi berarti memastikan infrastruktur terhubung dengan produk wisata, pelabuhan terintegrasi dengan wisata bahari, bandara tersambung dengan paket perjalanan yang jelas, dan event pariwisata mampu menggerakkan UMKM lokal.

Lebih jauh lagi, masyarakat harus ditempatkan sebagai pemilik manfaat utama.

Pengembangan kawasan tidak dapat hanya menjadi proyek pemerintah atau investor. Ia harus menjadi kerja kolaboratif yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, akademisi, komunitas lokal, hingga masyarakat adat.

Pariwisata modern pada dasarnya adalah seni mengorkestrasi berbagai kepentingan agar bergerak menuju tujuan yang sama.

Namun arah orkestrasi itu harus jelas.

Likupang perlu diarahkan pada konsep high-value tourism—wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, menghargai budaya lokal, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Keunggulan kawasan ini sesungguhnya sudah tersedia: wisata bahari, penyelaman, ekowisata, wellness tourism, gastronomi, desa wisata, budaya Minahasa, hingga eksplorasi pulau-pulau kecil.

Di saat yang sama, Likupang juga harus belajar dari Bunaken.

Laut bukan sekadar objek wisata. Laut adalah ruang hidup masyarakat. Terumbu karang bukan dekorasi destinasi. Ia merupakan fondasi ekosistem yang menopang kehidupan.

Karena itu, pembangunan marina, resort, maupun infrastruktur pendukung harus tunduk pada prinsip dasar yang tidak boleh ditawar: jangan sampai pariwisata merusak alasan utama wisatawan datang.

Begitu pula dengan budaya Minahasa.

Hotel mewah dapat dibangun di mana saja. Pantai indah juga tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Namun identitas budaya, cerita masyarakat, tradisi pesisir, bahasa, musik, kuliner, dan keramahan lokal adalah keunggulan yang tidak bisa direplikasi.

Jika Likupang ingin menjadi destinasi kelas Asia Pasifik, maka ia tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai tanah Minahasa.

Karena itu, pengembangan kawasan ini setidaknya harus menjawab tiga agenda besar sekaligus: agenda ekologis, agenda sosial, dan agenda tata kelola.

Lingkungan harus dilindungi melalui pengelolaan sampah, perlindungan terumbu karang, serta sistem pemantauan berbasis data. Masyarakat lokal harus menjadi aktor utama dalam rantai nilai pariwisata. Dan tata kelola harus dibangun secara lintas sektor, lintas wilayah, serta berbasis bukti.

Di titik inilah pelajaran dari Shanghai dan Likupang bertemu.

Shanghai menunjukkan bagaimana teknologi dan data dapat memperkuat pemerintahan. Likupang mengingatkan bahwa teknologi hanya bernilai ketika digunakan untuk menjaga manusia, budaya, dan alam.

Pemerintahan masa depan bukan hanya pemerintahan yang digital. Pemerintahan masa depan adalah pemerintahan yang mampu menggunakan teknologi secara bijaksana demi keberlanjutan kehidupan.

Pada akhirnya, pariwisata yang baik bukan hanya soal mendatangkan orang. Pariwisata yang baik adalah ketika wisatawan datang dengan hormat, tinggal dengan nyaman, membelanjakan uangnya secara adil, lalu pulang membawa cerita baik tentang tempat yang mereka kunjungi.

Lebih dari itu, masyarakat lokal harus merasakan bahwa hidup mereka menjadi lebih baik, bukan semakin terpinggirkan.

Hari ini, Likupang berada di persimpangan penting. Kawasan ini bisa menjadi model keberhasilan pariwisata Indonesia Timur yang berkelas, berkelanjutan, dan inklusif. Namun ia juga bisa tergelincir menjadi destinasi yang ramai sesaat lalu dibebani sampah, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan manfaat ekonomi.

Pilihan itu bergantung pada kualitas tata kelola yang dibangun sejak sekarang.

Karena itu, Likupang harus dibangun dengan data, bukan sekadar promosi. Dengan keberpihakan kepada masyarakat, bukan hanya investasi. Dengan kesadaran ekologis, bukan sekadar ambisi pertumbuhan ekonomi.

Likupang adalah mutiara maritim Indonesia. Namun mutiara hanya akan tetap bernilai jika cangkangnya tetap terjaga.

Lautnya, budayanya, masyarakatnya, dan alamnya adalah cangkang itu.

Jika semua itu hilang, yang tersisa hanyalah nama destinasi tanpa jiwa.

Tugas kita bukan hanya membuat dunia datang ke Likupang. Tugas yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa ketika dunia datang, Likupang tetap menjadi Likupang: indah, lestari, berbudaya, cerdas, dan bermartabat.

Mengapa Kapolda Riau Herymen Jadi Perbincangan Usai Lahirnya Nona Seroja di Tesso Nilo?

0

Nona Seroja Lahir di Tesso Nilo, Simbol Harapan Konservasi dan Kepemimpinan Humanis Kapolda Riau

PEKANBARU,TelusuR.ID – Kelahiran seekor anak gajah Sumatra di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Riau, menjadi kabar menggembirakan di tengah berbagai tantangan pelestarian lingkungan yang dihadapi Indonesia. Peristiwa tersebut tidak hanya menandai bertambahnya populasi satwa langka yang dilindungi, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya kepedulian dan keberpihakan terhadap alam.

Anak gajah betina yang lahir dari indukan bernama Ria di Camp Flying Squad Tesso Nilo itu diberi nama **Nona Seroja** oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan atau yang akrab disapa Herymen. Nama tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Herymen ingin menghadirkan simbol harapan melalui filosofi bunga seroja yang mampu tumbuh dan mekar di tengah lingkungan yang keruh tanpa kehilangan keindahan dan kemurniannya.

Dalam keterangannya kepada detikcom, Herymen menegaskan bahwa Tesso Nilo bukan sekadar kawasan hutan, melainkan aset ekologis dan warisan bangsa yang harus dijaga bersama. Pandangan tersebut mencerminkan komitmennya yang tidak hanya berfokus pada tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga terhadap keberlangsungan lingkungan hidup yang menjadi penopang kehidupan masyarakat Riau.

Di tengah berbagai persoalan yang membayangi kawasan konservasi, mulai dari degradasi hutan hingga konflik satwa dan manusia, kehadiran Kapolda Riau dalam mendukung upaya pelestarian Tesso Nilo dinilai menjadi bentuk kepemimpinan yang memberi teladan. Herymen tidak hanya hadir dalam kapasitas seremonial, melainkan menunjukkan kepedulian nyata terhadap isu-isu strategis yang menentukan masa depan daerah.

Bagi banyak pihak, langkah tersebut menunjukkan wajah kepemimpinan yang humanis dan progresif. Herymen dinilai memahami bahwa keamanan tidak hanya berbicara soal penegakan hukum, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Apresiasi terhadap komitmen tersebut disampaikan Ketua Gerakan Hijau untuk Indonesia sekaligus Pengurus Besar PMII, Abduh Alfatih. Menurutnya, perhatian Kapolda Riau terhadap kelestarian Tesso Nilo menjadi contoh bahwa aparat negara dapat mengambil peran strategis dalam mendorong kesadaran lingkungan.

“Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan telah menunjukkan bahwa menjaga keamanan daerah tidak dapat dipisahkan dari menjaga alamnya. Kerusakan lingkungan pada akhirnya akan melahirkan berbagai persoalan sosial, konflik, kemiskinan ekologis, hingga ancaman bagi generasi mendatang,” kata Abduh.

Ia menilai sosok Herymen menghadirkan perspektif baru dalam kepemimpinan publik, yakni mengintegrasikan aspek keamanan dengan tanggung jawab ekologis. Menurut Abduh, langkah-langkah yang dilakukan Kapolda Riau menunjukkan bahwa institusi kepolisian juga dapat menjadi motor penggerak dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.

“Herymen memberi pesan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya hadir saat masalah terjadi, tetapi juga harus hadir untuk mencegah lahirnya masalah di masa depan. Salah satunya dengan menjaga alam dan ekosistem yang menjadi sumber kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Abduh bahkan menyebut Herymen sebagai salah satu figur pemimpin yang memiliki sensitivitas ekologis kuat. Baginya, perhatian Kapolda Riau terhadap kelahiran Nona Seroja dan keberlangsungan Tesso Nilo merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masa depan generasi mendatang.

“Bagi kami, Herymen adalah role model pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Beliau tidak hanya berbicara tentang pentingnya menjaga alam, tetapi juga menunjukkan keberpihakan yang nyata melalui tindakan dan perhatian yang konsisten,” tegasnya.

Lebih jauh, Abduh menilai filosofi yang terkandung dalam nama Nona Seroja sangat relevan dengan kondisi lingkungan saat ini. Di tengah berbagai tantangan yang mengancam ekosistem, masih terdapat harapan untuk melakukan pemulihan apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama.

“Nona Seroja adalah simbol bahwa harapan itu masih ada. Alam masih memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki keadaan. Namun kesempatan tersebut harus dijawab dengan tindakan nyata dan komitmen bersama,” katanya.

Menurut Abduh, semangat yang ditunjukkan Kapolda Riau melalui kepeduliannya terhadap konservasi layak menjadi inspirasi nasional. Di tengah tuntutan pembangunan yang semakin kompleks, dibutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu menempatkan isu lingkungan sebagai bagian dari agenda strategis bangsa.

“Menjaga gajah Sumatra, menjaga hutan, menjaga sungai, dan menjaga ekosistem berarti menjaga masa depan Indonesia. Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti Herymen yang memahami bahwa keamanan, pembangunan, dan kelestarian lingkungan bukanlah hal yang bertentangan, melainkan harus berjalan bersama,” ujarnya.

Kelahiran Nona Seroja pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kabar tentang bertambahnya populasi gajah Sumatra. Peristiwa ini menjadi simbol harapan, sekaligus potret kepemimpinan yang tidak hanya hadir menjaga keamanan masyarakat, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian alam sebagai warisan berharga bagi generasi yang akan datang.

Tawa Ceria dan Tangis Haru di Pentas Seni As Salamah Jombang: Saat Doa Guru dan Berkah Kiai Bertemu

0

JOMBANG, TelusuR.id – Pagi itu, riuh rendah suara anak-anak memecahkan keheningan di kawasan Rejoso, Peterongan. Suasana penuh kebahagiaan, kebanggaan, sekaligus rasa haru yang mendalam seketika menyelimuti panggung pementasan yang megah namun terasa sangat hangat.

Momentum emosional tersebut terjadi dalam acara penyerahan kembali amanah siswa-siswi serta Pentas Seni As Salamah Full Day School, Jombang, pada Senin (15/6/2026). Agenda tahunan ini bukan sekadar seremoni kelulusan biasa, melainkan panggung pembuktian tumbuh kembang karakter sang buah hati.

Acara yang dikonsep dengan apik ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting daerah. Tampak hadir Anggota DPRD Kabupaten Jombang, KH Syarif Hidayatullah (Gus Sentot), dan Ketua Yayasan Al Khodijah Pondok Pesantren Darul Ulum, Bu Nyai Hj. Muflihah Tamim.

Kehadiran para tokoh ini bersanding erat dengan jajaran kepala sekolah, asatidz, serta wali murid yang duduk rapi. Sepanjang prosesi acara berlangsung, jalinan rasa haru dan bahagia begitu kuat merasuk ke dalam sanubari setiap hadirin yang datang.

Sorot mata bangga berkaca-kaca dari para orang tua tidak lepas dari panggung utama. Di atas pentas, anak-anak mereka menampilkan kepolosan serta kelincahan gerak tanpa ada rasa canggung sedikit pun di hadapan publik.

Bagaimana tidak, berbagai penampilan kreatif dari para siswa Baby Class, Kelompok Bermain (KB), hingga Taman Kanak-kanak (TK) disajikan dengan sangat apik. Mulai dari pembacaan doa harian yang fasih hingga hafalan hadits-hadits pendek.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan gema selawat yang menyejukkan hati juga turut mengalun syahdu. Riuh tepuk tangan penonton kembali pecah saat anak-anak mulai membawakan tarian tradisional dengan kostum yang penuh warna.

Pembacaan puisi yang polos hingga persembahan lagu bersama berhasil memukau para tamu undangan. Penampilan yang menggemaskan tersebut sukses membuat beberapa orang tua meneteskan air mata haru karena tidak menyangka anaknya kini tumbuh mandiri.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Al Khodijah Darul Ulum, Bu Nyai Hj. Muflihah Tamim, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para santri kecil. Beliau memuji ketekunan anak-anak yang telah belajar dan bertumbuh dengan baik di lingkungan sekolah.

“Alhamdulillah, ini merupakan kegiatan penyerahan amanah kembali kepada wali murid. Semoga apa yang kami berikan sesuai dengan harapan yang telah dipercayakan kepada kami dalam mendidik anak-anak,” tutur Bu Nyai Muflihah dengan lembut.

Beliau menambahkan bahwa kepercayaan besar dari para wali murid kini mendapat atensi positif dari pemerintah daerah. Dukungan nyata itu disalurkan melalui Gus Sentot, legislator daerah yang juga merupakan salah satu wali murid setia di sekolah tersebut.

Melalui jalur aspirasi kedewanan, Gus Sentot berkomitmen mengupayakan pemberian bantuan fasilitas penunjang pendidikan bagi sekolah ini. “Semoga ini menjadi amal jariyah kita semua, terima kasih kepada Gus Sentot yang memercayakan lima putra-putrinya di sini,” tambah Bu Nyai Muflihah.

Sebagai perwakilan wali murid, Gus Sentot memberikan kesaksian emosional mengenai alasannya menyekolahkan anak-anaknya di lembaga ini. Menurut tokoh yang akrab disapa Gus Sentot itu, sekolah ini memiliki nilai spiritual keagamaan yang kuat serta sarat akan berkah.

“Anak-anak kami percayakan di As Salamah ini karena kami yakin akan berkahnya. Lembaga ini diasuh langsung oleh Ibu Nyai dan Kiai yang tidak pernah putus mendoakan para siswanya,” tutur Gus Sentot dengan nada takzim.

Politisi senior ini menegaskan bahwa kesuksesan seorang anak di masa depan tidak hanya bertumpu pada pola asuh orang tua di rumah. Doa tulus yang dipanjatkan oleh para guru di sekolah memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk garis takdir anak.

Gus Sentot kemudian memberikan contoh nyata bahwa anak-anaknya yang merupakan alumni As Salamah kini sukses menembus Pendidikan Tinggi Negeri (PTN). “Saya percaya pendidikan anak usia dini di sini sudah sangat lengkap, mulai dari Day Care, KB, hingga TK,” kata Ketua DPC Partai Demokrat Jombang tersebut.

Di sisi lain, Kepala Sekolah TK As Salamah Full Day School, Sulistin, menegaskan bahwa lembaganya memang berfokus pada pembangunan karakter sejak dini. Sekolah berkomitmen memberikan lingkungan terbaik agar anak-anak tumbuh dengan rasa kasih sayang yang penuh.

“Di As Salamah ada day care, KB, dan TK yang diasuh oleh guru-guru berpengalaman, menyayangi anak-anak, dan mencintai untuk memberikan bimbingan. Kami mengajak mereka bermain, belajar membaca, menghitung, sekaligus mengaji,” pungkas Sulistin hangat.

Acara pun ditutup dengan aksi spontan Gus Sentot yang meminta izin membagikan uang saku sebesar Rp10 ribu kepada setiap siswa sebagai motivasi belajar. Pementasan berakhir, namun senyum ceria anak-anak dan rasa khidmat orang tua menjadi memori indah yang membekas di Rejoso hari itu.

Ndalem Pojok Kediri Gelar Ruwat Agung Soekarno, Hidupkan Karakter Bangsa Lewat Tri Sakti dan Asta Cita

0

KEDIRI, TelusuR.id – Momentum bersejarah pergantian nama Sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia dari Koesno menjadi Soekarno diperingati secara khidmat di Jawa Timur. Kegiatan budaya bertajuk “Ruwat Agung Soekarno” tersebut sukses digelar di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, pada Minggu (14/6/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh pengelola Situs Ndalem Pojok bersama Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG) ini menjadi ruang refleksi kebangsaan. Agenda ini bertujuan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan, karakter, dan jati diri bangsa yang pernah diwariskan oleh Bung Karno.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG Brigjen Pol. Langgeng Purnomo, jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri, serta para Kapolres jajaran Polda Jawa Timur eks Polwil Kediri, termasuk Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan. Tampak hadir pula para tokoh lintas agama, budayawan, serta elemen masyarakat yang peduli terhadap pelestarian sejarah.

Ketua Panitia Pelaksana, R.M. Kushartono, menjelaskan bahwa Situs Ndalem Pojok memiliki nilai historis yang sangat sakral dalam perjalanan hidup Bung Karno. Di tempat inilah nama Soekarno diberikan oleh Raden Mas Mendung atas restu sesepuh agung Raden Mas Panji Somohatmojo untuk menggantikan nama kecilnya, Koesno.

Menurut Kushartono, Ruwat Agung Soekarno bukan sekadar kegiatan seremonial budaya tahunan belaka. Kegiatan ini merupakan sebuah ikhtiar batin dan lahiriah untuk membangkitkan kembali karakter serta mentalitas bangsa yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Indonesia.

“Melalui Ruwat Agung ini, kami ingin memulihkan kembali karakter dan mentalitas jati diri bangsa yang mulai memudar. Kami berharap dapat membangkitkan kembali jiwa Soekarno di dalam sanubari generasi muda demi menyongsong Indonesia Emas 2045 dan mengantarkan bangsa ini sebagai Imam Perdamaian Dunia,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Doa Pangruwatan Bangsa yang dipimpin oleh para tokoh lintas agama sebagai simbol persatuan dalam keberagaman. Acara kemudian dilanjutkan secara estetik dengan Kirab Jati Diri yang mengarak Tumpeng Keselamatan ke area situs.

Kemeriahan dan kekhidmatan acara semakin memuncak saat prosesi Panglukatan atau penyucian patung Soekarno dilaksanakan. Tak hanya itu, dilakukan pula peresmian monumen perubahan nama Koesno menjadi Soekarno, penandatanganan prasasti, hingga pementasan teatrikal padat lakon berjudul Kembang Jagad.

Dalam kesempatan tersebut, Brigjen Pol. Langgeng Purnomo yang juga menjabat sebagai Karobinkar SSDM Polri menyampaikan pesan kebangsaan yang mendalam. Ia mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali Jati Diri Bangsa sebagai fondasi utama dalam mewujudkan cita-cita luhur Bung Karno melalui konsep Tri Sakti.

Konsep Tri Sakti yang dimaksud meliputi tiga pilar utama, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Menurutnya, tantangan geopolitik global saat ini menuntut setiap negara untuk memperkuat kepentingan nasionalnya masing-masing.

“Saat ini kita berada di tengah tarik menarik geopolitik internasional, di mana setiap negara mengutamakan kepentingan nasionalnya agar bebas dari pengaruh asing. Untuk mewujudkan kedaulatan politik, komponen bangsa Indonesia harus mau dan mampu bergotong royong mewujudkan kemandirian ekonomi terlebih dahulu,” jelasnya.

Brigjen Langgeng menilai semangat kemandirian ekonomi tersebut saat ini sangat sejalan dengan arah kebijakan strategis pemerintah pusat. Konsep berdikari ini termanifestasi dalam implementasi misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada penguatan swasembada pangan, energi, air, teknologi, serta hilirisasi industri nasional.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari penguatan karakter bangsa. Kesadaran untuk berkepribadian dalam kebudayaan sebagaimana amanat Tri Sakti Bung Karno harus berjalan beriringan dengan pembangunan fisik.

Ia mengingatkan bahwa arus globalisasi dan budaya kapitalisme yang tidak terkendali dapat memunculkan berbagai penyakit sosial di masyarakat. Fenomena seperti keserakahan, iri hati, kedengkian, dan lunturnya semangat kebersamaan berpotensi merusak moral, budaya, hukum, bahkan ketahanan nasional jika tidak diantisipasi.

“Kita sedang menghadapi dampak negatif globalisasi yang tanpa disadari menyuburkan berbagai penyakit sosial. Solusinya tidak ada lain kecuali kembali kepada jati diri bangsa Indonesia,” tegas jenderal bintang satu tersebut secara lugas.

Mengambil filosofi dari lagu kebangsaan Indonesia Raya, Brigjen Langgeng menekankan pentingnya makna frasa “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya”. Membangun jiwa berarti memperkuat karakter, moral, dan daya tahan budaya bangsa, sementara membangun raga diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur dan ekonomi fisik.

Melalui Ruwat Agung Soekarno, Situs Ndalem Pojok tidak hanya berhasil menghidupkan kembali memori sejarah perjalanan Sang Proklamator. Agenda budaya ini sukses mengajak masyarakat luas untuk merefleksikan kembali nilai-nilai kebangsaan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045 yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.

Kabar Gembira dari Jenewa: Pekerja Platform Kini Miliki Payung Hukum Global Pertama di Dunia

0

JENEWA, TelusuR.id – Jutaan pekerja platform digital di tanah air, seperti driver ojek online (ojol), kurir, hingga pekerja konten, kini bisa bernapas lega. Delegasi Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Asidat Guntur New (AGN) membawa kabar gembira dari Swiss mengenai adanya proteksi hukum berskala internasional.

Kabar baik tersebut hadir setelah para pekerja platform ini secara resmi memiliki payung hukum global pertama di dunia. Terobosan hukum ini merupakan buah manis dari perjuangan panjang para delegasi buruh internasional, termasuk perwakilan dari Indonesia, yang menyuarakan hak-hak pekerja sektor informal.

Delegasi KSPSI AGN yang diwakili oleh William Yani Wea dan Tonny Pangaribuan mengonfirmasi bahwa mereka telah merampungkan 12 hari negosiasi yang melelahkan di Jenewa. Dalam forum dunia tersebut, mereka mendorong Indonesia agar menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang meratifikasi konvensi ekonomi platform.

Komite CNP dalam International Labour Conference (ILC) ke-114 secara resmi telah mengesahkan konvensi dan resolusi kerja layak untuk sektor ekonomi platform. Pengesahan keputusan bersejarah tersebut dilakukan pada Kamis, 11 Juni 2026, waktu setempat di Jenewa, Swiss.

“Ini artinya pekerja platform digital di seluruh dunia, termasuk Indonesia, punya payung hukum internasional pertama yang melindungi mereka,” kata William Yani Wea dalam keterangan tertulisnya yang diterima Telusur.id, Minggu (14/6/2026).

Tokoh buruh yang akrab disapa Willy itu mengungkapkan, mandat diplomasi yang diberikan oleh KSPSI AGN di Jenewa kini telah selesai ditunaikan dengan baik. Namun, Willy menegaskan bahwa tugas mereka yang sesungguhnya di Jakarta justru baru saja dimulai.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (SP IMPPI) ini menyatakan komitmennya untuk mengawal regulasi ini. Langkah pengawalan ketat ini diperlukan agar implementasi konvensi internasional tersebut berjalan mulus di tingkat nasional.

“Kami berkomitmen mengawal agar teknologi platform jadi alat penciptaan kerja layak, bukan mesin eksploitasi digital baru. KSPSI AGN siap jadi garda terdepan untuk mengawal amanat ini,” ujar Willy memberikan penegasan.

Sementara itu, Tonny Pangaribuan mengungkapkan bahwa momentum ILC ke-114 ini telah menciptakan sejarah baru bagi sekitar 59 juta pekerja platform di tanah air. Pihaknya pun mengaku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari saksi sekaligus pelaku sejarah dalam forum perburuhan dunia tersebut.

“Ini payung hukum global pertama untuk driver ojek online, kurir, pekerja konten digital, hingga freelancer platform,” pungkas Tonny Pangaribuan, yang juga menjabat sebagai Bendahara DPP KSPSI AGN dan Ketua Umum SP PMIT.

Guna menindaklanjuti capaian di Jenewa, KSPSI AGN langsung menyerukan tujuh langkah konkret di dalam negeri. Langkah pertama ditujukan kepada Pemerintah RI agar segera membentuk Tim Inter-Departemen Ratifikasi Konvensi Platform Economy di bawah Kemenaker, dengan melibatkan KSPSI, APINDO, serta akademisi.

Langkah kedua, KSPSI AGN mendesak DPR RI untuk segera memasukkan ratifikasi konvensi ekonomi platform ini ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2027–2029. Proses legislasi ini diharapkan bisa langsung berjalan begitu ILC ke-115 melakukan adopsi regulasi secara penuh.

Langkah ketiga dan keempat ditujukan kepada Kemenkominfo dan BPJS Ketenagakerjaan. Kemenkominfo diminta membuat regulasi turunan soal audit algoritma platform digital di Indonesia, sementara BPJS Ketenagakerjaan didorong menyiapkan skema iuran khusus melalui sistem “portable benefit”.

Pada poin kelima, seruan ditujukan kepada jajaran perusahaan platform digital agar mulai melakukan audit mandiri terhadap algoritma mereka sekarang juga. Pihak aplikator didesak untuk segera menghapus praktik sepihak berupa “suspend massal tanpa klarifikasi” yang kerap merugikan mitra pengemudi.

Sementara langkah keenam dan ketujuh ditujukan kepada internal serikat pekerja serta publik secara luas. Serikat pekerja diminta membangun serikat platform sektoral yang lebih spesifik, sedangkan publik diajak untuk tidak sekadar menjadi konsumen aplikasi, melainkan menjadi warga negara yang menuntut platform bertanggung jawab.

Melalui tujuh maklumat konkret ini, KSPSI AGN berharap hasil kesepakatan internasional dari Jenewa tidak hanya berakhir di atas kertas. Implementasi nyata di Indonesia diharapkan bisa segera terwujud demi menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan yang hakiki bagi puluhan juta pekerja digital tanah air.

Pengukuhan JTI Jombang Jadi Sorotan, Ketua IWOI Bongkar Tantangan Berat Wartawan di Era Digital

0

Siyanto Pimpin JTI Jombang, Organisasi Wartawan Diminta Perkuat Kompetensi dan Etika

JOMBANG,TelusuR.ID – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Jurnalis Terate Indonesia (JTI) Kabupaten Jombang resmi dikukuhkan dalam acara yang berlangsung di Aula KPH Perhutani Jombang, Minggu (14/6/2026). Pengukuhan tersebut menandai lahirnya wadah profesi bagi para wartawan yang memiliki latar belakang sebagai warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Dalam kepengurusan perdana itu, Siyanto dipercaya memimpin DPC JTI Kabupaten Jombang. Sejumlah pejabat daerah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut hadir, di antaranya Asisten I Setdakab Jombang Purwanto mewakili Bupati Jombang, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Endro Wahyudi, perwakilan Polres Jombang, serta perwakilan Kodim 0814/Jombang.

Kehadiran JTI dinilai menjadi bagian dari dinamika positif dunia jurnalistik di daerah. Namun, di tengah menjamurnya berbagai organisasi profesi dan derasnya arus informasi digital, tantangan utama yang dihadapi insan pers bukan sekadar membangun organisasi, melainkan menjaga kualitas, integritas, dan kepercayaan publik terhadap produk jurnalistik.

Ketua DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Jombang, Agus Pamuji, menegaskan bahwa organisasi profesi harus mampu menjadi ruang pembinaan sekaligus penguatan kapasitas wartawan. Menurut dia, eksistensi organisasi tidak akan bermakna apabila tidak diikuti komitmen untuk menjunjung tinggi etika jurnalistik dan independensi pers.

“Selamat kepada Saudara Siyanto dan seluruh jajaran pengurus yang telah menerima amanah memimpin JTI Jombang. Ini bukan sekadar posisi struktural, tetapi tanggung jawab moral untuk menjaga marwah profesi wartawan di tengah tantangan informasi yang semakin kompleks,” ujar Agus.

Menurut Agus, wartawan saat ini menghadapi tekanan yang tidak ringan. Di satu sisi dituntut cepat menyampaikan informasi, namun di sisi lain tetap harus menjaga akurasi, keberimbangan, dan verifikasi data. Karena itu, organisasi profesi harus hadir sebagai garda terdepan dalam meningkatkan kompetensi anggotanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga independensi wartawan dari berbagai kepentingan, baik politik, ekonomi, maupun kelompok tertentu. Sebab, kepercayaan publik terhadap media hanya dapat dibangun melalui karya jurnalistik yang profesional dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Agus Pamuji Ketua IWOI Kabupaten Jombang-Foto Istimewa

“Pers yang kuat lahir dari wartawan yang berintegritas. Organisasi profesi harus menjadi rumah bersama untuk memperkuat kompetensi, solidaritas, dan etika, bukan sekadar wadah berkumpul. Ketika wartawan mampu menjaga profesionalisme dan independensinya, maka fungsi kontrol sosial media akan berjalan optimal,” kata Agus.

Sementara itu, Ketua Cabang PSHT Jombang Subiantoro menilai media memiliki posisi strategis dalam mendukung kemajuan organisasi. Menurutnya, berbagai program dan kegiatan yang dijalankan organisasi akan lebih mudah diketahui masyarakat apabila dikomunikasikan secara baik melalui media yang profesional.

“Media merupakan jembatan informasi antara organisasi dan masyarakat. Karena itu kami berharap JTI dapat menjadi mitra yang konstruktif dalam menyampaikan berbagai kegiatan positif kepada publik,” ujarnya.

Subiantoro juga mengajak seluruh pengurus JTI yang baru dikukuhkan untuk membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Sinergi tersebut dinilai penting agar organisasi mampu memberikan kontribusi yang lebih luas, tidak hanya bagi anggota, tetapi juga bagi perkembangan dunia jurnalistik di Kabupaten Jombang.

Pengukuhan DPC JTI Kabupaten Jombang menjadi momentum penting bagi lahirnya ruang kolaborasi baru di kalangan wartawan berlatar belakang PSHT. Lebih dari itu, momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa tantangan utama pers saat ini bukan hanya menghadapi derasnya arus informasi, tetapi juga menjaga profesionalisme, independensi, dan kepercayaan publik sebagai fondasi utama demokrasi.

Dengan komitmen tersebut, JTI diharapkan tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, melainkan juga mampu melahirkan wartawan yang kompeten, berintegritas, serta konsisten menghadirkan karya jurnalistik yang berpihak pada kepentingan publik.

Spiritualitas Pengasah Hati untuk Memahami Mimpi Rakyat yang Gelisah oleh Perut Lapar

0

Spiritualitas Pengasah Hati untuk Memahami Mimpi Rakyat yang Gelisah oleh Perut Lapar

Oleh Jacob Ereste

TelusuR.ID – Spiritualitas sejatinya bukan sekadar urusan ritual dan ibadah yang selesai di rumah-rumah peribadatan. Spiritualitas adalah bingkai etika yang membentuk moral dan akhlak manusia agar tidak tergelincir menjadi pribadi yang ingkar, pembohong, penipu, pengkhianat, serta pelaku berbagai bentuk kezaliman yang merusak martabat kemanusiaan.

Etika menjadi pintu pertama yang harus dilalui manusia sebelum memasuki wilayah moralitas. Sebab moral yang sehat hanya dapat tumbuh dari kesadaran etis yang kokoh. Agama kemudian memberi rambu-rambu yang tegas tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang patut dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tidak hanya terhadap orang lain, tetapi juga terhadap diri sendiri.

Dari etika dan moral yang bersih itulah akhlak dibangun. Akhlak yang kukuh melahirkan kepribadian yang merdeka dari kepentingan sesaat, tidak mabuk pujian dan tidak gentar oleh cemoohan. Sebab orientasinya bukan tepuk tangan manusia, melainkan kepatuhan kepada nilai-nilai luhur yang diyakini berasal dari petunjuk langit.

Karena itu, spiritualitas menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar bagi siapa pun yang ingin mencapai kematangan hidup. Spiritualitas mengajarkan kerendahan hati saat menjadi makmum, sekaligus menanamkan tanggung jawab ketika dipercaya menjadi imam atau pemimpin.

Seorang pemimpin yang memiliki kedalaman spiritual tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kebaikan. Ia harus menjadi perwujudan dari kebaikan itu sendiri. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan sami’na wa atha’na — kami mendengar dan kami taat. Tetapi ketaatan hanya mungkin lahir jika yang memimpin memang layak untuk didengar dan pantas untuk diikuti.

Di sinilah banyak pemimpin gagal memahami hakikat kepemimpinan. Mereka gemar memberi nasihat, tetapi enggan memberi teladan. Mereka rajin berpidato tentang pengorbanan, tetapi hidup dalam kemewahan yang jauh dari penderitaan rakyat. Mereka meminta kesetiaan, tetapi mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada mereka.

Padahal sejarah telah mengajarkan bahwa rakyat bukan kumpulan manusia tanpa nurani. Kesabaran rakyat memang panjang, tetapi bukan tanpa batas. Ketika kekuasaan berubah menjadi kesewenang-wenangan, ketika pemimpin kehilangan kepekaan terhadap penderitaan rakyat, maka penyanggahan akan lahir sebagai keniscayaan sejarah.

Pepatah lama yang berbunyi, “raja alim disembah, raja zalim disanggah”, tetap relevan hingga hari ini. Petuah itu bukan hanya ditujukan kepada rakyat sebagai kawula kecil, melainkan juga kepada mereka yang duduk di singgasana kekuasaan. Sebab legitimasi seorang pemimpin tidak semata-mata berasal dari jabatan, melainkan dari keadilan yang ditegakkannya.

Tidak sedikit penguasa yang jatuh bukan karena musuh dari luar, melainkan karena kehilangan kepercayaan rakyatnya sendiri. Sejarah peradaban dunia penuh dengan kisah semacam itu. Kekuasaan yang mengabaikan suara rakyat pada akhirnya akan berhadapan dengan gelombang penolakan yang sulit dibendung.

Oleh sebab itu, laku spiritual sesungguhnya bukan kebutuhan kaum sufi semata. Ia juga menjadi kebutuhan para pejabat, pemimpin, pengusaha, politisi, dan siapa saja yang memiliki kuasa atas nasib orang lain. Spiritualitas adalah sarana untuk menundukkan ego yang kerap merasa paling benar dan paling berhak atas segala sesuatu.

Pemimpin yang memiliki spiritualitas tidak akan sibuk mendengar tepuk tangan para penjilat. Ia akan lebih peka mendengar keluh kesah rakyat yang nyaris tak pernah sampai ke ruang-ruang kekuasaan. Ia mampu merasakan kegelisahan mereka yang tidur dengan kecemasan, bangun dengan ketidakpastian, dan menjalani hari-hari dengan perut yang lapar.

Sebab ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah kemegahan istana, tingginya gedung pencakar langit, atau panjangnya laporan pencapaian pembangunan. Ukuran yang paling sederhana justru terletak pada kemampuan mendengar suara rakyat yang paling lemah dan memastikan mereka tetap memiliki harapan untuk hidup lebih baik.

Tanpa kepekaan spiritual, kekuasaan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu. Namun dengan spiritualitas yang hidup, kekuasaan dapat menjelma menjadi jalan pengabdian untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi sesama.

Dan pada akhirnya, pemimpin yang baik bukanlah mereka yang paling sering berbicara tentang rakyat, melainkan mereka yang mampu memahami mimpi rakyat—terutama rakyat yang gelisah karena perutnya lapar.

Banten, 13 Juni 2026

Bawa Terang ke Pelosok Yalimo, Satgas Yonif 521/DY Perkuat Kedekatan dengan Warga Melalui Bantuan Energi Surya

0

Hadirkan Terang di Pedalaman Papua, Satgas Yonif 521/DY Bantu Pemasangan Panel Surya untuk Warga Apalapsili

YALIMO, Papua Pegunungan,TelusuR.ID — Upaya menghadirkan akses energi bagi masyarakat di wilayah pedalaman Papua terus dilakukan oleh Satgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan Yonif 521/DY. Melalui kegiatan anjangsana, personel Pos Apalapsili membantu pemasangan instalasi panel surya bagi warga di Distrik Apalapsili, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, Sabtu (14/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Satgas Yonif 521/DY dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah penugasan. Bersama warga setempat, para prajurit bergotong royong memasang perangkat panel surya yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan penerangan di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses listrik akibat kondisi geografis yang menantang.

Kehadiran energi surya dinilai tidak hanya memberikan penerangan pada malam hari, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas secara lebih produktif, mulai dari kegiatan rumah tangga hingga mendukung proses belajar anak-anak.

Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan teritorial yang selama ini dijalankan Satgas untuk membangun kedekatan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua.

“Melalui kegiatan anjangsana dan bantuan pemasangan panel surya ini, kami berharap dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kehadiran listrik tidak hanya memberikan penerangan, tetapi juga mendukung aktivitas belajar anak-anak serta berbagai kegiatan produktif warga,” ujarnya.

Menurut Rahadyan, kehadiran Satgas di wilayah penugasan tidak hanya berfokus pada aspek pengamanan, tetapi juga berupaya menjadi bagian dari solusi atas berbagai kebutuhan masyarakat di daerah pedalaman.

Bantuan tersebut mendapat sambutan hangat dari warga. Denis, wali dari Enok, salah satu warga Apalapsili, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh personel Satgas Yonif 521/DY.

Ia menuturkan bahwa keberadaan panel surya sangat membantu keluarganya, terutama untuk memenuhi kebutuhan penerangan pada malam hari yang selama ini masih terbatas.

Selain membantu pemasangan instalasi panel surya, personel Satgas juga memanfaatkan momen tersebut untuk menjalin komunikasi sosial dengan masyarakat. Berbagai aspirasi warga didengarkan secara langsung, sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan yang telah terbangun selama masa penugasan.

Suasana gotong royong dan kebersamaan tampak mewarnai seluruh rangkaian kegiatan. Warga dan prajurit bekerja berdampingan menyelesaikan pemasangan panel surya, mencerminkan sinergi yang terus terjalin antara TNI dan masyarakat di wilayah Papua Pegunungan.

Melalui berbagai program kemasyarakatan yang dijalankan, Satgas Yonif 521/DY terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan daerah sekaligus membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kehadiran para prajurit diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas wilayah, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi warga hingga ke pelosok Papua.

“Bersama Rakyat TNI Kuat, Bersama TNI Rakyat Sejahtera.”