SURABAYA, TELUSUR.ID – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki babak baru menjelang agenda besar organisasi. Sejumlah kiai sepuh dari jajaran Syuriyah PBNU melakukan kunjungan kehormatan atau sowan ke kediaman Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, pada Selasa malam (05/05/2026).
Pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan menjadi momentum konsolidasi tingkat tinggi. Para kiai sepuh menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Rais Aam dalam mendorong percepatan pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam suasana yang berlangsung hangat dan penuh khidmah, para kiai menyampaikan pesan penting mengenai keberlanjutan organisasi. Mereka berharap muktamar segera dilaksanakan sebagai ikhtiar menjaga soliditas di tubuh jam’iyah NU.
Dukungan ini dianggap krusial untuk menjamin keberlanjutan kepemimpinan yang kuat di PBNU. Para kiai sepuh menilai, kepastian jadwal muktamar akan meredam spekulasi dan menjaga fokus organisasi pada pelayanan umat.
Sejumlah tokoh besar hadir dalam pertemuan tersebut, memperkuat legitimasi dukungan kepada Rais Aam. Nama-nama besar seperti KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhajir tampak hadir memberikan pandangan mereka.
Selain itu, hadir pula kiai kharismatik lainnya seperti KH Aniq Muhammadun, KH Sadid Jauhari, serta KH Muhibbul Aman Aly. Kehadiran mereka menunjukkan adanya kesatuan suara di jajaran Syuriyah PBNU terkait masa depan organisasi.
Daftar kiai sepuh yang hadir juga mencakup KH Tonthowi Jauhari Musaddad dan KH Imam Buchori. Kehadiran para pilar ulama ini mempertegas bahwa aspirasi percepatan muktamar datang dari akar rumput kepemimpinan spiritual NU.
Katib PBNU, KH. Ahmad Tajul Mafakhir, dalam keterangan persnya membenarkan adanya pertemuan strategis tersebut. Ia menegaskan bahwa pertemuan itu merupakan bagian dari tradisi musyawarah para kiai untuk kemaslahatan umat.

“Pertemuan tadi malam adalah bagian dari musyawarah para kiai sepuh untuk memastikan bahwa muktamar berjalan dengan baik dan lancar,” tutur Kiai Tajul menjelaskan maksud pertemuan tersebut dalam keterangan tertulis diterima Telusur.id, Kamis (7/5/2026).
Beliau menambahkan bahwa tujuan utama dari langkah ini adalah untuk memastikan agenda besar tersebut membawa kemaslahatan bagi seluruh warga Nahdliyin. Transisi kepemimpinan diharapkan berjalan tanpa gejolak yang berarti.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, Rais Aam PBNU bergerak cepat secara administratif. KH. Miftachul Akhyar dilaporkan telah memanggil Ketua Umum PBNU ke kantor pusat hari ini untuk membahas detail teknis.
Pemanggilan Ketua Umum tersebut bertujuan untuk menyinkronkan visi antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah. Fokus utamanya adalah penyelesaian persiapan teknis agar pelaksanaan muktamar tidak menemui kendala di lapangan.
“Rais Aam PBNU meminta agar seluruh kebutuhan teknis segera diselesaikan. Beliau ingin agenda besar ini terlaksana sesuai rencana dan penuh khidmah,” tegas Kiai Tajul.
Rais Aam memberikan arahan tegas agar seluruh jajaran pengurus menuntaskan persiapan tanpa hambatan. Hal ini dilakukan guna menjaga martabat NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia saat menggelar hajatan tertingginya.
Lebih spesifik, Rais Aam telah menetapkan usulan waktu pelaksanaan yang monumental. Beliau mendorong agar Muktamar ke-35 NU digelar pada tanggal 1 hingga 5 Agustus 2026 mendatang.
Rencana jadwal tersebut dilaporkan telah mendapatkan persetujuan dan lampu hijau dari Ketua Umum PBNU. Dengan tercapainya kesepakatan ini, seluruh mesin organisasi kini bersiap menyongsong gelaran Muktamar ke-35 yang bersejarah.



