TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 4

Dukung Prabowo, Eksponen Reformasi 98 Desak Reshuffle Kabinet: “Terlalu Gemuk dan Banyak Menteri Tak Sevisi Presiden””

0

JAKARTA, TelusuR.ID – Di tengah menguatnya dinamika politik dan berbagai tantangan pemerintahan, Eksponen Angkatan Reformasi 1998 Andrianto Andri menilai Presiden Prabowo Subianto perlu segera melakukan evaluasi besar terhadap Kabinet Merah Putih. Menurutnya, keberhasilan agenda pemerintahan lima tahun ke depan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan visi Presiden, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang menjalankan visi tersebut.

Andrianto, yang mengaku sebagai pendukung kritis Prabowo, berpandangan bahwa momentum untuk melakukan reshuffle sekaligus perampingan kabinet sudah semakin mendesak. Ia menilai struktur kabinet saat ini terlalu besar sehingga berpotensi mengurangi efektivitas pemerintahan sekaligus membebani anggaran negara.

“Kalau ingin pemerintahannya berhasil, Presiden harus didukung pembantu yang benar-benar satu visi, satu arah, dan memiliki komitmen yang sama terhadap agenda perubahan. Selain itu, kabinet juga perlu dirampingkan agar lebih efisien dan tidak membebani keuangan negara,” kata Andrianto, Rabu (8/7/2026).

Menurut dia, kabinet yang terlalu besar justru berpotensi memperlambat proses pengambilan keputusan. Di sisi lain, Presiden dinilai membutuhkan tim yang bekerja dengan orientasi yang sama, bukan sekadar representasi kepentingan politik.

“Apa yang ada sekarang menurut saya sudah tidak lagi ideal dan justru menjadi beban bagi Presiden sendiri,” ujarnya.

Disampaikan dalam Forum Akademik

Pandangan tersebut, kata Andrianto, juga ia sampaikan dalam seminar bertajuk “Konflik Geopolitik dan Ancaman Krisis Politik Pemerintahan Prabowo” yang digelar Program Studi Doktor Ilmu Politik Universitas Nasional di Menara Unas, Ragunan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Seminar itu menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Fuad Bawazier, Selamat Ginting, Irma Indriyani, serta dimoderatori Hilmi Ibrahim. Sekitar 100 peserta mengikuti diskusi yang membahas tantangan politik dan ekonomi pada awal pemerintahan Prabowo.

Namun, Andrianto justru memiliki pandangan berbeda terhadap tema seminar tersebut. Ia menilai ancaman yang dihadapi bukanlah krisis pemerintahan sebagaimana banyak diprediksi.

“Saya melihat bukan pemerintahan Prabowo yang sedang mengalami krisis. Yang sedang menghadapi krisis justru kelompok oligarki yang selama ini menikmati berbagai keuntungan ekonomi,” ujarnya.

Nilai Penegakan Hukum Mulai Terlihat

Dalam pandangan Andrianto, sejumlah langkah pemerintah menunjukkan adanya upaya memperkuat penegakan hukum. Ia mencontohkan proses hukum terhadap mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim.

Menurutnya, meski terdapat pihak-pihak yang memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan, proses hukum tetap berjalan.

“Ini menunjukkan Presiden menghendaki supremasi hukum ditegakkan,” katanya.

Ia juga menyinggung penanganan dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN). Menurut Andrianto, keputusan Presiden mengganti pimpinan BGN dan membiarkan aparat penegak hukum mengusut dugaan penyimpangan menunjukkan bahwa kedekatan personal bukan alasan untuk menghentikan proses hukum.

Atas dasar itu, ia menilai pemerintahan Prabowo sedang berupaya menjalankan amanat konstitusi, terutama terkait penguasaan sumber daya negara dan perlindungan terhadap kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan Dinilai Menyentuh Amanat Konstitusi

Andrianto menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih merupakan dua kebijakan strategis yang memiliki pijakan konstitusional.

Menurut dia, MBG mencerminkan pelaksanaan amanat Pasal 34 UUD 1945 mengenai tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan rakyat, sedangkan Koperasi Desa Merah Putih dipandang sebagai implementasi semangat Pasal 33 mengenai pengelolaan perekonomian nasional.

Ia mengakui implementasi kedua program tersebut masih menghadapi berbagai persoalan. Namun, menurutnya, kelemahan dalam pelaksanaan tidak boleh mengaburkan tujuan besar kebijakan.

“Konsepnya sudah baik. Yang perlu dilakukan adalah penyempurnaan dalam implementasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Soroti Penertiban Kawasan Hutan

Andrianto juga mengapresiasi kebijakan pemerintah dalam penertiban kawasan hutan. Menurut dia, langkah tersebut merupakan bagian dari pembenahan tata kelola sumber daya alam yang selama bertahun-tahun dinilai memberikan keuntungan besar kepada kelompok tertentu.

Ia bahkan mengklaim terdapat aliran keuntungan hingga sekitar Rp15.000 triliun yang selama ini dinikmati pihak-pihak tertentu dan sebagian mengalir ke luar negeri. Namun, Andrianto tidak menyertakan data maupun hasil kajian yang menjadi dasar angka tersebut.

Karena itu, menurutnya, berbagai kritik yang diarahkan kepada pemerintahan Prabowo tidak sepenuhnya lahir dari kegagalan pemerintah, melainkan juga dipengaruhi oleh kelompok yang merasa kehilangan kepentingan ekonomi.

Reshuffle Dinilai Menjadi Kunci

Meski memberikan apresiasi terhadap sejumlah kebijakan Presiden, Andrianto menegaskan dukungan tersebut tidak berarti pemerintah bebas dari kritik.

Ia menilai langkah paling mendesak yang harus dilakukan Presiden adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Kabinet Merah Putih. Bukan semata mengganti nama menteri, tetapi memastikan seluruh anggota kabinet memiliki kapasitas, loyalitas terhadap agenda pemerintahan, dan bekerja dengan ukuran kinerja yang jelas.

Menurut Andrianto, kabinet yang terlalu besar menyulitkan koordinasi, memperpanjang rantai birokrasi, dan berpotensi mengurangi efektivitas pelaksanaan program prioritas pemerintah.

“Kalau Presiden ingin seluruh kebijakannya berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran, reshuffle harus segera dilakukan. Terutama terhadap mereka yang tidak memahami visi Presiden atau lebih mewakili kepentingan politik masa lalu daripada agenda pemerintahan saat ini,” kata Andrianto.

Muktamar ke-35 NU Digelar di Tambakberas, PCNU Jombang Siap Gerakkan Pesantren Besar Sambut Ribuan Tamu

0

JOMBANG, TelusuR.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang memastikan kesiapan penuh untuk menyambut kedatangan ribuan warga nahdliyin dari berbagai penjuru daerah. Penyambutan skala besar ini disiapkan menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 mendatang.

Forum permusyawaratan tertinggi organisasi berlambang jagat tersebut secara resmi akan dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Penunjukan salah satu pesantren tertua di Kota Santri ini langsung memicu konsolidasi intensif di tingkat kepengurusan cabang dan lintas sektoral.

Ketua PCNU Jombang, KH Fahmi Amrullah, menyambut sangat baik keputusan strategis mengenai penetapan PPBU Tambakberas sebagai tuan rumah muktamar. Ia menegaskan bahwa jajaran pengurus cabang di tingkat lokal siap berkolaborasi erat membantu panitia pusat demi menyukseskan agenda akbar nasional tersebut.

Kiai Fahmi menjelaskan bahwa gerak cepat persiapan ini tidak hanya bertumpu pada satu titik pesantren saja. PCNU Jombang akan merangkul dan menggerakkan ekosistem pesantren besar lain di sekitar wilayah Tambakberas untuk saling menopang kebutuhan akomodasi serta fasilitas bagi para peserta.

“Pondok sekitar Tambakberas seperti Denanyar, Tebuireng, dan Rejoso Peterongan, insyaallah juga siap membantu,” ujar Kiai Fahmi saat memberikan keterangan resmi kepada awak media mengenai kesiapan wilayahnya, Rabu (8/7/2026).

Lebih lanjut, Kiai Fahmi mengungkapkan bahwa seluruh warga nahdliyin di Kabupaten Jombang merasa sangat bersyukur atas kepercayaan besar yang telah diberikan oleh pengurus pusat. Kembalinya muktamar ke Jombang dipandang sebagai sebuah kehormatan sekaligus amanah yang harus dijaga bersama.

Menurutnya, seluruh elemen masyarakat dan santri menaruh harapan yang sangat besar pada penyelenggaraan forum tertinggi kali ini. Seluruh pihak berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat berjalan dengan aman, tertib, lancar, serta mampu menghasilkan struktur kepengurusan organisasi yang bersih.

Selain menjadi agenda besar rutin lima tahunan organisasi, pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di bumi Jombang dipastikan memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat kuat. Kabupaten Jombang selama ini telah dikenal luas sebagai daerah keramat tempat kelahiran dan perjuangan para muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama.

Di tanah Jombang inilah tokoh-tokoh besar pendahulu seperti almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari, almaghfurlah KH Wahab Chasbullah, serta almaghfurlah KH Bisri Syansuri meletakkan fondasi awal jam’iyyah. Kehadiran para muktamirin dari seluruh dunia seolah menjadi momentum pulang ke akar sejarah.

“Kami siap menyambut para tamu yang datang dari berbagai daerah, bahkan dari Pengurus Cabang Istimewa (PCI) yang ada di luar negeri. Tentu kita akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya,” pungkas pria yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng Jombang ini.

Sebagai informasi, penetapan resmi Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU sebelumnya diputuskan secara langsung oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam sebuah rapat formal tingkat tinggi di ibu kota Jakarta.

Keputusan krusial tersebut disahkan melalui Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU. Forum pengambil kebijakan tertinggi itu berlangsung khidmat di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/7/2026) malam.

Dengan waktu pelaksanaan yang menyisakan kurang dari dua bulan, terpilihnya Pesantren Tambakberas Jombang sebagai lokasi muktamar membuat ritme kerja kepanitiaan di daerah mulai meningkat. Koordinasi lintas sektoral terus dikebut untuk mematangkan manajemen arus lalu lintas dan kantong parkir.

PCNU Jombang bersama dengan sejumlah elemen pengasuh pesantren kini mulai fokus merinci aspek teknis penyambutan delegasi. Pembagian zonasi penginapan bagi para peserta resmi juga mulai disimulasikan agar tidak terjadi penumpukan massa di satu titik.

Kesiapan infrastruktur dasar seperti jaringan sanitasi, ketersediaan air bersih, hingga pasokan logistik konsumsi juga menjadi prioritas utama. Langkah ini krusial mengingat jumlah penggembira yang hadir di luar peserta resmi diprediksi akan melonjak drastis.

Melalui sinergi yang solid antara PCNU Jombang, jaringan pesantren besar, dan warga nahdliyin, Kota Santri optimis mampu menjadi tuan rumah yang ramah. Penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU diharapkan tidak hanya sukses secara organisatoris, tetapi juga membawa kemaslahatan ekonomi bagi warga lokal.

Muktamar ke-35 NU Digelar di Tambakberas Jombang, Senator Lia Istifhama: Momentum Kembalikan Ruh Perjuangan Muassis

0

JAKARTA, TelusuR.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi telah mengetok palu terkait lokasi dan waktu pelaksanaan forum tertinggi organisasi berlambang jagat tersebut. Muktamar ke-35 NU diputuskan bakal digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026 mendatang.

Keputusan strategis tersebut disahkan dalam forum Rapat Gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah PBNU. Pertemuan krusial jajaran pengurus pusat ini berlangsung khidmat di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/7/2026).

Penetapan lokasi forum tertinggi warga nahdliyin ini seketika memantik respons positif dari berbagai kalangan, termasuk dari jajaran legislatif. Salah satu apresiasi mendalam datang dari Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Jawa Timur, Lia Istifhama.

Menurut srikandi parlemen yang akrab disapa Ning Lia tersebut, penunjukan Pondok Pesantren Tambakberas sebagai tuan rumah gelaran Muktamar ke-35 ini merupakan sebuah keputusan yang sangat luar biasa. Langkah ini dinilai sarat akan makna simbolis yang mendalam bagi organisasi.

Ning Lia menegaskan bahwa Kabupaten Jombang, wabil khusus daerah Tambakberas, memiliki benang merah sosiologis dan hubungan historis yang sangat erat dengan linimasa perjalanan Nahdlatul Ulama. Kawasan ini merupakan tempat di mana fondasi awal pemikiran NU digagas dan dirumuskan.

“Kabupaten Jombang yang dikenal luas sebagai Kota Santri itu merupakan tempat lahir dan tumbuhnya para ulama besar yang menjadi pendiri sekaligus penggerak utama lahirnya NU,” ujar Ning Lia, Anggota DPD RI Asal Jawa Timur tersebut memberikan keterangan, Rabu (8/7/2026).

Senator yang juga dikenal aktif sebagai aktivis perempuan nahdliyin ini menyebutkan beberapa nama besar tokoh ulama legendaris. Di antaranya adalah almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari, almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah, serta almaghfurlah KH Bisri Syansuri.

Karena rekam jejak tersebut, Ning Lia menilai pelaksanaan Muktamar NU di Tambakberas bukan sekadar seremonial atau agenda rutin organisasi lima tahunan biasa. Forum ini dipandang sebagai momentum bersejarah yang krusial untuk mengingatkan kembali seluruh kader pada akar perjuangan para muassis (pendiri) NU.

“Kita semua tahu bagaimana sejarah panjang Pesantren Tambakberas yang menjadi cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren besar lainnya di Jombang. Pesantren Denanyar, Pesantren Tebuireng, hingga Rejoso itu masih mempunyai hubungan genealogi yang sangat erat dengan Tambakberas,” urai Ning Lia.

Lebih lanjut, keponakan dari Khofifah Indar Parawansa ini menambahkan, penunjukan lokasi ini mengemban misi ideologis yang kuat. Muktamar ke-35 NU di Tambakberas diharapkan mampu mengembalikan sekaligus menyalakan kembali ruh perjuangan para pendahulu.

Warisan mulia para ulama terdahulu dalam membangun peradaban Islam yang moderat harus terus dirawat oleh generasi masa kini. Selain itu, momentum ini menjadi penegasan komitmen kolektif warga NU dalam menjaga dan mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Jombang, Jawa Timur adalah rumah besar bagi para ulama dan pesantren. Sehingga terpilihnya Tambakberas dipastikan dapat menjadi bagian penting dari catatan sejarah besar Nahdlatul Ulama dari masa ke masa,” terang senator yang didapuk Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif versi FJN tersebut secara gamblang.

Menjelang pembukaan forum tertinggi tersebut, Ning Lia turut mengajak seluruh warga nahdliyin dan para peserta muktamar dari berbagai daerah untuk melakukan refleksi mendalam. Kehadiran para delegasi diharapkan tidak hanya sekadar untuk menyukseskan acara, tetapi juga menyerap spirit lokal.

Ia mengimbau para kader agar dapat meneladani secara nyata peran, gagasan, diplomasi, serta ketokohan para pendahulu organisasi. Salah satu figur sentral yang wajib diteladani adalah Kiai Wahab Chasbullah, sang penggerak yang juga tokoh karismatik dari Tambakberas.

Ning Lia berharap forum permusyawaratan tertinggi ini penuh kebersamaan, persatuan, penuh cinta, dan diliputi rahmat Tuhan. Dengan demikian, Muktamar ke-35 diharapkan melahirkan keputusan-keputusan strategis bagi masa depan organisasi dan jam’iyyah.

Melalui penunjukan Tambakberas, PBNU juga memberikan kesempatan bagi panitia lokal dan daerah untuk mempersiapkan infrastruktur pendukung secara optimal. Langkah gerak cepat ini diperlukan demi kenyamanan ribuan muktamirin yang hadir dari seluruh penjuru nusantara pada Agustus mendatang.

Babinsa Ngadirojo Intensifkan Patroli Malam, Rangkul Warga Perkuat Deteksi Dini Gangguan Keamanan

0

WONOGIRI,TelusuR.ID – Babinsa Koramil 03/Ngadirojo Kodim 0728/Wonogiri, Serda Budi Santoso, mengintensifkan patroli malam di wilayah Kecamatan Ngadirojo, Selasa (7/7). Kegiatan itu dipadukan dengan komunikasi sosial (Komsos) sebagai upaya memperkuat keamanan lingkungan sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat.

Patroli menyasar sejumlah titik yang dinilai strategis. Selain memantau situasi keamanan, Serda Budi berdialog dengan tokoh masyarakat, petugas keamanan lingkungan, dan warga untuk menyerap informasi mengenai kondisi wilayah.

Menurutnya, komunikasi langsung dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendeteksi potensi gangguan keamanan sejak dini.

“Kami mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh warga,” ujar Budi.

Dalam setiap pertemuan, Babinsa juga mengingatkan warga agar tetap waspada, terutama pada malam hari. Ia mendorong masyarakat segera melaporkan apabila menemukan aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban dan keamanan.

Pendekatan persuasif tersebut dinilai efektif memperkuat sinergi antara aparat kewilayahan dan masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan di tingkat desa.

Patroli berlangsung aman dan kondusif. Kehadiran Babinsa di tengah warga mendapat respons positif karena tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga membuka ruang komunikasi yang lebih dekat antara TNI dan masyarakat.

Melalui patroli rutin yang dibarengi komunikasi sosial, Koramil 03/Ngadirojo berharap partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan terus meningkat, sehingga potensi gangguan kamtibmas dapat dicegah sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

(Agus Kemplu)

Danramil Gesi Dorong Sinergi Lintas Sektor, Bekali Tenaga Kesehatan Hadapi Tantangan Layanan Publik

0

SRAGEN,TelusuR.ID – Penguatan kualitas layanan kesehatan menjadi fokus pembekalan awal Tahun Pelajaran 2026/2027 bagi pegawai Puskesmas di Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen. Kegiatan yang digelar di Gedung KPRI Karya Mukti, Rabu (8/7), turut menghadirkan Danramil 12/Gesi Kodim 0725/Sragen, Letda Inf. Heri Suprapto, untuk memberikan motivasi dan penguatan karakter kepada tenaga kesehatan.

Dalam pembekalan tersebut, Heri menekankan bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada kompetensi tenaga medis, tetapi juga disiplin, profesionalisme, dan kolaborasi antarlembaga.

“Tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam melayani masyarakat. Sinergi antara Puskesmas, TNI, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat harus terus diperkuat agar setiap program kesehatan berjalan efektif dan manfaatnya benar-benar dirasakan warga,” ujar Heri.

Ia mengatakan Koramil 12/Gesi siap mendukung berbagai program kesehatan di wilayah, mulai dari pelayanan masyarakat, percepatan penanganan stunting, pengendalian penyakit menular, hingga kegiatan sosial kemanusiaan yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor.

Menurut Heri, kolaborasi yang kuat menjadi salah satu kunci menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks, terutama dalam menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.

Pembekalan diikuti seluruh pegawai Puskesmas Gesi sebagai bagian dari persiapan menghadapi tahun kerja baru. Selain penguatan motivasi, kegiatan juga menjadi forum menyamakan persepsi mengenai pentingnya pelayanan yang cepat, humanis, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Salah seorang peserta, Nur Aini, menilai materi yang diberikan menjadi suntikan semangat bagi seluruh tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

“Pembekalan ini memotivasi kami untuk bekerja lebih profesional dan semakin solid dalam melayani masyarakat. Dukungan Koramil juga membuat kami semakin yakin bahwa pelayanan kesehatan membutuhkan kolaborasi semua pihak,” katanya.

Melalui pembekalan tersebut, sinergi antara Puskesmas dan Koramil diharapkan semakin kuat dalam mendukung berbagai program kesehatan di Kecamatan Gesi, sekaligus mendorong terciptanya pelayanan publik yang lebih responsif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

(Agus Kemplu)

Disnaker Boyolali Gandeng Kodim 0724 Latih Penyandang Disabilitas, Bangun Mental dan Kepercayaan Diri Menuju Dunia Kerja

0

BOYOLALI,TelusuR.ID – Pemerintah Kabupaten Boyolali melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) menggandeng Kodim 0724/Boyolali menggelar pelatihan pembinaan karakter bagi penyandang disabilitas. Program ini tak sekadar melatih kedisiplinan, tetapi juga membangun mental, kepercayaan diri, dan kemampuan beradaptasi sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Pelatihan berlangsung di Gedung Graha Pustaka Hamiluhur, Kecamatan Mojosongo, Rabu (8/7). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas sumber daya manusia penyandang disabilitas agar lebih siap bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.

Ketua Tim Pelatih Kodim 0724/Boyolali, Serka Sunarno, mengatakan pembinaan difokuskan pada penguatan karakter agar peserta mampu mengenali sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki.

“Kami ingin mereka berani menunjukkan kemampuan, tidak lagi merasa minder atau menutup diri. Selain itu, kami membekali peserta dengan kemampuan mengendalikan emosi dan mengelola stres sehingga lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja,” kata Sunarno.

Menurut dia, disiplin menjadi salah satu materi utama karena merupakan nilai dasar yang dibutuhkan hampir di setiap lingkungan kerja. Sikap disiplin dinilai menjadi modal penting bagi penyandang disabilitas untuk membangun profesionalisme dan tanggung jawab saat bekerja.

Pelatihan dikemas secara interaktif. Selain menerima materi pembinaan karakter, peserta mengikuti berbagai permainan kelompok yang dirancang untuk melatih komunikasi, kemampuan berpikir cepat, kepemimpinan, hingga kerja sama tim.

Suasana pelatihan berlangsung dinamis. Gelak tawa dan semangat peserta mewarnai setiap sesi, menciptakan ruang belajar yang lebih terbuka sekaligus mendorong mereka berani tampil dan berinteraksi.

Salah seorang peserta, Puput (21), mengaku pelatihan tersebut memberinya pengalaman baru yang mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri.

“Saya dulu sering minder dan sulit menerima keadaan. Sekarang saya lebih percaya diri. Saya yakin juga bisa bekerja, berkarya, dan memiliki masa depan seperti orang lain,” ujarnya.

Disnaker Boyolali berharap pembinaan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kesiapan penyandang disabilitas memasuki dunia kerja. Tak hanya meningkatkan kompetensi, program tersebut juga diharapkan mampu membuka ruang kerja yang lebih inklusif, sehingga penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.

(Agus Kemplu)

Abdullah Rasyid : Jersey Prancis dan Sepak Bola sebagai Miniatur Kehidupan

0

Jersey Prancis dan Sepak Bola sebagai Miniatur Kehidupan

Oleh: Abdullah Rasyid
*Anak Medan Pencinta PSMS Garis Keras

TelusuR.ID – Kemarin sore saya menerima sebuah jersey Tim Nasional Prancis, tim favorit saya di Piala Dunia, dari seorang sahabat: Prof. Iswandi Syahputra, Staf Ahli Menteri Agama, yang juga seorang gibol original garis keras. Hadiah sederhana itu ternyata tidak berhenti sebagai benda. Ia memantik ingatan, menghidupkan kembali percakapan lama, dan membawa saya pada satu renungan: mengapa sepak bola begitu kuat memikat manusia?

Bagi sebagian orang, jersey hanyalah pakaian. Tetapi bagi pecinta sepak bola, jersey adalah ingatan, identitas, harapan, bahkan sedikit fanatisme yang dirawat dengan bahagia. Di dalam selembar kain itu ada warna, sejarah, kebanggaan, dan rasa memiliki. Ketika saya menerima jersey Prancis itu, yang muncul bukan hanya bayangan tentang pertandingan besar, stadion penuh, atau sorak suporter. Yang hadir lebih dulu justru kenangan masa kecil di kampung saya di Medan.

Sepak bola adalah olahraga pertama yang saya kenal sejak kecil. Bahkan sejak mulai bisa berjalan, banyak dari kita sudah diperkenalkan dengan bola. Sebelum mengenal teori, sebelum memahami strategi, sebelum tahu nama-nama klub besar dunia, kaki kecil kita lebih dulu belajar menendang. Di halaman rumah, gang kampung, tanah lapang, jalanan sempit, atau pekarangan masjid, sepak bola hadir sebagai permainan paling demokratis. Tidak perlu perlengkapan mahal. Tidak perlu lapangan sempurna. Kadang bola plastik, kadang bola karet, kadang gawangnya hanya sandal, batu, atau dua batang kayu.

Di sanalah sepak bola mula-mula mengajarkan kehidupan.

Di kampung, sepak bola tidak pernah sekadar permainan. Ia adalah cara anak-anak belajar bergaul, berunding, berebut, menerima kekalahan, merayakan kemenangan, dan kadang bertengkar lalu berbaikan kembali. Dari sepak bola kita belajar bahwa setiap orang ingin mencetak gol, tetapi tidak semua bisa menjadi penyerang. Ada yang harus bertahan. Ada yang harus menjaga gawang. Ada yang harus rela berlari tanpa banyak dipuji. Ada yang bekerja keras sepanjang pertandingan, tetapi justru orang lain yang mencetak gol. Bukankah kehidupan juga sering berjalan seperti itu?

Itulah sebabnya sepak bola tidak pernah kehilangan daya tarik. Ia bukan hanya tontonan, melainkan miniatur kehidupan. Dalam sembilan puluh menit, manusia menyaksikan perjuangan yang dipadatkan: harapan, strategi, kegagalan, keberuntungan, kesalahan, disiplin, emosi, dan kemungkinan keajaiban pada detik terakhir. Di lapangan hijau, hidup seolah dipercepat. Yang dalam kehidupan nyata bisa berlangsung bertahun-tahun, dalam sepak bola bisa terjadi hanya dalam hitungan menit.

Setiap operan adalah keputusan. Setiap tekel adalah risiko. Setiap peluang yang gagal dimanfaatkan adalah penyesalan kecil. Setiap pelanggaran bisa mengubah arah pertandingan. Setiap gol bisa mengangkat sebuah bangsa, sebuah kota, atau sekadar sekelompok sahabat yang menonton bersama di warung kopi.

Sepak bola memikat bukan karena ia selalu pasti, tetapi justru karena ia penuh ketidakpastian. Tim yang lebih kuat bisa kalah. Pemain bintang bisa gagal mengeksekusi penalti. Tim kecil bisa memberi perlawanan heroik. Pelatih hebat bisa salah membaca permainan. Satu kelengahan bisa menghancurkan kerja keras sepanjang laga. Sebaliknya, satu momen keberanian bisa mengubah pemain biasa menjadi pahlawan.

Di titik ini, sepak bola terasa sangat manusiawi. Ia mengajarkan bahwa kerja keras adalah syarat, tetapi bukan jaminan. Strategi penting, tetapi tidak selalu menentukan. Bakat besar bisa membuka jalan, tetapi mental, disiplin, dan keberanianlah yang sering menentukan siapa yang bertahan sampai akhir. Sepak bola mengajarkan bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi manusia tetap harus berjuang dengan cara yang terhormat.

Mungkin karena itu pula kita tidak pernah benar-benar bosan menontonnya. Di balik sorak-sorai, kita sebenarnya sedang melihat diri sendiri. Kita melihat harapan yang pernah kita rawat. Kita melihat kegagalan yang pernah kita alami. Kita melihat bagaimana manusia jatuh, bangkit, tertinggal, mengejar, kalah, menang, lalu mencoba lagi. Sepak bola adalah cermin besar tempat manusia menemukan wajahnya sendiri.

Dalam sepak bola, ada aturan yang harus ditaati. Ada wasit yang mengawasi. Ada garis lapangan yang membatasi. Ada kartu kuning dan kartu merah sebagai tanda bahwa kebebasan tetap membutuhkan disiplin. Ini pelajaran penting bagi kehidupan sosial dan bernegara. Kebebasan tanpa aturan akan melahirkan kekacauan. Kompetisi tanpa sportivitas akan berubah menjadi permusuhan. Kemenangan tanpa etika akan kehilangan kehormatan.

Karena itu, sepak bola juga mengajarkan peradaban. Ia memperlihatkan bahwa persaingan tidak harus memutus persaudaraan. Kita boleh berbeda dukungan, berbeda klub, berbeda tim nasional, bahkan berdebat keras tentang siapa yang lebih hebat. Tetapi pada akhirnya, sepak bola mempertemukan manusia dalam bahasa yang sama: bahasa kegembiraan, kecemasan, harapan, dan penghormatan terhadap perjuangan.

Hadiah jersey Prancis dari Prof. Iswandi Syahputra mengingatkan saya bahwa sepak bola juga hidup dari persahabatan. Banyak percakapan yang mungkin sulit dibuka oleh politik, agama, atau ekonomi, justru cair ketika dimulai dari sepak bola. Orang bisa berbeda pandangan, tetapi duduk bersama menonton pertandingan. Orang bisa berdebat sengit tentang taktik, tetapi tetap tertawa setelah peluit akhir berbunyi. Sepak bola punya kemampuan unik untuk membuat perbedaan menjadi perayaan, bukan permusuhan.

Di tengah dunia yang semakin terbelah oleh identitas, kepentingan, dan polarisasi, sepak bola memberi kita ruang bersama. Ia mengajarkan bahwa manusia boleh berpihak, tetapi tetap harus menghormati lawan. Boleh mencintai tim sendiri, tetapi tidak harus membenci tim lain. Boleh ingin menang, tetapi tidak boleh kehilangan martabat.

Dari kampung di Medan hingga panggung Piala Dunia, sepak bola bergerak melintasi kelas sosial, bahasa, bangsa, dan generasi. Ia dimainkan anak-anak tanpa alas kaki, sekaligus dipertandingkan para atlet terbaik dunia di stadion megah. Ia hidup di gang sempit, layar televisi, media sosial, hingga percakapan para sahabat. Sepak bola menjadi olahraga rakyat karena ia sederhana, tetapi justru di dalam kesederhanaannya tersimpan filsafat yang dalam.

Pada akhirnya, sepak bola mengingatkan kita bahwa hidup adalah pertandingan panjang yang tidak selalu bisa kita kendalikan sepenuhnya. Kita bisa berlatih, menyusun strategi, memilih kawan seperjuangan, dan menjaga disiplin. Tetapi selalu ada unsur tak terduga: bola yang membentur tiang, keputusan yang diperdebatkan, cedera yang datang tiba-tiba, atau keberuntungan yang berpihak kepada lawan.

Namun, sebagaimana dalam sepak bola, yang terpenting dalam hidup bukan hanya hasil akhir. Yang juga penting adalah cara kita bermain. Apakah kita berjuang dengan jujur? Apakah kita menghormati aturan? Apakah kita tetap setia kepada tim saat tertinggal? Apakah kita mampu bangkit setelah gagal? Apakah kita tetap rendah hati ketika menang?

Jersey Prancis yang saya terima kemarin sore akhirnya menjadi lebih dari sekadar hadiah. Ia menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya tentang tim favorit, skor, atau trofi. Sepak bola adalah cerita tentang manusia: tentang masa kecil, kampung halaman, persahabatan, harapan, perjuangan, dan keberanian menerima ketidakpastian.

Mungkin itulah sebabnya bola yang bergulir tak pernah sekadar bola. Ia membawa ingatan. Ia membawa mimpi. Ia membawa pelajaran bahwa selama peluit akhir belum berbunyi, selalu ada ruang untuk berlari, memperbaiki kesalahan, menciptakan peluang, dan menjaga harapan tetap hidup.

Abah Bupati Warsubi Siap Sukseskan Muktamar NU, Jombang Buka Pintu untuk Nahdliyin Se-Indonesia

0

JOMBANG,TelusuR.ID – Penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) disambut penuh syukur oleh Pemerintah Kabupaten Jombang. Bupati Jombang Warsubi menilai kepercayaan tersebut bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum bersejarah yang menegaskan kembali posisi Jombang sebagai salah satu pusat peradaban Islam dan pesantren di Indonesia.

Bupati yang akrab disapa Abah Warsubi mengatakan, penyelenggaraan forum permusyawaratan tertinggi NU di Kota Santri merupakan kehormatan besar bagi seluruh masyarakat Jombang. Menurutnya, kepercayaan itu sekaligus menjadi pengakuan atas jejak panjang Jombang dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia.

“Ini adalah kebanggaan sekaligus kehormatan bagi Kabupaten Jombang. Kami menyambut penetapan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas sebagai lokasi Muktamar NU ke-35 dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan,” ujar Warsubi saat dikonfirmasi, Rabu (8/7).

Bagi Abah Warsubi, Jombang memiliki ikatan sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari kelahiran dan perkembangan NU. Dari tanah inilah lahir para ulama besar yang meletakkan fondasi organisasi, di antaranya KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri.

Karena itu, pelaksanaan Muktamar NU di Jombang dinilai memiliki makna yang jauh melampaui penyelenggaraan sebuah forum organisasi. Muktamar menjadi ruang untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan para muassis NU dalam membangun peradaban Islam yang moderat, menjaga persatuan bangsa, serta menguatkan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Jombang adalah rumah besar para ulama dan pesantren. Kami merasa terhormat dapat menjadi bagian dari sejarah besar Nahdlatul Ulama,” katanya.

Sebagai kepala daerah, Abah Warsubi memastikan Pemerintah Kabupaten Jombang siap memberikan dukungan penuh agar pelaksanaan muktamar berjalan sukses. Kesiapan infrastruktur, pelayanan publik, transportasi, keamanan hingga kenyamanan para tamu akan menjadi perhatian bersama melalui sinergi lintas instansi.

Ia menegaskan, seluruh perangkat daerah akan bekerja sama dengan panitia penyelenggara, aparat keamanan, serta berbagai elemen masyarakat untuk menyambut ribuan kiai, ulama, pengurus NU, dan warga nahdliyin yang diperkirakan hadir dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi seluruh tamu Muktamar NU. Semoga seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar, melahirkan keputusan-keputusan terbaik bagi kemaslahatan umat, sekaligus memperkuat peran NU dalam menjaga persatuan bangsa,” ujar Warsubi.

Penunjukan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai lokasi Muktamar NU ke-35 juga menjadi penegasan bahwa Jombang tetap memiliki posisi strategis dalam perkembangan Islam Nusantara. Selain dikenal sebagai Kota Santri dengan jaringan pesantren yang kuat, daerah ini telah lama menjadi ruang tumbuhnya pemikiran keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan yang memberi pengaruh besar bagi Indonesia.

Bagi Pemerintah Kabupaten Jombang, penyelenggaraan Muktamar NU bukan hanya menjadi kehormatan, tetapi juga kesempatan untuk memperlihatkan wajah Jombang sebagai daerah yang religius, terbuka, serta siap menjadi tuan rumah bagi perhelatan nasional yang membawa pesan persaudaraan, kebangsaan, dan kemaslahatan bersama.

Ditunjuk PBNU Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35, Pesantren Bahrul Ulum Jombang Kebut Persiapan Logistik dan Fasilitas

0

JOMBANG, TelusuR.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi telah menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sebagai lokasi utama penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Forum permusyawaratan tertinggi bagi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia tersebut dijadwalkan berlangsung pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026.

Keputusan strategis ini disahkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU yang berlangsung di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/7/2026) malam. Melalui keputusan tersebut, pihak PBNU menilai waktu yang tersisa sekitar satu setengah bulan ini sangat cukup bagi panitia lokal untuk mematangkan infrastruktur.

Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menyampaikan bahwa seluruh peserta rapat gabungan telah bulat menyepakati Pondok Pesantren Tambakberas sebagai tuan rumah. Sementara itu, Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU, H Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menambahkan bahwa pesantren bersejarah ini dinilai sangat siap menyambut kehadiran ribuan delegasi dari seluruh penjuru Indonesia.

Merespons amanah besar dari jajaran pengurus pusat tersebut, Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) langsung bergerak cepat menggelar rapat koordinasi internal di aula yayasan, Rabu (8/7/2026). Pertemuan tertutup yang berlangsung selama lebih dari satu jam tersebut diprioritaskan untuk menyusun langkah taktis penyiapan fasilitas dasar.

Rapat koordinasi krusial tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum YPPBU, KH Abdurrozaq Sholeh atau yang akrab disapa Gus Rozaq. Agenda ini turut dihadiri oleh perwakilan keluarga besar pendiri NU serta sejumlah tokoh nasional dan daerah yang memiliki keterikatan historis yang kuat dengan pesantren legendaris ini.

Di antara tokoh yang hadir tampak mantan Bupati Jombang Mundjidah Wahab, mantan Ketua Umum PP IPNU Mujtahidur Ridho, serta Rais Syuriah PCNU Jombang KH Achmad Hasan. Hadir pula Ketua Fatayat NU Jombang Laitun Ni’mah, Wakil Rektor Universitas Wahab Hasbullah (Unwaha) Fatchullah Malik, beserta segenap elemen keluarga besar pesantren.

 

Dalam pertemuan tersebut, jajaran pengurus membahas berbagai aspek kesiapan secara mendalam, mulai dari pemetaan infrastruktur fisik, penentuan lokasi sidang-sidang komisi, hingga manajemen akomodasi bagi peserta. Seluruh kebutuhan pendukung akan terus dievaluasi secara berkala agar pelaksanaan muktamar berjalan aman dan lancar.

Seusai rapat, Gus Rozaq mengonfirmasi bahwa pihak yayasan telah resmi membentuk tim kecil khusus. Tim ini mengemban tugas utama untuk mengeksekusi teknis lapangan dan menindaklanjuti segala arahan serta standardisasi kelayakan tempat yang telah digariskan oleh pengurus pusat PBNU.

“Kami sangat bersyukur dan siap menindaklanjuti keputusan PBNU ini. Dari sisi infrastruktur dasar, kami optimis Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sangat siap menyambut kehadiran para muktamirin dari berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia,” ujar Gus Rozaq di sela-sela rapat koordinasi.

Berdasarkan kalkulasi awal pihak panitia lokal, jumlah rombongan tamu yang diperkirakan akan memadati Kabupaten Jombang mencapai sekitar 6.000 orang. Angka tersebut merupakan akumulasi dari peserta resmi utusan wilayah dan cabang, tim peninjau, serta tamu undangan kehormatan dari berbagai provinsi.

Mengingat besarnya jumlah massa yang akan hadir, seluruh unsur pengasuh, pengurus, dan santri menyatakan komitmen kolektifnya untuk memberikan pelayanan terbaik. Pihak pesantren menegaskan akan bersikap proaktif agar seluruh delegasi mendapatkan fasilitas penunjang yang memadai selama berada di Kota Santri.

“Hasil rapat internal menegaskan bahwa seluruh keluarga besar pesantren akan tampil all out untuk menjadi tuan rumah yang baik. Fokus utama kami saat ini adalah bagaimana memberikan pelayanan serta proteksi fasilitas yang maksimal kepada seluruh muktamirin,” lanjut Gus Rozaq menambahkan.

Guna mengantisipasi lonjakan kendaraan peserta dan armada logistik, panitia lokal kini tengah mengebut sejumlah proyek fisik di lapangan. Salah satu proyek vital yang sedang dalam tahap penyelesaian akhir adalah pembangunan area parkir terpadu seluas kurang lebih dua hektare yang terletak di kawasan Tambakberas Timur.

Selain lahan parkir yang luas, panitia juga telah mendesain tata letak untuk beberapa fasilitas pelengkap lainnya di sekitar kompleks utama. Beberapa di antaranya meliputi penyediaan zona khusus untuk area bazar UMKM, ruang istirahat komunal bagi para penggembira, serta ketersediaan kantong-kantong logistik publik.

Sementara itu, pusat kegiatan atau lokasi utama pembukaan dan sidang pleno Muktamar NU ke-35 akan dipusatkan di Gedung Serbaguna (GSG) Haji Hasbullah Said. Gedung megah yang berada di dalam kompleks pesantren ini dinilai sangat representatif karena memiliki daya tampung besar dan sering digunakan menggelar acara tingkat nasional.

Terkait akomodasi, ribuan muktamirin nantinya akan ditempatkan di sejumlah gedung madrasah yang berada di bawah naungan YPPBU. Gus Rozaq memungkasi bahwa penunjukan ini berawal dari niat tulus kontribusi pesantren, dan dengan penyempurnaan kecil yang tengah berjalan, mereka siap memberikan pelayanan terbaik demi suksesnya Muktamar ke-35 NU.

Dampingi Petani Manfaatkan Lahan Tidur, Polsek Ploso Perkuat Upaya Swasembada Pangan di Jombang

0

JOMBANG, TelusuR.id – Peran kepolisian tidak hanya identik dengan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Di Jombang, anggota Polri juga turun langsung ke lahan pertanian untuk mendampingi petani mengoptimalkan lahan agar mampu meningkatkan produksi pangan.

Langkah tersebut dilakukan Polsek Ploso, Polres Jombang, sebagai bagian dari dukungan terhadap Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia di bidang swasembada pangan. Melalui pendampingan rutin, polisi hadir sebagai mitra petani dalam mengembangkan sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa.

Pada Rabu (8/7/2026), Kanit Binmas Polsek Ploso, Aiptu Budali, mengunjungi lahan jagung seluas sekitar 1.400 meter persegi di bantaran Sungai Brantas, Dusun Lengkong, Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso. Lahan yang ditanami jagung varietas NK (Syngenta) tersebut dikelola oleh Ngatelim, salah seorang petani setempat.

Kegiatan itu merupakan tindak lanjut arahan Kapolsek Ploso, Kompol Achmad Chairuddin, agar seluruh personel aktif mendampingi masyarakat, khususnya petani, dalam memanfaatkan lahan tidur maupun lahan nonproduktif menjadi lahan pertanian yang bernilai ekonomis.

Dalam kunjungannya, Aiptu Budali tidak hanya memantau perkembangan tanaman jagung, tetapi juga berdialog dengan petani mengenai berbagai tantangan yang dihadapi selama proses budidaya. Melalui komunikasi tersebut, kepolisian berupaya mendorong lahirnya solusi bersama agar hasil panen dapat terus meningkat.

Selain memberikan motivasi kepada petani untuk terus mengembangkan usaha pertanian, Polsek Ploso juga mengajak masyarakat berpartisipasi mendukung upaya pemerintah mewujudkan swasembada pangan nasional.

Pendekatan yang dilakukan melalui pendampingan langsung di lapangan diharapkan mampu memperkuat hubungan antara Polri dan masyarakat. Kehadiran polisi tidak hanya menjadi pengayom dalam menjaga keamanan, tetapi juga menjadi mitra yang ikut mendorong produktivitas pertanian serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Polsek Ploso menyatakan akan terus mengintensifkan kegiatan pendampingan kepada kelompok tani sebagai bagian dari komitmen mendukung ketahanan pangan daerah. Dengan sinergi antara petani, pemerintah, dan kepolisian, pemanfaatan lahan pertanian diharapkan semakin optimal dan memberikan kontribusi nyata terhadap tercapainya swasembada pangan nasional.