Spiritualitas Pengasah Hati untuk Memahami Mimpi Rakyat yang Gelisah oleh Perut Lapar

0
5 views
Bagikan :

Spiritualitas Pengasah Hati untuk Memahami Mimpi Rakyat yang Gelisah oleh Perut Lapar

Oleh Jacob Ereste

TelusuR.ID – Spiritualitas sejatinya bukan sekadar urusan ritual dan ibadah yang selesai di rumah-rumah peribadatan. Spiritualitas adalah bingkai etika yang membentuk moral dan akhlak manusia agar tidak tergelincir menjadi pribadi yang ingkar, pembohong, penipu, pengkhianat, serta pelaku berbagai bentuk kezaliman yang merusak martabat kemanusiaan.

Etika menjadi pintu pertama yang harus dilalui manusia sebelum memasuki wilayah moralitas. Sebab moral yang sehat hanya dapat tumbuh dari kesadaran etis yang kokoh. Agama kemudian memberi rambu-rambu yang tegas tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang patut dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tidak hanya terhadap orang lain, tetapi juga terhadap diri sendiri.

Dari etika dan moral yang bersih itulah akhlak dibangun. Akhlak yang kukuh melahirkan kepribadian yang merdeka dari kepentingan sesaat, tidak mabuk pujian dan tidak gentar oleh cemoohan. Sebab orientasinya bukan tepuk tangan manusia, melainkan kepatuhan kepada nilai-nilai luhur yang diyakini berasal dari petunjuk langit.

Karena itu, spiritualitas menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar bagi siapa pun yang ingin mencapai kematangan hidup. Spiritualitas mengajarkan kerendahan hati saat menjadi makmum, sekaligus menanamkan tanggung jawab ketika dipercaya menjadi imam atau pemimpin.

Seorang pemimpin yang memiliki kedalaman spiritual tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kebaikan. Ia harus menjadi perwujudan dari kebaikan itu sendiri. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan sami’na wa atha’na — kami mendengar dan kami taat. Tetapi ketaatan hanya mungkin lahir jika yang memimpin memang layak untuk didengar dan pantas untuk diikuti.

Di sinilah banyak pemimpin gagal memahami hakikat kepemimpinan. Mereka gemar memberi nasihat, tetapi enggan memberi teladan. Mereka rajin berpidato tentang pengorbanan, tetapi hidup dalam kemewahan yang jauh dari penderitaan rakyat. Mereka meminta kesetiaan, tetapi mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada mereka.

Padahal sejarah telah mengajarkan bahwa rakyat bukan kumpulan manusia tanpa nurani. Kesabaran rakyat memang panjang, tetapi bukan tanpa batas. Ketika kekuasaan berubah menjadi kesewenang-wenangan, ketika pemimpin kehilangan kepekaan terhadap penderitaan rakyat, maka penyanggahan akan lahir sebagai keniscayaan sejarah.

Pepatah lama yang berbunyi, “raja alim disembah, raja zalim disanggah”, tetap relevan hingga hari ini. Petuah itu bukan hanya ditujukan kepada rakyat sebagai kawula kecil, melainkan juga kepada mereka yang duduk di singgasana kekuasaan. Sebab legitimasi seorang pemimpin tidak semata-mata berasal dari jabatan, melainkan dari keadilan yang ditegakkannya.

Tidak sedikit penguasa yang jatuh bukan karena musuh dari luar, melainkan karena kehilangan kepercayaan rakyatnya sendiri. Sejarah peradaban dunia penuh dengan kisah semacam itu. Kekuasaan yang mengabaikan suara rakyat pada akhirnya akan berhadapan dengan gelombang penolakan yang sulit dibendung.

Oleh sebab itu, laku spiritual sesungguhnya bukan kebutuhan kaum sufi semata. Ia juga menjadi kebutuhan para pejabat, pemimpin, pengusaha, politisi, dan siapa saja yang memiliki kuasa atas nasib orang lain. Spiritualitas adalah sarana untuk menundukkan ego yang kerap merasa paling benar dan paling berhak atas segala sesuatu.

Pemimpin yang memiliki spiritualitas tidak akan sibuk mendengar tepuk tangan para penjilat. Ia akan lebih peka mendengar keluh kesah rakyat yang nyaris tak pernah sampai ke ruang-ruang kekuasaan. Ia mampu merasakan kegelisahan mereka yang tidur dengan kecemasan, bangun dengan ketidakpastian, dan menjalani hari-hari dengan perut yang lapar.

Sebab ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah kemegahan istana, tingginya gedung pencakar langit, atau panjangnya laporan pencapaian pembangunan. Ukuran yang paling sederhana justru terletak pada kemampuan mendengar suara rakyat yang paling lemah dan memastikan mereka tetap memiliki harapan untuk hidup lebih baik.

Tanpa kepekaan spiritual, kekuasaan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu. Namun dengan spiritualitas yang hidup, kekuasaan dapat menjelma menjadi jalan pengabdian untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi sesama.

Dan pada akhirnya, pemimpin yang baik bukanlah mereka yang paling sering berbicara tentang rakyat, melainkan mereka yang mampu memahami mimpi rakyat—terutama rakyat yang gelisah karena perutnya lapar.

Banten, 13 Juni 2026

Tinggalkan Balasan