TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 25

Jajanan Tradisional Bertemu Semangat Gen Z, Cara MI Midanutta’lim Mayangan Menanamkan Jiwa Wirausaha

0

Market Day dan Bazar Gen Z MI Midanutta’lim 1 Mayangan, Saat Generasi Muda Belajar Bisnis Sambil Melestarikan Budaya

Mayangan,TelusuR.ID – Suasana halaman MI Midanutta’lim 1 Mayangan tampak berbeda pada Senin (15/6/2026). Ratusan siswa, wali murid, guru, dan masyarakat sekitar memadati area madrasah untuk mengikuti kegiatan Kokurikuler Market Day Jajanan Tradisional dan Bazar Gen Z yang digelar sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman nyata.

Mengusung tema “Menjaga Budaya Melalui Market Day Jajanan Tradisional dan Bazar Gen Z”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang bazar atau jual beli produk. Lebih dari itu, Market Day menjadi ruang edukatif yang mempertemukan pembelajaran kewirausahaan, penguatan karakter, kreativitas, serta pelestarian budaya lokal dalam satu kegiatan yang menarik dan menyenangkan.

Sejak pagi, para siswa tampak antusias menawarkan berbagai produk yang mereka siapkan bersama guru dan orang tua. Beragam jajanan tradisional khas Nusantara menjadi daya tarik utama. Mulai dari tiwul, sawut, klanting, puro, cenil, gethuk, rujak, hingga aneka minuman tradisional tersaji di setiap stan yang dikelola langsung oleh para peserta didik.

Kehadiran jajanan tradisional tersebut bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi makanan instan, MI Midanutta’lim 1 Mayangan berupaya mengenalkan kembali kekayaan kuliner warisan leluhur kepada generasi muda. Melalui pendekatan yang menyenangkan, siswa diajak memahami bahwa budaya tidak hanya dipelajari melalui buku, tetapi juga dapat dikenali, dirasakan, dan dilestarikan melalui pengalaman langsung.

Selain menyajikan kuliner tradisional, kegiatan ini juga menampilkan berbagai hasil karya kreatif siswa yang lahir dari proses pembelajaran kokurikuler. Beragam produk yang dipamerkan menunjukkan kemampuan peserta didik dalam berinovasi, berpikir kreatif, serta mengembangkan ide-ide baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Kepala MI Midanutta’lim 1 Mayangan, M. Miftahus Saidin, M.Pd, mengatakan bahwa Market Day merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan hidup atau life skills sejak usia dini.

“Market Day bukan hanya tentang kegiatan jual beli. Anak-anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, mengelola tanggung jawab, menghitung keuntungan, membangun kepercayaan diri, hingga memahami pentingnya kreativitas dalam berwirausaha. Semua itu merupakan bekal penting bagi mereka di masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan saat ini tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik semata. Peserta didik juga perlu diberikan pengalaman nyata agar mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif yang menjadi kebutuhan di era modern.

Ia menambahkan, pengenalan kewirausahaan sejak dini menjadi langkah strategis dalam membentuk generasi yang mandiri, inovatif, dan mampu menciptakan peluang. Sementara itu, penguatan nilai budaya lokal menjadi pondasi penting agar anak-anak tetap memiliki identitas dan karakter kuat di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Antusiasme masyarakat yang hadir menjadi indikator keberhasilan kegiatan tersebut. Wali murid dan warga sekitar tidak hanya datang sebagai pengunjung, tetapi juga memberikan dukungan nyata dengan membeli berbagai produk yang dijual para siswa. Bahkan sejumlah stan dilaporkan berhasil menghabiskan seluruh dagangannya sebelum acara berakhir.

Kondisi tersebut menjadi pengalaman berharga bagi peserta didik. Mereka tidak hanya belajar memasarkan produk, tetapi juga merasakan secara langsung proses interaksi dengan konsumen, mengelola transaksi, serta memahami pentingnya pelayanan dan kerja keras dalam menjalankan usaha.

Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mempererat hubungan antara madrasah, keluarga, dan masyarakat. Kolaborasi yang terbangun selama kegiatan menunjukkan bahwa pendidikan yang berkualitas membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh elemen lingkungan.

Melalui Market Day dan Bazar Gen Z, MI Midanutta’lim 1 Mayangan kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa madrasah mampu menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencetak siswa cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang kreatif, mandiri, berjiwa entrepreneur, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya bangsa.

Acara kemudian ditutup dengan pemberian apresiasi kepada stan terbaik dan peserta yang menunjukkan kreativitas serta semangat kewirausahaan selama kegiatan berlangsung. Keberhasilan Market Day tahun ini menjadi motivasi bagi madrasah untuk terus menghadirkan program-program pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman, sekaligus tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya Indonesia.

“Belajar Hari Ini, Berwirausaha Esok Hari, dan Menjaga Budaya Sepanjang Masa”

Gagalnya Agenda Gerakan Neoliberal Pro-Oligarki yang Mengusung Reformasi Jilid Dua

0
Akbar Husin Gerakan Solidaritas TAPOL/NAPOL Indonesia – Pemerhati Ekonomi dan Geopolitik

“Gagalnya Agenda Gerakan Neolib Pro Oligarky yang menginginkan Reformasi Jilid Dua”

(Oleh: Akbar Husin, Gerakan Solidaritas TAPOL/NAPOL Indonesia – Pemerhati Ekonomi dan Geopolitik)

JAKARTA,TelusuR.ID – Agenda kaum neoliberal (neolib) untuk mendorong aksi gerakan “Reformasi Jilid Dua” dengan membonceng Aksi Mahasiswa (BEM UI dan Aliansinya) kemarin terbukti telah gagal, dikarenakan narasi gerakan yang sangat massif yang di bangun terutama di media sosial ternyata tidak mendapat dukungan yang riil dari seluruh mayoritas rakyat di Indonesia,
dan hal tersebut juga dinilai sebagai ancaman terhadap stabilitas politik nasional.

Alih-alih memicu transisi kekuasaan, gerakan tersebut justru kehilangan momentumnya,
Dimana tuntutan dari kelompok mahasiswa BEM UI dan Aliansinya kemarin yang memprotes gejolak ekonomi yang terjadi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah, kebijakan subsidi dan kenaikan harga BBM serta evaluasi terhadap program Makan Ber-Gizi Gratis (MBG) telah menjadi tuntutan ‘issue’ yang krusial dan paling dominan dalam aksi tersebut ketimbang agenda Reformasi Jilid Dua dalam rangka penggulingan pemerintahan Presiden Prabowo yang syah.

_Dus_ ternyata ada juga beberapa faktor sehingga agenda gerakan Reformasi Jilid Dua tersebut gagal diantaranya adalah:
_Pertama_ Stabilitas Negara yang aman dan terkendali di bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo;
_Kedua_ mayoritas elemen masyarakat di Indonesia terutama Ummat Islam, kalangan kaum buruh dan barisan kelompok aktivis nasionalis serta partai-partai politik pendukung lebih sepakat untuk menjaga dan mengawal pemerintahan Presiden Prabowo sampai selesai.

Klaim yang menyamakan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo hari ini dengan rezim otoritarian Soeharto merupakan suatu kesalahan dan kesesatan sejarah yang sangat memalukan.

Kaum Neolib yang memboncengi gerakan Reformasi Jilid Dua tersebut nampaknya amnesia, bahwa Kepemimpinan Presiden Prabowo saat ini dipilih secara langsung oleh sekitar 58% mayoritas rakyat Indonesia (silent majority) dengan melalui proses pemilihan yang syah dan demokratis melalui mekanisme Pilpres 2024.

“Pastinya Teori mandat demokrasi secara tegas menyatakan bahwa pergantian kekuasaan itu harus dilakukan melalui mekanisme institusional pada kotak suara..”

Sekali lagi bahwa alasan pelemahan nilai tukar Rupiah, Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dan Evaluasi program MBG yang dijadikan dasar pada Aksi Reformasi Jilid Dua tersebut, justru akan membongkar kebodohan (kedunguan) para kaum Neolib yang membonceng Gerakan Mahasiswa yang hendak Menggulingkan Pemerintahan Presiden Prabowo yang Konstitusional.

Dimana secara makro ekonomi jelas bahwa nilai tukar mata uang sangat bergantung pada kebijakan moneter global, seperti suku bunga acuan bank sentral ‘Fed’ di Amerika, yang sama sekali tidak bisa diselesaikan dalam waktu cepat.

Selanjutnya kenaikan harga BBM jenis pertamax tentunya kebijakan ini tidak begitu besar mempengaruhi beban kehidupan masyarakat kecil, dimana kenyataannya hampir sebagian besar masyarakat kecil di Indonesia banyak yang menggunakan bahan bakar Pertalite untuk menjalankan aktivitasnya.

Dan terakhir masalah tata kelola dan korupsi di Program Makan Ber-Gizi Gratis (MBG), justru kita semua sangat mengapresiasi dan mendukung sikap tegas Presiden Prabowo yang langsung mencopot tiga pucuk pimpinan di lembaga Badan Gizi Nasional (BGN), hingga langsung menjebloskan ketiganya ke dalam penjara merupakan wujud keberpihakan Presiden Prabowo terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia.

Dungu-nya lagi para kaum Neolib yang Pro Oligarky ini, dimana mereka hendak memaksakan sebuah reformasi jilid dua tanpa adanya sosok figur pemimpin (alternatif) pengganti yang matang dan mumpuni.

Kenyataannya para Kaum Neolib yang Pro Oligarky yang membonceng Aksi gerakan mahasiswa hari ini, mereka sama sekali tidak memiliki figur pemimpin alternatif yang sanggup dalam mengelola segala kerumitan dan masalah birokrasi pemerintahan serta tidak memiliki figur pemimpin alternatif yang mampu dalam menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan di Indonesia.

Karena sekali lagi jika Reformasi Jilid Dua ini dipaksakan, maka hal itu adalah resep sempurna dalam rangka melakukan bunuh diri massal bagi suatu bangsa.
Tentunya kita semua menolak lupa tentang kegagalan yang dialami oleh Reformasi’98, dimana hal ini harus dibayar mahal oleh Bangsa Indonesia.

Dan menyerahkan nasib perekonomian nasional ke tangan para amatiran yang hanya pandai berkoar-koar di Medsos, hal ini akan membawa negara Indonesia pada kelumpuhan total dan jurang kehancuran dari tatanan sistem dan sendi kehidupan di Indonesia.

“Keberanian tanpa perhitungan rasional bukanlah heroisme, melainkan kebodohan absolut yang akan mengorbankan masa depan ratusan juta rakyat”.

Oleh karena itulah kita sebagai warga masyarakat yang waras dan memiliki akal sehat, tentunya kita semua harus bersatu padu untuk mematahkan Agenda Reformasi Jilid Dua ini, sebelum ia membesar menjadi kanker sosial.

Berbagai program strategis nasional (PSN) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo dan perbaikan ekosistem bisnis di semua lini yang selama ini telah berjalan dengan baik itu harus di kawal dan di jaga, dan tidak boleh dikorbankan begitu saja demi memuaskan syahwat Politik Kekuasaan para kaum Neolib yang Pro Oligarky dengan membonceng Aksi Gerakan Mahasiswa.

Sekian..

Andrianto Bongkar Kekeliruan Aksi Mahasiswa: ‘Prabowo Justru Sedang Menjalankan Reformasi Sejati’

0
Andrianto/Mantan Sekjend Jaringan Aktivis ProDemokrasi (ProDEM)

Mahasiswa Turun ke Jalan, Eksponen Reformasi 1998 Nilai Tuntutan Salah Sasaran dan Abaikan Agenda Konstitusional Pemerintah

JAKARTA, TelusuR.ID – Gelombang aksi mahasiswa yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, serta sejumlah daerah lain pada Jumat (12/6/2026), memantik beragam respons. Bagi sebagian kalangan, demonstrasi merupakan ekspresi sah dalam negara demokrasi. Namun, substansi tuntutan yang diusung dinilai perlu diuji secara kritis agar tidak terjebak pada narasi yang terputus dari realitas.

Pegiat politik sekaligus Eksponen Angkatan Reformasi 1998, Andrianto Andri, mengaku bangga melihat mahasiswa masih memiliki keberanian menyampaikan aspirasi di ruang publik. Menurut dia, tradisi kritik terhadap kekuasaan merupakan warisan penting Reformasi yang harus tetap hidup.

“Aksi mahasiswa mengingatkan kita pada semangat 1998 yang mendorong perubahan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demokrasi tidak hanya membutuhkan keberanian bersuara, melainkan juga ketepatan membaca persoalan,” ujar Andrianto kepada TelusuR.id, Senin (15/6/2026).

Ia menilai tajuk aksi bertema “Indonesia Menuju Bangkrut: Reformasi Jilid 2” tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi objektif yang sedang dihadapi bangsa. Menurutnya, sejumlah tuntutan yang disuarakan justru menunjukkan adanya kesenjangan antara narasi yang dibangun dengan fakta kebijakan yang tengah dijalankan pemerintah.

Andrianto bahkan mempertanyakan penggunaan istilah “Reformasi Jilid 2”. Baginya, reformasi adalah momentum historis yang mengubah fondasi sistem politik Indonesia dan tidak dapat diposisikan sebagai agenda yang berulang layaknya serial tanpa akhir.

“Jika ada Reformasi Jilid 2, lalu nanti ada Jilid 3, Jilid 4, dan seterusnya. Reformasi adalah proses perubahan fundamental yang telah membuka ruang demokrasi yang kita nikmati hari ini. Yang dibutuhkan sekarang adalah penyempurnaan, bukan pengulangan,” katanya.

Menilai Pemerintah Sedang Menjalankan Amanat Reformasi

Dalam pandangan Andrianto, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto justru sedang berupaya menerjemahkan amanat reformasi melalui pendekatan yang lebih konkret, terutama dalam bidang kesejahteraan sosial dan pemerataan ekonomi.

Ia merujuk pada Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 yang menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya nasional harus ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat serta menjamin kesejahteraan sosial bagi seluruh warga negara.

Menurut dia, kebijakan seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) merupakan contoh nyata implementasi amanat konstitusi yang selama ini kerap menjadi wacana tanpa realisasi yang jelas.

“Selama puluhan tahun, pasal-pasal itu lebih banyak menjadi slogan politik. Hari ini pemerintah berupaya menerjemahkannya ke dalam program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Itu sebabnya saya melihat pemerintah sedang bekerja pada substansi reformasi, bukan sekadar retorika reformasi,” ujarnya.

Andrianto menilai MBG dan KDMP merupakan instrumen strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus menggerakkan ekonomi desa. Ia berpendapat program-program tersebut layak dikawal dan dievaluasi secara objektif, bukan ditolak secara apriori.

Kritik terhadap Tuntutan Penurunan Harga BBM

Selain menyoroti tema besar aksi, Andrianto juga mengkritisi salah satu tuntutan mahasiswa terkait penurunan harga bahan bakar minyak (BBM).

Menurut dia, tuntutan tersebut mengabaikan fakta bahwa kenaikan harga yang terjadi berada pada kategori BBM non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar internasional, sementara pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar.

“Kalau yang naik adalah BBM non-subsidi, maka harganya memang dipengaruhi pasar global. Pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi. Karena itu tuntutan tersebut perlu dilihat kembali secara proporsional dan berbasis data,” katanya.

Waspadai Kepentingan Elite di Balik Gerakan

Meski menghormati hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat, Andrianto mengingatkan bahwa sejarah politik Indonesia menunjukkan gerakan mahasiswa sering kali menjadi arena tarik-menarik kepentingan elite.

Ia menyebut sejumlah momentum politik besar, mulai dari 1966, 1974, 1978 hingga 1998, tidak pernah sepenuhnya steril dari pengaruh kelompok-kelompok berkepentingan yang berusaha memanfaatkan energi mahasiswa untuk tujuan tertentu.

“Mahasiswa harus tetap kritis, tetapi juga harus kritis terhadap siapa yang diuntungkan dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Jangan sampai idealisme mahasiswa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki agenda politik terselubung,” ujarnya.

Publik Menunggu Hasil, Bukan Sekadar Narasi

Andrianto meyakini gerakan yang dibangun di atas asumsi yang tidak sesuai dengan kondisi riil masyarakat akan sulit memperoleh dukungan luas. Menurut dia, sebagian besar masyarakat saat ini lebih menaruh perhatian pada efektivitas program-program pemerintah yang berdampak langsung terhadap kebutuhan sehari-hari.

Ia menilai pemerintah sedang menunjukkan keseriusan dalam menjalankan agenda pembangunan berbasis kesejahteraan, terutama melalui penguatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas gizi masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi desa.

“Pada akhirnya masyarakat akan menilai berdasarkan hasil yang mereka rasakan. Yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar narasi bahwa negara sedang gagal, melainkan evaluasi yang jujur terhadap program-program yang sedang berjalan. Kritik tetap penting, tetapi harus berdiri di atas fakta dan kepentingan rakyat,” kata Andrianto/Mantan Sekjend Jaringan Aktivis ProDemokrasi (ProDEM)

Dari Cangkul hingga Urukan Jalan, Babinsa dan Warga Perkuat Kemanunggalan di Sragen

0

Babinsa dan Warga Doyong Bahu-Membahu Perbaiki Jalan, Gotong Royong Jadi Kekuatan Membangun Desa

SRAGEN,TelusuR.ID – Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, semangat gotong royong tetap menjadi denyut kehidupan masyarakat di pedesaan. Nilai kebersamaan itu tampak nyata di Dukuh Doyong, Desa Doyong, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, ketika warga bersama Babinsa setempat turun langsung memperbaiki jalan lingkungan yang rusak, Senin (15/6/2026).

Kerja bakti yang melibatkan Babinsa Desa Doyong Koramil 16/Miri Kodim 0725/Sragen, Sertu Rohmadi, bersama puluhan warga tersebut difokuskan pada pengurukan jalan yang selama ini menjadi akses utama masyarakat. Kondisi jalan yang mulai rusak dan berlubang dinilai dapat menghambat aktivitas warga, terutama saat musim hujan ketika genangan air kerap membuat jalan sulit dilalui.

Dengan penuh semangat, warga dan Babinsa bergotong royong mengangkut material urukan, meratakan permukaan jalan, hingga memastikan akses tersebut kembali aman dan nyaman digunakan. Tidak ada sekat antara aparat dan masyarakat. Semua bekerja bersama dengan tujuan yang sama: menghadirkan fasilitas yang lebih baik bagi kepentingan bersama.

Sertu Rohmadi mengatakan, keterlibatan TNI dalam kegiatan seperti ini merupakan bagian dari komitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat serta membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi warga.

“Gotong royong adalah warisan budaya bangsa yang harus terus dijaga. Selain mempercepat pekerjaan, kegiatan seperti ini juga mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat sehingga kebersamaan yang sudah terjalin dapat semakin kuat,” ujarnya.

Menurutnya, infrastruktur jalan memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat. Jalan yang baik tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga menunjang kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga akses terhadap berbagai layanan publik.

Karena itu, kepedulian terhadap fasilitas umum menjadi tanggung jawab bersama yang perlu terus dipelihara melalui semangat kebersamaan dan partisipasi aktif masyarakat.

Kehadiran Babinsa dalam kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari warga. Mereka menilai keterlibatan TNI bukan hanya memberikan bantuan tenaga, tetapi juga menjadi sumber motivasi yang mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk terus menjaga budaya gotong royong.

Suminto, salah seorang warga Dukuh Doyong, mengaku senang dan berterima kasih atas kehadiran Babinsa yang selama ini aktif mendampingi berbagai kegiatan kemasyarakatan di wilayahnya.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Babinsa yang selalu hadir dan ikut bekerja bersama warga. Kehadiran beliau membuat kami semakin semangat untuk bergotong royong dan membangun desa,” katanya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi gambaran nyata kuatnya kemanunggalan TNI dan rakyat yang terus terpelihara hingga saat ini. Melalui kerja sama yang sederhana namun penuh makna, TNI tidak hanya menjalankan tugas kewilayahan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi dalam mendukung pembangunan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan, semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Doyong bersama Babinsa menjadi bukti bahwa kebersamaan tetap menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun lingkungan yang lebih baik, aman, dan nyaman bagi semua.

Sorak Sorai Piala Dunia Menggema di Makodim Wonogiri, TNI dan Warga Rayakan Kebersamaan dalam Nobar Kebangsaan

0

WONOGIRI,TelusuR.ID – Aula Makodim 0728/Wonogiri dipenuhi riuh sorak dan tepuk tangan, Senin (15/6/2026) pagi. Ratusan pasang mata larut dalam euforia menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2026 melalui kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Kebangsaan yang digelar Kodim 0728/Wonogiri.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sinergi antara Kementerian Pertahanan, TNI, dan TVRI dalam menghadirkan ruang kebersamaan bagi masyarakat melalui momentum ajang sepak bola terbesar di dunia. Lebih dari sekadar menyaksikan pertandingan, nobar ini menjadi sarana mempererat persatuan, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta memperkuat hubungan antara TNI dan masyarakat.

Sejak peluit awal pertandingan dibunyikan, suasana aula berubah menjadi penuh semangat. Sorak sorai dan tepuk tangan bergemuruh setiap kali peluang tercipta dalam laga antara tim nasional Swedia dan Tunisia yang disiarkan langsung dari Amerika Serikat, salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026.

Di tengah antusiasme tersebut, tampak hadir Komandan Kodim 0728/Wonogiri Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihahuan bersama para Perwira Staf. Kehadiran jajaran pimpinan Kodim tidak hanya menunjukkan dukungan terhadap kegiatan tersebut, tetapi juga menjadi simbol kedekatan TNI dengan masyarakat yang selama ini terus dibangun melalui berbagai kegiatan teritorial.

Momentum nobar kebangsaan ini memperlihatkan bagaimana olahraga mampu menjadi pemersatu berbagai kalangan. Prajurit TNI dan warga duduk berdampingan, menikmati pertandingan dalam suasana akrab tanpa sekat. Kebersamaan yang terjalin mencerminkan semangat gotong royong dan persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Bagi Kodim 0728/Wonogiri, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendekatan teritorial yang dikemas secara santai dan humanis. Melalui ruang-ruang interaksi seperti ini, komunikasi sosial antara aparat kewilayahan dan masyarakat dapat terjalin lebih erat, sekaligus memperkuat rasa saling percaya yang selama ini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas wilayah.

Setiap momen menarik di lapangan hijau disambut dengan antusias oleh para peserta. Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan yang lebih besar: bahwa kebersamaan dan persatuan dapat tumbuh dari berbagai ruang, termasuk melalui olahraga yang dinikmati bersama.

Melalui Nobar Kebangsaan Piala Dunia 2026, Kodim 0728/Wonogiri kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai institusi pertahanan negara, tetapi juga sebagai mitra yang aktif membangun kedekatan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat kebangsaan di tengah kehidupan masyarakat.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa TNI terus mengedepankan pendekatan humanis dalam menjalankan tugas kewilayahan, menjadikan setiap momentum sebagai sarana mempererat hubungan dengan rakyat serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

(Agus Kemplu)

Kehangatan di Elelim: Saat Prajurit TNI dan Warga Papua Menjalin Persaudaraan

0

Kepedulian di Tanah Papua, Satgas Yonif 521/DY Bangun Kedekatan dengan Warga Elelim

YALIMO,TelusuR.ID – Kehadiran prajurit TNI di wilayah Papua Pegunungan tidak hanya menjalankan tugas pengamanan, tetapi juga membangun hubungan sosial yang erat dengan masyarakat. Hal itu terlihat dalam kegiatan anjangsana dan silaturahmi yang dilakukan personel Satgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan Yonif 521/DY di Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Senin (15/6/2026).

Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, para prajurit mendatangi rumah-rumah warga untuk berdialog secara langsung. Mereka mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat, berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat komunikasi sosial yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Satgas Yonif 521/DY untuk terus menjaga kedekatan dengan masyarakat, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat di wilayah penugasan.

Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., mengatakan bahwa silaturahmi merupakan salah satu pendekatan penting dalam pembinaan teritorial yang bertujuan membangun rasa saling percaya dan mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat.

“Kami ingin terus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai aparat yang bertugas menjaga keamanan wilayah, tetapi juga sebagai sahabat dan keluarga yang siap membantu. Kedekatan seperti ini menjadi modal penting dalam menciptakan suasana yang aman, damai, dan harmonis,” ujarnya.

Menurut Rahadyan, melalui interaksi langsung dengan warga, personel Satgas dapat memahami kondisi riil yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, berbagai program bantuan dan kegiatan sosial yang dijalankan dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan warga setempat.

Kehadiran prajurit Satgas Yonif 521/DY mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satu tokoh masyarakat Distrik Elelim, Bapak Kapela, mengaku senang dengan perhatian dan kepedulian yang selama ini ditunjukkan para prajurit kepada warga.

Ia menilai keberadaan Satgas tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga turut membantu berbagai kegiatan kemasyarakatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami merasa senang karena bapak-bapak TNI sering datang, berkomunikasi dengan masyarakat, dan membantu warga. Hubungan yang sudah baik ini kami harapkan terus terjaga demi keamanan dan kesejahteraan bersama,” katanya.

Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna tersebut, Satgas Yonif 521/DY kembali menunjukkan bahwa pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugas di Papua. Di tengah berbagai tantangan wilayah, kehadiran prajurit tidak hanya menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga membangun jembatan persaudaraan, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan rasa saling percaya antara TNI dan masyarakat Papua.

Dengan semangat kepedulian dan kebersamaan, Satgas Yonif 521/DY terus berkomitmen mendukung pembangunan wilayah dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua Pegunungan, demi terciptanya kondisi yang aman, damai, dan sejahtera.

Tembus Kampus Impian: 98 Santri MAN 3 Jombang Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Lolos SNBT 2026

0

JOMBANG, TelusuR.id – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Jombang kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam berkualitas tinggi di Jawa Timur. Madrasah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini sukses menorehkan prestasi gemilang dalam skala nasional.

Prestasi membanggakan tersebut lahir dari keberhasilan 98 peserta didiknya yang dinyatakan lolos dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2026. Puluhan santri tersebut berhasil mengamankan kursi panas di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta favorit di seluruh penjuru Indonesia.

Capaian luar biasa ini tidak didapatkan dengan cara yang instan oleh para peserta didik. Mereka harus melewati serangkaian proses persiapan panjang yang penuh dengan tantangan akademis, kerja keras yang menguras energi, serta untaian doa yang tidak pernah putus di lingkungan pesantren.

Sejumlah kampus top tanah air pun berhasil ditaklukkan oleh para santri MAN 3 Jombang ini. Di antaranya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), serta Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Selain itu, sebaran kelulusan juga mencakup Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Jember, Universitas Palangkaraya, Universitas Trunojoyo Madura, UPN Veteran, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Politeknik Negeri Bali, hingga Politeknik Negeri Samarinda.

Tidak ketinggalan, rumpun Universitas Islam Negeri (UIN) juga menjadi pelabuhan studi para santri. Beberapa di antaranya sukses diterima di UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Salah satu peserta didik yang berhasil mengamankan tiket kelulusan tersebut adalah Nadifa Aulia, siswi kelas XII-9. Nadifa dinyatakan diterima di program studi yang persaingannya sangat ketat, yakni Ilmu Komunikasi di UPN “Veteran” Jawa Timur.

Nadifa menuturkan bahwa perjalanannya menuju gerbang kelulusan SNBT sama sekali tidak berjalan dengan mudah. Ia harus berjuang keras menjaga konsistensi belajar di tengah padatnya aktivitas pesantren, mengikuti bimbingan belajar intensif, serta aktif berkonsultasi dengan guru.

“Saat pengumuman, saya hanya berharap mendapatkan hasil terbaik. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos SNBT dan diterima di kampus impian. Tantangan terbesar saya adalah menghadapi soal-soal tingkat kesulitan tinggi yang butuh pemahaman mendalam,” ungkap Nadifa penuh syukur.

Kisah haru dan bahagia juga datang dari siswa kelas XII lainnya, Abdullah Muhammad Ar-Rusyd. Remaja ini mengaku sempat diliputi rasa tidak percaya ketika melihat layar pengumuman berwarna hijau yang menyatakan dirinya lolos seleksi nasional tersebut.

Rasa tidak percaya itu muncul karena berkaca pada hasil uji coba (try out) berkala yang ia ikuti sebelumnya sering kali belum mencapai nilai memuaskan. Namun, berkat ketekunan belajar yang dievaluasi setiap hari dan dukungan penuh dari keluarga, ia mampu membuktikan kapasitasnya.

“Perasaan saya campur aduk antara senang dan tidak percaya. Namun, selama satu tahun terakhir saya terus berusaha keras, mengikuti bimbingan belajar, dan mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Alhamdulillah usaha tersebut membuahkan hasil,” tuturnya ramah.

Sementara itu, Zaky Fadlurrohman, siswa dari kelas XII-1, ikut membagikan sudut pandangnya mengenai peta kompetisi SNBT tahun ini. Menurut Zaky, tantangan terbesar yang dihadapinya adalah materi ujian yang cenderung rumit dan membutuhkan nalar kritis yang tajam.

Zaky menjelaskan bahwa banyak soal ujian yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills). Bahkan, beberapa materi yang diujikan pada umumnya baru dipelajari oleh para mahasiswa di tingkat semester awal perkuliahan.

“Awalnya saya kesulitan karena beberapa materi belum pernah dipelajari secara khusus di sekolah. Namun, setelah mendapat materi tambahan dari madrasah dan rutin latihan soal secara bertahap, saya mulai memahami konsepnya hingga akhirnya bisa lolos,” jelas Zaky.

Keberhasilan massal 98 peserta didik ini menjadi bukti autentik bahwa perpaduan antara kerja keras, kedisiplinan belajar, serta kekuatan spiritual di lingkungan pondok pesantren merupakan kunci utama dalam meraih prestasi. Faktor lingkungan madrasah yang suportif terbukti mampu mendongkrak potensi siswa.

Merespons capaian emas ini, Pelaksana Harian (PLH) Kepala MAN 3 Jombang, KH Syifa’ Malik, M.Pd.I., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi tertingginya. Beliau berharap capaian ini dapat menjadi keran inspirasi yang terus mengalir bagi adik-adik kelas mereka kelak.

“Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi peserta didik lainnya untuk terus berjuang meraih cita-cita. Jangan pernah mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan akademik, karena proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil,” pungkas KH Syifa’ Malik menutup keterangannya.

Dari Shanghai ke Likupang: Pelajaran Besar tentang Teknologi, Pariwisata, dan Masa Depan Indonesia

0

Likupang, Mutiara Maritim yang Tak Boleh Kehilangan Jiwa

Oleh: Abdullah Rasyid
Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan
Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN

TelusuR.ID – Sabtu dan Minggu pekan lalu, kami, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN, melakukan Studi Strategis ke Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Perjalanan ini lebih dari sekadar kunjungan akademik. Ia menjadi ruang refleksi tentang bagaimana teori pemerintahan, kebijakan publik, pembangunan daerah, teknologi, dan realitas sosial bertemu dalam satu lanskap yang nyata.

Beberapa waktu sebelumnya, kami memperoleh kesempatan belajar di Fudan University, Shanghai, salah satu pusat pemikiran global mengenai tata kelola modern. Di sana, kami melihat bagaimana konsep digital governance, kecerdasan buatan, dan evidence-based policy diterjemahkan menjadi sistem pemerintahan yang cepat, terukur, dan berbasis data.

Namun Minahasa Utara menghadirkan pelajaran yang berbeda sekaligus tak kalah penting. Jika Shanghai menunjukkan bagaimana teknologi dapat mempercepat pelayanan publik, maka Likupang mengingatkan bahwa inti pembangunan tetaplah manusia. Tata kelola yang baik bukan hanya soal kecanggihan sistem digital, melainkan kemampuan negara menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, identitas budaya, dan keberlanjutan ruang hidup masyarakat.

Di situlah Likupang menjadi menarik. Kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah laboratorium hidup tentang bagaimana Indonesia mengelola pembangunan di tengah arus investasi, pariwisata, dan tuntutan pertumbuhan ekonomi.

Dari bibir Pantai Likupang, alasan kawasan ini dipilih sebagai salah satu destinasi prioritas nasional terasa begitu jelas. Hamparan pasir putih, laut berwarna biru jernih, pulau-pulau kecil yang menghijau, serta suasana yang masih relatif alami menghadirkan lanskap yang sulit diabaikan.

Namun membaca Likupang hanya sebagai kartu pos pariwisata adalah kekeliruan.

Likupang bukan semata pantai, resort, atau kawasan ekonomi khusus. Ia adalah ruang hidup masyarakat pesisir, simpul budaya maritim, sekaligus etalase masa depan pembangunan Indonesia di kawasan timur.

Karena itu, pertanyaan mendasar yang harus dijawab bukanlah seberapa banyak wisatawan yang dapat didatangkan, melainkan apakah Indonesia mampu membangun destinasi kelas dunia tanpa mengorbankan akar sosial, budaya, dan ekologinya.

Selama bertahun-tahun, wajah pariwisata Sulawesi Utara lebih banyak diwakili Manado dan Bunaken. Bunaken telah lama menjadi ikon wisata bahari dunia. Sementara Likupang tumbuh dalam ketenangan, menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tersentuh.

Kini situasinya berubah. Melalui Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional Manado-Likupang, kawasan ini ditempatkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru sektor pariwisata nasional.

Modal yang dimiliki pun tidak sedikit. Ada Bunaken yang telah mendunia. Ada posisi strategis dalam kawasan Coral Triangle yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang sebagai pengungkit investasi. Ada kekayaan budaya Minahasa, dukungan Bandara Sam Ratulangi, serta potensi wisata bahari, budaya, kuliner, desa wisata, hingga ekowisata yang dapat saling terhubung dalam satu ekosistem.

Namun sejarah pembangunan pariwisata di berbagai daerah menunjukkan satu hal: potensi besar selalu datang bersama risiko yang besar pula.

Bali menghadapi tekanan akibat kepadatan wisatawan dan semakin terbatasnya ruang hidup masyarakat lokal. Labuan Bajo berhadapan dengan tantangan konservasi lingkungan. Borobudur harus menjaga keseimbangan antara kunjungan wisata dan daya dukung kawasan.

Pelajaran yang muncul sangat jelas. Banyak destinasi mengalami degradasi bukan karena kurang promosi, melainkan karena terlalu dieksploitasi tanpa tata kelola yang memadai.

Likupang tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.

Masa depan kawasan ini tidak bisa semata-mata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan. Ukuran keberhasilannya harus lebih substansial: apakah masyarakat lokal ikut merasakan manfaat ekonomi, apakah UMKM tumbuh, apakah nelayan memperoleh peluang baru, apakah desa wisata berkembang, dan apakah lingkungan tetap terjaga.

Pertanyaan yang lebih penting lagi adalah apakah laut tetap bersih, terumbu karang tetap hidup, dan budaya lokal tetap menjadi identitas utama destinasi.

Di sinilah konsep tata kelola modern menemukan relevansinya.

Pariwisata abad ke-21 tidak cukup dibangun melalui promosi dan pembangunan fisik semata. Ia membutuhkan data yang akurat, sistem pengelolaan yang terintegrasi, pemetaan daya dukung lingkungan, serta kemampuan membaca dampak sosial dan ekonomi secara berkelanjutan.

Data harus menjadi dasar pengambilan keputusan. Arus wisatawan harus dapat dipantau. Dampak lingkungan harus diukur. Distribusi manfaat ekonomi harus dapat dievaluasi. Masyarakat lokal harus menjadi bagian dari perencanaan, bukan sekadar objek pembangunan.

Peringatan para pemikir dunia menjadi relevan dalam konteks ini.

Pakar kecerdasan buatan dari University of California, Berkeley, Stuart Russell, pernah mengingatkan bahwa tantangan terbesar manusia bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan institusi untuk mengelolanya secara bijaksana.

Sementara ekonom MIT, Daron Acemoglu, menegaskan bahwa teknologi hanya akan membawa manfaat jika diarahkan melalui kebijakan yang inklusif.

Dalam konteks Likupang, pertanyaannya sederhana: apakah investasi dan teknologi akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, atau justru membuat mereka menjadi penonton di tanahnya sendiri?

Karena itu, pengembangan Likupang harus berangkat dari paradigma baru. Dunia pariwisata kini bergerak meninggalkan konsep mass tourism menuju pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Wisatawan modern tidak lagi sekadar mencari tempat yang indah. Mereka mencari pengalaman yang otentik, dekat dengan budaya lokal, menghargai lingkungan, dan memiliki dampak positif bagi masyarakat setempat.

Likupang memiliki semua modal untuk menjawab tren tersebut.

Kawasan ini tidak boleh tumbuh hanya sebagai kumpulan hotel dan pantai eksotis. Likupang harus menjadi destinasi yang menawarkan cerita, budaya, pengalaman maritim, kekayaan kuliner, dan kehangatan masyarakat Minahasa.

Karena itu, Manado, Bunaken, dan Likupang perlu dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem pariwisata.

Manado berfungsi sebagai gerbang utama dan pusat layanan. Bunaken menjadi mahkota wisata bahari yang harus dijaga keberlanjutannya. Sementara Likupang berkembang sebagai destinasi premium yang menawarkan pengalaman baru.

Konsep Integrated Manado-Bunaken-Likupang Tourism Corridor menjadi penting karena wisatawan modern tidak lagi melihat destinasi sebagai titik-titik yang terpisah. Mereka mencari pengalaman yang terhubung, mulai dari aksesibilitas, atraksi wisata, kuliner, budaya, hingga konservasi.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi masih besar. Konsentrasi kunjungan masih bertumpu pada lokasi tertentu. Konektivitas antarwilayah perlu diperkuat. Tekanan terhadap ekosistem laut masih menjadi isu. Risiko bencana alam juga harus menjadi bagian dari perencanaan.

Dengan kata lain, Likupang membutuhkan lebih dari sekadar promosi besar-besaran. Kawasan ini membutuhkan manajemen destinasi yang serius.

Manajemen destinasi berarti memastikan infrastruktur terhubung dengan produk wisata, pelabuhan terintegrasi dengan wisata bahari, bandara tersambung dengan paket perjalanan yang jelas, dan event pariwisata mampu menggerakkan UMKM lokal.

Lebih jauh lagi, masyarakat harus ditempatkan sebagai pemilik manfaat utama.

Pengembangan kawasan tidak dapat hanya menjadi proyek pemerintah atau investor. Ia harus menjadi kerja kolaboratif yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, akademisi, komunitas lokal, hingga masyarakat adat.

Pariwisata modern pada dasarnya adalah seni mengorkestrasi berbagai kepentingan agar bergerak menuju tujuan yang sama.

Namun arah orkestrasi itu harus jelas.

Likupang perlu diarahkan pada konsep high-value tourism—wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, menghargai budaya lokal, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Keunggulan kawasan ini sesungguhnya sudah tersedia: wisata bahari, penyelaman, ekowisata, wellness tourism, gastronomi, desa wisata, budaya Minahasa, hingga eksplorasi pulau-pulau kecil.

Di saat yang sama, Likupang juga harus belajar dari Bunaken.

Laut bukan sekadar objek wisata. Laut adalah ruang hidup masyarakat. Terumbu karang bukan dekorasi destinasi. Ia merupakan fondasi ekosistem yang menopang kehidupan.

Karena itu, pembangunan marina, resort, maupun infrastruktur pendukung harus tunduk pada prinsip dasar yang tidak boleh ditawar: jangan sampai pariwisata merusak alasan utama wisatawan datang.

Begitu pula dengan budaya Minahasa.

Hotel mewah dapat dibangun di mana saja. Pantai indah juga tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Namun identitas budaya, cerita masyarakat, tradisi pesisir, bahasa, musik, kuliner, dan keramahan lokal adalah keunggulan yang tidak bisa direplikasi.

Jika Likupang ingin menjadi destinasi kelas Asia Pasifik, maka ia tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai tanah Minahasa.

Karena itu, pengembangan kawasan ini setidaknya harus menjawab tiga agenda besar sekaligus: agenda ekologis, agenda sosial, dan agenda tata kelola.

Lingkungan harus dilindungi melalui pengelolaan sampah, perlindungan terumbu karang, serta sistem pemantauan berbasis data. Masyarakat lokal harus menjadi aktor utama dalam rantai nilai pariwisata. Dan tata kelola harus dibangun secara lintas sektor, lintas wilayah, serta berbasis bukti.

Di titik inilah pelajaran dari Shanghai dan Likupang bertemu.

Shanghai menunjukkan bagaimana teknologi dan data dapat memperkuat pemerintahan. Likupang mengingatkan bahwa teknologi hanya bernilai ketika digunakan untuk menjaga manusia, budaya, dan alam.

Pemerintahan masa depan bukan hanya pemerintahan yang digital. Pemerintahan masa depan adalah pemerintahan yang mampu menggunakan teknologi secara bijaksana demi keberlanjutan kehidupan.

Pada akhirnya, pariwisata yang baik bukan hanya soal mendatangkan orang. Pariwisata yang baik adalah ketika wisatawan datang dengan hormat, tinggal dengan nyaman, membelanjakan uangnya secara adil, lalu pulang membawa cerita baik tentang tempat yang mereka kunjungi.

Lebih dari itu, masyarakat lokal harus merasakan bahwa hidup mereka menjadi lebih baik, bukan semakin terpinggirkan.

Hari ini, Likupang berada di persimpangan penting. Kawasan ini bisa menjadi model keberhasilan pariwisata Indonesia Timur yang berkelas, berkelanjutan, dan inklusif. Namun ia juga bisa tergelincir menjadi destinasi yang ramai sesaat lalu dibebani sampah, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan manfaat ekonomi.

Pilihan itu bergantung pada kualitas tata kelola yang dibangun sejak sekarang.

Karena itu, Likupang harus dibangun dengan data, bukan sekadar promosi. Dengan keberpihakan kepada masyarakat, bukan hanya investasi. Dengan kesadaran ekologis, bukan sekadar ambisi pertumbuhan ekonomi.

Likupang adalah mutiara maritim Indonesia. Namun mutiara hanya akan tetap bernilai jika cangkangnya tetap terjaga.

Lautnya, budayanya, masyarakatnya, dan alamnya adalah cangkang itu.

Jika semua itu hilang, yang tersisa hanyalah nama destinasi tanpa jiwa.

Tugas kita bukan hanya membuat dunia datang ke Likupang. Tugas yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa ketika dunia datang, Likupang tetap menjadi Likupang: indah, lestari, berbudaya, cerdas, dan bermartabat.

Mengapa Kapolda Riau Herymen Jadi Perbincangan Usai Lahirnya Nona Seroja di Tesso Nilo?

0

Nona Seroja Lahir di Tesso Nilo, Simbol Harapan Konservasi dan Kepemimpinan Humanis Kapolda Riau

PEKANBARU,TelusuR.ID – Kelahiran seekor anak gajah Sumatra di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Riau, menjadi kabar menggembirakan di tengah berbagai tantangan pelestarian lingkungan yang dihadapi Indonesia. Peristiwa tersebut tidak hanya menandai bertambahnya populasi satwa langka yang dilindungi, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya kepedulian dan keberpihakan terhadap alam.

Anak gajah betina yang lahir dari indukan bernama Ria di Camp Flying Squad Tesso Nilo itu diberi nama **Nona Seroja** oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan atau yang akrab disapa Herymen. Nama tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Herymen ingin menghadirkan simbol harapan melalui filosofi bunga seroja yang mampu tumbuh dan mekar di tengah lingkungan yang keruh tanpa kehilangan keindahan dan kemurniannya.

Dalam keterangannya kepada detikcom, Herymen menegaskan bahwa Tesso Nilo bukan sekadar kawasan hutan, melainkan aset ekologis dan warisan bangsa yang harus dijaga bersama. Pandangan tersebut mencerminkan komitmennya yang tidak hanya berfokus pada tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga terhadap keberlangsungan lingkungan hidup yang menjadi penopang kehidupan masyarakat Riau.

Di tengah berbagai persoalan yang membayangi kawasan konservasi, mulai dari degradasi hutan hingga konflik satwa dan manusia, kehadiran Kapolda Riau dalam mendukung upaya pelestarian Tesso Nilo dinilai menjadi bentuk kepemimpinan yang memberi teladan. Herymen tidak hanya hadir dalam kapasitas seremonial, melainkan menunjukkan kepedulian nyata terhadap isu-isu strategis yang menentukan masa depan daerah.

Bagi banyak pihak, langkah tersebut menunjukkan wajah kepemimpinan yang humanis dan progresif. Herymen dinilai memahami bahwa keamanan tidak hanya berbicara soal penegakan hukum, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Apresiasi terhadap komitmen tersebut disampaikan Ketua Gerakan Hijau untuk Indonesia sekaligus Pengurus Besar PMII, Abduh Alfatih. Menurutnya, perhatian Kapolda Riau terhadap kelestarian Tesso Nilo menjadi contoh bahwa aparat negara dapat mengambil peran strategis dalam mendorong kesadaran lingkungan.

“Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan telah menunjukkan bahwa menjaga keamanan daerah tidak dapat dipisahkan dari menjaga alamnya. Kerusakan lingkungan pada akhirnya akan melahirkan berbagai persoalan sosial, konflik, kemiskinan ekologis, hingga ancaman bagi generasi mendatang,” kata Abduh.

Ia menilai sosok Herymen menghadirkan perspektif baru dalam kepemimpinan publik, yakni mengintegrasikan aspek keamanan dengan tanggung jawab ekologis. Menurut Abduh, langkah-langkah yang dilakukan Kapolda Riau menunjukkan bahwa institusi kepolisian juga dapat menjadi motor penggerak dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.

“Herymen memberi pesan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya hadir saat masalah terjadi, tetapi juga harus hadir untuk mencegah lahirnya masalah di masa depan. Salah satunya dengan menjaga alam dan ekosistem yang menjadi sumber kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Abduh bahkan menyebut Herymen sebagai salah satu figur pemimpin yang memiliki sensitivitas ekologis kuat. Baginya, perhatian Kapolda Riau terhadap kelahiran Nona Seroja dan keberlangsungan Tesso Nilo merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masa depan generasi mendatang.

“Bagi kami, Herymen adalah role model pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Beliau tidak hanya berbicara tentang pentingnya menjaga alam, tetapi juga menunjukkan keberpihakan yang nyata melalui tindakan dan perhatian yang konsisten,” tegasnya.

Lebih jauh, Abduh menilai filosofi yang terkandung dalam nama Nona Seroja sangat relevan dengan kondisi lingkungan saat ini. Di tengah berbagai tantangan yang mengancam ekosistem, masih terdapat harapan untuk melakukan pemulihan apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama.

“Nona Seroja adalah simbol bahwa harapan itu masih ada. Alam masih memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki keadaan. Namun kesempatan tersebut harus dijawab dengan tindakan nyata dan komitmen bersama,” katanya.

Menurut Abduh, semangat yang ditunjukkan Kapolda Riau melalui kepeduliannya terhadap konservasi layak menjadi inspirasi nasional. Di tengah tuntutan pembangunan yang semakin kompleks, dibutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu menempatkan isu lingkungan sebagai bagian dari agenda strategis bangsa.

“Menjaga gajah Sumatra, menjaga hutan, menjaga sungai, dan menjaga ekosistem berarti menjaga masa depan Indonesia. Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti Herymen yang memahami bahwa keamanan, pembangunan, dan kelestarian lingkungan bukanlah hal yang bertentangan, melainkan harus berjalan bersama,” ujarnya.

Kelahiran Nona Seroja pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kabar tentang bertambahnya populasi gajah Sumatra. Peristiwa ini menjadi simbol harapan, sekaligus potret kepemimpinan yang tidak hanya hadir menjaga keamanan masyarakat, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian alam sebagai warisan berharga bagi generasi yang akan datang.

Tawa Ceria dan Tangis Haru di Pentas Seni As Salamah Jombang: Saat Doa Guru dan Berkah Kiai Bertemu

0

JOMBANG, TelusuR.id – Pagi itu, riuh rendah suara anak-anak memecahkan keheningan di kawasan Rejoso, Peterongan. Suasana penuh kebahagiaan, kebanggaan, sekaligus rasa haru yang mendalam seketika menyelimuti panggung pementasan yang megah namun terasa sangat hangat.

Momentum emosional tersebut terjadi dalam acara penyerahan kembali amanah siswa-siswi serta Pentas Seni As Salamah Full Day School, Jombang, pada Senin (15/6/2026). Agenda tahunan ini bukan sekadar seremoni kelulusan biasa, melainkan panggung pembuktian tumbuh kembang karakter sang buah hati.

Acara yang dikonsep dengan apik ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting daerah. Tampak hadir Anggota DPRD Kabupaten Jombang, KH Syarif Hidayatullah (Gus Sentot), dan Ketua Yayasan Al Khodijah Pondok Pesantren Darul Ulum, Bu Nyai Hj. Muflihah Tamim.

Kehadiran para tokoh ini bersanding erat dengan jajaran kepala sekolah, asatidz, serta wali murid yang duduk rapi. Sepanjang prosesi acara berlangsung, jalinan rasa haru dan bahagia begitu kuat merasuk ke dalam sanubari setiap hadirin yang datang.

Sorot mata bangga berkaca-kaca dari para orang tua tidak lepas dari panggung utama. Di atas pentas, anak-anak mereka menampilkan kepolosan serta kelincahan gerak tanpa ada rasa canggung sedikit pun di hadapan publik.

Bagaimana tidak, berbagai penampilan kreatif dari para siswa Baby Class, Kelompok Bermain (KB), hingga Taman Kanak-kanak (TK) disajikan dengan sangat apik. Mulai dari pembacaan doa harian yang fasih hingga hafalan hadits-hadits pendek.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan gema selawat yang menyejukkan hati juga turut mengalun syahdu. Riuh tepuk tangan penonton kembali pecah saat anak-anak mulai membawakan tarian tradisional dengan kostum yang penuh warna.

Pembacaan puisi yang polos hingga persembahan lagu bersama berhasil memukau para tamu undangan. Penampilan yang menggemaskan tersebut sukses membuat beberapa orang tua meneteskan air mata haru karena tidak menyangka anaknya kini tumbuh mandiri.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Al Khodijah Darul Ulum, Bu Nyai Hj. Muflihah Tamim, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para santri kecil. Beliau memuji ketekunan anak-anak yang telah belajar dan bertumbuh dengan baik di lingkungan sekolah.

“Alhamdulillah, ini merupakan kegiatan penyerahan amanah kembali kepada wali murid. Semoga apa yang kami berikan sesuai dengan harapan yang telah dipercayakan kepada kami dalam mendidik anak-anak,” tutur Bu Nyai Muflihah dengan lembut.

Beliau menambahkan bahwa kepercayaan besar dari para wali murid kini mendapat atensi positif dari pemerintah daerah. Dukungan nyata itu disalurkan melalui Gus Sentot, legislator daerah yang juga merupakan salah satu wali murid setia di sekolah tersebut.

Melalui jalur aspirasi kedewanan, Gus Sentot berkomitmen mengupayakan pemberian bantuan fasilitas penunjang pendidikan bagi sekolah ini. “Semoga ini menjadi amal jariyah kita semua, terima kasih kepada Gus Sentot yang memercayakan lima putra-putrinya di sini,” tambah Bu Nyai Muflihah.

Sebagai perwakilan wali murid, Gus Sentot memberikan kesaksian emosional mengenai alasannya menyekolahkan anak-anaknya di lembaga ini. Menurut tokoh yang akrab disapa Gus Sentot itu, sekolah ini memiliki nilai spiritual keagamaan yang kuat serta sarat akan berkah.

“Anak-anak kami percayakan di As Salamah ini karena kami yakin akan berkahnya. Lembaga ini diasuh langsung oleh Ibu Nyai dan Kiai yang tidak pernah putus mendoakan para siswanya,” tutur Gus Sentot dengan nada takzim.

Politisi senior ini menegaskan bahwa kesuksesan seorang anak di masa depan tidak hanya bertumpu pada pola asuh orang tua di rumah. Doa tulus yang dipanjatkan oleh para guru di sekolah memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk garis takdir anak.

Gus Sentot kemudian memberikan contoh nyata bahwa anak-anaknya yang merupakan alumni As Salamah kini sukses menembus Pendidikan Tinggi Negeri (PTN). “Saya percaya pendidikan anak usia dini di sini sudah sangat lengkap, mulai dari Day Care, KB, hingga TK,” kata Ketua DPC Partai Demokrat Jombang tersebut.

Di sisi lain, Kepala Sekolah TK As Salamah Full Day School, Sulistin, menegaskan bahwa lembaganya memang berfokus pada pembangunan karakter sejak dini. Sekolah berkomitmen memberikan lingkungan terbaik agar anak-anak tumbuh dengan rasa kasih sayang yang penuh.

“Di As Salamah ada day care, KB, dan TK yang diasuh oleh guru-guru berpengalaman, menyayangi anak-anak, dan mencintai untuk memberikan bimbingan. Kami mengajak mereka bermain, belajar membaca, menghitung, sekaligus mengaji,” pungkas Sulistin hangat.

Acara pun ditutup dengan aksi spontan Gus Sentot yang meminta izin membagikan uang saku sebesar Rp10 ribu kepada setiap siswa sebagai motivasi belajar. Pementasan berakhir, namun senyum ceria anak-anak dan rasa khidmat orang tua menjadi memori indah yang membekas di Rejoso hari itu.