JOMBANG, TELUSUR.ID – Menteri Haji dan Umrah RI, Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan, secara resmi melepas keberangkatan ratusan jemaah calon haji asal Kabupaten Jombang. Acara pemberangkatan yang berlangsung khidmat tersebut dipusatkan di Pendopo Kabupaten Jombang pada Kamis (7/5/2026).
Dalam sambutannya di hadapan para jemaah dan keluarga yang mengantar, Gus Irfan menyampaikan kabar terbaru mengenai progres penyelenggaraan ibadah haji nasional tahun 1447 H/2026 M. Ia mengonfirmasi bahwa saat ini proses pemberangkatan secara nasional telah melampaui angka 50 persen.
Berdasarkan data sistem informasi haji terpadu per Kamis (7/5), tercatat sekitar 250 kelompok terbang (kloter) telah resmi diterbangkan menuju Tanah Suci. Angka tersebut menandakan bahwa separuh dari total kuota jemaah Indonesia sudah berada atau sedang dalam perjalanan menuju Arab Saudi.

Gus Irfan menyatakan rasa syukurnya karena sejauh ini operasional penerbangan dari berbagai embarkasi berjalan sangat lancar. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh tim teknis yang memastikan jadwal keberangkatan tetap terjaga tepat waktu tanpa adanya kendala administratif yang berarti.
Terkait pergerakan jemaah di Arab Saudi, Gus Irfan melaporkan bahwa jemaah gelombang pertama kini mulai bergeser secara bertahap dari Madinah ke Mekkah. Sementara itu, jemaah yang baru berangkat, termasuk dari Jombang, dijadwalkan mendarat langsung di Jeddah untuk melaksanakan umrah wajib.
Berdasarkan laporan harian dari tim lapangan, kondisi kesehatan jemaah di Tanah Suci secara umum terpantau dalam keadaan stabil. Meskipun terdapat dinamika cuaca yang cukup terik, Gus Irfan memastikan petugas haji di setiap sektor bekerja sigap memberikan pelayanan prima 24 jam.
Namun, di tengah kelancaran operasional tersebut, Menteri Haji juga memberikan catatan mengenai adanya sejumlah kecil jemaah yang gagal berangkat. Salah satu kendala krusial yang muncul adalah adanya jemaah yang tertolak oleh sistem Imigrasi Arab Saudi akibat catatan permasalahan hukum di masa lalu.
Selain persoalan imigrasi, Gus Irfan mengungkapkan adanya sekitar 10 orang calon jemaah secara nasional yang terpaksa batal berangkat karena alasan kesehatan. Mereka dinyatakan tidak laik terbang (unfit) berdasarkan hasil pemeriksaan medis akhir di asrama haji sebelum menuju bandara.

Menyikapi hal ini, saat ditemui awak media di Pendopo Jombang, Gus Irfan kembali mengingatkan jemaah untuk sangat disiplin menjaga kondisi fisik. Menurutnya, rentang waktu tunggu dari pemeriksaan kesehatan awal hingga hari keberangkatan sangat krusial bagi kebugaran tubuh jemaah.
“Kami imbau jemaah benar-benar menjaga kebugaran hingga hari H keberangkatan. Jangan sampai saat di asrama haji justru dinyatakan tidak memenuhi syarat istitha’ah kesehatan karena kelelahan atau sakit yang sebenarnya bisa dicegah,” pesan Gus Irfan kepada para jemaah.
Fokus utama Gus Irfan tahun ini juga tertuju pada pemberantasan praktik haji ilegal yang merugikan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) gabungan untuk memperketat pengawasan terhadap penggunaan visa non-haji bagi mereka yang nekat beribadah.
Satgas ini merupakan kolaborasi strategis antara Kementerian Haji dan Umrah, Polri, serta Direktorat Jenderal Imigrasi. Langkah preventif ini diambil demi melindungi keselamatan warga negara Indonesia agar tidak terlunta-lunta di Arab Saudi akibat penggunaan dokumen yang tidak resmi.

Gus Irfan menegaskan bahwa pengawasan ketat ini bertujuan semata-mata untuk menjamin ketenangan ibadah jemaah. Ia tidak ingin melihat jemaah Indonesia harus berurusan dengan otoritas keamanan Saudi atau mengalami aksi kejar-kejaran karena menggunakan jalur yang menyalahi aturan.
Hingga pekan pertama Mei ini, Gus Irfan mengklaim upaya pencegahan haji ilegal menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Angka jemaah yang terindikasi menggunakan visa non-prosedural mengalami penurunan drastis dibandingkan dengan musim haji pada tahun-tahun sebelumnya.
Jika pada tahun lalu jumlah jemaah ilegal yang tertahan di berbagai pintu masuk mencapai angka ribuan, tahun ini jumlahnya tercatat tidak sampai 100 orang. Tercatat hanya sekitar 60 orang yang terdeteksi mencoba berangkat secara non-prosedural dan berhasil diberikan pemahaman oleh petugas.
Gus Irfan menilai penurunan ini merupakan bukti bahwa edukasi yang dilakukan pemerintah mulai dipahami oleh masyarakat luas. Kesadaran akan risiko besar dan sanksi berat yang membayangi jika nekat berangkat haji tanpa jalur resmi kini mulai tumbuh di kalangan calon jemaah.
Menutup arahannya di Pendopo Jombang pada Kamis siang itu, Gus Irfan meminta masyarakat untuk tidak mudah tergiur tawaran berangkat haji instan tanpa antrean. Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh melindungi martabat dan keselamatan jemaah melalui jalur keberangkatan yang sah.



