Malam 1 Suro Jadi Momentum Penguatan Spiritual, Ratusan Jamaah Asmaul Haq dan Pendekar NH Perkasya Gelar Ritual Khusus
JOMBANG,TelusuR.ID — Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal sebagai Malam 1 Suro, dimaknai sebagai momentum introspeksi dan penguatan spiritual. Di Kabupaten Jombang, peringatan tersebut diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan pembinaan karakter yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai daerah.
Ratusan jamaah Majelis Zikir Asmaul Haq dari sejumlah kota dan kabupaten berkumpul di Dusun Mancar, Kecamatan Jombang, untuk mengikuti rangkaian istighotsah, zikir, doa bersama, dan pembinaan rohani yang berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (15-16/6/2026).
Dalam tausiyahnya, Pengasuh DPP Yayasan Majelis Zikir Asmaul Haq, KH M. Soubari, mengajak jamaah menjadikan pergantian tahun hijriah sebagai momentum memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT di tengah berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks.
Menurut alumnus Pondok Modern Gontor dan Pondok Pesantren Langitan Tuban tersebut, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat banyak masyarakat harus menghadapi berbagai keterbatasan. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan melemahnya daya beli masyarakat menjadi tantangan nyata yang dirasakan berbagai kalangan.
“Pada situasi seperti sekarang, yang perlu diperkuat adalah ketergantungan kepada Allah. Jangan sampai hati lebih bergantung kepada kekuatan duniawi dibandingkan kepada Sang Pencipta,” ujar Soubari.
Ia mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat besar yang sering diabaikan manusia. Padahal, keduanya menjadi modal penting untuk memperbanyak amal saleh dan meningkatkan kualitas ibadah.
Mantan dosen Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang itu juga menekankan pentingnya sikap ikhlas, sabar, dan ridha dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Menurutnya, kesulitan yang dihadapi manusia merupakan bagian dari proses pembelajaran spiritual yang harus dijalani dengan kesadaran dan keyakinan.
“Iklas adalah melakukan sesuatu semata-mata karena Allah. Sedangkan ridha adalah menerima ketentuan Allah dengan hati yang lapang dan penuh kegembiraan,” katanya.
Menjelang akhir ceramah, Soubari mengutip Surah Al-Fajr ayat 27-28 yang berbunyi, ‘Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.’ Ayat tersebut, menurut dia, menjadi pengingat sekaligus harapan bagi setiap muslim agar senantiasa menjaga ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Allah SWT.
Ceramah kemudian ditutup dengan doa bersama yang diikuti seluruh jamaah secara khusyuk. Lantunan zikir dan munajat yang menggema di area majelis menjadi penanda harapan agar tahun baru hijriah membawa keberkahan dan keteguhan iman bagi umat Islam.
Tradisi Spiritual dan Pembinaan Karakter
Peringatan Malam 1 Suro tidak hanya berlangsung di lingkungan Majelis Zikir Asmaul Haq. Pada waktu yang hampir bersamaan, Pengurus Besar NH Perkasya juga menggelar kegiatan spiritual dan pembinaan khusus bagi para pendekar muda di Markas Besar NH Perkasya, Cukir, Tebuireng, Jombang.
Ratusan anggota, pengurus, dewan pendekar, dan warga NH Perkasya dari berbagai daerah hadir mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung dalam suasana religius dan penuh khidmat.
Salah satu agenda utama adalah prosesi baiat bagi para pesilat muda yang telah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan serta dinyatakan memenuhi syarat untuk menyandang predikat pendekar NH Perkasya.
Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh jajaran pimpinan dan tokoh senior NH Perkasya, di antaranya KH Lamroh, KH Sholihan selaku Sekretaris Jenderal PB NH Perkasya, KH Agus Maulana selaku Ketua Umum PB NH Perkasya, serta KH Abdul Malik.
Bagi NH Perkasya, Malam 1 Suro tidak hanya dimaknai sebagai tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momentum pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai spiritual, serta peneguhan komitmen para pendekar untuk menjaga akhlak, disiplin, dan pengabdian kepada masyarakat.
Di Kabupaten Jombang, tradisi memperingati 1 Muharam memang masih terpelihara kuat. Selain digelar oleh berbagai organisasi keagamaan, pesantren, dan majelis zikir, Pemerintah Kabupaten Jombang juga menyelenggarakan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur menyambut datangnya Tahun Baru Islam.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Malam 1 Suro tidak sekadar dipahami sebagai pergantian kalender hijriah, melainkan juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat nilai keimanan, mempererat persaudaraan, dan membangun optimisme menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang. (Gus)



