JOMBANG,TelusuR.ID – Ada suasana berbeda di Pendopo Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, akhir pekan kali ini. Bukan sekadar kumpul kader. Bukan pula seremoni organisasi. Yang hadir adalah semangat lama yang terus dirawat: menjaga Indonesia dengan ilmu, tradisi, dan keteguhan hati.
Ratusan kader GP Ansor dan Banser dari berbagai daerah berkumpul dalam Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) Satkorwil Banser Jawa Timur Angkatan XLI yang digelar PC GP Ansor Jombang, Jumat hingga Minggu, 8–10 Mei 2026.
Mereka datang tidak hanya membawa seragam hijau dan disiplin organisasi. Mereka datang membawa tekad. Bahwa Banser hari ini tidak cukup hanya kuat secara fisik. Kader Ansor juga harus kuat dalam pemikiran, matang dalam ideologi, dan teduh dalam cara pandang beragama.
Karena tantangan zaman memang tidak lagi sederhana.
Arus informasi bergerak tanpa pagar. Paham keagamaan menyebar cepat melalui media sosial. Di tengah situasi itu, kader muda NU dituntut tidak sekadar ikut ramai, tetapi mampu menjelaskan, menjaga, sekaligus menjadi peneduh masyarakat.

Itulah sebabnya materi penguatan Hujjah Aswaja mendapat perhatian khusus dalam Susbalan kali ini.
Materi tersebut menegaskan kembali fondasi utama Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah: berpegang pada Al-Qur’an, Al-Sunnah, dan Kutub Al-Turots sebagai warisan keilmuan para ulama. Sebuah manhaj yang tidak kaku, tetapi tetap kokoh. Moderat, namun tidak kehilangan prinsip.
Materi itu disampaikan oleh Ketua Aswaja NU Center PCNU Jombang, Ustadz Abdul Majid Shidiq, M.HI. Ia mengingatkan pentingnya kader Ansor dan Banser memahami hujjah keagamaan secara utuh agar tidak mudah terombang-ambing oleh pemahaman ekstrem maupun radikal.
Menurutnya, menjaga Aswaja bukan hanya menjaga tradisi tahlil, shalawat, atau qunut. Lebih dari itu, menjaga Aswaja berarti menjaga cara berpikir yang seimbang, menjaga akhlak dalam berdakwah, dan menjaga Indonesia tetap damai.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gus Fiqi, Gus Syafiq, dan Gus Farid bersama jajaran pengurus lainnya.
Dalam sambutannya, Gus Syafiq menegaskan bahwa materi keaswajaan harus menjadi napas utama dalam seluruh proses kaderisasi Ansor.
“Materi ini harus menjadi bagian penting dalam seluruh proses kaderisasi Ansor. Seluruh kader wajib memahami dan mengikuti materi keaswajaan sebagai pondasi perjuangan,” tegasnya.
Kalimat itu sederhana. Tetapi pesannya dalam.
Bahwa organisasi sebesar Ansor dan Banser tidak dibangun hanya dengan loyalitas. Ia dibangun dengan ilmu. Dengan pemahaman. Dengan keyakinan yang lahir dari proses belajar yang panjang.
Dari Jombang, kota santri yang melahirkan banyak ulama besar, pesan itu kembali ditegaskan: menjaga negeri tidak cukup dengan tenaga. Negeri ini juga membutuhkan kader-kader yang kuat dalam hujjah, santun dalam berdakwah, dan kokoh menjaga persatuan.
Susbalan Angkatan XLI ini menjadi pengingat bahwa Banser bukan hanya benteng fisik Nahdlatul Ulama. Banser juga benteng pemikiran Islam moderat yang ramah, teduh, dan mencintai Indonesia.(mift)



