JOMBANG, TELUSUR.ID – Kabar duka yang mendalam menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Tokoh kharismatik KH Fadlullah Malik, atau yang lebih akrab disapa Gus Fad, dilaporkan berpulang ke rahmatullah pada Minggu (10/05/2026). Kepergian Pengasuh Ribath Al Maliki Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini meninggalkan duka yang luas bagi ribuan santri di seluruh penjuru negeri.
Sosok mendiang bukan hanya dikenal sebagai sesepuh yang dihormati di Jombang, tetapi juga merupakan ayahanda dari Mohammad Shofiyullah Cokro (Gus Shofi). Saat ini, Gus Shofi tengah mengemban amanah besar sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2024–2027.
Ikhsan Effendi, sahabat karib mendiang sekaligus penulis buku Membaca NU di Simpang Sejarah, menyebut wafatnya Gus Fad sebagai redupnya satu mata air keikhlasan. Baginya, organisasi “hijau” tersebut telah kehilangan salah satu penjaga moral terbaiknya yang selama ini selalu bekerja dalam senyap tanpa pamrih.
Dalam kacamata tasawuf, Ikhsan memandang kepulangan Gus Fad bukanlah sebuah akhir yang tragis bagi seorang hamba. Ia melihatnya sebagai sebuah perpindahan maqam atau tingkatan spiritual, yakni dari alam amal menuju alam hasil, di mana segala ketulusan selama di dunia kini menemui muaranya yang hakiki.
Gus Fad selama ini dikenal sebagai figur yang jauh dari kesan pongah di panggung sejarah. Ikhsan menggambarkan sahabatnya itu sebagai fondasi yang justru menguatkan panggung besar Nahdlatul Ulama dari bawah, tanpa pernah merasa perlu menonjolkan diri secara berlebihan di depan publik maupun sorotan kamera.
Dalam tradisi sufi, sosok seperti Gus Fad sering disebut sebagai Rijal al-khafi atau “orang-orang tersembunyi”. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan zaman melalui getaran spiritual dan pengabdian yang sangat sunyi, namun berdampak sangat dalam bagi umat.
Rekam jejaknya sebagai Ketua Ansor Jombang dalam rentang panjang tahun 1987 hingga 2001 menjadi bukti nyata ketangguhannya. Ia berhasil membawa organisasi pemuda ini melewati fase-fase krusial bangsa, mulai dari senja kala Orde Baru hingga fajar reformasi, dengan prinsip yang tetap teguh dan tak tergoyahkan.
Menariknya, Ikhsan mencatat bahwa Gus Fad tidak pernah menjadikan jabatan sebagai tangga untuk meraih kekuasaan absolut. Di saat banyak orang menjadikan organisasi sebagai batu loncatan karier, Gus Fad justru menjadikannya sebagai “sajadah” tempat ia bersujud, berkhidmah, dan melayani kepentingan masyarakat.
Hubungan batinnya dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pun kerap menjadi sorotan banyak kalangan Nahdliyin. Ikhsan menilai kedekatan keduanya melampaui urusan politik atau struktural semata, melainkan sebuah resonansi ruhani yang kerap digambarkan dalam ungkapan al-arwah junudun mujannadah.
Kisah legendaris tentang dering telepon Gus Dur yang tiba-tiba “menjawab” guyonan para aktivis Ansor menjadi isyarat halus tentang keterhubungan tersebut. Peristiwa ini seolah membenarkan adagium bahwa seorang wali hanya dikenali oleh wali lainnya melalui jalur komunikasi ruhani yang sering kali tak kasat mata bagi orang awam.
Keindahan pribadi Gus Fad terletak pada spiritualitasnya yang meresap dalam keseharian tanpa perlu tampil meledak-ledak. Hingga di akhir hayatnya, ia tetap memilih jalan yang sangat mulia dengan memutuskan untuk mengabdikan diri sepenuhnya sebagai seorang guru dan pengayom bagi santri dan masyarakat luas.
Pilihan menjadi guru, menurut Ikhsan, adalah pilihan yang secara duniawi tampak sederhana namun secara spiritual sangatlah agung. Gus Fad memegang teguh prinsip kenabian bahwa warisan terbaik bagi generasi penerus bukanlah harta benda atau kemegahan, melainkan ilmu pengetahuan dan adab yang luhur.
Zuhudnya Gus Fad juga sangat teruji ketika ia berkali-kali menolak berbagai godaan politik praktis, meski dukungan untuk maju dalam Pilkada Jombang mengalir sangat deras. Ia memilih untuk hadir di kancah politik seperlunya, tanpa pernah membiarkan dirinya didikte oleh syahwat kekuasaan yang fana.
Ikhsan mengutip ungkapan klasik untuk menggambarkan sikap sang sahabat: “Berada di dunia, tetapi dunia tidak berada di hatinya.” Sikap inilah yang menjadikan Gus Fad sebagai penjaga marwah agar NU tidak kehilangan kedalaman spiritualnya di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan dinamis.
Kini, saat Gus Fad telah menghadap sang Khalik, Ikhsan meyakini bahwa perjalanan itu adalah sebuah liqa’ atau pertemuan yang indah. Ini adalah momentum pertemuan kembali dengan Allah SWT serta para guru dan orang-orang tercinta yang telah lebih dulu mendahuluinya ke alam keabadian.
“Kita membayangkan ia kembali bercengkerama dengan Gus Dur dalam dimensi yang lebih sunyi namun hakiki,” pungkas Ikhsan. Selamat jalan Gus Fad, air mata keikhlasanmu akan terus mengalir dan menjadi inspirasi yang tak kunjung padam bagi kami yang ditinggalkan.



