TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 61

Gus Irfan Lepas Jemaah di Jombang: 50 Persen Kuota Haji Terisi, Satgas Perketat Pengawasan Visa

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Menteri Haji dan Umrah RI, Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan, secara resmi melepas keberangkatan ratusan jemaah calon haji asal Kabupaten Jombang. Acara pemberangkatan yang berlangsung khidmat tersebut dipusatkan di Pendopo Kabupaten Jombang pada Kamis (7/5/2026).

Dalam sambutannya di hadapan para jemaah dan keluarga yang mengantar, Gus Irfan menyampaikan kabar terbaru mengenai progres penyelenggaraan ibadah haji nasional tahun 1447 H/2026 M. Ia mengonfirmasi bahwa saat ini proses pemberangkatan secara nasional telah melampaui angka 50 persen.

Berdasarkan data sistem informasi haji terpadu per Kamis (7/5), tercatat sekitar 250 kelompok terbang (kloter) telah resmi diterbangkan menuju Tanah Suci. Angka tersebut menandakan bahwa separuh dari total kuota jemaah Indonesia sudah berada atau sedang dalam perjalanan menuju Arab Saudi.

Gus Irfan menyatakan rasa syukurnya karena sejauh ini operasional penerbangan dari berbagai embarkasi berjalan sangat lancar. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh tim teknis yang memastikan jadwal keberangkatan tetap terjaga tepat waktu tanpa adanya kendala administratif yang berarti.

Terkait pergerakan jemaah di Arab Saudi, Gus Irfan melaporkan bahwa jemaah gelombang pertama kini mulai bergeser secara bertahap dari Madinah ke Mekkah. Sementara itu, jemaah yang baru berangkat, termasuk dari Jombang, dijadwalkan mendarat langsung di Jeddah untuk melaksanakan umrah wajib.

Berdasarkan laporan harian dari tim lapangan, kondisi kesehatan jemaah di Tanah Suci secara umum terpantau dalam keadaan stabil. Meskipun terdapat dinamika cuaca yang cukup terik, Gus Irfan memastikan petugas haji di setiap sektor bekerja sigap memberikan pelayanan prima 24 jam.

Namun, di tengah kelancaran operasional tersebut, Menteri Haji juga memberikan catatan mengenai adanya sejumlah kecil jemaah yang gagal berangkat. Salah satu kendala krusial yang muncul adalah adanya jemaah yang tertolak oleh sistem Imigrasi Arab Saudi akibat catatan permasalahan hukum di masa lalu.

Selain persoalan imigrasi, Gus Irfan mengungkapkan adanya sekitar 10 orang calon jemaah secara nasional yang terpaksa batal berangkat karena alasan kesehatan. Mereka dinyatakan tidak laik terbang (unfit) berdasarkan hasil pemeriksaan medis akhir di asrama haji sebelum menuju bandara.

Menyikapi hal ini, saat ditemui awak media di Pendopo Jombang, Gus Irfan kembali mengingatkan jemaah untuk sangat disiplin menjaga kondisi fisik. Menurutnya, rentang waktu tunggu dari pemeriksaan kesehatan awal hingga hari keberangkatan sangat krusial bagi kebugaran tubuh jemaah.

“Kami imbau jemaah benar-benar menjaga kebugaran hingga hari H keberangkatan. Jangan sampai saat di asrama haji justru dinyatakan tidak memenuhi syarat istitha’ah kesehatan karena kelelahan atau sakit yang sebenarnya bisa dicegah,” pesan Gus Irfan kepada para jemaah.

Fokus utama Gus Irfan tahun ini juga tertuju pada pemberantasan praktik haji ilegal yang merugikan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) gabungan untuk memperketat pengawasan terhadap penggunaan visa non-haji bagi mereka yang nekat beribadah.

Satgas ini merupakan kolaborasi strategis antara Kementerian Haji dan Umrah, Polri, serta Direktorat Jenderal Imigrasi. Langkah preventif ini diambil demi melindungi keselamatan warga negara Indonesia agar tidak terlunta-lunta di Arab Saudi akibat penggunaan dokumen yang tidak resmi.

Gus Irfan menegaskan bahwa pengawasan ketat ini bertujuan semata-mata untuk menjamin ketenangan ibadah jemaah. Ia tidak ingin melihat jemaah Indonesia harus berurusan dengan otoritas keamanan Saudi atau mengalami aksi kejar-kejaran karena menggunakan jalur yang menyalahi aturan.

Hingga pekan pertama Mei ini, Gus Irfan mengklaim upaya pencegahan haji ilegal menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Angka jemaah yang terindikasi menggunakan visa non-prosedural mengalami penurunan drastis dibandingkan dengan musim haji pada tahun-tahun sebelumnya.

Jika pada tahun lalu jumlah jemaah ilegal yang tertahan di berbagai pintu masuk mencapai angka ribuan, tahun ini jumlahnya tercatat tidak sampai 100 orang. Tercatat hanya sekitar 60 orang yang terdeteksi mencoba berangkat secara non-prosedural dan berhasil diberikan pemahaman oleh petugas.

Gus Irfan menilai penurunan ini merupakan bukti bahwa edukasi yang dilakukan pemerintah mulai dipahami oleh masyarakat luas. Kesadaran akan risiko besar dan sanksi berat yang membayangi jika nekat berangkat haji tanpa jalur resmi kini mulai tumbuh di kalangan calon jemaah.

Menutup arahannya di Pendopo Jombang pada Kamis siang itu, Gus Irfan meminta masyarakat untuk tidak mudah tergiur tawaran berangkat haji instan tanpa antrean. Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh melindungi martabat dan keselamatan jemaah melalui jalur keberangkatan yang sah.

Karya Bakti Satkowil TNI Kodim 0728/Wonogiri Sasar Pasar Sidoharjo

0

Wonogiri,TelusuR.ID – Kodim 0728/Wonogiri kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan, Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Karya Bhakti TNI Satkowil TA.2026 menggelar kegiatan Karya Bakti bersama masyarakat dan lapisan unsur.

Karya bakti difokuskan pada pembersihan sampah di pasar hewan Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kamis (7/5/2026).

Dandim 0728/Wonogiri Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihahuan melalui Danramil 17/Sidoharjo Kapten Cpm Soeparmin menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan semua unsur yang telah ikut berpartisipasi pada kegiatan karya Bakti TNI Satkowil Kodim 0728/Wonogiri hari ini.

“Kegiatan karya bakti TNI ini adalah wujud kepedulian TNI terhadap lingkungan sekaligus upaya membangun kebersamaan dengan masyarakat. Lingkungan yang bersih akan berdampak positif bagi kesehatan dan juga mendukung aktivitas ekonomi, khususnya di kawasan pasar,” ujarnya.

Danramil juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan secara berkelanjutan, tidak hanya saat kegiatan berlangsung tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Camat Sidoharjo Tri Wiyatmoko menyambut baik kegiatan tersebut dan mengapresiasi kehadiran TNI yang turut membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan tertata. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin demi terwujudnya lingkungan yang sehat.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan TNI dari Kodim 0728/Wonogiri dalam pembersihan pasar hewan. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan semakin mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat,” ungkapnya.

(Agus Kemplu)

Abdullah Rasyid : Belajar dari Shanghai: Ketika Kota Dibangun untuk Manusia, Bukan Sekadar Kendaraan

0

Belajar dari Shanghai: Ketika Kota Dibangun untuk Manusia, Bukan Sekadar Kendaraan

Oleh: Abdullah Rasyid
Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN yang sedang menjalani studi strategis di Shanghai

TelusuR.ID – Ada satu hal yang langsung terasa ketika berjalan di Shanghai: kota ini sibuk, padat, dan bergerak cepat, tetapi tidak terasa semrawut. Gedung pencakar langit berdiri rapat, pusat bisnis hidup hampir tanpa jeda, jutaan manusia bergerak setiap hari, namun kota tetap tertata dan nyaman dihuni.

Orang bisa berjalan kaki dengan aman. Transportasi publik mudah dijangkau. Ruang hijau hadir di tengah kepadatan. Kawasan bisnis tidak mematikan ruang sosial warga. Kota ini terasa modern tanpa kehilangan sisi manusianya.

Shanghai memberi satu pelajaran penting: kota modern bukan sekadar soal gedung tinggi, jalan lebar, atau proyek raksasa. Kota modern adalah kota yang tahu untuk siapa ruang dibangun.

Dan jawabannya seharusnya sederhana: untuk manusia.

Di banyak kota Indonesia hari ini, pembangunan sering terjebak pada orientasi fisik dan simbolik. Flyover dibangun, jalan diperlebar, apartemen menjulang, pusat perbelanjaan bertambah, tetapi kualitas hidup masyarakat tidak selalu ikut meningkat. Kemacetan tetap menjadi rutinitas harian, trotoar berubah fungsi menjadi parkir dan lapak, ruang hijau menyusut, sementara jarak antara rumah dan tempat kerja semakin melelahkan.

Kota tumbuh cepat, tetapi sering kehilangan arah.

Di sinilah Shanghai menjadi menarik untuk dipelajari. Kota ini tidak tumbuh secara spontan mengikuti logika pasar semata, melainkan dibangun melalui visi jangka panjang yang disiplin dan konsisten. Melalui Shanghai Master Plan 2017–2035, pembangunan kota dirancang bukan hanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas hidup warganya.

Setiap kawasan memiliki fungsi yang jelas: pusat bisnis, kawasan hunian, koridor hijau, pusat inovasi, kawasan budaya, hingga sistem transportasi yang saling terhubung. Negara hadir mengendalikan arah pembangunan agar kota tidak tumbuh liar dan kehilangan keseimbangan.

Hasilnya adalah kota yang tetap dinamis tanpa kehilangan kendali.

Kawasan Pudong adalah contoh nyata. Dahulu wilayah ini hanyalah kawasan pinggiran di seberang Sungai Huangpu. Kini Pudong menjelma menjadi salah satu pusat keuangan modern dunia. Namun keberhasilan Pudong bukan hanya karena gedung seperti Shanghai Tower atau kemegahan Lujiazui. Yang lebih penting adalah bagaimana kawasan itu dirancang terintegrasi dengan transportasi publik, ruang terbuka hijau, pedestrian, kawasan hunian, hingga fasilitas sosial masyarakat.

Shanghai memahami satu prinsip mendasar: kota yang sehat adalah kota yang mendekatkan manusia dengan aktivitas hidupnya.

Karena itu, konsep 15-minute city menjadi bagian penting dalam pembangunan kota. Sekolah, taman, klinik, pusat belanja, ruang publik, hingga transportasi publik diupayakan dapat diakses dalam waktu 15 menit berjalan kaki atau bersepeda.

Konsep ini tampak sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Kemacetan berkurang, polusi menurun, stres masyarakat lebih rendah, interaksi sosial meningkat, dan kualitas hidup menjadi lebih baik.

Bandingkan dengan banyak kota besar di Indonesia. Kawasan bisnis terkonsentrasi di pusat kota, sementara permukiman terus terdorong jauh ke pinggiran tanpa dukungan transportasi publik yang memadai. Akibatnya, jutaan orang hidup dalam rutinitas melelahkan: berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika malam sudah larut.

Kota akhirnya bukan lagi ruang hidup, melainkan ruang bertahan.

Shanghai juga memberi pelajaran penting tentang makna pedestrian. Di banyak kota Indonesia, trotoar masih dianggap fasilitas pelengkap. Padahal di kota-kota maju, kualitas trotoar adalah ukuran kualitas peradaban kota.

Lihatlah Nanjing Road di Shanghai. Kawasan pedestrian ini dirancang luas, nyaman, terang, aman, dan terhubung langsung dengan transportasi publik. Aktivitas ekonomi tumbuh hidup di sepanjang jalur pejalan kaki. Orang berjalan kaki bukan karena terpaksa, tetapi karena kota memang membuat mereka nyaman berjalan.

Di sana, ruang kota dikembalikan kepada manusia.

Sebaliknya, di banyak kota Indonesia, pejalan kaki justru sering menjadi “warga kelas dua”. Trotoar sempit, rusak, dipenuhi parkir liar, tiang utilitas, bahkan berubah menjadi ruang yang tidak ramah bagi lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Akibatnya masyarakat semakin bergantung pada kendaraan pribadi.

Semakin banyak kendaraan pribadi, semakin kota kehilangan kualitas hidupnya.

Shanghai juga membuktikan bahwa ruang publik bukan pemborosan anggaran. Taman kota, jalur hijau, waterfront, dan ruang pedestrian justru menciptakan nilai ekonomi baru. Kawasan yang nyaman melahirkan aktivitas wisata, UMKM, ekonomi kreatif, hiburan, hingga interaksi sosial yang sehat.

Artinya, kota yang manusiawi ternyata juga lebih produktif secara ekonomi.

Pelajaran terbesar dari Shanghai sebenarnya bukan soal teknologi canggih atau gedung pencakar langit. Intinya terletak pada keberanian pemerintah menjaga arah pembangunan kota secara konsisten dan jangka panjang.

Mereka sadar bahwa kota tidak boleh tumbuh tanpa visi.

Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar untuk membangun kota-kota yang lebih manusiawi. Namun itu membutuhkan perubahan cara berpikir. Pembangunan kota tidak bisa lagi hanya diukur dari banyaknya beton, jalan layang, atau proyek mercusuar. Kota harus diukur dari kualitas hidup manusia di dalamnya.

Apakah warga bisa berjalan kaki dengan aman?
Apakah anak-anak memiliki ruang bermain yang layak?
Apakah pekerja bisa pulang tanpa kehilangan separuh hidupnya di jalan?
Apakah ruang publik bisa dinikmati semua lapisan masyarakat?
Apakah kota memberi rasa nyaman, sehat, dan manusiawi bagi warganya?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengejar citra “kota modern”.

Shanghai membuktikan bahwa kota maju bukanlah kota yang dipenuhi kendaraan, melainkan kota yang memberi ruang bagi manusia untuk hidup lebih layak, sehat, dan bermartabat.

Dan mungkin, di situlah Indonesia perlu mulai belajar: membangun kota bukan hanya untuk bergerak cepat, tetapi untuk membuat manusia dapat hidup lebih baik.

Jacob Ereste: Diplomasi Spiritual Global untuk Peradaban Manusia dan Indonesia sebagai Mercusuar Dunia

0

Jacob Ereste: Diplomasi Spiritual Global untuk Peradaban Manusia dan Indonesia sebagai Mercusuar Dunia

TelusuR.ID – Tradisi diskusi rutin GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang berlangsung setiap Senin–Kamis atau Kamis–Senin bukan sekadar forum pertemuan biasa. Sejak tumbuh dan mengakar beberapa tahun terakhir, ruang kebersamaan yang berlangsung di Sekretariat GMRI, Jalan Ir. H. Juanda No. 4A Jakarta Pusat itu telah berkembang menjadi laboratorium pemikiran, ruang perenungan moral, sekaligus pusat pertukaran gagasan tentang masa depan manusia dan peradaban.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai namun penuh kesungguhan itu perlahan membentuk tradisi intelektual dan spiritual yang khas. Berbagai topik dibahas tanpa sekat: mulai dari persoalan kebangsaan, krisis moral, ketimpangan sosial, pendidikan, budaya, hingga masa depan spiritualitas manusia di tengah dunia modern yang semakin kehilangan arah.

Dari forum nonformal inilah lahir banyak narasi, gagasan, dan refleksi yang kemudian dipublikasikan melalui media massa dan ruang publik digital. Jika dihimpun, seluruh pemikiran yang lahir dari diskusi rutin tersebut sesungguhnya telah cukup menjadi sebuah bunga rampai pemikiran kebangsaan dan spiritualitas yang merekam perjalanan moral GMRI sebagai gerakan kultural yang hidup dan bertumbuh bersama zaman.

Namun kekuatan GMRI bukan semata pada diskusinya. Yang lebih penting adalah tumbuhnya budaya kebersamaan yang dilandasi etika, penghormatan, dan kesadaran spiritual. Di ruang itu, semua orang dapat menyampaikan gagasan, menguji pemikiran, bahkan diperdebatkan secara terbuka tanpa kehilangan rasa hormat. Demokrasi tumbuh secara alami, bukan karena prosedur formal, melainkan karena adanya kesadaran moral bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dijaga.

Tradisi saling menyapa dengan sebutan Romo, Gus, Mas, Mbakyu, Bunda, hingga Opa bukan sekadar simbol keakraban, tetapi cerminan budaya takzim dan penghargaan antarmanusia. Di tengah dunia yang semakin keras dan individualistik, GMRI justru mencoba menghidupkan kembali ruang sosial yang hangat, egaliter, dan beradab.

Dari sinilah GMRI perlahan bergerak melampaui sekadar forum diskusi. Ia tumbuh menjadi gerakan kebudayaan dan gerakan moral yang berupaya meneguhkan kembali spiritualitas sebagai fondasi peradaban manusia.

Di era modern saat dunia mengalami krisis makna, konflik identitas, dan keretakan moral global, pendekatan spiritual menjadi semakin relevan. Dunia tidak hanya membutuhkan kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan etika, kebijaksanaan, dan kesadaran kemanusiaan universal.

Karena itu, gagasan besar tentang Diplomasi Spiritual Global yang mulai dirintis GMRI menjadi penting dan visioner. Diplomasi ini bukan diplomasi politik dalam pengertian sempit, melainkan diplomasi nilai: membangun jembatan antarmanusia, antarbangsa, dan antarperadaban melalui pendekatan moral, budaya, dan spiritualitas universal.

Melalui jejaring silaturahmi dengan berbagai institusi, tokoh nasional, organisasi masyarakat, hingga perwakilan negara sahabat, GMRI berupaya menghadirkan Indonesia sebagai pusat dialog spiritual dunia. Sebuah bangsa yang tidak hanya dikenal karena kekuatan ekonomi dan geopolitiknya, tetapi juga karena kontribusinya terhadap perdamaian batin dan peradaban manusia.

Indonesia memiliki modal besar untuk memainkan peran itu. Bangsa ini dibangun di atas kekayaan budaya, tradisi luhur, dan spiritualitas yang hidup di tengah masyarakatnya. Dari pesantren, pura, vihara, gereja, hingga situs-situs peradaban seperti Borobudur, Prambanan, dan warisan kebudayaan Nusantara lainnya, Indonesia sesungguhnya memiliki fondasi kuat untuk menjadi pusat kajian dan laboratorium spiritual dunia.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik dan perebutan kepentingan, Indonesia memiliki peluang tampil sebagai “mercusuar peradaban”: menghadirkan cahaya moral, toleransi, dan kemanusiaan universal bagi dunia internasional.

Dalam konteks itulah, GMRI ingin mengambil bagian melalui gerakan Diplomasi Spiritual Global. Gagasan ini diwujudkan melalui pengembangan jejaring internasional, kunjungan kebudayaan, dialog lintas bangsa, hingga penyebaran nilai-nilai kemanusiaan universal yang berakar pada spiritualitas Nusantara.

Kitab MA HA IS MA YA dan penganugerahan Asma Bhumi kepada sejumlah tokoh dunia diproyeksikan bukan sekadar simbol, tetapi sebagai medium untuk membangun kesadaran baru tentang pentingnya hubungan harmonis antara manusia, bumi, dan Tuhan. Sebab peradaban masa depan tidak cukup dibangun hanya dengan kecerdasan teknologi, melainkan juga dengan kejernihan batin dan kemuliaan akhlak.

Apa yang tumbuh dari ruang diskusi sederhana di Pecenongan itu mungkin terlihat kecil. Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar dunia justru lahir dari ruang-ruang perenungan yang sederhana, jujur, dan penuh kesadaran.

GMRI tampaknya sedang menanam benih itu: membangun peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga matang secara spiritual.

Dan jika gagasan Diplomasi Spiritual Global ini terus dirawat dengan konsisten, bukan mustahil Indonesia benar-benar dapat tampil sebagai mercusuar dunia: bangsa yang menerangi arah peradaban manusia dengan cahaya moral, budaya, dan spiritualitas universal.

Pecenongan, 4 Maret 2026

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Jatisari Intensifkan Patroli, Ciptakan Situasi Aman di Sambi

0

Boyolali,TelusuR.ID – Dalam upaya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Babinsa Desa Jatisari Koramil 10/Sambi, Serma Sumadi, bersama Bhabinkamtibmas melaksanakan patroli dan monitoring wilayah di Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, (06/05/2026)

Kegiatan patroli ini dilakukan sebagai bentuk sinergitas TNI-Polri dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat, sekaligus mengantisipasi potensi gangguan keamanan di wilayah binaan. Dengan menyusuri sejumlah titik strategis dan permukiman warga, aparat gabungan memastikan kondisi lingkungan tetap kondusif.

Serma Sumadi menyampaikan bahwa kehadiran aparat di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan rasa tenang serta mempererat hubungan dengan warga. “Patroli ini merupakan langkah preventif untuk menjaga keamanan wilayah, sekaligus sebagai sarana komunikasi langsung dengan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan imbauan kepada warga agar selalu waspada dan berperan aktif dalam menjaga lingkungan masing-masing.

Dengan adanya patroli rutin ini, diharapkan situasi kamtibmas di wilayah Kecamatan Sambi tetap aman, tertib, dan kondusif.

(Agus Kemplu)

Dinding Kayu Diganti Hebel, Rumah Ibu Parti Kini Lebih Hangat dan Nyaman

0

Sragen,TelusuR.ID – Ditengah kesibukan pelaksanaan TMMD Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen di Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, perubahan mulai tampak dari rumah milik Ibu Parti. Dinding kayu yang sebelumnya menjadi pelindung kini perlahan digantikan dengan hebel, menghadirkan harapan baru akan hunian yang lebih layak dan nyaman. Kamis (7/5/2026).

Satu per satu bagian dinding dibongkar dan disusun kembali dengan material yang lebih kuat. Proses itu tidak hanya menghadirkan perubahan secara fisik, tetapi juga membawa harapan baru bagi Ibu Parti. Rumah yang sebelumnya terasa dingin dan kurang nyaman, kini mulai menunjukkan bentuk yang lebih kokoh dan tertata.

Serma Eko Budi yang memimpin pengerjaan menyampaikan bahwa penggunaan hebel diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan bagi penghuni rumah. “Dengan dinding hebel ini, rumah akan terasa lebih hangat saat musim dingin dan lebih nyaman untuk ditinggali. Kami berharap Ibu Parti bisa merasakan manfaatnya dalam jangka panjang,” ujarnya.

Dari Desa Puro, perubahan sederhana ini menjadi bukti nyata kepedulian yang diwujudkan melalui TMMD. Bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya. Sebuah langkah kecil yang membawa arti besar dalam kehidupan sehari-hari.

(Agus Kemplu)

DPW Squad Nusantara Jawa Timur Perkuat Komitmen Pembinaan Warga Binaan Melalui Pendekatan Hukum dan Spiritual

0

SIDOARJO,TelusuR.ID — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Squad Nusantara Jawa Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembinaan warga binaan melalui pendekatan hukum, sosial, dan spiritual. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan silaturahmi dan koordinasi ke Lapas Kelas IIA Sidoarjo serta Rumah Tahanan (Rutan) Medaeng, Rabu (6/5/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah nyata DPW Squad Nusantara Jatim dalam membangun sinergi dengan lembaga pemasyarakatan guna memperkuat pembinaan warga binaan agar lebih siap kembali dan berkontribusi positif di tengah masyarakat.

Selain mempererat hubungan kelembagaan, kunjungan tersebut juga membuka ruang kolaborasi dalam bidang edukasi hukum, pendampingan sosial, dan pembinaan mental spiritual bagi warga binaan. Dalam kesempatan itu, DPW Squad Nusantara Jawa Timur bersama Squad Law Firm turut menyerahkan donasi Al-Qur’an sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pembinaan keagamaan di lingkungan pemasyarakatan.

Rombongan dipimpin langsung Ketua DPW Squad Nusantara Jawa Timur, Kemas Elfiansyah Baky, didampingi Ketua Squad Law Firm, Choliq Al Muchlis. Saat berkunjung ke Rutan Medaeng, rombongan diterima Kepala Rutan Medaeng, Tristiantono Adi Wibowo, bersama perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur, Alzuarman.

Sementara dalam kunjungan di Lapas Kelas IIA Sidoarjo, DPW Squad Nusantara Jatim berdiskusi dan berkoordinasi dengan Kepala Lapas Sidoarjo, Disri, terkait rencana penguatan kerja sama di bidang edukasi hukum dan pembinaan karakter warga binaan.

Ketua DPW Squad Nusantara Jawa Timur, Kemas Elfiansyah Baky, menegaskan bahwa pihaknya ingin menghadirkan kontribusi nyata melalui program-program yang tidak hanya berorientasi pada pendampingan hukum, tetapi juga pembentukan mental dan spiritual warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

“Alhamdulillah kunjungan kami diterima dengan sangat baik oleh jajaran Rutan Medaeng, Lapas Sidoarjo, dan perwakilan Kanwil Pas Jatim. Kami berharap sinergi ini dapat terus diperkuat agar mampu memberikan manfaat nyata bagi warga binaan, khususnya dalam membangun kesadaran hukum, mental yang positif, dan kesiapan untuk kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Menurut Kemas, DPW Squad Nusantara Jawa Timur saat ini tengah menyiapkan program sosialisasi dan edukasi hukum bagi warga binaan. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mengenai hak, kewajiban, serta pentingnya kesadaran hukum sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.

Ia juga menegaskan bahwa proses pembinaan yang baik harus menyentuh aspek moral dan spiritual agar warga binaan memiliki semangat untuk memperbaiki diri dan membangun masa depan yang lebih positif.

“Pembinaan bukan hanya soal kedisiplinan, tetapi juga tentang membangun harapan, memperkuat kesadaran hukum, dan menanamkan nilai-nilai spiritual. Semoga donasi Al-Qur’an yang kami berikan dapat menjadi sarana pembinaan yang bermanfaat serta menghadirkan ketenangan dan motivasi bagi warga binaan untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” tambahnya.

Kegiatan ini menjadi cerminan komitmen DPW Squad Nusantara Jawa Timur dalam menghadirkan peran organisasi kemasyarakatan yang aktif, humanis, dan solutif melalui kolaborasi bersama lembaga pemasyarakatan. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan, baik dari aspek hukum, moral, maupun keagamaan, sehingga mereka dapat kembali ke tengah masyarakat dengan semangat baru dan kesiapan untuk menjalani kehidupan yang lebih produktif.(adi)

Gema Talbiyah Bergetar di Pendopo Jombang, Bupati Warsubi Lepas Ratusan Jemaah Haji Kloter 60 dan 61

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Suasana religius yang kental menyelimuti area Pendopo Kabupaten Jombang pada Rabu (6/5/2026) sore. Gema kalimat Talbiyah, Adzan, dan Iqomah berkumandang syahdu, menandai momen sakral keberangkatan tamu-tamu Allah menuju Tanah Suci.

Ratusan jemaah haji yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 60 dan 61 secara resmi dilepas oleh Bupati Jombang, H. Warsubi, S.H., M.Si. Keberangkatan ini menjadi puncak penantian panjang para jemaah untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Logistik keberangkatan telah dipersiapkan dengan matang menggunakan total 12 armada bus. Sejak pukul 15.30 WIB, para jemaah mulai memasuki area pendopo dan dibantu oleh petugas gabungan untuk menempati kursi di bus masing-masing sesuai manifes.

Prosesi pemberangkatan berlangsung khidmat di bawah arahan langsung Bupati Warsubi. Dalam sambutannya, orang nomor satu di Jombang tersebut menyampaikan ucapan selamat yang mendalam kepada para jemaah yang telah mendapatkan panggilan dari Allah SWT.

Bupati Warsubi menyadari bahwa perjalanan ini bukanlah hal yang mudah, mengingat masa tunggu yang cukup panjang dan melelahkan. Oleh karena itu, ia memberikan pesan khusus mengenai pentingnya menjaga ketahanan fisik selama berada di Arab Saudi.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Jombang, kami menyampaikan selamat dan doa terbaik. Ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang kuat,” ujar Bupati Warsubi di hadapan para jemaah yang tampak haru dikutip Telusur.id.

Ia pun meminta para jemaah untuk tidak meremehkan kondisi cuaca dan kelelahan. Bupati berpesan agar para jemaah bijak dalam mengatur tenaga, menjaga pola makan, serta memastikan waktu istirahat yang cukup di sela-sela rangkaian ibadah.

Lebih lanjut, Bupati mengingatkan esensi dari ibadah haji adalah ketulusan hati. Ia mengajak seluruh jemaah untuk meluruskan niat dan melepaskan sejenak segala urusan duniawi agar dapat fokus beribadah dengan penuh keikhlasan.

Solidaritas antarjemaah juga menjadi poin utama yang ditekankan. Beliau berharap seluruh jemaah menjaga kekompakan, saling membantu, dan senantiasa disiplin mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh para petugas haji di lapangan.

Tak hanya pesan untuk jemaah, Bupati Warsubi juga menitipkan doa bagi tanah kelahiran mereka. Beliau memohon agar para jemaah mendoakan Kabupaten Jombang senantiasa aman, damai, dan masyarakatnya diberikan kesejahteraan yang melimpah.

“Kami mohon didoakan agar segala urusan para pemimpin di Jombang senantiasa dilancarkan oleh Allah SWT,” tuturnya yang kemudian diamini secara serentak oleh para jemaah dan tamu undangan yang hadir.

Dengan mengucap kalimat basmalah, Bupati secara resmi melepas Kloter 60 dan 61. “Semoga bapak dan ibu sekalian kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur dan mabrurah,” pungkasnya sesaat sebelum bus diberangkatkan.

Tepat pukul 17.20 WIB, iring-iringan bus mulai bergerak keluar dari pintu Pendopo Kabupaten Jombang. Lambaian tangan sanak keluarga yang mengantar menambah suasana haru saat bus perlahan menuju Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

Acara pelepasan ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda Jombang, termasuk Wakil Bupati Gus Salmanudin, Ketua DPRD Hadi Atmaji, Kapolres AKBP Ardi Kurniawan, hingga tokoh ulama kharismatik seperti Gus Awis dan KH. Cholil Dahlan.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Jombang, H. Ilham Rohim, menyebutkan bahwa total jemaah haji asal Jombang tahun ini mencapai 1.263 orang. Jumlah tersebut merupakan salah satu pengiriman jemaah yang signifikan di wilayah Jawa Timur.

Rangkaian keberangkatan ini dipastikan belum berakhir. Pada Kamis (7/5/2026) besok, Kloter 62 dijadwalkan masuk pendopo pada pukul 11.40 WIB, disusul oleh Kloter 63 pada pukul 13.40 WIB untuk melanjutkan perjalanan suci mereka.

Jaga Soliditas Organisasi, Kiai Sepuh PBNU Dukung Rais Aam Percepat Muktamar ke-35

0

SURABAYA, TELUSUR.ID – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki babak baru menjelang agenda besar organisasi. Sejumlah kiai sepuh dari jajaran Syuriyah PBNU melakukan kunjungan kehormatan atau sowan ke kediaman Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, pada Selasa malam (05/05/2026).

Pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan menjadi momentum konsolidasi tingkat tinggi. Para kiai sepuh menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Rais Aam dalam mendorong percepatan pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam suasana yang berlangsung hangat dan penuh khidmah, para kiai menyampaikan pesan penting mengenai keberlanjutan organisasi. Mereka berharap muktamar segera dilaksanakan sebagai ikhtiar menjaga soliditas di tubuh jam’iyah NU.

Dukungan ini dianggap krusial untuk menjamin keberlanjutan kepemimpinan yang kuat di PBNU. Para kiai sepuh menilai, kepastian jadwal muktamar akan meredam spekulasi dan menjaga fokus organisasi pada pelayanan umat.

Sejumlah tokoh besar hadir dalam pertemuan tersebut, memperkuat legitimasi dukungan kepada Rais Aam. Nama-nama besar seperti KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhajir tampak hadir memberikan pandangan mereka.

Selain itu, hadir pula kiai kharismatik lainnya seperti KH Aniq Muhammadun, KH Sadid Jauhari, serta KH Muhibbul Aman Aly. Kehadiran mereka menunjukkan adanya kesatuan suara di jajaran Syuriyah PBNU terkait masa depan organisasi.

Daftar kiai sepuh yang hadir juga mencakup KH Tonthowi Jauhari Musaddad dan KH Imam Buchori. Kehadiran para pilar ulama ini mempertegas bahwa aspirasi percepatan muktamar datang dari akar rumput kepemimpinan spiritual NU.

Katib PBNU, KH. Ahmad Tajul Mafakhir, dalam keterangan persnya membenarkan adanya pertemuan strategis tersebut. Ia menegaskan bahwa pertemuan itu merupakan bagian dari tradisi musyawarah para kiai untuk kemaslahatan umat.

“Pertemuan tadi malam adalah bagian dari musyawarah para kiai sepuh untuk memastikan bahwa muktamar berjalan dengan baik dan lancar,” tutur Kiai Tajul menjelaskan maksud pertemuan tersebut dalam keterangan tertulis diterima Telusur.id, Kamis (7/5/2026).

Beliau menambahkan bahwa tujuan utama dari langkah ini adalah untuk memastikan agenda besar tersebut membawa kemaslahatan bagi seluruh warga Nahdliyin. Transisi kepemimpinan diharapkan berjalan tanpa gejolak yang berarti.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, Rais Aam PBNU bergerak cepat secara administratif. KH. Miftachul Akhyar dilaporkan telah memanggil Ketua Umum PBNU ke kantor pusat hari ini untuk membahas detail teknis.

Pemanggilan Ketua Umum tersebut bertujuan untuk menyinkronkan visi antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah. Fokus utamanya adalah penyelesaian persiapan teknis agar pelaksanaan muktamar tidak menemui kendala di lapangan.

“Rais Aam PBNU meminta agar seluruh kebutuhan teknis segera diselesaikan. Beliau ingin agenda besar ini terlaksana sesuai rencana dan penuh khidmah,” tegas Kiai Tajul.

Rais Aam memberikan arahan tegas agar seluruh jajaran pengurus menuntaskan persiapan tanpa hambatan. Hal ini dilakukan guna menjaga martabat NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia saat menggelar hajatan tertingginya.

Lebih spesifik, Rais Aam telah menetapkan usulan waktu pelaksanaan yang monumental. Beliau mendorong agar Muktamar ke-35 NU digelar pada tanggal 1 hingga 5 Agustus 2026 mendatang.

Rencana jadwal tersebut dilaporkan telah mendapatkan persetujuan dan lampu hijau dari Ketua Umum PBNU. Dengan tercapainya kesepakatan ini, seluruh mesin organisasi kini bersiap menyongsong gelaran Muktamar ke-35 yang bersejarah.

Abdullah Rasyid : Ketika Air Masih Menjadi Halaman Belakang, Kota-Kota Air Indonesia Akan Terus Tertinggal

0

Ketika Air Masih Menjadi Halaman Belakang, Kota-Kota Air Indonesia Akan Terus Tertinggal
Oleh: Abdullah Rasyid, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, sedang menjalani studi strategis di Shanghai

TelusuR.ID – Di Shanghai, tepatnya di kota air Zhujiajiao, air bukan sekadar elemen lanskap. Ia adalah “halaman depan” kota: bersih, tertata, hidup, dan dipelihara dengan serius. Sungai dihiasi jembatan batu bersejarah, perahu kayu, taman kota, jalur pejalan kaki, serta deretan ruang publik yang menghadap langsung ke air. Di sana, sungai tidak diperlakukan sebagai saluran pembuangan atau batas permukiman, melainkan sebagai pusat kehidupan sosial, ekonomi, dan identitas kota.

Zhujiajiao memperlihatkan satu pelajaran penting: kota yang memuliakan air akan memiliki kualitas ruang hidup yang lebih baik.

Sayangnya, di Indonesia, paradigma itu belum menjadi arus utama. Di banyak kota, sungai, pantai, dan danau masih diperlakukan sebagai “halaman belakang”: ruang sisa yang dibelakangi bangunan, dipenuhi sampah, dijadikan lokasi parkir liar, bengkel, gudang, bahkan tempat pembuangan limbah. Sempadan sungai direbut bangunan tidak tertata, sementara kawasan pesisir kehilangan fungsi ekologis dan sosialnya.

Ini bukan semata persoalan estetika kota. Ini adalah kesalahan paradigma pembangunan.

Air masih dipandang sebagai ruang teknis dan administratif, bukan ruang strategis yang menentukan wajah kota. Akibatnya, banyak kota kehilangan hubungan alami dengan sungai dan pantainya sendiri. Padahal, sejarah kota-kota besar di dunia justru tumbuh dari kedekatannya dengan air.

Perbedaan paradigma ini terlihat jelas di banyak kota di Cina maupun Asia Timur dan Asia Tenggara. Sungai dan danau dirancang sebagai pusat orientasi kota melalui konsep waterfront city dan sponge city. Kawasan tepian air dibangun menjadi taman publik, jalur pedestrian, dermaga wisata, pusat ekonomi kreatif, hingga ruang interaksi warga. Air dipandang sebagai aset ekologis sekaligus mesin ekonomi kota.

Di Hanoi, Bangkok, hingga Ho Chi Minh City, kawasan tepian sungai terus direvitalisasi agar menjadi pusat wisata, perdagangan, dan ruang publik yang produktif. Pemerintah kota menyadari bahwa kualitas kawasan air akan menentukan kualitas hidup kota secara keseluruhan.

Sementara itu, di Indonesia, banyak sungai justru dibelakangi. Kota-kota kita tumbuh dengan orientasi daratan, bukan orientasi air. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 70 persen wilayah berupa perairan. Sungai, danau, dan pantai seharusnya menjadi identitas utama pembangunan kota-kota Indonesia.

Bayangkan jika Sungai Martapura di Banjarmasin ditata sebagai riverfront modern yang tetap mempertahankan budaya sungai masyarakat Banjar. Bayangkan jika kawasan Danau Toba, Maninjau, atau pesisir Makassar, Ambon, dan Padang dikembangkan sebagai ruang publik hijau yang nyaman, terbuka, dan produktif bagi ekonomi warga. Air tidak lagi menjadi “belakang rumah”, tetapi wajah utama kota.

Zhujiajiao menunjukkan bahwa keberhasilan kota air bukan hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh disiplin tata ruang dan budaya publik. Air dijaga melalui regulasi yang tegas, pengawasan yang konsisten, serta keterlibatan warga dalam menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan. Karena itu, kawasan air tidak hanya indah dipandang, tetapi juga nyaman dihuni dan bernilai ekonomi tinggi.

Di Indonesia, perhatian pembangunan masih terlalu berpusat pada jalan raya, gedung, dan ekspansi beton. Sementara ruang air sering dibiarkan tumbuh tanpa arah. Padahal kota masa depan justru ditentukan oleh kemampuannya menghadirkan ruang hidup yang sehat, hijau, dan berkelanjutan.

Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya melihat bahwa perubahan terbesar yang dibutuhkan Indonesia bukan hanya pembangunan fisik, melainkan perubahan cara pandang. Kita perlu menggeser paradigma dari “air sebagai halaman belakang” menjadi “air sebagai halaman depan” kota.

Perubahan itu harus dimulai melalui kebijakan tata ruang yang berpihak pada air: penataan sempadan sungai, pengendalian bangunan liar, pengembangan kawasan riverfront dan waterfront, serta insentif bagi pembangunan yang menghadap ke air, bukan membelakanginya. Tepian sungai harus diubah menjadi taman kota, jalur pedestrian, ruang budaya, dan pusat ekonomi rakyat yang menjaga kebersihan air sekaligus menghidupkan kota.

Indonesia memiliki modal geografis dan budaya yang sangat besar untuk menjadi negeri kota air yang unggul. Namun, selama air masih diperlakukan sebagai ruang belakang yang kotor dan terabaikan, kota-kota air Indonesia akan terus identik dengan banjir, kekumuhan, dan ketertinggalan.

Ketika kota-kota di Cina dan Asia Timur menjadikan air sebagai wajah peradaban modern, Indonesia tidak boleh terus membelakangi kekuatan alamnya sendiri. Sudah saatnya sungai, pantai, dan danau ditempatkan sebagai jantung kota: bersih, tertata, produktif, dan membanggakan.

Karena masa depan kota-kota Indonesia akan sangat ditentukan oleh cara kita memperlakukan air hari ini.