TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 22

Tak Hanya Angkat Senjata, Prajurit TNI Ini Pilih Angkat Cangkul Bersama Warga di Yalimo

0

Gotong Royong di Elelim, Satgas Yonif 521/DY Perkuat Ikatan Sosial dengan Warga Papua

YALIMO, Papua Pegunungan,TelusuR.ID — Kehadiran prajurit TNI di wilayah perbatasan tidak hanya identik dengan tugas pengamanan. Di Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, personel Satgas Pamtas Yonif 521/DY menunjukkan wajah lain pengabdian mereka dengan turun langsung bergotong royong membersihkan lingkungan rumah warga, Kamis (19/6/2026).

Sejak pagi, personel Pos Elelim bersama masyarakat bahu-membahu membersihkan halaman rumah dan menata kawasan permukiman. Aktivitas sederhana itu menghadirkan suasana akrab tanpa sekat antara aparat dan warga. Canda dan tawa mewarnai pekerjaan yang dilakukan bersama, mencerminkan eratnya hubungan yang terbangun selama masa penugasan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan teritorial yang dijalankan Satgas Yonif 521/DY. Selain menjaga stabilitas keamanan, satuan ini berupaya menghadirkan manfaat nyata melalui aktivitas sosial yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Komandan Satgas Yonif 521/DY Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata mengatakan, gotong royong bukan sekadar membersihkan lingkungan, melainkan sarana membangun kebersamaan sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya hidup sehat.

“Budaya gotong royong merupakan warisan bangsa yang harus terus dijaga. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin memperkuat silaturahmi dengan masyarakat sekaligus mengajak warga untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap bersih dan nyaman,” ujar Rahadyan.

Menurut dia, nilai kebersamaan dan kepedulian sosial menjadi modal penting dalam menjaga harmoni kehidupan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki tantangan geografis seperti Papua Pegunungan.

Kehadiran personel Satgas mendapat sambutan positif dari masyarakat. Tokoh masyarakat Distrik Elelim, Veldo Wenda, menilai prajurit Yonif 521/DY tidak hanya menjalankan tugas menjaga keamanan, tetapi juga aktif membantu warga dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

“Kami merasa terbantu. Bapak-bapak TNI selalu hadir di tengah masyarakat, mulai dari gotong royong, pelayanan kesehatan, sampai kegiatan pendidikan. Kehadiran mereka membuat masyarakat merasa lebih dekat dan diperhatikan,” kata Veldo.

Bagi warga Elelim, kegiatan tersebut bukan semata membersihkan lingkungan, melainkan memperkuat hubungan kekeluargaan yang telah terjalin antara masyarakat dan personel Satgas. Interaksi yang terbangun secara langsung juga menjadi ruang komunikasi yang memungkinkan berbagai persoalan warga dapat diketahui dan dicarikan solusi bersama.

Di tengah perubahan zaman, semangat gotong royong yang tetap hidup di pedalaman Papua menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan kepedulian sosial masih menjadi kekuatan penting dalam menjaga persatuan. Bagi Satgas Yonif 521/DY dan masyarakat Elelim, kerja bersama itu menjadi bukti bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat tidak hanya diwujudkan melalui tugas keamanan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Perkuat Birokrasi Akar Rumput, Bupati Warsubi Lantik 10 Kepala Desa Antar Waktu 

0

JOMBANG, TelusuR.id – Sektor birokrasi pemerintahan tingkat desa di Kabupaten Jombang resmi mendapat suntikan energi baru. Langkah cepat diambil oleh Pemerintah Kabupaten Jombang guna mengantisipasi kekosongan kepemimpinan di tingkat bawah agar roda pelayanan publik tidak tersendat.

Bupati Jombang, Warsubi, S.H., M.Si., memimpin langsung prosesi pengambilan sumpah dan pelantikan 10 Kepala Desa Antar Waktu (KDAW) pada Kamis siang. Acara sakral tersebut digelar di Pendopo Agung Kabupaten Jombang dengan jajaran protokol kedinasan yang ketat.

Prosesi pelantikan ini turut disaksikan oleh Wakil Bupati Jombang Gus Salmanudin, S.Ag., M.Pd., serta jajaran Forkopimda. Hadir pula para Staf Ahli, Asisten Sekda, jajaran Kepala Perangkat Daerah, hingga jajaran Forkopimcam dari wilayah desa yang bersangkutan.

Pelantikan KDAW ini dilaksanakan secara khusus untuk mengisi kekosongan sisa masa jabatan kepala desa sebelumnya. Langkah pengisian posisi ini dinilai krusial agar pelaksanaan program kerja desa dan penyaluran anggaran bisa langsung dieksekusi tanpa hambatan administratif.

Mengawali sambutannya, Bupati Jombang Warsubi mengajak seluruh hadirin untuk sejenak menundukkan kepala. Beliau mengajak semua elemen mendoakan para kepala desa terdahulu yang telah purnatugas atau mendahului wafat agar segala pengabdian mereka dinilai sebagai amal saleh.

Kepada para KDAW yang baru saja mengucap sumpah jabatan, Bupati Warsubi menegaskan bahwa posisi ini bukanlah sekadar fasilitas jabatan, melainkan amanah besar. Kursi kepemimpinan desa menuntut tanggung jawab penuh, kejujuran tinggi, serta dedikasi tanpa batas kepada warga.

Bupati berharap para pemimpin baru ini tidak perlu meluangkan waktu terlalu lama untuk bersenang-senang pascapelantikan. Sebaliknya, mereka diminta untuk langsung tancap gas mengurai berbagai persoalan di desa serta melayani urusan administratif warga.

“Panjenengan dapat segera menyesuaikan diri dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban. Pahami kondisi wilayah, rangkul seluruh elemen masyarakat, serta lanjutkan program-program pembangunan yang telah berjalan dengan baik,” tutur Warsubi dengan tegas.

Pria yang akrab disapa Abah Warsubi ini juga mengingatkan bahwa desa merupakan ujung tombak utama dari pembangunan daerah secara makro. Keberhasilan pembangunan di Kabupaten Jombang secara keseluruhan dinilai sangat bergantung pada kemandirian dan kemajuan desa-desanya.

Apabila tata kelola pemerintahan desa berjalan pincang, maka target pembangunan di tingkat kabupaten dipastikan akan ikut terganggu. Oleh sebab itu, stabilitas kepemimpinan di tingkat paling bawah menjadi kunci utama yang wajib dikawal secara serius oleh para KDAW.

“Saudara sekalian diharapkan mampu menjadi energi baru dan memberikan semangat baru dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dan pelayanan kepada masyarakat, demi mewujudkan Jombang Maju dan Sejahtera untuk Semua,” tambah Abah Warsubi penuh optimistis.

Selain masalah internal administrasi desa, bupati juga memberikan perhatian khusus pada aspek keamanan teritorial. Mengingat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak Kabupaten Jombang tahun 2027 sudah di depan mata, stabilitas politik desa kini mulai diuji.

Warsubi berpesan agar para KDAW aktif memetakan potensi konflik guna menjaga ketertiban, keamanan, serta keharmonisan di wilayahnya masing-masing. Komunikasi yang kuat dengan perangkat desa, BPD, hingga babinsa dan bhabinkamtibmas harus dirajut erat.

Adapun sembilan dari sepuluh KDAW yang dilantik memiliki masa jabatan terhitung sejak tanggal dilantik sampai dengan 5 Desember 2027. Mereka adalah Kaswar (Desa Sukorejo, Kecamatan Perak), Totok Hariyono (Desa Pengampon, Kecamatan Kabuh), Ariy Septa Adicandra (Desa Sidomulyo, Kecamatan Megaluh), Anis Prasetyo Ari (Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan), Warsito (Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno), Sugito (Desa Cukir, Kecamatan Diwek), Sofiyudin (Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan), Rini Hidyawati Syafi’i (Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh), dan Agung Sutikno (Desa Kampungbaru, Kecamatan Plandaan).

Sementara itu, untuk posisi KDAW Wangkalkepuh, Kecamatan Gudo, kini resmi dijabat oleh Joko Sukamto. Berbeda dengan sembilan kepala desa lainnya, Joko Sukamto akan mengemban sisa masa jabatan dengan durasi yang lebih panjang, yakni terhitung sejak tanggal dilantik sampai dengan 7 Januari 2029.

Sinergi struktural yang kokoh mulai dari pihak kecamatan hingga pemerintah kabupaten harus terus dibangun tanpa sekat. Langkah proaktif ini diperlukan agar iklim demokrasi di tingkat akar rumput menjelang tahun politik daerah dapat berjalan sejuk, aman, dan lancar.

PW GP Ansor Jatim Kumpulkan Pengusaha, Buruh, dan Pemerintah, Bidik Ekonomi Berkeadilan dari Surabaya

0

Ansor Economic Forum 2026, PW GP Ansor Jatim Perkuat Sinergi Pengusaha dan Pekerja Demi Ekonomi Berkeadilan

SURABAYA, TelusuR.ID – Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur menunjukkan keseriusannya dalam mengambil peran strategis di sektor ekonomi. Tidak hanya bergerak di bidang keagamaan dan kaderisasi, organisasi kepemudaan Nahdliyin ini juga aktif membangun ekosistem usaha yang sehat melalui penguatan hubungan industrial yang harmonis.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Ansor Economic Forum 2026 di Kantor PW GP Ansor Jawa Timur, Surabaya, Kamis (18/6/2026). Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, pelaku industri, akademisi, asosiasi usaha, hingga kalangan serikat pekerja dalam satu ruang dialog untuk membangun kolaborasi yang produktif.

Sejumlah pemangku kepentingan hadir dalam forum tersebut, di antaranya Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur, Disnaker Kota Surabaya, Disnaker Kabupaten Mojokerto, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (Abujapi) Jatim, serta berbagai perusahaan nasional seperti KAI Logistik, PT Borwita, CV Sumber Pangan, dan Steel Production.

Forum itu juga dihadiri para saudagar Nahdliyin dan kader Ansor yang bergerak di berbagai sektor usaha, mulai dari properti, transportasi, peternakan, kesehatan, hingga layanan perjalanan umrah. Kehadiran mereka memperlihatkan semakin besarnya kontribusi kader Ansor dalam membangun perekonomian daerah.

Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa’ Safril, mengatakan bahwa Ansor Economic Forum 2026 merupakan bagian dari ikhtiar organisasi dalam menghadirkan ruang dialog yang sehat di tengah dinamika ekonomi dan ketenagakerjaan yang terus berkembang.

Mengusung tema “Memperkuat Hubungan Industrial Harmonis: Usaha Tumbuh, Pekerja Sejahtera”, forum tersebut menjadi wujud nyata komitmen GP Ansor dalam mendorong terciptanya pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

“Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan membutuhkan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan antara pengusaha, pekerja, dan pemerintah. Karena itu, diperlukan ruang dialog yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kesepahaman dan kolaborasi yang konstruktif,” ujar Musaffa’.

Menurut dia, hubungan industrial yang sehat tidak hanya berfungsi menyelesaikan konflik ketenagakerjaan, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usaha, peningkatan produktivitas, dan kesejahteraan tenaga kerja.

“Dunia usaha membutuhkan kepastian dan stabilitas, sementara pekerja membutuhkan perlindungan dan jaminan kesejahteraan. Dalam konteks inilah pemerintah memiliki peran penting sebagai regulator sekaligus fasilitator terciptanya hubungan industrial yang berkeadilan,” katanya.

Musaffa’ juga menyoroti perkembangan kader Ansor yang kini semakin banyak bertransformasi menjadi pelaku usaha di berbagai sektor strategis. Menurutnya, potensi besar tersebut perlu dikonsolidasikan agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Karena itu, PW GP Ansor Jawa Timur berupaya menghadirkan wadah kolaborasi yang tidak hanya memperkuat jejaring bisnis antarkader, tetapi juga membuka ruang kerja sama dengan berbagai kalangan di luar organisasi.

Sementara itu, Ketua Panitia Ansor Economic Forum 2026, Anas Syaikhu, menjelaskan bahwa forum tersebut dirancang sebagai ruang yang inklusif untuk memperkuat jaringan ekonomi dan mempertemukan pelaku usaha lintas sektor.

“Melalui forum ini kami ingin mempertemukan para pengusaha lintas sektor, baik dari kader Ansor maupun di luar Ansor, sehingga ke depan dapat terjalin sinergi dan kolaborasi yang saling menguntungkan,” ujarnya.

Melalui Ansor Economic Forum 2026, PW GP Ansor Jawa Timur menegaskan perannya sebagai organisasi kader yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Tidak hanya fokus pada penguatan keagamaan dan kebangsaan, GP Ansor Jatim juga hadir sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan yang mendorong terciptanya dunia usaha yang tumbuh sehat, tenaga kerja yang sejahtera, serta pembangunan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Danrem 074/Warastratama Pimpin Sertijab Dandim 0724/Boyolali, Estafet Pengabdian TNI untuk Rakyat Berlanjut

0

BOYOLALI, TelusuR.ID – Pergantian kepemimpinan di tubuh TNI Angkatan Darat kembali bergulir. Komandan Korem (Danrem) 074/Warastratama Kolonel Inf M. Arry Yudistira memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Kodim (Dandim) 0724/Boyolali dari Letkol Inf Dhanu Anggoro Asmoro kepada Letkol Inf Gunawan Nurbathin, Kamis (18/6/2026).

Rotasi jabatan tersebut merupakan bagian dari proses regenerasi dan pembinaan organisasi di lingkungan TNI AD guna menjaga kesinambungan kepemimpinan serta memastikan tugas pengabdian kepada bangsa dan masyarakat terus berjalan secara optimal.

Di balik pergantian komandan, terdapat estafet pengabdian yang tidak pernah berhenti. Kepemimpinan boleh berganti, namun semangat pengabdian, profesionalisme, dan kedekatan TNI dengan rakyat tetap menjadi fondasi utama dalam menjalankan tugas di wilayah.

Dalam arahannya, Kolonel Inf M. Arry Yudistira menegaskan bahwa menerima tongkat komando berarti juga harus siap melepaskannya sebagai bagian dari dinamika organisasi yang sehat. Menurut dia, jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi kepentingan bangsa dan masyarakat.

“Selamat kepada pejabat Dandim yang baru. Segera menyesuaikan diri dengan lingkungan tugas, melanjutkan program-program yang telah berjalan dengan baik, serta memperkuat sinergi dengan Forkopimda dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Boyolali,” kata Danrem.

Ia juga menekankan bahwa pengalaman memimpin satuan kewilayahan menjadi bekal penting bagi seorang perwira dalam menghadapi berbagai dinamika di lapangan. Sebab, seorang Dandim tidak hanya bertanggung jawab menjaga stabilitas wilayah, tetapi juga dituntut mampu hadir di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi warga.

Pergantian kepemimpinan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa TNI terus melakukan pembinaan sumber daya manusia secara berkelanjutan guna mencetak pemimpin yang adaptif, profesional, dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Dengan kepemimpinan baru, Kodim 0724/Boyolali diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai garda terdepan pembinaan teritorial, menjaga keamanan wilayah, serta mendukung berbagai program pembangunan daerah yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan seluruh komponen masyarakat dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas dan memperkuat ketahanan wilayah. Karena itu, estafet kepemimpinan di Kodim 0724/Boyolali bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan keberlanjutan komitmen TNI untuk terus hadir, mengabdi, dan tumbuh bersama rakyat.

(Agus Kemplu)

Saat Seragam Loreng Menyatu dengan Cangkul dan Semen, Babinsa Gesi Gotong Royong Bangun Talud Demi Keselamatan Warga

0

SRAGEN, TelusuR.ID – Seragam loreng tak selalu identik dengan latihan militer. Di Dukuh Tirto Mulyo RT 13, Desa Gesi, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, Kamis (18/6/2026), seragam itu justru tampak menyatu dengan cangkul, adukan semen, dan semangat gotong royong warga.

Babinsa Desa Gesi Koramil 12/Gesi Kodim 0725/Sragen, Sertu Heri, turun langsung bersama masyarakat membangun talud jalan yang selama ini menjadi kebutuhan warga untuk menjaga keamanan dan ketahanan badan jalan dari ancaman longsor, terutama saat musim hujan.

Bagi warga, kehadiran prajurit TNI di tengah pekerjaan fisik bukan sekadar simbol. Kehadiran mereka menjadi energi yang menggerakkan semangat kebersamaan sekaligus mempercepat pembangunan yang manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.

Sertu Heri mengatakan, pembangunan talud memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya erosi dan longsoran tanah yang berpotensi merusak akses jalan. Infrastruktur tersebut juga akan memperkuat badan jalan sehingga aktivitas warga dapat berlangsung lebih aman dan lancar.

“Gotong royong adalah budaya yang harus terus dipelihara. Dengan bekerja bersama, pekerjaan menjadi lebih ringan dan manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat,” kata Sertu Heri.

Menurut dia, keterlibatan Babinsa dalam pembangunan desa merupakan bagian dari tugas pembinaan teritorial yang dijalankan TNI. Kehadiran aparat kewilayahan tidak hanya menjaga aspek pertahanan, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam mendorong pembangunan dan memperkuat semangat kebersamaan.

Kehadiran Babinsa, lanjut dia, merupakan wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat yang selama ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga ketahanan wilayah.

Salah seorang warga, Sutarman, mengaku senang dengan keterlibatan Sertu Heri dalam berbagai kegiatan di lingkungan desa. Menurutnya, Babinsa tidak hanya hadir ketika ada persoalan keamanan, tetapi juga selalu terlibat dalam kegiatan sosial dan pembangunan yang dibutuhkan masyarakat.

“Pak Babinsa hampir selalu ada ketika warga membutuhkan. Beliau ikut bekerja bersama kami dan memberikan semangat. Kehadiran TNI membuat warga semakin kompak,” ujar Sutarman.

Pembangunan talud tersebut diharapkan mampu meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan akses yang lebih kuat dan aman, distribusi hasil pertanian maupun mobilitas warga dapat berlangsung tanpa terganggu risiko kerusakan jalan akibat curah hujan tinggi.

Di tengah derasnya arus modernisasi, semangat gotong royong yang diperlihatkan warga bersama Babinsa Desa Gesi menjadi bukti bahwa kemanunggalan TNI dengan rakyat bukan sekadar slogan. Semangat itu terus hidup dalam kerja nyata yang menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

(Agus Kemplu)

Singgung Pelajaran Pahit Lampung, Gus Lilur Minta Muktamar NU ke-35 Tak Jadi Arena Perebutan Kekuasaan

0

Gus Lilur Minta Muktamar NU ke-35 Jadi Momentum Pemurnian, Singgung Pelajaran Pahit Lampung

JAKARTA,TelusuR.ID Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sejumlah suara mulai mengingatkan pentingnya menjaga forum tertinggi organisasi itu dari tarik-menarik kepentingan politik. Tokoh muda NU, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, meminta muktamar tidak direduksi menjadi sekadar arena perebutan kekuasaan.

Menurut kiai asal Situbondo, Jawa Timur, muktamar kali ini harus menjadi momentum pemurnian organisasi sekaligus peneguhan kembali khittah NU sebagai jam’iyah diniyah ijtimaiyah yang menjaga kepentingan umat dan bangsa.

Ia mengingatkan pengalaman Muktamar ke-34 di Lampung pada Desember 2021 yang, menurutnya, meninggalkan catatan yang patut dijadikan bahan refleksi. Polarisasi kepentingan dan konflik berkepanjangan dinilai telah membawa dampak negatif terhadap kehidupan internal organisasi.

“Muktamar ke-34 Lampung harus menjadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin dapat berakibat fatal, organisasi terpecah dan terseret oleh kepentingan kekuasaan,” kata Gus Lilur kepada wartawan, Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut dia, NU memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding sekadar urusan internal organisasi. Dengan basis warga yang sangat besar dan posisi historisnya sebagai salah satu elemen pendiri republik, setiap keputusan strategis NU akan berdampak terhadap kehidupan kebangsaan.

Di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan kohesi sosial di dalam negeri, kata dia, NU dituntut tetap menjadi perekat persatuan nasional.

“Setiap keputusan besar NU harus selalu ditanya, apa artinya bagi keutuhan bangsa,” ujarnya.

Gus Lilur kemudian mengaitkan semangat yang harus dibawa para peserta muktamar dengan sikap para pendiri bangsa pada 18 Agustus 1945 ketika menyepakati pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Baginya, keputusan tersebut menunjukkan kemampuan para tokoh Islam saat itu menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok.

Dalam konteks kekinian, ia menilai kepemimpinan NU ke depan perlu memiliki visi kebangsaan yang sejalan dengan agenda persatuan nasional. Ia berpandangan bahwa hubungan harmonis antara NU dan pemerintah penting untuk menjaga stabilitas dan memperkuat peran organisasi di tengah masyarakat.

Atas dasar itu, Gus Lilur secara terbuka mengusulkan Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar, sebagai Ketua Umum PBNU mendatang. Sementara mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, menurut dia, layak menempati posisi Rais Aam PBNU.

“Keduanya merupakan ulama dan akademisi dengan kapasitas internasional. NU memiliki banyak tokoh berkualitas, sehingga jangan sampai regenerasi kepemimpinan ditentukan semata-mata oleh faktor politik,” ujarnya.

Gus Lilur juga menyoroti fenomena munculnya figur-figur yang mengandalkan simbol kesantrian tanpa didukung kedalaman ilmu dan kapasitas keulamaan yang memadai. Menurut dia, para peserta muktamar perlu menunjukkan keberanian moral dengan memilih pemimpin berdasarkan integritas, kapasitas keilmuan, dan rekam jejak pengabdian.

Bagi Gus Lilur, Muktamar NU ke-35 bukan sekadar agenda lima tahunan. Forum tersebut, kata dia, akan menentukan arah organisasi yang selama ini menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga moderasi, persatuan, dan kehidupan kebangsaan Indonesia.

TNI Turun ke Pesantren, Ratusan Santri Mutiara Quran Digembleng Jadi Generasi Disiplin dan Berjiwa Nasionalis

0

Wonogiri,TelusuR.ID – Ratusan santri Pondok Pesantren Mutiara Quran, Dusun Kerjo, Kelurahan Mojopuro, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, mendapat pembinaan karakter, mental, dan fisik dari personel Koramil 10/Wuryantoro Kodim 0728/Wonogiri, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan yang dipimpin Peltu Hari tersebut mengusung tema “Melalui Disiplin, Kemandirian, dan Wawasan Kebangsaan Membentuk Jiwa yang Kuat”. Pembinaan dilakukan sebagai upaya menanamkan karakter disiplin serta memperkuat semangat kebangsaan di kalangan generasi muda.

Para santri mengikuti kegiatan dengan antusias. Mereka mendapatkan materi tentang pembentukan karakter, kedisiplinan, wawasan kebangsaan, cinta tanah air, hingga pelatihan fisik ringan untuk meningkatkan kebugaran dan semangat belajar.

Dalam arahannya, Peltu Hari menegaskan bahwa kedisiplinan merupakan modal penting bagi generasi muda untuk meraih prestasi dan mewujudkan cita-cita. Ia juga mengingatkan para santri agar menjauhi berbagai perilaku negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

“Generasi muda merupakan aset bangsa yang harus dipersiapkan dengan baik. Melalui kegiatan ini, kami berharap para santri memiliki karakter yang kuat, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi,” ujar Peltu Hari.

Menurutnya, pembinaan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan fisik, tetapi juga membentuk mental dan karakter para santri agar siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Melalui kegiatan itu, TNI bersama lembaga pendidikan keagamaan berupaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan sekaligus menanamkan semangat disiplin dan kemandirian kepada generasi muda sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

(Agus Kemplu)

Sambut 1448 H, GP Ansor Jogoroto Santuni Anak Yatim dan Kukuhkan Pengurus Ranting Se-Kecamatan

0

Jombang,TelusuR.ID – Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Jogoroto memaknai momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dengan memperkuat gerakan sosial dan konsolidasi organisasi. Melalui Sahabat Ansor Peduli (SAP), GP Ansor Jogoroto menggelar santunan bagi anak yatim sekaligus melantik pengurus Pimpinan Ranting GP Ansor se-Kecamatan Jogoroto.

Kegiatan yang berlangsung di Musholla Nurul Huda, Dusun Tugurejo, Desa Mayangan, Kamis (18/6/2026), itu dihadiri jajaran pengurus PAC GP Ansor Jogoroto, para pengurus ranting yang dilantik, tokoh agama, tokoh masyarakat, donatur, serta puluhan anak yatim penerima santunan.

Ketua PAC GP Ansor Jogoroto, Samsul Huda, mengatakan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum hijrah menuju organisasi yang lebih kuat dan semakin dekat dengan masyarakat.

Menurutnya, pelantikan pengurus ranting merupakan bagian dari upaya memperkuat kaderisasi sekaligus memperluas pengabdian organisasi hingga tingkat desa.

“Momentum Tahun Baru Islam ini harus menjadi titik awal untuk berhijrah menjadi pribadi dan organisasi yang lebih baik. Pelantikan ini menjadi ikhtiar memperkuat kaderisasi agar keberadaan Ansor benar-benar memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan masyarakat,” ujar Samsul.

Ia menegaskan, pelantikan serentak tersebut juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat konsolidasi internal agar organisasi semakin solid dalam menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

Sementara itu, Koordinator Sahabat Ansor Peduli (SAP) Kecamatan Jogoroto, M. Miftahus Saidin, menyampaikan apresiasi kepada para donatur dan masyarakat yang selama ini mendukung berbagai program sosial yang dijalankan SAP.

Menurut dia, dukungan para dermawan menjadi faktor penting yang membuat program santunan anak yatim dan kegiatan sosial lainnya dapat terus berjalan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur, para sahabat Ansor, dan masyarakat yang telah mempercayakan sebagian rezekinya melalui Sahabat Ansor Peduli. Dukungan ini memungkinkan berbagai program sosial terus berjalan dan memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan,” katanya.

Ia berharap semangat kepedulian dan budaya berbagi yang telah tumbuh di tengah masyarakat dapat terus dijaga serta diperluas sehingga semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Taufiqi Fakaruddin Assilahi menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus ranting yang baru dilantik. Ia berpesan agar amanah organisasi dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan diwujudkan melalui pengabdian nyata kepada masyarakat.

“Kehadiran kader Ansor harus benar-benar dirasakan manfaatnya, baik dalam bidang keagamaan, sosial maupun kemasyarakatan. Jadilah kader yang siap mengabdi, menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta menjadi pelopor kebaikan di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kemajuan organisasi, serta keberkahan bagi para donatur dan anak-anak yatim yang hadir.

Bagi GP Ansor Jogoroto, Tahun Baru Islam 1448 Hijriah bukan sekadar pergantian kalender. Momentum tersebut menjadi penanda komitmen untuk terus bergerak, memperkuat kaderisasi, dan memperluas pengabdian kepada masyarakat.

Haflah Praja Putra Sentul Jombang: Gandeng Tradisi Fiqih NU dan Sakralnya Kesenian Bantengan

0

JOMBANG, TelusuR.id – Lanskap perayaan kelulusan atau Haflah Akhirussanah di lingkup madrasah kini tidak lagi sekadar menjadi seremoni formalitas yang kaku. Pendekatan kreatif dan adaptasi budaya lokal yang segar mulai diadopsi oleh sejumlah lembaga pendidikan Islam guna memberikan kesan mendalam bagi para peserta didik.

Langkah inovatif ini ditunjukkan secara nyata oleh Yayasan Pendidikan Islam Praja Putra Sentul, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. Kompleks sekolah ini sukses menyulap agenda akhir tahun ajaran menjadi sebuah festival kebudayaan yang memadukan spiritualitas religius dengan kearifan lokal Jawa Timur.

Pembaruan menarik tersebut diterapkan secara menyeluruh pada semua unit pendidikan, mulai dari jenjang Kelompok Bermain (KB), Raudhatul Athfal (RA), hingga Madrasah Ibtidaiyah (MI). Perubahan mencakup konsep acara, penyediaan fasilitas pendukung, hingga variasi kreasi seni yang ditampilkan di atas panggung.

Rangkaian acara sendiri dimulai dengan nuansa spiritual yang kental melalui sesi sungkeman yang dibuat lebih sakral dari tahun-tahun sebelumnya. Prosesi basuh kaki orang tua ini diawali dengan pembacaan Khotmil Qur’an pasca-salat Isya berjamaah di masjid yayasan pada Selasa (16/06/2026).

Memasuki hari kedua pada Rabu (17/06/2026), panggung utama haflah berubah menjadi pusat pertunjukan seni yang edukatif sekaligus modern. Selain lantunan sholawat dan tari daerah, para siswa unjuk gigi menampilkan pertunjukan kreatif seperti tarian semapore hingga drama teatrikal.

Namun, dari sekian banyak rangkaian penampilan, ada satu pertunjukan yang paling menyedot perhatian ribuan tamu undangan dan wali murid. Penampilan tersebut adalah kreasi seni tradisi Bantengan yang dibawakan secara apik dan energetik oleh para siswa Madrasah Ibtidaiyah.

Hadirnya seni komunal ini sengaja diselaraskan dengan tema besar yang diusung oleh pihak panitia haflah pada tahun ini, yakni “Membangun Peserta Didik Melalui Kearifan Lokal”. Pilihan tema ini diambil sebagai antitesis dari mulai lunturnya kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Praja Putra, Gus Faiz, menegaskan bahwa kehadiran kesenian Bantengan di atas panggung madrasah memiliki misi ideologis. Langkah ini menjadi cara konkret dari lembaga pendidikan Islam dalam ikut andil merawat serta melestarikan warisan leluhur.

“Pertunjukan ini menggabungkan sendratari, musik, dan unsur magis yang menjadi cermin semangat serta jiwa masyarakat Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Jombang,” ujar Gus Faiz di sela-sela mendampingi para wali murid di lokasi acara.

Lebih jauh, Gus Faiz menguraikan bahwa sajian kesenian Bantengan di momen kelulusan ini juga dikonseptualisasikan sebagai Simbol Pelepasan. Gerakan lincah dan bertenaga dari tokoh Bantengan atau yang akrab disebut mberot diaplikasikan sebagai perlambang mentalitas petarung.

Karakter mberot tersebut diharapkan mampu menginspirasi para siswa-siswi yang lulus agar memiliki semangat pantang menyerah. Mentalitas kuat itu dinilai sangat dibutuhkan oleh anak-anak ketika mereka melangkah keluar untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Secara kultural, kesenian Bantengan merupakan seni pertunjukan tradisional khas Jawa Timur yang memadukan unsur tari, pencak silat, musik gamelan, dan mantra. Lebih dari sekadar tontonan, kesenian ini kaya akan simbolisme nilai gotong royong serta koneksi spiritual dengan alam.

Meskipun kesenian rakyat ini sempat mengalami fase pasang surut peminat akibat gempuran budaya asing, kini Bantengan berhasil dibangkitkan kembali. Seni pertunjukan ini bertransformasi menjadi identitas budaya yang mapan dan digemari oleh anak-anak usia sekolah.

Dalam sesi wawancara khusus, Gus Faiz memaparkan bahwa seluruh inovasi kebudayaan yang berjalan di madrasahnya didasarkan pada prinsip kaidah fiqih yang kokoh. Pihaknya memegang teguh prinsip universal yang jamak digunakan oleh kalangan ulama Nahdlatul Ulama (NU).

Prinsip tersebut berbunyi al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdhu bil jadidil ashlah, yang berarti mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Kaidah ini menjadi jangkar utama bagi pergerakan kurikulum di Yayasan Praja Putra.

“Kami berkomitmen mempertahankan nilai moral, adab, silaturahmi, dan budaya luhur warisan leluhur yang tidak bertentangan dengan agama. Namun di sisi lain, kami juga sangat terbuka terhadap perkembangan zaman dan adopsi teknologi digital demi kemaslahatan umat,” pungkas Gus Faiz.

Sinergi Polri dan Petani: Bhabinkamtibmas Polsek Ngoro Pantau Lahan Jagung di Mancilan Jombang

0

JOMBANG, TelusuR.id – Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Jombang terus memperkuat komitmennya dalam mengawal program strategis nasional. Melalui pendekatan humanis di tingkat desa, korps baju cokelat ini turun langsung ke sawah guna memastikan roda produktivitas sektor pertanian warga tetap berjalan stabil.

Langkah nyata tersebut ditunjukkan oleh Bhabinkamtibmas Polsek Ngoro, Aiptu Rohni Teguh, yang melaksanakan pemantauan intensif terhadap perkembangan tanaman jagung pada Kamis (18/06/2026). Peninjauan lapangan ini dipusatkan di area lahan ketahanan pangan yang berada di Dusun Mancilan, Desa/Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.

Profil Lahan Ketahanan Pangan Mancilan

Komoditas Utama: Tanaman Jagung

Luas Lahan: 0,49 Hektare

Pengelola Lahan: Karnawi (bersama masyarakat/kelompok tani setempat)

Tujuan Kegiatan: Monitoring pertumbuhan, estimasi panen, dan antisipasi kendala lapangan

Kegiatan pemantauan ini merupakan bagian dari sinergi berkelanjutan antara Polri dan elemen masyarakat dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Di lokasi, personel Polsek Ngoro melakukan pengecekan berkala terhadap kondisi fisik batang tanaman jagung sekaligus mengestimasi potensi hasil panen yang akan diperoleh.

Monitoring berkala ini dinilai sangat krusial untuk memastikan seluruh fase pertumbuhan tanaman berlangsung secara optimal. Selain itu, kehadiran petugas di lapangan juga bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai faktor eksternal, seperti serangan hama atau kendala irigasi, yang berpotensi menurunkan hasil produksi.

Melalui skema pemantauan yang terjadwal, setiap dinamika perkembangan tanaman di lapangan dapat dideteksi secara dini. Pola ini memungkinkan para petani dan petugas untuk segera mengambil langkah-langkah antisipatif atau mitigasi apabila ditemukan kendala teknis sebelum memasuki masa panen raya.

Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan, S.H., S.I.K., CPHR., melalui Kapolsek Ngoro IPTU Susila, menegaskan bahwa kegiatan asistensi dan pendampingan ini adalah wujud konkret dukungan institusi kepolisian terhadap kebijakan pemerintah pusat. Polri berkomitmen menjadi motor penggerak ketahanan pangan di tingkat daerah.

“Ketahanan pangan merupakan salah satu program strategis nasional yang membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Kehadiran Polri melalui Bhabinkamtibmas di tengah para petani diharapkan dapat memberikan motivasi serta memastikan program ketahanan pangan berjalan dengan baik,” ujar IPTU Susila.

Ia mengimbuhkan bahwa pemantauan rutin ini mempermudah petugas dalam memetakan produktivitas pertanian di wilayah hukumnya. Dengan pengawasan yang konsisten dari hulu hingga hilir, potensi kegagalan panen akibat minimnya pengawasan dapat ditekan sekecil mungkin.

Pihak kepolisian berharap, intervensi positif berupa pendampingan ini mampu mendongkrak tonase hasil panen jagung milik warga secara signifikan. Output jangka panjang yang dibidik adalah penguatan kesejahteraan finansial para petani lokal serta terjaganya stabilitas pasokan karbohidrat di Kabupaten Jombang.

Menurut IPTU Susila, jalinan kolaborasi yang harmonis antara aparat kepolisian dan kelompok tani merupakan variabel penentu dalam menjaga keberlanjutan program ini. Pendampingan yang sifatnya tidak sekadar seremonial diharapkan mampu memberikan stimulan psikologis bagi petani untuk terus menanam.

Melalui pengawasan yang dilakukan secara berkelanjutan, produktivitas lahan di wilayah Ngoro diproyeksikan dapat menjadi salah satu lumbung pangan percontohan. Manfaat nyata dari program ini diharapkan dapat langsung dirasakan oleh struktur ekonomi terkecil di tingkat perdesaan.

Secara makro, kegiatan ini merefleksikan keseriusan Polres Jombang dalam memperkuat kemitraan dengan para petani yang bertindak sebagai ujung tombak kedaulatan pangan. Sinergi yang kuat antara penegak hukum dan sektor agraria menjadi modal penting bagi daerah dalam menghadapi tantangan pemenuhan pangan masa depan.

Melalui keberadaan program sinergis yang terintegrasi dengan baik ini, upaya bersama untuk mewujudkan kemandirian pangan di wilayah Jombang diharapkan dapat terus bergulir secara optimal dan berkelanjutan.