TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 58

Penguatan Hujjah Aswaja di Susbalan Banser: Menjaga Indonesia dari Jombang

0

JOMBANG,TelusuR.ID – Ada suasana berbeda di Pendopo Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, akhir pekan kali ini. Bukan sekadar kumpul kader. Bukan pula seremoni organisasi. Yang hadir adalah semangat lama yang terus dirawat: menjaga Indonesia dengan ilmu, tradisi, dan keteguhan hati.

Ratusan kader GP Ansor dan Banser dari berbagai daerah berkumpul dalam Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) Satkorwil Banser Jawa Timur Angkatan XLI yang digelar PC GP Ansor Jombang, Jumat hingga Minggu, 8–10 Mei 2026.

Mereka datang tidak hanya membawa seragam hijau dan disiplin organisasi. Mereka datang membawa tekad. Bahwa Banser hari ini tidak cukup hanya kuat secara fisik. Kader Ansor juga harus kuat dalam pemikiran, matang dalam ideologi, dan teduh dalam cara pandang beragama.

Karena tantangan zaman memang tidak lagi sederhana.

Arus informasi bergerak tanpa pagar. Paham keagamaan menyebar cepat melalui media sosial. Di tengah situasi itu, kader muda NU dituntut tidak sekadar ikut ramai, tetapi mampu menjelaskan, menjaga, sekaligus menjadi peneduh masyarakat.

Itulah sebabnya materi penguatan Hujjah Aswaja mendapat perhatian khusus dalam Susbalan kali ini.

Materi tersebut menegaskan kembali fondasi utama Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah: berpegang pada Al-Qur’an, Al-Sunnah, dan Kutub Al-Turots sebagai warisan keilmuan para ulama. Sebuah manhaj yang tidak kaku, tetapi tetap kokoh. Moderat, namun tidak kehilangan prinsip.

Materi itu disampaikan oleh Ketua Aswaja NU Center PCNU Jombang, Ustadz Abdul Majid Shidiq, M.HI. Ia mengingatkan pentingnya kader Ansor dan Banser memahami hujjah keagamaan secara utuh agar tidak mudah terombang-ambing oleh pemahaman ekstrem maupun radikal.

Menurutnya, menjaga Aswaja bukan hanya menjaga tradisi tahlil, shalawat, atau qunut. Lebih dari itu, menjaga Aswaja berarti menjaga cara berpikir yang seimbang, menjaga akhlak dalam berdakwah, dan menjaga Indonesia tetap damai.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gus Fiqi, Gus Syafiq, dan Gus Farid bersama jajaran pengurus lainnya.

Dalam sambutannya, Gus Syafiq menegaskan bahwa materi keaswajaan harus menjadi napas utama dalam seluruh proses kaderisasi Ansor.

“Materi ini harus menjadi bagian penting dalam seluruh proses kaderisasi Ansor. Seluruh kader wajib memahami dan mengikuti materi keaswajaan sebagai pondasi perjuangan,” tegasnya.

Kalimat itu sederhana. Tetapi pesannya dalam.

Bahwa organisasi sebesar Ansor dan Banser tidak dibangun hanya dengan loyalitas. Ia dibangun dengan ilmu. Dengan pemahaman. Dengan keyakinan yang lahir dari proses belajar yang panjang.

Dari Jombang, kota santri yang melahirkan banyak ulama besar, pesan itu kembali ditegaskan: menjaga negeri tidak cukup dengan tenaga. Negeri ini juga membutuhkan kader-kader yang kuat dalam hujjah, santun dalam berdakwah, dan kokoh menjaga persatuan.

Susbalan Angkatan XLI ini menjadi pengingat bahwa Banser bukan hanya benteng fisik Nahdlatul Ulama. Banser juga benteng pemikiran Islam moderat yang ramah, teduh, dan mencintai Indonesia.(mift)

Dampingi Wapres Gibran di Haul Mbah Wahab, Khofifah: Pesantren Adalah Pusat Peradaban Bangsa

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menghadiri Haul ke-55 Al Maghfurlah KH. Abdul Wahab Chasbullah. Acara tersebut berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Minggu (10/5/2026).

Sebelum memulai rangkaian acara, rombongan terlebih dahulu melaksanakan ziarah ke makam KH. Abdul Wahab Chasbullah di pemakaman keluarga pesantren. Ziarah berlangsung tenang dengan pembacaan doa sebagai bentuk penghormatan atas jasa ulama besar sekaligus pahlawan nasional pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.

Ribuan jemaah yang terdiri dari para ulama, habaib, masyaikh, hingga santri tampak memadati area pesantren. Mereka hadir untuk mengenang jejak perjuangan “Mbah Wahab” yang dikenal sebagai ulama visioner dan tokoh pemersatu umat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran Wapres Gibran di tengah keluarga besar pesantren. Baginya, kehadiran orang nomor dua di Indonesia itu merupakan bentuk penghormatan nyata negara terhadap perjuangan ulama yang telah meletakkan fondasi kebangsaan.

“Kehadiran Bapak Wapres menjadi kehormatan besar. Jejak perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai tokoh penggerak umat tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi kita semua hingga hari ini,” ujar Khofifah dikutip Telusur.id

Khofifah menekankan bahwa haul ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai pengabdian ulama dalam membangun peradaban. Ia menyebut Mbah Wahab sebagai sosok yang membuktikan bahwa agama dan pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan.

Menurutnya, gelar Pahlawan Nasional yang dianugerahkan kepada Mbah Wahab pada tahun 2014 adalah pengakuan atas kontribusi besarnya terhadap pendidikan dan persatuan umat. Nilai-nilai tersebut, lanjut Khofifah, harus terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Khofifah menjelaskan bahwa sejak awal, Mbah Wahab telah menempatkan pesantren sebagai pusat peradaban, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kebangsaan. Spirit inilah yang kini menjadi pijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam membangun daerah yang berkarakter.

Pemprov Jatim berkomitmen memperkuat sinergi dengan pesantren dan ulama sebagai mitra strategis pembangunan. Khofifah meyakini bahwa kekuatan moral dan spiritual masyarakat merupakan fondasi utama bagi kemajuan ekonomi dan keadilan sosial di Jawa Timur.

Lebih lanjut, keteladanan Mbah Wahab dalam menjaga persatuan melalui ukhuwah islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah dinilai sangat relevan menghadapi tantangan global. Khofifah mengajak masyarakat menjaga kerukunan di tengah dinamika teknologi dan perubahan sosial yang cepat.

Khofifah juga mendorong pesantren untuk menjadi pusat inovasi dan kewirausahaan. Harapannya, santri tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi sehingga mampu menjadi generasi yang berintegritas dan berdaya saing global.

Ia menambahkan, kekuatan utama Jawa Timur terletak pada kultur pesantren yang sangat kuat. Ribuan pesantren di wilayah ini bukan hanya menjadi benteng moral, tetapi juga kekuatan sosial yang menjaga harmoni dan stabilitas daerah selama puluhan tahun.

Sementara itu, Wapres Gibran Rakabuming dalam arahannya menekankan pentingnya generasi muda meneladani keberanian berpikir maju Mbah Wahab. Ia meminta santri untuk tidak hanya berakhlak mulia, tetapi juga berani berinovasi menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan iklim.

Gibran juga mengapresiasi kontribusi Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas yang terus melahirkan banyak tokoh bangsa. Ia menilai pesantren ini sebagai contoh sukses lembaga pendidikan yang mampu beradaptasi dengan zaman melalui pengembangan pendidikan tinggi.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres juga menyosialisasikan program “Kampung Haji” yang diinisiasi pemerintah. Program ini dirancang untuk mempermudah administrasi, memperlancar proses keberangkatan, serta menekan biaya haji agar lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

Menutup rangkaian acara, Wapres menitipkan pesan kepada jajaran pemerintah daerah dan Forkopimda untuk terus mengawal program prioritas nasional di Jawa Timur. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat.

Abdullah Rasyid : Belajar dari Sungai Shanghai: Mimpi yang Belum Selesai untuk Jakarta

0

Belajar dari Sungai Shanghai: Mimpi yang Belum Selesai untuk Jakarta

Ketika sebuah kota mampu menghidupkan kembali sungainya, persoalannya bukan lagi kemampuan, melainkan keberanian politik untuk konsisten

Oleh: Abdullah Rasyid
Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN

SHANGHAI,TelusuR.ID –  awal Mei. Pagi itu udara masih menyisakan dingin tipis ketika bus yang kami tumpangi, membawa kami menyusuri tepian Sungai Huangpu.
Di hadapan kami, gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti simbol kemenangan modernitas: Shanghai Tower, Jin Mao Tower, Oriental Pearl. Namun, yang paling menghentak kesadaran saya justru bukan gedung-gedung itu.

Yang paling menggetarkan adalah sungainya.

Airnya tidak cokelat. Tidak dipenuhi sampah plastik. Tidak mengeluarkan bau menyengat yang memaksa orang menutup hidung. Sungai itu hidup, dan dirawat seperti nadi utama kota.

Di situlah saya tersadar: kota maju tidak dibangun hanya dengan beton dan gedung tinggi, melainkan dengan kemampuan menghormati ruang hidupnya sendiri.

Sebagai mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan yang sedang menjalani studi strategis di Shanghai, saya merasa kota ini sedang mengajari sesuatu yang sering hilang dalam perencanaan kota di Indonesia, yaitu: peradaban sungai.

Kota yang Berdamai dengan Sungainya

Sepanjang kawasan The Bund, trotoar bersih membentang rapi. Jalur pedestrian dipenuhi bunga. Lansia berjalan santai di tepian sungai. Anak-anak bersepeda tanpa rasa khawatir. Wisatawan menikmati kota tanpa harus melihat tumpukan sampah atau saluran air berwarna hitam.

Pemandangan itu terasa kontras bagi siapa pun yang datang dari Jakarta.

Kita hidup di kota yang sungainya justru diperlakukan seperti halaman belakang. Ciliwung, Pesanggrahan, Sunter, hingga Kali Angke selama bertahun-tahun lebih identik dengan banjir, limbah, dan bau tak sedap dibanding ruang publik yang sehat.

Padahal sejarah banyak kota besar dunia lahir dari sungai. Sungai adalah sumber kehidupan, jalur perdagangan, pusat kebudayaan, sekaligus simbol kemajuan sebuah peradaban. Tetapi di banyak kota Indonesia, hubungan itu perlahan terputus.

Sungai berubah menjadi tempat pembuangan.

Dan yang lebih berbahaya: masyarakat mulai menganggap kondisi itu sebagai sesuatu yang normal.

Shanghai Tidak Berubah dalam Semalam

Banyak orang melihat Shanghai hari ini lalu menganggapnya sebagai keajaiban. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah hasil dari konsistensi kebijakan selama puluhan tahun.

Suzhou Creek — salah satu sungai yang kini menjadi ikon urban Shanghai — pernah tercatat sebagai salah satu sungai paling tercemar di China. Pada 1990-an, kualitas airnya bahkan gagal memenuhi standar terendah nasional.
Bau busuk menyelimuti kawasan sekitar. Limbah industri mengalir tanpa kontrol. Warga menjauh dari sungai.

Lalu pemerintah Shanghai mengambil keputusan besar.

Mereka membentuk badan koordinasi tunggal untuk rehabilitasi sungai. Pendanaannya diperkuat melalui dukungan Asian Development Bank dan World Bank. Pabrik-pabrik di sepanjang bantaran sungai dipindahkan atau ditutup. Sistem pengolahan limbah diperbaiki secara agresif. Jalur hijau dibangun. Ekosistem air dipulihkan.

Yang paling penting: kebijakan itu tidak berhenti karena pergantian pejabat.

Inilah titik yang sering menjadi masalah di Indonesia. Banyak program lingkungan berhenti pada seremoni, pergantian slogan, atau proyek jangka pendek. Setiap pemimpin datang dengan program baru, tetapi tidak semua memiliki keberanian untuk menjaga kesinambungan.

Padahal rehabilitasi sungai bukan proyek lima tahun. Ia adalah proyek generasi.

Jakarta dan Krisis Tata Kelola Sungai

Jakarta sesungguhnya tidak kekurangan rencana. Pemerintah memiliki banyak program normalisasi, naturalisasi, sanitasi, hingga revitalisasi bantaran sungai. Anggaran juga tidak sedikit.

Namun masalah utama Jakarta bukan semata kekurangan dana, melainkan fragmentasi tata kelola.

Pengelolaan sungai terpecah di banyak institusi: pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian teknis, dinas lingkungan, dinas SDA, hingga berbagai proyek lintas sektor yang sering tidak sinkron. Di lapangan, masyarakat melihat program yang datang silih berganti, tetapi persoalan dasarnya tetap sama.

Banjir masih datang. Limbah domestik terus mengalir. Permukiman di bantaran sungai tumbuh tanpa pengendalian.

Kita terlalu lama memandang sungai hanya sebagai saluran air.

Padahal sungai seharusnya dipandang sebagai Pusat Ekologi Kota.

Belajar dari Cara China Berpikir Jangka Panjang

Ada satu pelajaran penting yang saya rasakan selama berada di Shanghai China: negara ini membangun kotanya dengan perspektif jangka panjang.

Pemerintah tidak sekadar berpikir bagaimana menyelesaikan masalah tahun ini, tetapi bagaimana membentuk wajah kota untuk puluhan tahun ke depan.

Karena itu, penataan sungai di Shanghai tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan transportasi publik, tata ruang, kawasan bisnis, pedestrian, ruang hijau, hingga kualitas hidup warga.

Sungai Diposisikan Sebagai Aset Strategis Kota.

Di Jakarta, kita masih sering terjebak pada pola pikir reaktif. Ketika banjir datang, fokus utama adalah pompa air dan pengerukan. Ketika pencemaran meningkat, solusi yang muncul sering bersifat sementara.

Padahal yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma.

Kota modern bukan kota yang hanya dipenuhi jalan layang dan gedung tinggi. Kota modern adalah kota yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kualitas lingkungan hidup.

Sungai sebagai Simbol Peradaban

Pengalaman di Shanghai membuat saya percaya bahwa Jakarta sebenarnya masih punya harapan.

Ciliwung belum terlambat diselamatkan. Sungai-sungai Jakarta belum kehilangan masa depannya. Tetapi syaratnya satu: harus ada keberanian politik untuk berpikir melampaui siklus elektoral.

Revitalisasi sungai membutuhkan konsistensi lintas pemerintahan, penguatan tata kelola, penegakan hukum lingkungan, serta perubahan budaya masyarakat.

Dan yang tidak kalah penting: sungai harus dikembalikan menjadi ruang publik yang dicintai warga.

Karena ketika masyarakat merasa memiliki sungainya, mereka akan ikut menjaganya.

Pada akhirnya, kualitas sungai sebuah kota sesungguhnya mencerminkan kualitas peradabannya.

Kota yang membiarkan sungainya mati perlahan sedang memperlihatkan kegagalannya menghormati kehidupan.

Sebaliknya, kota yang mampu menghidupkan kembali sungainya sedang membangun masa depan.

Shanghai telah membuktikan itu.

Pertanyaannya sekarang: apakah Jakarta memiliki keberanian yang sama?

Tuntaskan Masalah Sanitasi Pembangunan Jamban Sehat TMMD Reguler ke-128 Kodim Sragen Capai 100 Persen

0

Sragen,TelusuR.ID – Komitmen TNI dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat di lokasi TMMD Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen mulai membuahkan hasil nyata. Salah satu sasaran penting dalam program ini, yakni pembangunan jamban sehat bagi warga Kecamatan Karangmalang telah rampung 100 persen.

Program yang menjadi bagian integral dari sasaran non-fisik TMMD ini merupakan upaya nyata dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Sebagaimana diketahui, TMMD Reguler ke-128 tahun 2026 ini telah dibuka secara resmi pada 22 April 2026 lalu oleh Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, S.E., M.M., di Desa Puro Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen.

Pembangunan jamban sehat ini menyasar keluarga yang selama ini belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak. Dengan selesainya 10 unit jamban tersebut, diharapkan pola hidup masyarakat dapat berubah secara signifikan.

Keberadaan jamban baru ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah edukasi jangka panjang bagi warga. Anggota Satgas TMMD Reguler ke-128 Kodim Sragen menekankan pentingnya disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Salah satu anggota Satgas TMMD, Serma Sumartana, dalam peninjauan lokasi menyatakan bahwa fasilitas yang telah dibangun harus dimanfaatkan dengan benar untuk menghentikan kebiasaan buruk di masa lalu.

“Kami membangun ini dengan semangat gotong royong agar warga hidup lebih sehat. Saya tekankan, setelah jamban ini siap, tidak ada lagi alasan untuk Buang Air Besar (BAB) sembarangan, baik itu di sungai maupun di kebun. Kebiasaan BAB sembarangan adalah sumber penyakit yang harus kita putus rantainya hari ini juga,” tegas Serma Sumartana. Minggu (10/05/2026)

Penyediaan sanitasi yang layak merupakan langkah preventif dalam menekan angka penyakit menular serta mendukung program pemerintah dalam penurunan angka stunting. Dengan selesainya sasaran jambanisasi ini, diharapkan angka penyakit yang disebabkan oleh sanitasi buruk dapat ditekan secara signifikan. Program TMMD Reg 128 Kodim Sragen ini diproyeksikan akan terus berlanjut pada sasaran fisik lainnya hingga penutupan mendatang, guna memastikan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sragen semakin meningkat.

(Agus Kemplu)

Gotong Royong Satgas TMMD dan Warga, Pemasangan Hebel RTLH di Kauman Dikebut

0

Boyolali,TelusuR.ID – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II Kodim 0724/Boyolali terus menunjukkan progres positif. Salah satu sasaran fisik berupa pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Kauman, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, kini memasuki tahap pemasangan hebel dinding, Sabtu (09/05/26).

Personel Satgas TMMD bersama warga tampak kompak bekerja sama menyelesaikan pemasangan hebel secara estafet. Semangat gotong royong terlihat jelas saat material bangunan diangkat dan dipasang demi mempercepat proses pembangunan rumah agar segera selesai dan dapat ditempati oleh penerima bantuan.

Babinsa Serda Sugeng Santoso mengatakan, pembangunan RTLH melalui program TMMD merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap masyarakat dalam membantu mewujudkan hunian yang layak, aman, dan nyaman. Selain pembangunan fisik, TMMD juga menjadi sarana mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat melalui kebersamaan di lapangan.

Dengan dukungan dan antusiasme warga yang terus membantu proses pengerjaan, pembangunan RTLH diharapkan selesai tepat waktu. Kehadiran program TMMD pun diharapkan mampu memberikan manfaat nyata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Kauman.

(Agus Kemplu)

Perginya Sang Guru “Sunyi” dan Pengasuh Ribath Al Maliki Tambakberas

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Kabar duka yang mendalam menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Tokoh kharismatik KH Fadlullah Malik, atau yang lebih akrab disapa Gus Fad, dilaporkan berpulang ke rahmatullah pada Minggu (10/05/2026). Kepergian Pengasuh Ribath Al Maliki Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini meninggalkan duka yang luas bagi ribuan santri di seluruh penjuru negeri.

Sosok mendiang bukan hanya dikenal sebagai sesepuh yang dihormati di Jombang, tetapi juga merupakan ayahanda dari Mohammad Shofiyullah Cokro (Gus Shofi). Saat ini, Gus Shofi tengah mengemban amanah besar sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2024–2027.

Ikhsan Effendi, sahabat karib mendiang sekaligus penulis buku Membaca NU di Simpang Sejarah, menyebut wafatnya Gus Fad sebagai redupnya satu mata air keikhlasan. Baginya, organisasi “hijau” tersebut telah kehilangan salah satu penjaga moral terbaiknya yang selama ini selalu bekerja dalam senyap tanpa pamrih.

Dalam kacamata tasawuf, Ikhsan memandang kepulangan Gus Fad bukanlah sebuah akhir yang tragis bagi seorang hamba. Ia melihatnya sebagai sebuah perpindahan maqam atau tingkatan spiritual, yakni dari alam amal menuju alam hasil, di mana segala ketulusan selama di dunia kini menemui muaranya yang hakiki.

Gus Fad selama ini dikenal sebagai figur yang jauh dari kesan pongah di panggung sejarah. Ikhsan menggambarkan sahabatnya itu sebagai fondasi yang justru menguatkan panggung besar Nahdlatul Ulama dari bawah, tanpa pernah merasa perlu menonjolkan diri secara berlebihan di depan publik maupun sorotan kamera.

Dalam tradisi sufi, sosok seperti Gus Fad sering disebut sebagai Rijal al-khafi atau “orang-orang tersembunyi”. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan zaman melalui getaran spiritual dan pengabdian yang sangat sunyi, namun berdampak sangat dalam bagi umat.

Rekam jejaknya sebagai Ketua Ansor Jombang dalam rentang panjang tahun 1987 hingga 2001 menjadi bukti nyata ketangguhannya. Ia berhasil membawa organisasi pemuda ini melewati fase-fase krusial bangsa, mulai dari senja kala Orde Baru hingga fajar reformasi, dengan prinsip yang tetap teguh dan tak tergoyahkan.

Menariknya, Ikhsan mencatat bahwa Gus Fad tidak pernah menjadikan jabatan sebagai tangga untuk meraih kekuasaan absolut. Di saat banyak orang menjadikan organisasi sebagai batu loncatan karier, Gus Fad justru menjadikannya sebagai “sajadah” tempat ia bersujud, berkhidmah, dan melayani kepentingan masyarakat.

Hubungan batinnya dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pun kerap menjadi sorotan banyak kalangan Nahdliyin. Ikhsan menilai kedekatan keduanya melampaui urusan politik atau struktural semata, melainkan sebuah resonansi ruhani yang kerap digambarkan dalam ungkapan al-arwah junudun mujannadah.

Kisah legendaris tentang dering telepon Gus Dur yang tiba-tiba “menjawab” guyonan para aktivis Ansor menjadi isyarat halus tentang keterhubungan tersebut. Peristiwa ini seolah membenarkan adagium bahwa seorang wali hanya dikenali oleh wali lainnya melalui jalur komunikasi ruhani yang sering kali tak kasat mata bagi orang awam.

Keindahan pribadi Gus Fad terletak pada spiritualitasnya yang meresap dalam keseharian tanpa perlu tampil meledak-ledak. Hingga di akhir hayatnya, ia tetap memilih jalan yang sangat mulia dengan memutuskan untuk mengabdikan diri sepenuhnya sebagai seorang guru dan pengayom bagi santri dan masyarakat luas.

Pilihan menjadi guru, menurut Ikhsan, adalah pilihan yang secara duniawi tampak sederhana namun secara spiritual sangatlah agung. Gus Fad memegang teguh prinsip kenabian bahwa warisan terbaik bagi generasi penerus bukanlah harta benda atau kemegahan, melainkan ilmu pengetahuan dan adab yang luhur.

Zuhudnya Gus Fad juga sangat teruji ketika ia berkali-kali menolak berbagai godaan politik praktis, meski dukungan untuk maju dalam Pilkada Jombang mengalir sangat deras. Ia memilih untuk hadir di kancah politik seperlunya, tanpa pernah membiarkan dirinya didikte oleh syahwat kekuasaan yang fana.

Ikhsan mengutip ungkapan klasik untuk menggambarkan sikap sang sahabat: “Berada di dunia, tetapi dunia tidak berada di hatinya.” Sikap inilah yang menjadikan Gus Fad sebagai penjaga marwah agar NU tidak kehilangan kedalaman spiritualnya di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan dinamis.

Kini, saat Gus Fad telah menghadap sang Khalik, Ikhsan meyakini bahwa perjalanan itu adalah sebuah liqa’ atau pertemuan yang indah. Ini adalah momentum pertemuan kembali dengan Allah SWT serta para guru dan orang-orang tercinta yang telah lebih dulu mendahuluinya ke alam keabadian.

“Kita membayangkan ia kembali bercengkerama dengan Gus Dur dalam dimensi yang lebih sunyi namun hakiki,” pungkas Ikhsan. Selamat jalan Gus Fad, air mata keikhlasanmu akan terus mengalir dan menjadi inspirasi yang tak kunjung padam bagi kami yang ditinggalkan.

Obituari Gus Fad: Sang Penjaga Muru’ah Ansor yang Memilih Jalan Sunyi di Balik Bayang-Bayang Kekuasaan

0

JOMBANG, Telusur.id – Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Salah Satu Tokoh di Jombang meninggal dunia. Langit Jombang terasa lebih redup pada Minggu pagi (10/05/2026). KH Fadlullah Malik, sosok yang akrab disapa Gus Fad, telah mengembuskan napas terakhirnya.

Kepergian Ayahanda dari Mohammad Shofiyullah Cokro (Gus Shofi), Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2024-2027 yang merupakan tokoh kharismatik ini menyisakan ruang kosong yang dalam, terutama di hati para kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang selama ini menjadikannya sebagai kompas moral.

Ikhsan Effendi, penulis buku Membaca NU Disimpang Sejarah sekaligus sahabat karib mendiang, merasakan getaran kesedihan yang amat nyata. Baginya, Gus Fad adalah representasi langka dari seorang kiai yang mampu menjaga jarak aman dengan hiruk-pikuk keduniawian meski peluang berada di puncak kekuasaan selalu terbuka lebar.

“Pagi ini terasa lebih lengang. Bukan karena jalanan sepi, tapi karena satu suara ketulusan telah berhenti. Gus Fad adalah suara yang tidak pernah ingin terdengar keras, namun kehadirannya selalu terasa nyata di tengah masyarakat,” ujar Ikhsan Effendi mengenang sang sahabat dikutip Telusur.id.

Ikhsan menceritakan bahwa bagi orang Jombang, nama KH Fadlullah Malik cukup disebut dengan panggilan “Gus Fad”. Singkat dan bersahaja. Panggilan tersebut seolah meruntuhkan tembok formalitas gelar dan jabatan yang sebenarnya sangat banyak ia sandang.

Jika dirunut, pengabdian Gus Fad sangatlah luas. Ia pernah memimpin GP Ansor Jombang selama bertahun-tahun, menjadi aktivis sosial, hingga menjadi motor penggerak gerakan anti-narkoba. Namun, Ikhsan melihat sebuah keunikan dalam kepemimpinan Gus Fad selama ini.

“Anehnya, semakin banyak jabatan yang ia sandang, semakin ia terlihat tidak sedang menjabat apa-apa. Ia tetaplah kiai warung kopi yang bisa berdiskusi gayeng dengan siapa saja, tanpa memandang kasta atau posisi,” tutur Ikhsan.

Karakteristik inilah yang menurut Ikhsan membuat Gus Fad memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Keduanya berbagi satu prinsip hidup yang sama: tidak terlalu serius mengejar dunia, namun sangat serius dalam memuliakan manusia.

Ikhsan menyaksikan sendiri bahwa hubungan Gus Fad dan Gus Dur bukanlah relasi struktural yang kaku antara senior dan junior di Nahdlatul Ulama. Ia menyebutnya sebagai “hubungan rasa”—sebuah frekuensi batin yang sulit dijelaskan dengan logika organisasi.

Ada satu peristiwa unik yang masih membekas di ingatan Ikhsan. Suatu kali, Gus Fad sedang menceritakan kenyentrikan Gus Dur dalam sebuah guyonan khas Ansor yang hangat. Saat cerita sedang mencapai puncaknya, tiba-tiba telepon genggam Gus Fad berdering.

Yang membuat semua orang terperanjat adalah siapa yang berada di ujung telepon. “Tiba-tiba Gus Dur menelepon. Waktunya sangat pas dengan apa yang sedang diceritakan. Kebetulan yang terlalu presisi itu sering terjadi,” ungkap Ikhsan penuh takjub.

Dalam kacamata spiritual, Ikhsan menyebut fenomena itu sebagai laa ya’rifu al-wali illa al-wali. Meskipun Gus Fad tidak pernah mengaku sebagai wali, tindak-tanduknya menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap jalur kewalian dan kemanusiaan.

Keteguhan prinsip Gus Fad juga teruji saat ia bersinggungan dengan dunia politik. Ikhsan menceritakan bagaimana Gus Fad sempat masuk ke PKB dan menduduki kursi DPRD, namun ia justru memilih keluar dengan tenang saat merasa ruang tersebut terlalu penuh kepentingan.

“Beliau seolah-olah hanya mampir untuk menunjukkan bahwa politik itu sarana, bukan tujuan. Setelah itu, ia memilih jalan yang bagi sebagian orang adalah langkah mundur: menjadi seorang guru,” lanjut Ikhsan Effendi.

Bagi Gus Fad, menjadi guru adalah titik puncak pengabdian. Di ruang kelas, ia tidak perlu melakukan kompromi politik atau menjaga citra di depan publik. Yang ada hanyalah proses transfer ilmu dan ketulusan tanpa motif-motif kekuasaan.

Padahal, Ikhsan mencatat bahwa nama Gus Fad berkali-kali didorong untuk maju dalam kontestasi Pilkada Jombang. Dukungan dari berbagai arus sangat kuat, namun Gus Fad tetap memilih bergeming dan menolak tawaran tersebut secara halus.

Ia lebih memilih berkhidmah di jalan sunyi Ansor. Jalan yang tidak selalu disorot lampu kamera, namun memberikan dampak yang sangat terasa bagi pembentukan karakter generasi muda di akar rumput.

Kini, di hari kepulangannya pada 10 Mei 2026, Ikhsan meyakini bahwa perjalanan Gus Fad telah sampai pada ujung yang indah. Kematian baginya hanyalah perpindahan dari dunia yang bising menuju ruang keabadian yang lebih jernih dan damai.

“Saya membayangkan di sana Gus Dur menyambutnya dengan senyum khas, lalu mereka melanjutkan percakapan lama yang sempat tertunda. Tanpa protokol, tanpa suasana yang dibuat-buat,” kata Ikhsan membayangkan pertemuan dua sahabat karib tersebut.

Sebagai penutup, Ikhsan menegaskan bahwa warisan terbesar Gus Fad bukanlah jabatan, melainkan jejak ketulusan di hati banyak orang. Selamat jalan, Gus Fad. Engkau telah mengajarkan bahwa setia pada jalan sendiri jauh lebih mulia daripada mengejar tahta.

Gus Lilur Suarakan Tritura Nelayan: Desak Presiden Prabowo Bentuk Satgas Khusus Berantas Mafia BBL

0

JAKARTA, TELUSUR.ID – Isu kedaulatan kelautan kembali memanas seiring dengan seruan tegas dari Founder Bandar Laut Dunia (Balad) Grup, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur. Ia secara resmi menyerukan “Tritura Nelayan Republik Indonesia” dan mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus pemberantasan penyelundupan Benih Bening Lobster (BBL).

Gus Lilur menilai bahwa praktik penyelundupan BBL bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan kejahatan ekonomi lintas negara yang sangat terorganisir. Praktik ini dinilai merugikan nelayan kecil serta melemahkan martabat maritim Indonesia karena nilai tambah ekonomi lobster justru dinikmati oleh negara tetangga.

“Kami menyerukan Tritura Nelayan agar negara hadir secara tegas. Tiga tuntutan utama kami adalah: berantas penyelundupan BBL, fasilitasi budidaya di laut sendiri, dan gerakkan seluruh jajaran KKP untuk memprioritaskan nelayan lokal,” ujar Gus Lilur dalam keterangan resmi tertulisnya diterima Telusur.id, Senin (11/5/2026).

Gus Lilur mengapresiasi langkah Presiden Prabowo yang sejak Agustus 2025 telah menghentikan total skema budidaya BBL di luar negeri. Menurutnya, kebijakan yang dijalankan melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut adalah kemenangan awal bagi kedaulatan sumber daya perikanan nasional.

Langkah strategis ini diperkuat dengan perubahan regulasi dari Permen KP Nomor 7 Tahun 2024 menjadi Permen KP Nomor 5 Tahun 2026. Sebagai inisiator perubahan aturan tersebut, Gus Lilur meyakini bahwa tata kelola lobster kini harus berorientasi penuh pada penguatan budidaya domestik, bukan lagi menjadi penyokong industri negara lain.

“BBL itu berasal dari laut Indonesia, maka mutlak hukumnya budidaya dilakukan di sini. Jangan sampai benihnya dari kita, risikonya ditanggung nelayan kita, tetapi keuntungan ratusan triliunnya justru lari ke luar negeri,” tegasnya dengan nada bicara yang lugas.

Namun, Gus Lilur memberikan catatan kritis bahwa penghentian budidaya di luar negeri tidak akan berdaya jika jalur “tikus” penyelundupan tidak ditutup total. Ia mengungkapkan bahwa jaringan penyelundup memiliki skema yang sangat rapi dan sistematis, terutama melalui jalur laut menuju Malaysia dan jalur udara ke Singapura.

Dalam investigasinya, Gus Lilur membeberkan bahwa BBL yang tiba di Singapura akan menjalani proses aklimatisasi atau penyegaran kembali di kawasan Choa Chu Kang dan Lim Chu Kang. Setelah kondisi benih prima, komoditas gelap ini kemudian diterbangkan menuju Kamboja untuk mendapatkan “pemutihan” dokumen.

Di Kamboja, BBL ilegal tersebut akan memperoleh dokumen legalitas palsu berupa Certificate of Origin (COO) dan Certificate of Health (COH). Dokumen inilah yang menjadi syarat mutlak bagi negara tujuan akhir, seperti Vietnam, yang menolak menerima benih tanpa legalitas resmi.

Pola ini menunjukkan bahwa Indonesia selama ini hanya dijadikan sumber bahan baku murah bagi rantai pasok industri lobster global. Ironisnya, Vietnam mampu meraup nilai ekonomi hingga lebih dari Rp100 triliun per tahun dari hasil pembesaran benih yang aslinya berasal dari perairan nusantara.

“Ini adalah ironi besar. Kita punya kekayaan alamnya, tapi nelayan kita hanya jadi penonton sementara negara lain mengekspor lobster hingga ratusan triliun. Rantai mafia ini harus diputus sekarang juga,” kata Gus Lilur mendesak pemerintah.

Atas dasar itulah, pembentukan Satgas Khusus Pemberantasan Penyelundupan BBL dianggap menjadi harga mati. Satgas ini diharapkan melibatkan unsur terpadu mulai dari KKP, Polri, TNI AL, Bea Cukai, hingga intelijen negara untuk mengawasi ketat pintu-pintu keluar di bandara dan pelabuhan.

Selain aspek penegakan hukum, Gus Lilur meminta pemerintah memberikan solusi ekonomi yang konkret bagi masyarakat pesisir. Larangan ekspor benih harus dibarengi dengan kemudahan akses teknologi, permodalan, dan perizinan agar nelayan mampu melakukan budidaya mandiri di laut Indonesia.

Ia optimis bahwa Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi pusat lobster dunia jika kebocoran benih dapat dihentikan. Dengan habitat alami yang luas dan pengalaman nelayan yang mumpuni, Indonesia seharusnya memimpin pasar lobster global, bukan sekadar menjadi pemasok gelap.

“Tritura Nelayan ini adalah seruan kedaulatan ekonomi. Kami percaya di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, negara punya keberanian untuk menutup semua celah kebocoran tersebut dan memfasilitasi nelayan agar berdaya di rumah sendiri,” tambah Gus Lilur.

Menutup keterangannya, Gus Lilur menegaskan bahwa masa depan industri lobster nasional harus ditentukan oleh tangan anak bangsa. Ia berharap pemerintah segera merespons tuntutan ini agar Indonesia tidak lagi hanya menjadi penyedia benih bagi kejayaan ekonomi bangsa lain.

Hadiri Haul Mbah Wahab di Jombang, Wapres Gibran Tekankan Peran Santri Hadapi Tantangan Global

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menghadiri peringatan Haul ke-55 KH Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Kehadiran orang nomor dua di Indonesia ini disambut hangat oleh ribuan santri dan keluarga besar pesantren.

Dalam sambutannya, Wapres Gibran menceritakan momen saat panitia haul datang langsung ke kantornya untuk menyerahkan undangan. Beliau menyebut kunjungan para ibu nyai dan pengurus yayasan sebagai kehormatan besar yang harus segera ditindaklanjuti.

Meskipun undangan tersebut diterima dalam waktu yang tergolong mendesak, Gibran menegaskan komitmennya untuk hadir. Baginya, undangan dari para kiai dan ulama merupakan amanah yang tidak boleh diabaikan demi menjaga silaturahmi.

Gibran mengungkapkan bahwa dirinya semula dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Lampung pada hari yang sama. Namun, demi menghormati undangan dari keluarga besar Tambakberas, jadwal di Lampung tersebut diputuskan untuk dipercepat.

“Saya percepat kunjungan di Lampung agar bisa langsung terbang ke Jombang memenuhi amanah ini,” ujar Gibran di hadapan jamaah yang memadati area pesantren. Keputusan ini menunjukkan prioritas tinggi pemerintah terhadap tokoh ulama bangsa.

Tak lupa, Wapres Gibran menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto untuk seluruh keluarga besar Pesantren Bahrul Ulum. Beliau mengabarkan bahwa Presiden baru saja menyelesaikan agenda kenegaraan yang cukup padat di luar negeri.

Gibran menginformasikan bahwa Presiden Prabowo baru saja kembali dari kunjungan resmi di Filipina. Kehadiran Wapres di Jombang sekaligus menjadi representasi kehadiran pemerintah di tengah-tengah masyarakat santri.

Wapres juga mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama mendoakan kesehatan dan kekuatan bagi Presiden Prabowo Subianto. Doa tersebut dipanjatkan agar pemimpin negara senantiasa dilancarkan dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan yang berat.

Dalam paparan strategisnya, Gibran menyinggung berbagai kebijakan pemerintah yang terus berpihak pada kemajuan pesantren. Beliau menyebut bahwa status Hari Santri dan pembentukan Ditjen Pesantren merupakan bukti nyata pengakuan negara.

Salah satu program unggulan yang ditekankan Gibran adalah inisiasi “Kampung Haji” yang menjadi visi besar Presiden Prabowo. Program ini dirancang untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi umat Islam yang hendak beribadah ke tanah suci.

Gibran menjelaskan bahwa inovasi layanan haji sudah mulai terlihat, salah satunya dengan adanya jalur *fast track* di Surabaya. Jalur ini terbukti memangkas waktu proses administrasi imigrasi bagi jemaah haji secara signifikan.

Lebih lanjut, Kampung Haji nantinya akan dibangun di atas lahan seluas 45 hektar sebagai pusat layanan terpadu. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat transit, tetapi juga pusat edukasi dan pelayanan satu atap bagi jemaah.

Tujuan utama dari pembangunan infrastruktur ini, menurut Gibran, adalah untuk menekan biaya haji agar lebih terjangkau. Efisiensi biaya menjadi target utama pemerintah agar seluruh lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berhaji.

Mengenai sosok KH Wahab Chasbullah, Gibran menyebut almarhum sebagai tokoh penggerak dan pahlawan nasional yang visioner. Semangat nasionalisme Mbah Wahab dianggap masih sangat relevan untuk dijadikan kompas bagi generasi muda saat ini.

Wapres mengingatkan para santri bahwa tantangan di masa depan tidaklah mudah karena adanya ketidakpastian global. Beliau menyoroti isu geopolitik, perang dagang, hingga disrupsi teknologi yang dapat berdampak pada stabilitas nasional.

“Santri harus siap beradaptasi dengan perubahan iklim dan dinamika dunia yang sangat cepat,” tegas Gibran. Beliau berharap pesantren tetap menjadi benteng moral sekaligus kawah candradimuka bagi inovasi teknologi.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Tambakberas, KH Hasib Wahab, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran Wapres Gibran. Beliau menilai kehadiran ini sebagai simbol kuatnya sinergi antara ulama dan umara di Indonesia.

Kiai Hasib yang juga putra dari Mbah Wahab mengajak para santri untuk tetap tegak lurus mendukung program pemerintah yang bermanfaat bagi rakyat. Beliau menekankan pentingnya menjaga persatuan demi kedaulatan NKRI yang diperjuangkan para leluhur.

Menutup rangkaian acara, Kiai Hasib memimpin doa untuk keselamatan bangsa dan kesuksesan pemerintahan Prabowo-Gibran. Beliau berharap kepemimpinan nasional saat ini mampu membawa Indonesia menuju kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh rakyat.

Babinsa Koramil 14 Jatisrono Bersama Linmas Sisir Obyek Vital Demi Jaga Keamanan Warga

0

Wonogiri,TelusuR.ID – Suasana Jumat malam di wilayah Kecamatan Jatisrono tampak lebih aman dan kondusif dengan hadirnya patroli cipta kondisi yang dilakukan anggota Koramil 14 Jatisrono, Kodim 0728/Wonogiri.

Dipimpin Serka Budi R dan Sertu Pendi, patroli digelar pada Jumat malam (8/5/2026) dengan menyasar sejumlah obyek vital serta pusat keramaian masyarakat. Ini menjadi bentuk nyata kehadiran aparat TNI di tengah masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban wilayah.

Anggota Koramil menyambangi sejumlah titik penting seperti SPBU, area pertokoan, terminal, hingga tempat berkumpulnya warga pada malam hari. Kehadiran aparat berseragam loreng di lokasi-lokasi strategis mendapat respons positif dari masyarakat yang merasa lebih tenang dan terlindungi.

Selain memantau situasi keamanan, petugas juga memberikan imbauan kepada warga agar selalu menjaga ketertiban dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan kamtibmas.

Serka Budi R menyampaikan bahwa patroli malam rutin dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap tindak kriminalitas maupun gangguan keamanan lainnya.

Menurutnya, keamanan wilayah bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat.

Dengan komunikasi yang baik antara aparat dan warga, situasi yang aman dan nyaman dapat terus terjaga.

Sementara itu, Sertu Pendi menambahkan bahwa patroli cipta kondisi juga bertujuan mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat.

Anggota Koramil tampak berdialog santai dengan warga dan petugas keamanan lingkungan.

Interaksi humanis itu dinilai mampu membangun rasa kebersamaan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan.

Patroli yang berlangsung hingga larut malam itu berjalan aman, tertib, dan lancar.

Warga berharap kegiatan serupa terus dilakukan secara rutin agar situasi Kecamatan Jatisrono tetap kondusif.

Dengan sinergi antara aparat dan masyarakat, keamanan wilayah diharapkan semakin kuat sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan rasa aman dan nyaman.

(Agus Kemplu)