TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 23

NBI Usulkan Duet Kiai Alim dan Intelektual Muda Pimpin PBNU 2026-2031

0

JAKARTA, TelusuR.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, wacana mengenai arah kepemimpinan organisasi mulai mengemuka. Salah satu usulan datang dari Netra Bakti Indonesia (NBI) yang menawarkan komposisi kepengurusan PBNU periode 2026-2031 dengan menempatkan kiai-kiai berpengaruh dan kalangan intelektual muda sebagai poros utama kepemimpinan.

Ketua Umum NBI, Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, mengatakan bahwa NU membutuhkan formulasi kepemimpinan yang mampu menjembatani otoritas keulamaan dengan tantangan zaman yang semakin kompleks.

“NU membutuhkan kombinasi antara kedalaman ilmu para kiai dan energi pembaruan dari generasi intelektual muda. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Justru harus dipadukan agar NU tetap menjadi penuntun umat sekaligus relevan menghadapi perubahan global,” ujar Gus Lilur dalam keterangan tertulis diterima Telusur.id, Kamis (18/6/2026).

Dalam usulan yang disusun NBI, posisi Rais Aam diisi oleh Prof. Dr. KHR. Said Aqil Siradj. Sementara posisi Wakil Rais Aam diusulkan dijabat oleh KH Afifuddin Muhajir dan KH Marzuki Mustamar.

Adapun posisi Katib Aam diusulkan untuk KH Abdus Salam Shohib.

Pada jajaran Tanfidziyah, NBI mengusulkan Prof. Dr. KH. Nazaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU. Ia didampingi oleh Nusron Wahid serta Alissa Wahid sebagai Wakil Ketua Umum. Sementara posisi Sekretaris Jenderal diusulkan dijabat oleh KH Yusuf Chudlori dan Bendahara Umum oleh KH Imam Jazuli.

Menurut Gus Lilur, komposisi tersebut dirancang bukan semata-mata berdasarkan popularitas tokoh, melainkan mempertimbangkan keseimbangan antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, serta kemampuan membaca perubahan sosial.

Ia menilai NU saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Selain persoalan kebangsaan dan keumatan, organisasi juga dituntut merespons perkembangan teknologi, perubahan pola komunikasi generasi muda, hingga dinamika geopolitik global.

“NU tidak cukup hanya menjaga tradisi. NU juga harus mampu memimpin transformasi. Karena itu, kami mengusulkan kepemimpinan yang memadukan kearifan ulama dengan perspektif intelektual yang adaptif terhadap perkembangan zaman,” kata Gus Lilur.

Ia menambahkan, figur-figur yang diusulkan NBI dinilai memiliki rekam jejak yang dapat merepresentasikan dua kekuatan utama NU, yakni otoritas keagamaan dan kemampuan membangun dialog dengan masyarakat modern.

Bagi NBI, lanjutnya, Muktamar NU mendatang tidak sekadar menjadi arena pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah organisasi untuk lima tahun ke depan.

“Yang paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana NU tetap menjadi rumah besar umat Islam yang mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa,” ujarnya.

Usulan tersebut, lanjut Gus Lilur, merupakan pandangan dan aspirasi yang disampaikan NBI sebagai bagian dari kontribusi pemikiran menjelang Muktamar NU 2026 dengan keputusan mengenai kepengurusan tetap berada di tangan para peserta muktamar dan mekanisme organisasi yang berlaku.

Di tengah menguatnya berbagai spekulasi mengenai calon-calon pemimpin NU masa depan, munculnya usulan NBI menambah warna diskusi publik. Di atas semua itu, satu pesan yang ingin ditegaskan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara otoritas keulamaan dan regenerasi intelektual agar NU tetap menjadi kekuatan moral, sosial, dan kebangsaan yang relevan pada era baru Indonesia.

Asta Cita Hijau: Membangun Indonesia Emas Tanpa Merusak Bumi

0

Asta Cita Hijau: Membangun Indonesia Emas Tanpa Merusak Bumi

Oleh: Abdullah Rasyid

Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN

Pendiri GREAT Institute

TelusuR.ID – Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya dibayangkan sebagai negeri dengan gedung-gedung tinggi, kawasan industri besar, jalan tol panjang, pendapatan per kapita meningkat, dan produk domestik bruto yang melesat. Ia harus dibayangkan sebagai negara maju yang tanahnya tetap subur, airnya tetap bersih, udaranya tetap sehat, hutannya tetap berdiri, lautnya tetap hidup, dan sampahnya terkendali.

Sebab kemajuan yang dibangun dengan merusak bumi sesungguhnya bukan kemajuan, melainkan utang ekologis yang diwariskan kepada anak cucu.

Dalam banyak percakapan publik, Indonesia Emas 2045 kerap diletakkan terutama sebagai agenda pertumbuhan ekonomi. Itu tidak keliru. Indonesia memang membutuhkan pertumbuhan tinggi untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah. Pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen selama ini cukup menjaga stabilitas, tetapi belum cukup untuk membawa Indonesia melompat menjadi negara maju.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia pada Kuartal I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Angka ini adalah kabar baik. Di tengah ketidakpastian global, perlambatan ekonomi dunia, gejolak geopolitik, dan tekanan rantai pasok, ekonomi nasional masih menunjukkan daya tahan. Namun, pertumbuhan 5,6 persen tidak boleh membuat bangsa ini cepat puas. Untuk mengejar target Indonesia Emas 2045, Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang lebih tinggi, lebih produktif, dan lebih berkualitas.

RPJPN 2025–2045 menargetkan Indonesia menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita pada kisaran 23.000 hingga 30.300 dollar AS. Sementara itu, PDB per kapita Indonesia saat ini masih berada di sekitar 5.000 dollar AS. Jaraknya masih panjang. Artinya, Indonesia harus bekerja lebih keras: memperkuat industrialisasi, memperluas hilirisasi, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mempercepat transformasi digital, membangun infrastruktur, memperbaiki kualitas pendidikan dan kesehatan, serta menarik investasi yang menciptakan nilai tambah.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: pertumbuhan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan lingkungan hidup. Indonesia tidak boleh mengejar negara maju dengan meniru kesalahan lama negara-negara industri: tumbuh dulu, merusak dulu, mencemari dulu, lalu membersihkan kemudian. Dunia hari ini tidak lagi memberi ruang bagi model pembangunan seperti itu.

Krisis iklim sudah terjadi. Banjir, kekeringan, abrasi, cuaca ekstrem, kebakaran hutan, pencemaran sungai, polusi udara, dan darurat sampah bukan lagi ancaman abstrak. Semuanya sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat. Karena itu, Indonesia Emas 2045 harus dibangun dengan paradigma baru: ekonomi tumbuh, tetapi bumi dijaga; industri maju, tetapi lingkungan tidak dikorbankan; investasi masuk, tetapi daya dukung alam tidak dilampaui.

Di sinilah gagasan Asta Cita Hijau menjadi penting. Asta Cita tidak boleh hanya dibaca sebagai agenda pembangunan ekonomi, pemerataan, hilirisasi, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan penguatan sumber daya manusia. Asta Cita juga harus dibaca sebagai kompas ekologis pembangunan nasional.

Asta Cita Hijau berarti menjadikan lingkungan hidup sebagai pusat, bukan pinggiran, pembangunan. Tanah, air, udara, hutan, laut, dan sampah harus menjadi indikator utama keberhasilan negara. Selama ini, pembangunan terlalu sering diukur dari berapa kilometer jalan dibangun, berapa besar investasi masuk, berapa kawasan industri berdiri, dan berapa persen ekonomi tumbuh. Semua itu penting. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah pembangunan itu membuat rakyat hidup lebih sehat? Apakah sungai tetap mengalir bersih? Apakah udara di kota-kota masih layak dihirup? Apakah hutan tetap menjadi penyangga iklim? Apakah laut tetap menjadi sumber kehidupan nelayan? Apakah sampah dikelola atau hanya dipindahkan ke gunungan tempat pembuangan akhir?

Negara maju sejati tidak hanya mampu memproduksi barang dan jasa. Negara maju juga mampu mengelola dampak dari produksinya sendiri.

Karena itu, hilirisasi harus menjadi hilirisasi hijau. Indonesia tidak boleh lagi puas menjadi penjual bahan mentah. Nikel, tembaga, bauksit, sawit, batu bara, gas, dan komoditas strategis lainnya harus diolah di dalam negeri agar menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, penerimaan negara, dan penguasaan rantai industri. Namun, hilirisasi tidak boleh hanya dihitung dari nilai ekspor dan jumlah smelter. Ia juga harus dihitung dari standar lingkungan, penggunaan energi bersih, pengolahan limbah, pemulihan lahan, perlindungan masyarakat sekitar, dan transparansi tata kelola.

Jika hilirisasi hanya memindahkan pencemaran dari negara lain ke tanah air sendiri, maka itu bukan kedaulatan ekonomi. Itu hanya memindahkan beban ekologis ke rakyat.

Transformasi digital juga harus diberi makna hijau. Digitalisasi tidak boleh hanya dipakai untuk mempercepat transaksi, layanan, dan konsumsi. Teknologi harus digunakan untuk memperkuat pengawasan lingkungan: memantau deforestasi, mengukur kualitas udara, melacak pencemaran sungai, mendata emisi karbon, mengawasi perizinan, membaca perubahan tutupan lahan, dan membuka data kepada publik. Negara harus memiliki mata digital untuk menjaga alamnya.

Transisi energi pun harus menjadi bagian penting dari Asta Cita Hijau. Indonesia memiliki potensi besar energi surya, hidro, panas bumi, angin, biomassa, bioenergi, serta ekonomi karbon. Kita juga memiliki hutan tropis, gambut, mangrove, lamun, dan ekosistem pesisir yang menyimpan cadangan karbon sangat besar. Dengan mangrove sekitar 3,45 juta hektare—salah satu yang terbesar di dunia—Indonesia memiliki modal ekologis dan ekonomi hijau yang sangat strategis.

Tetapi transisi energi harus dikelola secara adil. Jangan sampai energi bersih hanya menjadi bahasa proyek besar, sementara masyarakat kecil tetap menanggung polusi, kehilangan ruang hidup, atau tidak menikmati manfaat ekonomi. Transisi energi harus membuka lapangan kerja hijau, memperkuat industri nasional, menurunkan ketergantungan pada energi fosil, dan menjaga daya saing Indonesia dalam ekonomi global rendah karbon.

Hal yang sama berlaku untuk hutan. Indonesia masih memiliki kawasan berhutan yang sangat luas, sekitar 95 juta hektare lebih. Ini adalah kekayaan ekologis yang tidak ternilai. Hutan bukan hanya kumpulan pohon. Ia adalah penyimpan air, penyerap karbon, rumah keanekaragaman hayati, pelindung tanah, sumber kehidupan masyarakat adat dan lokal, serta benteng terakhir menghadapi krisis iklim. Setiap hektare hutan yang hilang bukan sekadar kehilangan vegetasi, tetapi kehilangan fungsi kehidupan.

Karena itu, pembangunan Indonesia Emas tidak boleh memandang hutan hanya sebagai cadangan lahan. Hutan adalah infrastruktur ekologis bangsa.

Namun, dari semua isu lingkungan, sampah barangkali merupakan ujian paling dekat dengan kehidupan rakyat. Setiap rumah menghasilkan sampah. Setiap pasar menghasilkan sampah. Setiap sekolah, kantor, restoran, pelabuhan, kawasan wisata, dan kawasan industri menghasilkan sampah. Jika tidak dikelola, sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah: dari rumah ke selokan, dari selokan ke sungai, dari sungai ke laut, dari kota ke TPA, lalu kembali kepada manusia dalam bentuk banjir, penyakit, bau, mikroplastik, dan pencemaran.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional menunjukkan timbulan sampah Indonesia berada di kisaran 140.000 hingga 145.000 ton per hari. Dalam satu tahun, jumlahnya mencapai puluhan juta ton. KLH/BPLH pernah mencatat timbulan sampah nasional mencapai lebih dari 56 juta ton, sementara sampah yang terkelola secara layak masih belum mencapai separuhnya. Plastik menjadi salah satu masalah utama, dengan jutaan ton sampah plastik setiap tahun dan tingkat daur ulang yang masih rendah.

Ini bukan sekadar persoalan teknis kebersihan. Ini persoalan tata kelola negara.

Indonesia Emas tidak boleh kalah oleh sampahnya sendiri. Kota-kota tidak boleh tumbuh menjadi pusat ekonomi baru, tetapi dikelilingi TPA yang kelebihan kapasitas. Destinasi wisata tidak boleh dipromosikan sebagai surga tropis, tetapi lautnya tercemar plastik. Kawasan industri tidak boleh menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi meninggalkan beban limbah bagi masyarakat. Pertumbuhan konsumsi kelas menengah tidak boleh berubah menjadi ledakan sampah yang tidak terkendali.

Karena itu, pengelolaan sampah harus ditegaskan sebagai urusan wajib pelayanan dasar pemerintah daerah. Kepala daerah tidak cukup membangun alun-alun, taman kota, festival wisata, dan pusat kuliner jika gagal mengurus sampah. Kota yang maju bukan hanya kota yang indah di baliho, tetapi kota yang memiliki sistem pemilahan, pengangkutan, pengolahan, daur ulang, dan pembuangan residu yang tertib.

Masalahnya, selama ini masyarakat sering diminta memilah sampah, tetapi sistemnya tidak siap. Warga diminta memisahkan organik dan anorganik, tetapi truk sampah mencampur kembali semuanya. Kampanye kebersihan digelar, tetapi fasilitas pengolahan tidak tersedia. Bank sampah dibentuk, tetapi tidak selalu tersambung dengan industri daur ulang. TPS 3R dibangun, tetapi SDM, anggaran, dan perawatannya lemah. Akhirnya, sampah tetap berakhir di TPA.

Negara tidak boleh hanya menyuruh rakyat berubah. Negara harus menyediakan sistem agar rakyat bisa berubah.

Pemerintah telah mendorong target ambisius: 100 persen sampah terkelola pada 2028, dengan sebagian besar sampah diolah, sebagian dimanfaatkan melalui waste-to-energy, RDF, kompos, daur ulang, dan residu ditekan seminimal mungkin ke TPA. Target seperti ini memang berat, tetapi diperlukan. Negara tidak boleh terlalu lama berdamai dengan darurat sampah.

Meski begitu, teknologi bukan mantra ajaib. Waste-to-energy dapat menjadi bagian dari solusi, tetapi tidak boleh dijadikan obat tunggal. Insinerasi, RDF, dan teknologi termal membutuhkan biaya tinggi, standar emisi ketat, sampah dengan karakteristik tertentu, kepastian pasokan, dan tata kelola yang transparan. Jika sampah masih basah, tercampur, dan tinggi kandungan organik, proyek teknologi mahal bisa berubah menjadi beban fiskal baru.

Prinsipnya harus jelas: kurangi sampah dari sumber, pilah sejak rumah, olah organik sedekat mungkin dengan sumbernya, manfaatkan material yang masih bernilai, dorong daur ulang, gunakan RDF dan waste-to-energy untuk bagian yang tepat, dan jadikan TPA hanya sebagai tempat residu terakhir.

Di titik ini, sampah harus dilihat sebagai pintu masuk ekonomi sirkular. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, maggot, biogas, dan energi. Plastik dapat masuk ke industri daur ulang. Kertas, logam, kaca, dan tekstil dapat kembali menjadi bahan baku. RDF dapat menjadi bahan bakar alternatif industri. Bank sampah, koperasi, UMKM daur ulang, startup lingkungan, dan komunitas lokal dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi hijau.

Inilah peluang besar yang sering luput: sampah bukan hanya biaya, tetapi juga sumber nilai. Jika dikelola dengan baik, sektor persampahan dapat menciptakan lapangan kerja hijau bagi operator, teknisi, pemilah, pengangkut, pengelola fasilitas, pelaku UMKM daur ulang, peneliti, pengembang teknologi, dan pekerja komunitas. Selama ini, pemulung dan pekerja informal persampahan telah menjadi tulang punggung diam-diam ekonomi daur ulang. Dalam Indonesia Emas, mereka tidak boleh terus berada di pinggir. Mereka harus diberi perlindungan, pelatihan, akses kesehatan, kemitraan, dan pengakuan sebagai bagian dari ekonomi sirkular nasional.

Pembentukan BLUD khusus persampahan dapat menjadi terobosan daerah. Dengan BLUD, layanan sampah bisa lebih fleksibel, profesional, dan cepat. Namun, BLUD tidak boleh menjadi ruang baru rente dan monopoli. Tata kelolanya harus transparan. Tarif harus wajar. Kontrak harus berbasis kinerja. Data tonase harus terbuka. Pengadaan harus diawasi. Publik harus dapat mengetahui berapa sampah masuk, berapa yang diolah, berapa yang menjadi residu, berapa biaya dikeluarkan, dan siapa operatornya.

Sebab dalam banyak kasus, persoalan lingkungan bukan hanya masalah teknologi, melainkan masalah tata kelola. Regulasi pusat tidak selalu terhubung dengan daerah. Target nasional tidak selalu diterjemahkan dalam anggaran daerah. Proyek dibangun, tetapi tidak dirawat. Peralatan dibeli, tetapi tidak dioperasikan. Masyarakat diminta berubah, tetapi fasilitas tidak tersedia. Akhirnya, lingkungan kembali menjadi korban dari pembangunan yang terfragmentasi.

Asta Cita Hijau membutuhkan orkestrasi negara. Pemerintah pusat menetapkan arah, standar, insentif, dan pengawasan. Pemerintah daerah menjalankan layanan dasar dengan sungguh-sungguh. Industri bertanggung jawab atas produk dan kemasannya melalui prinsip extended producer responsibility. Lembaga keuangan membiayai proyek hijau yang layak. Kampus menyiapkan riset dan SDM. Komunitas membangun kesadaran. Media mengawasi. Masyarakat ikut mengubah perilaku.

Tanpa orkestrasi, agenda hijau hanya akan menjadi jargon. Dengan orkestrasi, ia dapat menjadi mesin baru pembangunan.

Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 harus diberi makna baru. Ia bukan hanya Indonesia yang kaya, tetapi Indonesia yang bersih. Bukan hanya Indonesia yang industrial, tetapi Indonesia yang hijau. Bukan hanya Indonesia yang digital, tetapi Indonesia yang transparan dalam mengelola alam. Bukan hanya Indonesia yang infrastrukturnya luas, tetapi Indonesia yang tanah, air, udara, hutan, dan lautnya tetap sehat.

Pertumbuhan ekonomi 5,6 persen pada Kuartal I-2026 adalah modal awal yang baik. Tetapi masa depan Indonesia tidak cukup ditentukan oleh angka pertumbuhan semata. Ia juga ditentukan oleh kemampuan bangsa ini menjaga kualitas hidup rakyat dan keberlanjutan alamnya.

Pada 2045, kita tidak ingin hanya berkata bahwa Indonesia telah menjadi negara maju. Kita ingin berkata bahwa Indonesia menjadi negara maju dengan cara yang benar. Tanahnya tetap memberi kehidupan. Airnya tetap mengalir jernih. Udaranya tetap sehat. Hutannya tetap berdiri. Lautnya tetap menjadi sumber rezeki. Sampahnya terkendali. Rakyatnya sejahtera. Negaranya berdaulat.

Indonesia Emas tidak boleh menjadi Indonesia yang kaya tetapi rusak. Indonesia Emas harus menjadi Indonesia yang maju, hijau, bersih, adil, dan bermartabat.

Itulah Asta Cita Hijau: jalan pembangunan yang menyatukan ekonomi dan ekologi, pertumbuhan dan keberlanjutan, kesejahteraan dan tanggung jawab antargenerasi. Sebab bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan amanah yang harus dijaga.

Petani Bisa Bernapas Lega, Danramil Gesi Pastikan Pupuk Tersedia dan Distribusi Lancar

0

Danramil Gesi Turun Langsung Cek Stok Pupuk, Pastikan Petani Tak Dihantui Kelangkaan Jelang Musim Tanam

SRAGEN,TelusuR.ID – Kekhawatiran petani terhadap potensi kelangkaan pupuk menjelang musim tanam mendapat perhatian serius dari aparat teritorial. Komandan Koramil (Danramil) 12/Gesi Kodim 0725/Sragen, Letda Inf Heri Suprapto, turun langsung ke lapangan untuk memastikan ketersediaan pupuk bagi petani tetap aman dan distribusinya berjalan tanpa hambatan.

Didampingi Babinsa, Heri mendatangi kios pupuk di Dukuh Besole, Desa Tanggan, Kecamatan Gesi, guna mengecek kondisi stok pupuk bersubsidi maupun non-subsidi. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan sekaligus antisipasi agar tidak terjadi kelangkaan yang dapat mengganggu produktivitas sektor pertanian.

Di lokasi, Danramil tidak hanya memeriksa ketersediaan pupuk, tetapi juga berdialog langsung dengan pemilik kios dan para petani. Ia menggali informasi terkait distribusi, kebutuhan pupuk di lapangan, hingga berbagai kendala yang berpotensi muncul menjelang musim tanam.

Menurut Heri, pupuk merupakan salah satu faktor vital dalam menjaga keberhasilan produksi pertanian. Karena itu, pengawasan terhadap ketersediaan dan kelancaran distribusinya tidak boleh diabaikan.

“Kami ingin memastikan petani tidak dihantui kekhawatiran soal pupuk. Selama stok tersedia dan distribusi berjalan lancar, petani bisa fokus menggarap lahan serta meningkatkan hasil panen,” tegasnya.

Ia menambahkan, TNI melalui aparat kewilayahan akan terus mengawal program ketahanan pangan nasional dengan aktif memantau kondisi di lapangan serta menjalin koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Kehadiran Babinsa dan Danramil di tengah petani diharapkan mampu menjadi jembatan dalam menyelesaikan berbagai persoalan pertanian sejak dini.

Sementara itu, pemilik kios pupuk, Santoso, memastikan bahwa persediaan pupuk di wilayah Gesi hingga saat ini masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan petani.

Ia juga mengapresiasi langkah proaktif Danramil yang tidak sekadar menunggu laporan, tetapi turun langsung melakukan pengecekan. Menurutnya, pengawasan seperti ini penting untuk memastikan distribusi pupuk berjalan tepat sasaran dan benar-benar diterima oleh petani yang berhak.

Langkah cepat Danramil Gesi tersebut menjadi sinyal bahwa upaya menjaga ketahanan pangan tidak hanya dilakukan di atas meja, melainkan melalui pengawasan langsung di lapangan. Dengan ketersediaan pupuk yang terjaga, petani memiliki kepastian untuk memulai musim tanam tanpa dibayangi persoalan kebutuhan sarana produksi.(Agus Kemplu)

Isak Haru Selimuti Pendopo: Bupati Warsubi Sambut Kepulangan Jemaah Haji Jombang

0

JOMBANG, TelusuR.id – Pendopo Agung Kabupaten Jombang menjadi saksi bisu pertemuan yang penuh emosi dan linangan air mata. Suara sirene mobil patwal yang mengawal iring-iringan bus jemaah haji seketika memecah ketegangan ribuan keluarga yang telah menyemut sejak pagi buta di sepanjang luar area pendopo.

Bupati Jombang, Warsubi, turun langsung untuk menyambut kepulangan para jemaah haji Kabupaten Jombang tahun 1448 Hijriah atau 2026 Masehi pada Rabu (17/06/2026). Prosesi penyambutan yang sakral ini dibagi ke dalam dua sesi waktu kedatangan agar berjalan dengan tertib.

Kedatangan Kloter 60 & 61

Kloter 60: Tiba di lokasi pada pukul 10.05 WIB.

Kloter 61: Tiba di lokasi pada pukul 11.45 WIB.

Kondisi Umum: Lancar, aman, khidmat, dan diselimuti rasa syukur.

Sesi pertama kedatangan dikhususkan bagi jemaah yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 60. Begitu pintu bus dibuka, lambaian tangan dan senyum sumringah para jemaah yang mengenakan pakaian khas haji langsung disambut hangat oleh jajaran protokol Pemkab Jombang.

Dalam sambutan resminya, Bupati Warsubi menyampaikan rasa syukur yang tak terhingga atas kembalinya para tamu Allah tersebut. Beliau mengapresiasi ketahanan fisik dan mental para jemaah yang mampu menyelesaikan seluruh rukun haji di tengah cuaca Arab Saudi yang menantang.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur, karena Allah SWT telah memberikan kemudahan dan perlindungan, sehingga seluruh jemaah kloter 60 dapat menyelesaikan ibadah dengan baik, dan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat walafiat,” ujar Bupati Warsubi di hadapan para jemaah.

Lebih lanjut, orang nomor satu di Jombang ini juga mendoakan agar seluruh jemaah mendapatkan predikat haji yang mabrur dan hajjah yang mabruroh. Beliau menekankan bahwa indikator kemabruran haji yang sesungguhnya baru akan diuji setelah mereka membaur kembali ke masyarakat.

Menurutnya, esensi dari gelar haji harus membawa dampak positif pada kesalehan sosial dan peningkatan kualitas ibadah di lingkungan masing-masing. Perubahan perilaku ke arah yang lebih baik menjadi cerminan bahwa ibadah spiritual di Tanah Suci telah membekas di dalam dada.

“Kemabruran haji hendaknya menjadi semangat yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari, tercermin melalui akhlak yang baik, kepedulian sosial, serta ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” tambah Warsubi dengan nada bergetar penuh harap.

Suasana di area Pendopo Kabupaten Jombang seketika berubah drastis menjadi penuh isak tangis saat sesi kedua dimulai untuk menyambut Kloter 61. Kegembiraan yang membuncah sesaat berubah menjadi duka yang mendalam ketika bupati mengumumkan kabar duka dari Tanah Suci.

Berdasarkan data resmi dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jombang, terdapat dua jemaah haji asal Jombang yang dilaporkan wafat saat menunaikan ibadah. Kabar ini sempat membuat keheningan melanda seluruh sudut ruangan pendopo selama beberapa saat.

Jemaah yang berpulang ke rahmatullah tersebut diidentifikasi sebagai almarhumah Ibu Hj. Rubiansih binti Sumorejo yang merupakan warga Desa Karobelah, Kecamatan Mojoagung. Almarhumah berangkat ke Tanah Suci bersama rombongan yang tergabung dalam Kloter 61.

Selain itu, duka mendalam juga menyelimuti keluarga almarhum H. Sukipan yang juga tergabung dalam Kloter 61. Almarhum merupakan warga asal Desa Tanjunggunung, Kecamatan Peterongan, Jombang, yang mengembuskan napas terakhirnya di tengah prosesi ibadah haji.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Jombang, Bupati Warsubi secara khusus menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada pihak keluarga. Beliau kemudian mengajak seluruh jemaah dan tamu undangan yang hadir untuk menundukkan kepala dan mengirimkan doa bersama.

“Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga almarhum dan almarhumah mendapatkan ampunan, rahmat, dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Kita semua berdoa agar mereka memperoleh kemuliaan sebagai tamu Allah,” tuturnya takzim.

Kepada seluruh jemaah Kloter 60 dan 61 yang telah menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiran, bupati menitipkan pesan penutup. Beliau berharap para jemaah mampu mempertahankan konsistensi ibadah seperti yang mereka lakukan selama berada di Makkah dan Madinah.

“Harapan kami, setelah kembali dari haji ini, semangat ibadahnya tetap terjaga dengan baik, dan bisa menjadi contoh sekaligus menjadi teladan di tengah masyarakat,” pungkas Bupati Warsubi mengakhiri untaian pesan bijaknya.

Sebelum prosesi penjemputan oleh keluarga dimulai, bupati juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim pemandu dan tim medis. Terima kasih disematkan kepada seluruh petugas haji yang telah totalitas melayani jemaah dari keberangkatan hingga kepulangan.

Agenda penyambutan ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda Jombang, Wakil Bupati Jombang Gus Salmanudin beserta istri, Ketua Tim Penggerak PKK Yuliati Nugrahani Warsubi, Ketua DWP Lilik Agus Purnomo, serta sejumlah tokoh agama dan Kepala OPD setempat.

Jembatan Sungai Blateran Menuju Penyelesaian, Warga Girimarto Nantikan Akses Baru

0

Jembatan Perintis Garuda di Girimarto Masuki Tahap Finishing, Progres Pembangunan Capai 80 Persen

WONOGIRI,TelusuR.ID — Pembangunan Jembatan Perintis Garuda yang melintasi Sungai Blateran di Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, memasuki tahap akhir pengerjaan. Infrastruktur yang akan menghubungkan Desa Nungkulan, Desa Jendi, dan Kelurahan Gemawang itu kini mencapai progres sekitar 80 persen.

Pada Rabu (17/6/2026), pekerjaan difokuskan pada pemasangan pagar jembatan, pengamplasan, serta pengecatan sebagai bagian dari proses penyelesaian konstruksi. Tahapan tersebut menjadi penanda bahwa jembatan yang selama ini dinantikan masyarakat semakin dekat untuk dapat digunakan.

Di lokasi pembangunan, anggota Koramil 18/Girimarto bersama warga dan para pekerja tampak bergotong royong menyelesaikan sejumlah pekerjaan teknis. Pemasangan pagar dilakukan untuk meningkatkan aspek keselamatan pengguna, sementara pengamplasan dan pengecatan bertujuan memperkuat daya tahan material sekaligus memperbaiki tampilan konstruksi.

Bintara Tata Usaha Urusan Dalam (Bati Tuud) Koramil 18/Girimarto, Peltu Panggung, mengatakan setiap tahapan pembangunan dilakukan secara bertahap dan teliti guna memastikan kualitas bangunan sesuai standar yang ditetapkan.

Menurut dia, pagar jembatan bukan sekadar pelengkap konstruksi, melainkan komponen penting yang berfungsi melindungi pengguna saat melintas. Karena itu, proses pemasangan hingga tahap finishing dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan dan ketahanan material.

“Pekerjaan saat ini memasuki tahap penyempurnaan. Selain pemasangan pagar, kami juga melakukan pengamplasan dan pengecatan agar hasil akhir lebih rapi, kuat, dan tahan terhadap perubahan cuaca,” kata Peltu Panggung.

Keberadaan Jembatan Perintis Garuda diharapkan mampu memperlancar mobilitas warga antarwilayah yang selama ini bergantung pada akses terbatas, terutama saat musim hujan ketika debit Sungai Blateran meningkat.

Bagi masyarakat setempat, jembatan tersebut bukan hanya infrastruktur penghubung, tetapi juga sarana penting yang akan mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, serta pelayanan sosial di kawasan Girimarto.

Dengan progres pembangunan yang telah mencapai 80 persen, masyarakat kini menantikan penyelesaian proyek tersebut agar segera dapat dimanfaatkan sebagai jalur penghubung yang lebih aman dan efisien.(Agus Kemplu)

Bukan di Kafe, Warga Sragen Pilih Nobar Piala Dunia di Koramil, Suasananya Bikin Haru

0

Demam Piala Dunia Serbu Sragen, Koramil Dipadati Warga, TNI dan Masyarakat Larut dalam Euforia Nobar

SRAGEN,TelusuR.ID – Demam Piala Dunia 2026 menyapu hingga ke pelosok Kabupaten Sragen. Bukan di kafe atau pusat keramaian kota, ratusan warga justru memadati sejumlah Markas Koramil untuk menyaksikan pertandingan sepak bola paling bergengsi di dunia bersama anggota TNI.

Suasana penuh semangat dan kebersamaan terlihat di Koramil 05/Kedawung, Koramil 06/Gondang, Koramil 07/Ngrampal, dan Koramil 08/Sambirejo yang menggelar nonton bareng (nobar) siaran langsung pertandingan Piala Dunia melalui TVRI, Rabu (17/6/2026).

Sejak pertandingan dimulai, halaman hingga ruang nobar Koramil dipenuhi warga dari berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak larut dalam atmosfer pertandingan. Sorak-sorai pecah setiap kali peluang tercipta, sementara tepuk tangan bergemuruh saat gol berhasil bersarang di gawang lawan.

Namun malam itu, yang tercipta bukan hanya euforia sepak bola.

Momentum nobar menjadi ruang interaksi yang mempertemukan TNI dan masyarakat dalam suasana santai, hangat, dan tanpa sekat. Di sela-sela pertandingan, warga tampak bercengkerama dengan anggota TNI yang selama ini aktif mendampingi berbagai kegiatan kemasyarakatan di wilayah binaan.

Danramil 06/Gondang, Kapten Kav Hartono, mengatakan kegiatan nobar sengaja digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat komunikasi sosial antara aparat teritorial dan masyarakat.

Menurut dia, sepak bola memiliki daya tarik universal yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang usia, profesi, maupun latar belakang sosial.

“Sepak bola adalah bahasa yang dipahami semua orang. Melalui nonton bareng ini kami ingin membangun kebersamaan, mempererat silaturahmi, sekaligus memperkuat hubungan emosional antara TNI dan masyarakat,” ujar Hartono.

Ia menegaskan, komunikasi yang terjalin dalam suasana santai seperti ini menjadi modal penting dalam menjaga kondusivitas wilayah. Kedekatan antara aparat dan masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci terciptanya keamanan dan ketertiban di lingkungan sekitar.

Antusiasme warga pun terlihat tinggi. Riyanto (31), salah satu warga yang hadir, mengaku senang dapat menyaksikan pertandingan bersama anggota TNI.

Selain menikmati laga sepak bola dunia, kegiatan tersebut menurutnya menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan dengan aparat yang selama ini hadir dalam berbagai kegiatan sosial, pembangunan, maupun pembinaan masyarakat.

“Rasanya berbeda. Nonton bola bersama teman-teman TNI lebih akrab dan meriah. Kami bisa berkumpul, ngobrol, sekaligus menikmati pertandingan bersama,” katanya.

Hingga peluit panjang dibunyikan, kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh kehangatan. Di tengah gegap gempita Piala Dunia, nobar di Koramil jajaran Kodim 0725/Sragen menjadi gambaran bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat tidak hanya terbangun melalui program pembangunan atau pengamanan wilayah, tetapi juga melalui momen sederhana yang mampu menyatukan kebersamaan.

Malam itu, sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ia menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat di Kabupaten Sragen.(Agus Kemplu)

Ratusan Jamaah dan Pendekar Padati Jombang di Malam 1 Suro, Pesan KH Soubari tentang Krisis Hidup Jadi Perhatian

0

Malam 1 Suro Jadi Momentum Penguatan Spiritual, Ratusan Jamaah Asmaul Haq dan Pendekar NH Perkasya Gelar Ritual Khusus

JOMBANG,TelusuR.ID — Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal sebagai Malam 1 Suro, dimaknai sebagai momentum introspeksi dan penguatan spiritual. Di Kabupaten Jombang, peringatan tersebut diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan pembinaan karakter yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai daerah.

Ratusan jamaah Majelis Zikir Asmaul Haq dari sejumlah kota dan kabupaten berkumpul di Dusun Mancar, Kecamatan Jombang, untuk mengikuti rangkaian istighotsah, zikir, doa bersama, dan pembinaan rohani yang berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (15-16/6/2026).

Dalam tausiyahnya, Pengasuh DPP Yayasan Majelis Zikir Asmaul Haq, KH M. Soubari, mengajak jamaah menjadikan pergantian tahun hijriah sebagai momentum memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT di tengah berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks.

Menurut alumnus Pondok Modern Gontor dan Pondok Pesantren Langitan Tuban tersebut, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat banyak masyarakat harus menghadapi berbagai keterbatasan. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan melemahnya daya beli masyarakat menjadi tantangan nyata yang dirasakan berbagai kalangan.

“Pada situasi seperti sekarang, yang perlu diperkuat adalah ketergantungan kepada Allah. Jangan sampai hati lebih bergantung kepada kekuatan duniawi dibandingkan kepada Sang Pencipta,” ujar Soubari.

Ia mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat besar yang sering diabaikan manusia. Padahal, keduanya menjadi modal penting untuk memperbanyak amal saleh dan meningkatkan kualitas ibadah.

Mantan dosen Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang itu juga menekankan pentingnya sikap ikhlas, sabar, dan ridha dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Menurutnya, kesulitan yang dihadapi manusia merupakan bagian dari proses pembelajaran spiritual yang harus dijalani dengan kesadaran dan keyakinan.

“Iklas adalah melakukan sesuatu semata-mata karena Allah. Sedangkan ridha adalah menerima ketentuan Allah dengan hati yang lapang dan penuh kegembiraan,” katanya.

Menjelang akhir ceramah, Soubari mengutip Surah Al-Fajr ayat 27-28 yang berbunyi, ‘Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.’ Ayat tersebut, menurut dia, menjadi pengingat sekaligus harapan bagi setiap muslim agar senantiasa menjaga ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Allah SWT.

Ceramah kemudian ditutup dengan doa bersama yang diikuti seluruh jamaah secara khusyuk. Lantunan zikir dan munajat yang menggema di area majelis menjadi penanda harapan agar tahun baru hijriah membawa keberkahan dan keteguhan iman bagi umat Islam.

Tradisi Spiritual dan Pembinaan Karakter

Peringatan Malam 1 Suro tidak hanya berlangsung di lingkungan Majelis Zikir Asmaul Haq. Pada waktu yang hampir bersamaan, Pengurus Besar NH Perkasya juga menggelar kegiatan spiritual dan pembinaan khusus bagi para pendekar muda di Markas Besar NH Perkasya, Cukir, Tebuireng, Jombang.

Ratusan anggota, pengurus, dewan pendekar, dan warga NH Perkasya dari berbagai daerah hadir mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung dalam suasana religius dan penuh khidmat.

Salah satu agenda utama adalah prosesi baiat bagi para pesilat muda yang telah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan serta dinyatakan memenuhi syarat untuk menyandang predikat pendekar NH Perkasya.

Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh jajaran pimpinan dan tokoh senior NH Perkasya, di antaranya KH Lamroh, KH Sholihan selaku Sekretaris Jenderal PB NH Perkasya, KH Agus Maulana selaku Ketua Umum PB NH Perkasya, serta KH Abdul Malik.

Bagi NH Perkasya, Malam 1 Suro tidak hanya dimaknai sebagai tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momentum pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai spiritual, serta peneguhan komitmen para pendekar untuk menjaga akhlak, disiplin, dan pengabdian kepada masyarakat.

Di Kabupaten Jombang, tradisi memperingati 1 Muharam memang masih terpelihara kuat. Selain digelar oleh berbagai organisasi keagamaan, pesantren, dan majelis zikir, Pemerintah Kabupaten Jombang juga menyelenggarakan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur menyambut datangnya Tahun Baru Islam.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Malam 1 Suro tidak sekadar dipahami sebagai pergantian kalender hijriah, melainkan juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat nilai keimanan, mempererat persaudaraan, dan membangun optimisme menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang. (Gus)

Bung Karno, Budaya, dan Kritik Sosial: Catatan dari Panggung Teater Jombang

0

Workshop Teater Angkat Narasi Kelahiran Bung Karno di Ploso, Agus Pamuji: “Wolak-Walike Zaman, Akeh Wong Edan”

JOMBANG,TelusuR.ID — Panggung teater tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni. Di Aula Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, panggung justru menjelma menjadi ruang perdebatan sejarah, refleksi budaya, sekaligus kritik sosial yang dibungkus dalam bahasa kesenian.

Malam penutupan Workshop Teater yang digelar selama dua hari itu menghadirkan pementasan bertajuk “Bung Karno Lahir di Ploso”, sebuah lakon yang mengangkat narasi sejarah mengenai tempat kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Di hadapan seniman, budayawan, peserta workshop, dan tamu undangan, para pemain teater merekonstruksi fragmen kehidupan keluarga Soekarno berdasarkan hasil penelusuran sejarah yang dilakukan sejumlah pemerhati sejarah bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang.

Ketua panitia workshop, H. Nasrul Ilah, mengatakan kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Menurut dia, teater harus menjadi medium pendidikan sekaligus sarana merawat ingatan kolektif masyarakat.

“Teater bukan sekadar hiburan. Ia adalah media pendidikan, ruang penyampaian pesan sosial, sekaligus sarana mengenalkan sejarah kepada generasi muda,” kata Nasrul yang akrab disapa Cak Nas.

Dalam pementasan itu, sejumlah tokoh penting dihadirkan ke atas panggung, mulai dari Raden Soekeni, Ida Ayu Nyoman Rai, Raden Soekarmini hingga beberapa tokoh masyarakat yang disebut memiliki keterkaitan dengan peristiwa kelahiran Bung Karno di wilayah Ploso pada 6 Juni 1902.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Jombang, Arif, menjelaskan bahwa naskah pertunjukan disusun berdasarkan kajian historis yang selama ini terus dikembangkan para peneliti sejarah lokal.

Menurut hasil kajian tersebut, Soekarno diyakini lahir di Ploso ketika wilayah Jombang masih menjadi bagian dari Kabupaten Surabaya pada masa kolonial Hindia Belanda. Narasi itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa teater agar lebih mudah dipahami masyarakat luas.

Pementasan berlangsung sederhana, namun mampu menghadirkan suasana emosional. Tepuk tangan penonton berkali-kali pecah mengiringi adegan demi adegan yang menampilkan pergulatan keluarga dan latar sosial pada masa awal abad ke-20.

Namun malam itu tidak hanya berbicara tentang sejarah.

Sebelum acara ditutup, panitia menggelar sarasehan seni dan budaya yang dipimpin Cak Nas. Forum tersebut menjadi ruang evaluasi terbuka bagi peserta untuk mengkritisi materi pelatihan, teknik pementasan, hingga arah pengembangan seni pertunjukan di Jombang.

Dalam sarasehan itu, Cak Nas mengingatkan bahwa tugas pegiat seni bukan sekadar menciptakan karya, melainkan menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.

“Menjaga budaya bukan pekerjaan romantik masa lalu. Ini adalah tanggung jawab untuk memastikan identitas masyarakat tidak hilang ditelan arus modernisasi yang bergerak semakin cepat,” ujarnya.

Puncak suasana malam penutupan terjadi ketika pegiat seni dan budaya Agus Pamuji diminta membacakan puisi berjudul “Wolak Walike Zaman, Akeh Wong Edan”.

Puisi tersebut menjadi semacam gugatan terhadap realitas sosial yang dinilai semakin paradoksal. Dalam bait-baitnya, Agus menyoroti fenomena ketika sebagian kalangan terdidik dan intelektual justru terjebak dalam perilaku yang merusak nilai etika, moralitas, budaya, bahkan agama.

Kritik itu disampaikan tanpa teriakan. Hanya melalui larik-larik puisi yang dibacakan dalam suasana hening. Namun justru dari kesunyian itulah pesan yang disampaikan terasa lebih keras: ketika zaman berubah begitu cepat, masyarakat dituntut tetap menjaga akal sehat, moralitas, dan akar budayanya.

Workshop teater tersebut akhirnya ditutup bukan hanya dengan pertunjukan seni, melainkan juga dengan sebuah pengingat bahwa sejarah, budaya, dan kritik sosial sejatinya tidak pernah terpisah. Ketiganya hidup di panggung yang sama, menunggu untuk terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Gus)

Mahasiswa, Buruh, dan Tantangan Gerakan Perubahan Hari Ini

0

Perjuangan Mahasiswa Kian Berat di Tengah Melemahnya Dukungan Gerakan Buruh

Oleh: Jacob Ereste

JAKARTA,TelusuR.ID – Gelombang aksi mahasiswa yang kembali marak belakangan ini sepatutnya dipahami sebagai ekspresi kepedulian generasi muda terhadap arah perjalanan bangsa. Mereka adalah kelompok yang kelak akan mewarisi Indonesia, termasuk berbagai persoalan yang saat ini sedang dihadapi. Karena itu, suara mahasiswa semestinya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan bagian dari proses demokrasi yang sehat.

Membungkam suara mahasiswa sama artinya dengan menghambat tumbuhnya sikap kritis yang diperlukan untuk membangun masa depan bangsa. Generasi muda berhak menyampaikan pandangan, kritik, bahkan kegelisahannya terhadap berbagai kebijakan publik. Sebab, pada akhirnya merekalah yang akan menanggung konsekuensi dari keputusan-keputusan yang diambil hari ini.

Dalam konteks itu, peran generasi tua seharusnya bukan melarang atau mengekang, melainkan membimbing. Kesalahan dan kekeliruan dalam proses belajar berpolitik merupakan sesuatu yang wajar. Demokrasi tidak pernah lahir dari ruang yang steril dari perbedaan pendapat. Ia tumbuh melalui dialog, kritik, dan keberanian untuk menyampaikan pandangan yang berbeda.

Pemikiran tersebut sejalan dengan pesan penyair dan filsuf asal Lebanon, Kahlil Gibran, yang mengingatkan bahwa anak-anak bukanlah milik orang tuanya, melainkan milik kehidupan yang terus bergerak ke masa depan. Generasi muda memiliki jalan, jiwa, dan takdirnya sendiri. Mereka tidak ditakdirkan menjadi salinan dari generasi sebelumnya.

Karena itu, aksi mahasiswa tidak bisa semata-mata dipandang sebagai kegiatan demonstratif di jalanan. Di dalamnya terdapat proses pembentukan karakter, penguatan kesadaran politik, serta pembelajaran mengenai tanggung jawab sebagai warga negara. Melalui pengalaman tersebut, lahir generasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan publik dan keberanian untuk terlibat dalam perubahan sosial.

Tentu saja mahasiswa tidak selalu benar. Kritik terhadap mereka adalah hal yang sah. Namun demikian, pemerintah dan para pemegang kekuasaan juga tidak luput dari kemungkinan melakukan kesalahan. Dalam negara demokratis, kritik seharusnya menjadi instrumen koreksi, bukan alasan untuk saling menegasikan.

Persoalan yang sering muncul adalah adanya jarak antara aspirasi publik dan lembaga-lembaga representasi politik. Tidak sedikit kelompok masyarakat yang merasa suaranya tidak tersalurkan secara memadai melalui jalur formal. Dalam situasi seperti itu, mahasiswa kerap tampil sebagai penyambung kegelisahan publik yang tidak menemukan ruang penyaluran yang efektif.

Fenomena ini terlihat dari berbagai aksi yang berlangsung di depan gedung DPR. Berulang kali demonstrasi digelar, tetapi dialog langsung antara pengunjuk rasa dan wakil rakyat sering kali tidak terjadi. Sebaliknya, muncul tudingan bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi kepentingan tertentu, tanpa upaya yang cukup untuk memahami substansi tuntutan yang mereka sampaikan.

Di tengah situasi tersebut, tantangan gerakan mahasiswa saat ini menjadi semakin berat. Salah satu faktor yang membedakannya dengan era sebelumnya adalah melemahnya kolaborasi antara gerakan mahasiswa dan gerakan buruh. Pada masa-masa menjelang tumbangnya Orde Baru, kedua kekuatan sosial itu sering berjalan beriringan dalam mengusung agenda perubahan.

Kini, konfigurasi politik telah berubah. Sejumlah tokoh buruh berada dalam lingkaran kekuasaan dan memiliki akses yang lebih dekat terhadap pemerintah. Kondisi itu membuat ruang konsolidasi antara mahasiswa dan buruh tidak lagi seerat dahulu. Akibatnya, mahasiswa kerap bergerak dengan dukungan yang lebih terbatas dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Namun sejarah menunjukkan bahwa perubahan tidak pernah bergantung pada satu kelompok semata. Mahasiswa, buruh, aktivis sosial, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai elemen bangsa memiliki peran masing-masing dalam menjaga kualitas demokrasi. Perbedaan strategi maupun posisi politik merupakan bagian dari dinamika yang tidak bisa dihindari.

Yang terpenting adalah memastikan bahwa ruang kritik tetap terbuka, kebebasan berpendapat tetap dihormati, dan aspirasi masyarakat tetap mendapat tempat dalam proses pengambilan keputusan. Sebab demokrasi yang sehat tidak ditandai oleh hilangnya kritik, melainkan oleh kemampuan negara mendengarkan dan merespons kritik tersebut secara dewasa.

Banten, 17 Juni 2026

Anak-Anak Papua Jadi Prioritas, Satgas Yonif 521/DY Tanamkan Pola Hidup Sehat Sejak Dini di Bolakme

0

JAYAWIJAYA,TelusuR.ID – Upaya membangun generasi Papua yang sehat dan berkualitas tidak hanya dilakukan melalui pendidikan, tetapi juga lewat pembiasaan hidup sehat sejak usia dini. Komitmen itu ditunjukkan Satgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan Yonif 521/DY yang menggelar edukasi kesehatan dan pemeriksaan kesehatan bagi anak-anak di Pos Bolakme, Distrik Bolakme, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Selasa (17/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan teritorial Satgas Yonif 521/DY yang tidak hanya berfokus pada aspek keamanan wilayah, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, khususnya kesehatan anak-anak sebagai generasi penerus Papua.

Danpos Bolakme, Letda Inf Reza Yudha Prasetya, S.Tr.Han., menjelaskan bahwa edukasi kesehatan diberikan dengan metode sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya mencuci tangan dengan benar, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengonsumsi makanan bergizi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tubuh.

Selain penyuluhan, personel kesehatan Satgas juga melakukan pemeriksaan kesehatan dasar, mulai dari pengecekan kondisi umum, pemeriksaan suhu tubuh hingga konsultasi kesehatan ringan. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap sesi yang diberikan.

Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., menegaskan bahwa kesehatan merupakan fondasi utama dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul.

“Kesehatan adalah modal penting bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita mereka. Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan kesadaran hidup sehat sejak dini agar lahir generasi Papua yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing di masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran Satgas di wilayah pedalaman Papua tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan.

Respons positif datang dari masyarakat Bolakme yang menyambut baik kegiatan tersebut. Warga menilai edukasi kesehatan dan pemeriksaan yang dilakukan Satgas memberikan manfaat nyata bagi anak-anak sekaligus memperkuat kedekatan antara TNI dan masyarakat.

Melalui program kesehatan yang berkelanjutan, Satgas Yonif 521/DY menunjukkan bahwa pengabdian prajurit tidak hanya hadir di garis pertahanan negara, tetapi juga dalam upaya membangun kualitas hidup masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari kontribusi nyata TNI dalam mendukung terciptanya generasi Papua yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.