Obituari Gus Fad: Sang Penjaga Muru’ah Ansor yang Memilih Jalan Sunyi di Balik Bayang-Bayang Kekuasaan

0
12 views
Bagikan :

JOMBANG, Telusur.id – Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Salah Satu Tokoh di Jombang meninggal dunia. Langit Jombang terasa lebih redup pada Minggu pagi (10/05/2026). KH Fadlullah Malik, sosok yang akrab disapa Gus Fad, telah mengembuskan napas terakhirnya.

Kepergian Ayahanda dari Mohammad Shofiyullah Cokro (Gus Shofi), Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2024-2027 yang merupakan tokoh kharismatik ini menyisakan ruang kosong yang dalam, terutama di hati para kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang selama ini menjadikannya sebagai kompas moral.

Ikhsan Effendi, penulis buku Membaca NU Disimpang Sejarah sekaligus sahabat karib mendiang, merasakan getaran kesedihan yang amat nyata. Baginya, Gus Fad adalah representasi langka dari seorang kiai yang mampu menjaga jarak aman dengan hiruk-pikuk keduniawian meski peluang berada di puncak kekuasaan selalu terbuka lebar.

“Pagi ini terasa lebih lengang. Bukan karena jalanan sepi, tapi karena satu suara ketulusan telah berhenti. Gus Fad adalah suara yang tidak pernah ingin terdengar keras, namun kehadirannya selalu terasa nyata di tengah masyarakat,” ujar Ikhsan Effendi mengenang sang sahabat dikutip Telusur.id.

Ikhsan menceritakan bahwa bagi orang Jombang, nama KH Fadlullah Malik cukup disebut dengan panggilan “Gus Fad”. Singkat dan bersahaja. Panggilan tersebut seolah meruntuhkan tembok formalitas gelar dan jabatan yang sebenarnya sangat banyak ia sandang.

Jika dirunut, pengabdian Gus Fad sangatlah luas. Ia pernah memimpin GP Ansor Jombang selama bertahun-tahun, menjadi aktivis sosial, hingga menjadi motor penggerak gerakan anti-narkoba. Namun, Ikhsan melihat sebuah keunikan dalam kepemimpinan Gus Fad selama ini.

“Anehnya, semakin banyak jabatan yang ia sandang, semakin ia terlihat tidak sedang menjabat apa-apa. Ia tetaplah kiai warung kopi yang bisa berdiskusi gayeng dengan siapa saja, tanpa memandang kasta atau posisi,” tutur Ikhsan.

Karakteristik inilah yang menurut Ikhsan membuat Gus Fad memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Keduanya berbagi satu prinsip hidup yang sama: tidak terlalu serius mengejar dunia, namun sangat serius dalam memuliakan manusia.

Ikhsan menyaksikan sendiri bahwa hubungan Gus Fad dan Gus Dur bukanlah relasi struktural yang kaku antara senior dan junior di Nahdlatul Ulama. Ia menyebutnya sebagai “hubungan rasa”—sebuah frekuensi batin yang sulit dijelaskan dengan logika organisasi.

Ada satu peristiwa unik yang masih membekas di ingatan Ikhsan. Suatu kali, Gus Fad sedang menceritakan kenyentrikan Gus Dur dalam sebuah guyonan khas Ansor yang hangat. Saat cerita sedang mencapai puncaknya, tiba-tiba telepon genggam Gus Fad berdering.

Yang membuat semua orang terperanjat adalah siapa yang berada di ujung telepon. “Tiba-tiba Gus Dur menelepon. Waktunya sangat pas dengan apa yang sedang diceritakan. Kebetulan yang terlalu presisi itu sering terjadi,” ungkap Ikhsan penuh takjub.

Dalam kacamata spiritual, Ikhsan menyebut fenomena itu sebagai laa ya’rifu al-wali illa al-wali. Meskipun Gus Fad tidak pernah mengaku sebagai wali, tindak-tanduknya menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap jalur kewalian dan kemanusiaan.

Keteguhan prinsip Gus Fad juga teruji saat ia bersinggungan dengan dunia politik. Ikhsan menceritakan bagaimana Gus Fad sempat masuk ke PKB dan menduduki kursi DPRD, namun ia justru memilih keluar dengan tenang saat merasa ruang tersebut terlalu penuh kepentingan.

“Beliau seolah-olah hanya mampir untuk menunjukkan bahwa politik itu sarana, bukan tujuan. Setelah itu, ia memilih jalan yang bagi sebagian orang adalah langkah mundur: menjadi seorang guru,” lanjut Ikhsan Effendi.

Bagi Gus Fad, menjadi guru adalah titik puncak pengabdian. Di ruang kelas, ia tidak perlu melakukan kompromi politik atau menjaga citra di depan publik. Yang ada hanyalah proses transfer ilmu dan ketulusan tanpa motif-motif kekuasaan.

Padahal, Ikhsan mencatat bahwa nama Gus Fad berkali-kali didorong untuk maju dalam kontestasi Pilkada Jombang. Dukungan dari berbagai arus sangat kuat, namun Gus Fad tetap memilih bergeming dan menolak tawaran tersebut secara halus.

Ia lebih memilih berkhidmah di jalan sunyi Ansor. Jalan yang tidak selalu disorot lampu kamera, namun memberikan dampak yang sangat terasa bagi pembentukan karakter generasi muda di akar rumput.

Kini, di hari kepulangannya pada 10 Mei 2026, Ikhsan meyakini bahwa perjalanan Gus Fad telah sampai pada ujung yang indah. Kematian baginya hanyalah perpindahan dari dunia yang bising menuju ruang keabadian yang lebih jernih dan damai.

“Saya membayangkan di sana Gus Dur menyambutnya dengan senyum khas, lalu mereka melanjutkan percakapan lama yang sempat tertunda. Tanpa protokol, tanpa suasana yang dibuat-buat,” kata Ikhsan membayangkan pertemuan dua sahabat karib tersebut.

Sebagai penutup, Ikhsan menegaskan bahwa warisan terbesar Gus Fad bukanlah jabatan, melainkan jejak ketulusan di hati banyak orang. Selamat jalan, Gus Fad. Engkau telah mengajarkan bahwa setia pada jalan sendiri jauh lebih mulia daripada mengejar tahta.

Tinggalkan Balasan