Abdullah Rasyid : Belajar dari Shanghai: Ketika Kota Dibangun untuk Manusia, Bukan Sekadar Kendaraan

0
5 views
Bagikan :

Belajar dari Shanghai: Ketika Kota Dibangun untuk Manusia, Bukan Sekadar Kendaraan

Oleh: Abdullah Rasyid
Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN yang sedang menjalani studi strategis di Shanghai

TelusuR.ID – Ada satu hal yang langsung terasa ketika berjalan di Shanghai: kota ini sibuk, padat, dan bergerak cepat, tetapi tidak terasa semrawut. Gedung pencakar langit berdiri rapat, pusat bisnis hidup hampir tanpa jeda, jutaan manusia bergerak setiap hari, namun kota tetap tertata dan nyaman dihuni.

Orang bisa berjalan kaki dengan aman. Transportasi publik mudah dijangkau. Ruang hijau hadir di tengah kepadatan. Kawasan bisnis tidak mematikan ruang sosial warga. Kota ini terasa modern tanpa kehilangan sisi manusianya.

Shanghai memberi satu pelajaran penting: kota modern bukan sekadar soal gedung tinggi, jalan lebar, atau proyek raksasa. Kota modern adalah kota yang tahu untuk siapa ruang dibangun.

Dan jawabannya seharusnya sederhana: untuk manusia.

Di banyak kota Indonesia hari ini, pembangunan sering terjebak pada orientasi fisik dan simbolik. Flyover dibangun, jalan diperlebar, apartemen menjulang, pusat perbelanjaan bertambah, tetapi kualitas hidup masyarakat tidak selalu ikut meningkat. Kemacetan tetap menjadi rutinitas harian, trotoar berubah fungsi menjadi parkir dan lapak, ruang hijau menyusut, sementara jarak antara rumah dan tempat kerja semakin melelahkan.

Kota tumbuh cepat, tetapi sering kehilangan arah.

Di sinilah Shanghai menjadi menarik untuk dipelajari. Kota ini tidak tumbuh secara spontan mengikuti logika pasar semata, melainkan dibangun melalui visi jangka panjang yang disiplin dan konsisten. Melalui Shanghai Master Plan 2017–2035, pembangunan kota dirancang bukan hanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas hidup warganya.

Setiap kawasan memiliki fungsi yang jelas: pusat bisnis, kawasan hunian, koridor hijau, pusat inovasi, kawasan budaya, hingga sistem transportasi yang saling terhubung. Negara hadir mengendalikan arah pembangunan agar kota tidak tumbuh liar dan kehilangan keseimbangan.

Hasilnya adalah kota yang tetap dinamis tanpa kehilangan kendali.

Kawasan Pudong adalah contoh nyata. Dahulu wilayah ini hanyalah kawasan pinggiran di seberang Sungai Huangpu. Kini Pudong menjelma menjadi salah satu pusat keuangan modern dunia. Namun keberhasilan Pudong bukan hanya karena gedung seperti Shanghai Tower atau kemegahan Lujiazui. Yang lebih penting adalah bagaimana kawasan itu dirancang terintegrasi dengan transportasi publik, ruang terbuka hijau, pedestrian, kawasan hunian, hingga fasilitas sosial masyarakat.

Shanghai memahami satu prinsip mendasar: kota yang sehat adalah kota yang mendekatkan manusia dengan aktivitas hidupnya.

Karena itu, konsep 15-minute city menjadi bagian penting dalam pembangunan kota. Sekolah, taman, klinik, pusat belanja, ruang publik, hingga transportasi publik diupayakan dapat diakses dalam waktu 15 menit berjalan kaki atau bersepeda.

Konsep ini tampak sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Kemacetan berkurang, polusi menurun, stres masyarakat lebih rendah, interaksi sosial meningkat, dan kualitas hidup menjadi lebih baik.

Bandingkan dengan banyak kota besar di Indonesia. Kawasan bisnis terkonsentrasi di pusat kota, sementara permukiman terus terdorong jauh ke pinggiran tanpa dukungan transportasi publik yang memadai. Akibatnya, jutaan orang hidup dalam rutinitas melelahkan: berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika malam sudah larut.

Kota akhirnya bukan lagi ruang hidup, melainkan ruang bertahan.

Shanghai juga memberi pelajaran penting tentang makna pedestrian. Di banyak kota Indonesia, trotoar masih dianggap fasilitas pelengkap. Padahal di kota-kota maju, kualitas trotoar adalah ukuran kualitas peradaban kota.

Lihatlah Nanjing Road di Shanghai. Kawasan pedestrian ini dirancang luas, nyaman, terang, aman, dan terhubung langsung dengan transportasi publik. Aktivitas ekonomi tumbuh hidup di sepanjang jalur pejalan kaki. Orang berjalan kaki bukan karena terpaksa, tetapi karena kota memang membuat mereka nyaman berjalan.

Di sana, ruang kota dikembalikan kepada manusia.

Sebaliknya, di banyak kota Indonesia, pejalan kaki justru sering menjadi “warga kelas dua”. Trotoar sempit, rusak, dipenuhi parkir liar, tiang utilitas, bahkan berubah menjadi ruang yang tidak ramah bagi lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Akibatnya masyarakat semakin bergantung pada kendaraan pribadi.

Semakin banyak kendaraan pribadi, semakin kota kehilangan kualitas hidupnya.

Shanghai juga membuktikan bahwa ruang publik bukan pemborosan anggaran. Taman kota, jalur hijau, waterfront, dan ruang pedestrian justru menciptakan nilai ekonomi baru. Kawasan yang nyaman melahirkan aktivitas wisata, UMKM, ekonomi kreatif, hiburan, hingga interaksi sosial yang sehat.

Artinya, kota yang manusiawi ternyata juga lebih produktif secara ekonomi.

Pelajaran terbesar dari Shanghai sebenarnya bukan soal teknologi canggih atau gedung pencakar langit. Intinya terletak pada keberanian pemerintah menjaga arah pembangunan kota secara konsisten dan jangka panjang.

Mereka sadar bahwa kota tidak boleh tumbuh tanpa visi.

Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar untuk membangun kota-kota yang lebih manusiawi. Namun itu membutuhkan perubahan cara berpikir. Pembangunan kota tidak bisa lagi hanya diukur dari banyaknya beton, jalan layang, atau proyek mercusuar. Kota harus diukur dari kualitas hidup manusia di dalamnya.

Apakah warga bisa berjalan kaki dengan aman?
Apakah anak-anak memiliki ruang bermain yang layak?
Apakah pekerja bisa pulang tanpa kehilangan separuh hidupnya di jalan?
Apakah ruang publik bisa dinikmati semua lapisan masyarakat?
Apakah kota memberi rasa nyaman, sehat, dan manusiawi bagi warganya?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengejar citra “kota modern”.

Shanghai membuktikan bahwa kota maju bukanlah kota yang dipenuhi kendaraan, melainkan kota yang memberi ruang bagi manusia untuk hidup lebih layak, sehat, dan bermartabat.

Dan mungkin, di situlah Indonesia perlu mulai belajar: membangun kota bukan hanya untuk bergerak cepat, tetapi untuk membuat manusia dapat hidup lebih baik.

Tinggalkan Balasan