Bung Karno, Budaya, dan Kritik Sosial: Catatan dari Panggung Teater Jombang

0
15 views
Bagikan :

Workshop Teater Angkat Narasi Kelahiran Bung Karno di Ploso, Agus Pamuji: “Wolak-Walike Zaman, Akeh Wong Edan”

JOMBANG,TelusuR.ID — Panggung teater tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni. Di Aula Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, panggung justru menjelma menjadi ruang perdebatan sejarah, refleksi budaya, sekaligus kritik sosial yang dibungkus dalam bahasa kesenian.

Malam penutupan Workshop Teater yang digelar selama dua hari itu menghadirkan pementasan bertajuk “Bung Karno Lahir di Ploso”, sebuah lakon yang mengangkat narasi sejarah mengenai tempat kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Di hadapan seniman, budayawan, peserta workshop, dan tamu undangan, para pemain teater merekonstruksi fragmen kehidupan keluarga Soekarno berdasarkan hasil penelusuran sejarah yang dilakukan sejumlah pemerhati sejarah bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang.

Ketua panitia workshop, H. Nasrul Ilah, mengatakan kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Menurut dia, teater harus menjadi medium pendidikan sekaligus sarana merawat ingatan kolektif masyarakat.

“Teater bukan sekadar hiburan. Ia adalah media pendidikan, ruang penyampaian pesan sosial, sekaligus sarana mengenalkan sejarah kepada generasi muda,” kata Nasrul yang akrab disapa Cak Nas.

Dalam pementasan itu, sejumlah tokoh penting dihadirkan ke atas panggung, mulai dari Raden Soekeni, Ida Ayu Nyoman Rai, Raden Soekarmini hingga beberapa tokoh masyarakat yang disebut memiliki keterkaitan dengan peristiwa kelahiran Bung Karno di wilayah Ploso pada 6 Juni 1902.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Jombang, Arif, menjelaskan bahwa naskah pertunjukan disusun berdasarkan kajian historis yang selama ini terus dikembangkan para peneliti sejarah lokal.

Menurut hasil kajian tersebut, Soekarno diyakini lahir di Ploso ketika wilayah Jombang masih menjadi bagian dari Kabupaten Surabaya pada masa kolonial Hindia Belanda. Narasi itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa teater agar lebih mudah dipahami masyarakat luas.

Pementasan berlangsung sederhana, namun mampu menghadirkan suasana emosional. Tepuk tangan penonton berkali-kali pecah mengiringi adegan demi adegan yang menampilkan pergulatan keluarga dan latar sosial pada masa awal abad ke-20.

Namun malam itu tidak hanya berbicara tentang sejarah.

Sebelum acara ditutup, panitia menggelar sarasehan seni dan budaya yang dipimpin Cak Nas. Forum tersebut menjadi ruang evaluasi terbuka bagi peserta untuk mengkritisi materi pelatihan, teknik pementasan, hingga arah pengembangan seni pertunjukan di Jombang.

Dalam sarasehan itu, Cak Nas mengingatkan bahwa tugas pegiat seni bukan sekadar menciptakan karya, melainkan menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.

“Menjaga budaya bukan pekerjaan romantik masa lalu. Ini adalah tanggung jawab untuk memastikan identitas masyarakat tidak hilang ditelan arus modernisasi yang bergerak semakin cepat,” ujarnya.

Puncak suasana malam penutupan terjadi ketika pegiat seni dan budaya Agus Pamuji diminta membacakan puisi berjudul “Wolak Walike Zaman, Akeh Wong Edan”.

Puisi tersebut menjadi semacam gugatan terhadap realitas sosial yang dinilai semakin paradoksal. Dalam bait-baitnya, Agus menyoroti fenomena ketika sebagian kalangan terdidik dan intelektual justru terjebak dalam perilaku yang merusak nilai etika, moralitas, budaya, bahkan agama.

Kritik itu disampaikan tanpa teriakan. Hanya melalui larik-larik puisi yang dibacakan dalam suasana hening. Namun justru dari kesunyian itulah pesan yang disampaikan terasa lebih keras: ketika zaman berubah begitu cepat, masyarakat dituntut tetap menjaga akal sehat, moralitas, dan akar budayanya.

Workshop teater tersebut akhirnya ditutup bukan hanya dengan pertunjukan seni, melainkan juga dengan sebuah pengingat bahwa sejarah, budaya, dan kritik sosial sejatinya tidak pernah terpisah. Ketiganya hidup di panggung yang sama, menunggu untuk terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Gus)

Tinggalkan Balasan