Beranda blog Halaman 32

Temui Senator Jatim di Makkah, Jemaah Haji Lamongan Beberkan Rahasia Sukses Layanan Kemenhaj

0

MAKKAH, TELUSUR.ID – Manajemen penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 terus mendapatkan sorotan positif dari berbagai lapisan jemaah asal Indonesia. Salah satu pengakuan objektif datang dari rombongan jemaah asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, yang merasakan langsung transformasi kenyamanan selama berada di tanah suci.

Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan jemaah saat bertemu dengan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI utusan Jawa Timur, Lia Istifhama. Momentum serap aspirasi itu berlangsung secara khidmat di sela-sela pelaksanaan ibadah di Makkah Al-Mukarromah.

Dalam kesempatan tersebut, senator yang akrab disapa Ning Lia ini mendengarkan langsung kesaksian para jemaah terkait efektivitas manajemen operasional. Publik menilai, tata kelola di bawah naungan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) berjalan jauh lebih terstruktur dan responsif.

Perwakilan jemaah haji asal Lamongan, Khafidh Ihyauddin, mengungkapkan bahwa skema pelayanan tahun ini mengalami lompatan kualitas yang sangat drastis. Rasa nyaman dan aman bahkan sudah dirasakan sejak awal pemberangkatan dari tanah air.

“Sejak di Asrama Haji Surabaya, kami sudah disajikan pola pelayanan yang sangat baik. Setibanya kami di Arab Saudi, proses penjemputan di bandara hingga pengantaran ke hotel tempat menginap berjalan lancar tanpa kendala,” ujar pria yang akrab disapa Gus Khafidh tersebut, Sabtu (23/5/2026) dalam keterangan tertulisnya diterima Telusur.id.

Gus Khafidh menambahkan, pemenuhan hak-hak dasar jemaah selama berada di maktab juga dipenuhi secara maksimal oleh petugas. Fasilitas vital seperti kelayakan kamar penginapan, distribusi logistik konsumsi, hingga ketersediaan air minum dinilai sangat memadai serta terjaga kebersihannya.

Menurut analisisnya, integrasi seluruh aspek pelayanan di lapangan, mulai dari sektor transportasi massal hingga sistem akomodasi kini berjalan selaras. Pola ini berdampak langsung pada ketenangan psikologis jemaah, sehingga fokus beribadah menjadi lebih optimal.

“Kalau kita bandingkan dengan cerita-cerita pelaksanaan haji pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini terasa sangat luar biasa. Semua instrumen layanan di lapangan dirasakan jauh lebih siap, tanggap, dan profesional,” imbuh tokoh muda asal Lamongan tersebut.

Gus Khafidh juga memberikan catatan khusus mengenai dedikasi para petugas haji yang dinilai bekerja dengan penuh tanggung jawab. Kinerja maksimal dari para petugas di garis depan ini membuat pelaksanaan ibadah wajib maupun sunnah dapat berjalan secara khusyuk.

Di sisi lain, faktor tantangan alam berupa cuaca ekstrem di Arab Saudi yang dilaporkan menyentuh angka 45 hingga 47 derajat Celsius tidak menjadi penghalang. Meskipun kondisi suhu udara yang menyengat sempat memicu kelelahan, sistem mitigasi kesehatan dinilai tetap berada pada koridor optimal.

“Kendati kondisi cuaca di luar ruangan terpantau sangat panas, kami para jemaah secara umum tetap merasa nyaman, tenang, dan puas dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah di tanah suci,” jelas Gus Khafidh membeberkan fakta lapangan.

Lebih lanjut, Gus Khafidh menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Ning Lia selaku representasi DPD RI Jawa Timur. Ia mengapresiasi langkah nyata sang senator yang menyempatkan diri turun langsung menemui petugas dan jemaah di Makkah.

“Dengan adanya pengawasan langsung secara vertikal di lapangan seperti ini, pelaksanaan dan evaluasi haji sangat bisa dimungkinkan menjadi jauh lebih baik lagi ke depannya,” tutur Gus Khafidh menyampaikan harapannya.

Merespons kesaksian tersebut, Anggota DPD RI Lia Istifhama menegaskan bahwa indikator kepuasan jemaah ini merupakan buah dari kinerja Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf. Inovasi kebijakan yang diterapkan oleh menteri yang akrab disapa Gus Irfan itu dinilai sukses memotong rantai birokrasi yang rumit.

Ning Lia menggarisbawahi bahwa pembentukan kementerian khusus yang fokus mengurusi haji dan umrah membawa dampak akselerasi yang nyata. Pemisahan kelembagaan ini membuat fokus penanganan jemaah, mitigasi masalah, serta koordinasi maktab di Arab Saudi menjadi jauh lebih tajam dan terukur.

“Kami dari DPD RI memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerja keras Menhaj Gus Irfan beserta seluruh jajaran di lapangan. Harapannya, sistem yang sudah berjalan bagus ini terus disempurnakan demi kemaslahatan seluruh umat,” pungkas Ning Lia sebelum melanjutkan peninjauan fasilitas maktab.

Jacob Ereste : Program MBG dan Koperasi Merah Putih Idealnya Dapat Disinergikan Dengan Seluruh Potensi dan SDM Manusia Serta SDA Yang Ada di Daerah

0

Jacob Ereste : Program MBG dan Koperasi Merah Putih Idealnya Dapat Disinergikan Dengan Seluruh Potensi dan SDM Manusia Serta SDA Yang Ada di Daerah

TelusuR.ID – Klaim Dahlan Iskan bahwa sejak UUD 1945 berlaku, baru Presiden Prabowo Subianto yang berani menerapkannya. Presiden Indonesia sebelumnya seperti ragu, apakah pasal 33 UUD 1945 itu bisa dilaksanakan. Bahwa kekayaan alam adalah milik negara dan harus digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran negara.

Praktik yang selama ini terjadi, kejayaan alam adalah milik perusahaan, baik swasta maupun BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Kata Dahlan Iskan lebih jauh mengurai, mereka mendapat izin dari pemerintah. Setelah itu terserah perusahaan: mau dijual ke mana hasilnya. Praktik ini sudah berlangsung sejak awal Indonesia merdeka.

Pada jaman Bung Karno, azas ekonomi Indonesia adalah “ekonomi terpimpin”. Presiden Soeharto mengubah azas ekonomi menjadi tanpa nama, tapi praktiknya adalah kapitalistik. Liberal, tapi melakukan subsidi untuk BBM dan sejumlah komoditas yang penting. Pada jaman Orde Baru juga lahir UU Penanaman Modal Asing (PMA). Agaknya, tidak sepenuhnya benar bila tidak seorang pun yang berani mempersoalkannya. Minimal ekonomi berdasarkan pada koperasi sudah berulang kali disuarakan oleh para ekonom kita, termasuk model Ekonomi Pancasila seperti yang digaungkan Prof. Mubyarto sejak awal tahun 1980-an dari Yogyakarta. Prof. Sri Edi Swasono tidak kalah lantang mengedepankan konsep ekonomi Indonesia yang berbasis koperasi. Bukan pasar liberal, tetapi ekonomi yang mensejahterakan.

Karena itu, pidato Presiden Prabowo Subianto saat rapat paripurna DPR RI, berjanji hendak mewujudkan amanah dari Pasal 33 UUD 1945, saat dollar mengilas habis rupiah hingga nyungsep pada Sabtu, 23 Mei 2026 tersungkur menjadi Rp 17.700,- Bagi Sri Edi Swasono sendiri, Sistem Ekonomi Pancasila adalah pandangan filsafat dan sistem ekonomi kerakyatan yang menolak kapitalisme dan sosialisme. Sistem ini berlandaskan asas kekeluargaan dan gotong royong, mengutamakan emansipasi dan partisipasi serta menolak eksploitasi dan individualisme demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Penolakan Sri Edi Swasono terhadap kapitalisme dan sosialisme, ekonomi Pancasila berada di jalan tengah. Menolak pasar bebas yang bersifat kapitalistik, tapi tidak juga menggunakan sistem komando — seperti sistem ekonomi terpimpin — semasa Soekarno.

Perekonomian harus dipandang serta dilakukan secara bersama dengan menjunjung tinggi kebersamaan, dalam ikatan persaudaraan antar manusia. Demikian juga sifat dan sikap emansipasi dan partisipasi harus menjamin kesetaraan dengan melibatkan semua pihak. Karena dalam proses pembangunan dalam arti yang luas untuk bangsa Indonesia, tidak boleh satu pun ada pihak yang tertinggal atau ditinggalkan. Karena manusia Indonesia tidak boleh dimarginalkan atau terpinggirkan dalam proses, apalagi kemudian ketika akan menikmati pembangunan yang dilakukan itu.

Dalam konteks inilah tanggung jawab pemerintah untuk berperan aktif dalam pengelolaan sistem perekonomian nasional untuk melindungi hajat hidup orang banyak, sekaligus menjadi agar tidak terjadi ketimpangan, utamanya antara yang kaya dengan masyarakat yang miskin.

Gagasan Prof. Dr. Sri Edi Swasono jelas ingin mewujudkan amanah dari Pasal 33 UUD 1945 dan mengimplementasikan sila-sila Pancasila agar tidak cuma menjadi slogan atau semacam mantra hapalan dibibir semata.

Ekonomi kerakyatan yang ideal dapat diwujudkan melalui koperasi untuk menjaga demokrasi ekonomi seperti yang diungkapkan dajan pidato pengukuhan beliau sebagai Guru Besar. Dan melalui konsep koperasi sebagai pilar utama untuk meraih ekonomi yang demokratis dan mandiri, patut menjadi pilihan, dibanding dengan neoliberalisme. Karena konsep neoliberalisme justru menjadi penyebab menurunnya kesejahteraan rakyat. Kecuali itu, neoliberalisme ekonomi yang menciptakan daulat pasar, bukan daulat rakyat.

Akibatnya, pembangunan bagi negara dan bangsa Indonesia yang mengacu pada neoliberalisme memberi peluang untuk menggusur rakyat miskin. Oleh karena itu, sistem ekonomi yang didasari oleh sistem koperasi adalah manifestasi ekonomi kerakyatan. Karena itu, praktik ekonomi dengan sistem koperasi paling cocok untuk diterapkan bagi bangsa dan negara Indonesia sambil menjaga budaya persatuan serta ikatan kebersamaan — gotong royong — sistem kekeluargaan dalam budaya kita.

Masalahnya sejak dahulu hingga sekarang, mengapa membangun ekonomi yang berbasis pada koperasi di Indonesia tidak juga mampu diwujudkan ?

Pertanyaan klasik ini memang cukup luas untuk diurai, mulai dari rasa ikatan kebersamaan untuk melakukan sesuatu bagi warga bangsa Indonesia yang semakin menyurut, dimana sikap dan sifat individualisme dan egosentrisitas terus bertumbuh liar untuk bersaing hingga melupakan ikatan kebersamaan dan persatuan — gotong royong dan kekeluargaan — tergerus oleh dominasi budaya Barat yang mengusung kapitalisme dan leberalisme yang sangat kuat bersifat dan bertabi’at individual dan persaingan bebas yang semakin menjauhkan budaya gotong royong, kekeluargaan dan kebersamaan dalam kesadaran persatuan yang bias.

Itulah sebabnya, pelaksanaan Koperasi Merah Putih hendaknya dapat disinergikan dalan pelaksanaan MBG (Makan Bergizi Gratis) serta membantu warga masyarakat dalam mengembangkan produksi masyarakat di daerah untuk berkembang dan maju bersama, tanpa penindasan dari unit usaha lainnya yang digelontori dengan modal besar.

Praktik MBG yang terus gaduh dan ricuh, jelas karena praktik pelaksanaan nya tidak disinergikan dengan potensi yang sudah ada dalam masyarakat. Mulai dari tata kelola SDM hingga pemanfaatan bahan mentah sampai pada fasilitas yang sudah ada — mulai dari KUD (Koperasi Unit Desa) yang ada, sampai tenaga kerja dari daerah setempat, layak dan patut untuk dimanfaatkan serta diberdayakan. Sehingga warga masyarakat tidak terkesan merasa ditinggal.

Itulah sebabnya, peran Kementerian Koperasi hingga perangkatnya yang ada di daerah dapat dimaksimalkan berperan untuk menyediakan bahan baku MBG yang diperlukan, sehingga tidak sampai terjadi monopoli — mulai dari peranan pemerintah pusat yang terkesan mengabaikan peran perangkat dan kelembagaannya yang ada di daerah, tidak berfungsi dan dibiarkan menjadi penonton dari semua yang diskenariokan oleh pemerintah pusat.

Oleh karena itu, selama pelaksanaan program pemerintah yang bagus dan terbaik sekalipun, selama tidak memiliki kesadaran untuk melibatkan perangkat dari pemerintah daerah serta warga masyarakat setempat, maka program unggulan sebaik apapun, tidak akan mendapat sambutan — apalagi dukungan –dari perangkat pemerintah di daerah serta warga masyarakat setempat. Maka itu, konsep emansipasi, partisipasi dan semacam — konsepsi dalam membangun ekonomi berbasis koperasi — untuk mematikan sistem ekonomi kerakyatan hendak dicapai, maka peran serta dan keterlibatan seluruh perangkat pemerintah yang ada di daerah harus bisa disinergikan dengan segenap potensi yang ada di daerah. Jika tidak, bukan saja program Koperasi Merah Putih saja yang akan memble — tidak maksimal fungsinya — tapi juga program MBG yang terus menimbulkan masalah Karena tidak mengajar dalam tradisi dan budaya masyarakat setempat.

Tangerang, 23 Mei 2026

Babinsa Koramil 06 Batuwarno Aktif Jalin Komunkasi Sosial Dengan Warga

0

Wonogiri,TelusuR.ID – Suasana malam di wilayah Kecamatan Batuwarno pada Jumat malam(22/5/2026) terlihat aman dan kondusif berkat Patroli Cipta Kondisi yang dilaksanakan Koramil 06 Batuwarno tersebut menyasar sejumlah titik di wilayah desa guna memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga.

Kehadiran aparat di tengah warga mendapat sambutan positif karena dinilai mampu memberikan rasa nyaman serta mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat.

Patroli di dua lokasi yang menjadi sasaran utama, yakni KMP Desa Sumberejo dan KMP Desa Sumberagung. Aparat melakukan dialog langsung dengan warga sambil memantau situasi lingkungan sekitar.

Warga yang ditemui juga diimbau untuk tetap menjaga kerukunan, meningkatkan kewaspadaan, dan segera melapor apabila menemukan hal-hal yang mencurigakan di lingkungan masing-masing.

Pelda Sugeng dan Sertu Mintoyo dengan pendekatan humanis dan penuh keakraban, keduanya tampak aktif berdiskusi bersama masyarakat.

Tidak hanya sekadar patroli keamanan, kegiatan ini juga menjadi sarana komunikasi sosial antara aparat dan warga untuk mendengar langsung kondisi serta aspirasi masyarakat di lapangan.

Dalam suasana sederhana di warung dan tempat berkumpul warga, aparat memberikan pesan penting tentang menjaga stabilitas keamanan lingkungan secara bersama-sama.

Kehangatan obrolan sambil menikmati kopi malam menciptakan kedekatan emosional yang membuat warga merasa lebih diperhatikan. Kegiatan seperti ini dinilai sangat efektif dalam mencegah potensi gangguan keamanan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap aparat.

Situasi di wilayah Kecamatan Batuwarno terpantau aman, tertib, dan lancar tanpa adanya gangguan menonjol. Patroli Cipta Kondisi ini menjadi bukti nyata komitmen aparat dalam menjaga keamanan wilayah serta menciptakan suasana yang damai bagi masyarakat.

Dengan sinergi antara aparat dan warga, diharapkan lingkungan Batuwarno tetap kondusif dan nyaman untuk seluruh masyarakat.

 

(Agus Kemplu)

Satgas Yonif 521/DY Perkuat Kedekatan dengan Warga Papua Lewat Anjangsana dan Bantuan Sembako

0

Papua Pegunungan,TelusuR.ID — Satgas Yonif 521/DY terus memperkuat pendekatan humanis di wilayah penugasan dengan menggelar kegiatan anjangsana dan pembagian bantuan sembako kepada masyarakat di Distrik Apalapsili, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, Jumat (23/5/2026).

Kegiatan yang dipimpin personel Pos Apalapsili tersebut dilakukan dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga. Selain menyerahkan bantuan kebutuhan pokok, prajurit TNI juga berdialog dengan masyarakat untuk mendengarkan berbagai keluhan serta kondisi yang dihadapi warga sehari-hari.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tampak mewarnai kegiatan tersebut. Kehadiran prajurit Satgas Yonif 521/DY disambut antusias oleh masyarakat, mulai dari orang tua hingga anak-anak yang tampak akrab berinteraksi bersama personel TNI.

Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen TNI dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus membangun hubungan sosial yang harmonis dengan masyarakat Papua.

“Melalui kegiatan anjangsana ini, kami ingin menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Kehadiran Satgas bukan hanya menjalankan tugas pengamanan wilayah, tetapi juga menjadi bagian dari keluarga masyarakat di Papua Pegunungan,” ujarnya.

Menurut Rahadyan, pendekatan persuasif dan komunikasi langsung dengan warga menjadi langkah penting untuk mempererat kepercayaan antara TNI dan masyarakat, khususnya di wilayah pedalaman Papua.

Salah satu tokoh masyarakat Distrik Apalapsili, Melki (37), mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan Satgas Yonif 521/DY. Ia menilai bantuan sembako yang diterima masyarakat sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami merasa diperhatikan dan senang karena bapak-bapak TNI datang langsung melihat keadaan masyarakat di sini,” katanya.

Kegiatan berlangsung aman dan tertib serta mencerminkan semangat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Melalui aksi sosial tersebut, Satgas Yonif 521/DY berharap dapat terus menjaga situasi kondusif sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat Papua Pegunungan.

(Pen Satgas Yonif 521/DY)

MENJAGA BUMI, MENJAGA REPUBLIK: PIDATO PRABOWO, KEDAULATAN EKONOMI, DAN MASA DEPAN INDONESIA HIJAU

0

MENJAGA BUMI, MENJAGA REPUBLIK: PIDATO PRABOWO, KEDAULATAN EKONOMI, DAN MASA DEPAN INDONESIA HIJAU

Oleh: Abdullah Rasyid
Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN
Pendiri Great Institute

JAKARTA,TelusuR.ID – Dunia sedang berubah. Ancaman terhadap sebuah negara tidak lagi hanya datang dari perang militer, konflik ideologi, atau perebutan wilayah. Ancaman terbesar abad ini justru bergerak perlahan, tetapi dampaknya menghantam langsung kehidupan manusia: kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim, krisis pangan, hingga kebocoran ekonomi nasional.

Banjir, kekeringan, polusi udara, kerusakan laut, cuaca ekstrem, hingga hilangnya kekayaan negara akibat tata kelola yang lemah kini saling berkaitan dalam satu persoalan besar: masa depan republik.

Di tengah situasi global yang penuh gejolak itu, pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2027 pada 20 Mei 2026 menjadi menarik untuk dibaca lebih dalam. Pidato itu bukan sekadar pidato APBN biasa. Ia terasa seperti deklarasi arah baru ekonomi Indonesia.

Prabowo menyampaikan kegelisahan yang selama ini hidup di benak banyak rakyat Indonesia: negeri ini sesungguhnya kaya, tetapi kekayaannya terlalu lama bocor.

Indonesia memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, cadangan nikel besar, batu bara, sawit, gas, laut yang luas, serta kekayaan biodiversitas luar biasa. Namun di saat yang sama, masih banyak desa tertinggal, irigasi rusak, sekolah kekurangan fasilitas, dan rakyat kecil hidup dalam ketidakpastian ekonomi.

Paradoks itulah yang menjadi inti pidato Prabowo.

Bahwa masalah Indonesia bukan terutama kekurangan sumber daya, melainkan lemahnya tata kelola dan kebocoran kekayaan nasional.

Dalam perspektif ekonomi politik, pidato tersebut memperlihatkan upaya menggeser Indonesia dari model ekonomi yang terlalu liberal menuju ekonomi nasionalistik berbasis Pasal 33 UUD 1945. Negara ingin kembali hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai pengarah pembangunan nasional.

Pasal 33 kembali ditempatkan sebagai fondasi moral pembangunan: bumi, air, dan kekayaan alam harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Namun menariknya, arah itu tidak sepenuhnya anti pasar. Prabowo tetap berbicara tentang entrepreneurship, inovasi, industrialisasi, dan efisiensi. Yang ingin dibangun tampaknya adalah jalan tengah: pasar tetap hidup, tetapi negara memastikan pasar bekerja untuk kepentingan nasional.

Di titik ini, gagasan pembangunan Indonesia mulai mendekati model developmental state Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan. Negara memimpin industrialisasi, melindungi kepentingan nasional, sekaligus membangun kapasitas industri dan teknologi.

Tetapi di era modern, pembangunan nasional tidak lagi cukup hanya berbicara soal industri dan pertumbuhan ekonomi. Dunia kini memasuki fase baru ketika lingkungan hidup menjadi bagian penting dari geopolitik global.

Carbon tax, perdagangan karbon, energi hijau, hingga Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) telah mengubah lingkungan hidup menjadi instrumen ekonomi internasional.

Negara-negara maju kini berlomba membangun ekonomi hijau. Investasi global bergerak menuju energi terbarukan, kendaraan listrik, industri rendah karbon, dan perdagangan karbon bernilai miliaran dolar.

Dalam konteks ini, Indonesia memiliki posisi strategis yang luar biasa.

Hutan tropis Indonesia bukan sekadar kawasan hijau. Mangrove bukan sekadar tanaman pesisir. Gambut bukan hanya lahan basah. Semua itu adalah aset geopolitik dan ekonomi masa depan.

Indonesia memiliki potensi karbon biru terbesar di dunia melalui mangrove dan ekosistem pesisir. Nilai ekonomi karbon Indonesia diperkirakan dapat mencapai miliaran dolar per tahun apabila mampu dikelola secara serius, transparan, dan terintegrasi.

Karena itu, menjaga bumi sejatinya adalah menjaga republik.

Pidato Prabowo tentang menghentikan kebocoran ekonomi menemukan relevansi penting di sini. Sebab kebocoran kekayaan negara tidak hanya terjadi melalui manipulasi ekspor, under invoicing, atau transfer pricing. Kebocoran juga terjadi ketika kerusakan lingkungan dibiarkan tanpa kendali.

Hutan yang rusak berarti hilangnya potensi ekonomi karbon. Laut yang tercemar berarti hilangnya sumber pangan dan ekonomi masyarakat pesisir. Polusi dan krisis iklim pada akhirnya menjadi beban APBN, memperbesar biaya kesehatan, bencana, dan kemiskinan.

Dengan kata lain, kerusakan lingkungan adalah bentuk kebocoran ekonomi nasional yang paling mahal dalam jangka panjang.

Karena itu industrialisasi Indonesia ke depan tidak boleh lagi dibangun dengan paradigma eksploitasi sumber daya alam semata. Hilirisasi harus bergerak menuju industrialisasi hijau berbasis teknologi, inovasi, dan keberlanjutan.

Indonesia tidak boleh berhenti sebagai eksportir bahan mentah. Tetapi Indonesia juga tidak boleh menjadi negara industri yang merusak masa depan ekologisnya sendiri.

Di sinilah tantangan terbesar pembangunan Indonesia modern: bagaimana membangun ekonomi yang kuat tanpa menghancurkan lingkungan hidup.

Prabowo tampaknya memahami bahwa negara membutuhkan kedaulatan ekonomi sekaligus ketahanan ekologis. Ketahanan pangan membutuhkan tanah dan air yang sehat. Kemandirian energi membutuhkan transisi energi bersih. Industrialisasi masa depan membutuhkan standar hijau global.

Karena itu negara harus hadir melalui tata kelola yang kuat, modern, dan berbasis digital governance.

Digitalisasi tata kelola ekspor, blockchain untuk rantai perdagangan komoditas, integrasi data lintas kementerian, hingga real-time monitoring perdagangan sumber daya alam menjadi penting untuk menutup celah manipulasi dan kebocoran.

Tetapi teknologi saja tidak cukup.

Sejarah banyak negara menunjukkan bahwa negara kuat tanpa integritas justru dapat berubah menjadi pusat rente baru. Venezuela gagal bukan karena kekurangan minyak, tetapi karena lemahnya institusi dan rusaknya tata kelola. Nigeria lama terjebak dalam paradoks serupa: kaya sumber daya, tetapi bocor oleh korupsi dan kelemahan negara.

Karena itu ujian Indonesia bukan hanya nasionalisme.

Ujiannya adalah kompetensi.

Negara yang kuat harus sekaligus bersih, transparan, profesional, dan akuntabel.

BUMN yang diberi mandat strategis harus diaudit secara independen, berbasis meritokrasi, dan terbuka terhadap pengawasan publik. Industrialisasi harus menghasilkan transfer teknologi, lapangan kerja, riset, dan peningkatan kualitas manusia Indonesia.

Jika berhasil, Indonesia dapat memasuki babak baru sejarahnya.

Kebocoran ekonomi mengecil. Hilirisasi bergerak menuju industri teknologi dan energi hijau. Perdagangan karbon menjadi sumber pertumbuhan baru. APBN menjadi alat pembangunan berkelanjutan. Dan kekayaan alam benar-benar kembali kepada rakyat.

Dalam skenario terbaik, Pasal 33 UUD 1945 tidak berhenti sebagai teks konstitusi, tetapi berubah menjadi mesin pemerataan sosial dan pembangunan berkelanjutan.

Sekolah menjadi lebih baik. Guru lebih sejahtera. Desa lebih produktif. Industri nasional lebih kuat. Lingkungan hidup tetap terjaga.

Namun jika gagal, nasionalisme ekonomi hanya akan berubah menjadi monopoli birokrasi baru. Negara menjadi besar, tetapi tidak efektif. Kekayaan alam tetap bocor, hanya berganti tangan.

Karena itu masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alam yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan negara membangun tata kelola yang bersih, modern, dan visioner.

Pidato Prabowo pada akhirnya bukan sekadar pidato tentang APBN.

Ia adalah refleksi tentang luka lama republik: negeri kaya yang terlalu lama kehilangan kekayaannya sendiri.

Dan di tengah ancaman krisis iklim global, pesan itu menjadi semakin penting.

Sebab menjaga bumi bukan lagi sekadar agenda lingkungan hidup. Ia telah menjadi agenda kedaulatan nasional.

Menjaga bumi berarti menjaga pangan, menjaga energi, menjaga ekonomi, menjaga masa depan generasi muda, dan menjaga keberlangsungan republik.

Indonesia memang kaya. Tetapi kekayaan tanpa tata kelola hanya akan menjadi cerita sedih.

Jika Indonesia mampu menutup kebocoran ekonomi, memimpin industrialisasi hijau, menjaga lingkungan hidup, dan memastikan kekayaan alam benar-benar kembali kepada rakyat, maka inilah fondasi Indonesia baru.

Sebuah republik yang tidak lagi sekadar kaya sumber daya, tetapi juga kaya peradaban, kaya keberlanjutan, dan kaya keadilan sosial.

Karena pada akhirnya, bangsa besar bukanlah bangsa yang paling banyak memiliki kekayaan alam, melainkan bangsa yang mampu menjaga bumi sekaligus memastikan kekayaan itu tidak bocor dari tangan rakyatnya sendiri.

Semangat Gotong Royong, Babinsa Koramil Selo Turun Tangan Bangun Talud Penahan Longsor

0

Boyolali,TelusuR.ID — Kehadiran Bintara Pembina Desa (Babinsa) di tengah masyarakat kembali menunjukkan manfaat nyata. Seperti yang dilakukan Babinsa Koramil 07/Selo Kodim 0724/Boyolali, Serma Maryono, yang turun langsung membantu pembangunan talud bersama warga di Dukuh Gajihan, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jumat (22/05/2026).

Dengan penuh semangat, Serma Maryono bersama warga bergotong royong mengerjakan pembangunan talud sepanjang 80 meter. Pekerjaan diawali dengan penggalian tanah untuk pondasi agar konstruksi talud lebih kuat dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

“Pembuatan pondasi dilakukan secara maksimal supaya ketahanan talud lebih kokoh, terutama untuk mengantisipasi longsor saat musim penghujan,” ujar Serma Maryono di sela kegiatan.

Kehadiran Babinsa di lokasi pembangunan tidak hanya membantu mempercepat pekerjaan, tetapi juga menjadi penyemangat bagi warga. Kebersamaan yang terjalin mencerminkan kuatnya sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan membangun desa.

Menurutnya, pembangunan talud tersebut sangat penting demi memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga sekitar, khususnya saat curah hujan tinggi yang rawan menyebabkan tanah longsor.

Sementara itu, Danramil 07/Selo Kodim 0724/Boyolali Kapten Inf Wahid menegaskan bahwa keterlibatan Babinsa dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari tugas kewilayahan sekaligus bentuk tanggung jawab TNI kepada rakyat.

“Babinsa harus selalu hadir di tengah masyarakat, mampu melaksanakan cegah dini, temu cepat, dan lapor cepat terhadap setiap perkembangan wilayah,” terang Danramil.

Ia berharap keberadaan Babinsa tidak hanya membantu mengatasi kesulitan warga, tetapi juga mampu menjadi teladan serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

“Dengan kebersamaan dan gotong royong seperti ini, hubungan antara TNI dan masyarakat akan semakin kuat,” pungkasnya.

(Agus Kemplu)

BP Taskin Perkuat Kolaborasi dengan LMND EN, Dorong Peran Mahasiswa dalam Pengentasan Kemiskinan

0

Jakarta, TelusuR.ID — Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen strategis nasional, termasuk organisasi kemahasiswaan, dalam upaya mempercepat pembangunan kesejahteraan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut tercermin dalam audiensi antara Wakil Kepala BP Taskin, Ir. Iwan Sumule, dengan jajaran pengurus Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi Eksekutif Nasional (LMND EN) yang dipimpin Ketua Umum Yoga Aldo Novensi.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Inggrid Nola selaku Ketua Bidang Departemen Perempuan, Redo Balau sebagai Ketua Bidang Dalam Negeri, Wempi selaku Ketua Bidang Hukum dan HAM, serta Armed Ngabalin sebagai Ketua Bidang Luar Negeri.

Dalam suasana diskusi yang konstruktif, kedua pihak membahas pentingnya peran organisasi mahasiswa sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengawal cita-cita pendiri bangsa, khususnya dalam menciptakan kesejahteraan rakyat melalui keterlibatan aktif generasi muda dalam pembangunan nasional.

Wakil Kepala BP Taskin Ir. Iwan Sumule menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting sebagai agen perubahan sosial yang mampu mendorong lahirnya gagasan-gagasan progresif di tengah masyarakat.

“Generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki energi dan idealisme yang dibutuhkan bangsa untuk memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Audiensi tersebut juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah dan organisasi kemahasiswaan dalam mempercepat upaya pengentasan kemiskinan melalui edukasi sosial, penguatan kapasitas masyarakat, hingga pembangunan kesadaran kolektif mengenai pentingnya pembangunan yang merata.

Ketua Umum LMND EN Yoga Aldo Novensi menyampaikan kesiapan organisasinya untuk turut berkontribusi dalam mendukung program-program strategis pemerintah yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk memastikan pembangunan nasional berjalan lebih inklusif dan menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi awal penguatan kerja sama antara BP Taskin dan kalangan mahasiswa dalam membangun ekosistem pembangunan yang partisipatif, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Akselerasi Teknologi Generative AI, GDG Surabaya Gelar “Build with AI 2026” di Kampus ISTTS

0

SURABAYA, TELUSUR.ID – Era Generative Artificial Intelligence (AI) bergerak begitu cepat dan adopsi teknologi ini di berbagai sektor industri kini menjadi semakin krusial. Guna menjawab tantangan global tersebut, Google Developer Groups (GDG) Surabaya kembali menghadirkan gelaran teknologi bergengsi bertajuk “Build with AI (BWAI) Surabaya 2026”.

Perhelatan berskala besar ini terselenggara berkat kolaborasi strategis antara GDG Surabaya, Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS), serta Indosat Ooredoo Hutchison. Inisiatif global dari Google ini hadir sebagai wadah bagi para pengembang, profesional IT, akademisi, hingga pelaku industri lokal untuk menyelami dunia kecerdasan buatan secara mendalam.

Acara dirancang sebagai ruang kolaboratif interaktif yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, yakni pada Jumat dan Sabtu, 22–23 Mei 2026. Bertempat di kampus ISTTS, rangkaian sesi padat mulai dari keynote speech, talk session, workshop teknis mendalam, hingga kompetisi pitching disuguhkan untuk membimbing peserta menciptakan solusi AI nyata.

Agenda akbar ini turut merangkul para pakar industri, Google Developer Experts (GDE), tokoh strategis dari Indosat, hingga perwakilan dari Konsulat Jenderal Amerika Serikat. Kehadiran para tokoh penting ini ditujukan untuk membedah arah adopsi teknologi cerdas serta masa depan kolaborasi digital di tanah air.

Pada hari pertama, Jumat, 22 Mei 2026, acara dihadiri oleh sebanyak 200 mahasiswa dan profesional muda. Agenda hari pembuka ini difokuskan pada inkubasi teknis fundamental dan sesi aplikatif pemula yang disajikan dengan pendekatan lebih ringan, sehingga ideal sebagai titik awal bagi para developer pemula.

Rangkaian lokakarya pada hari pertama dipandu oleh jajaran pakar nasional, salah satunya Sidiq Permana yang membawakan topik “AI Native Engineering in the Android App Development”. Sesi ini memandu peserta memahami integrasi kecerdasan buatan secara natural ke dalam ekosistem Android guna meningkatkan pengalaman pengguna.

Selanjutnya, Muhammad Ghifary mengulas inovasi pemrosesan AI langsung di perangkat melalui topik “AI at the Edge: Deploying Multimodal MedGemma for On-Device Medical Imaging”. Sesi ini mengupas pemanfaatan AI untuk sektor kesehatan secara ringkas dan mudah dipahami oleh peserta.

Akademisi sekaligus praktisi teknologi, Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, M.Kom., turut mengisi materi bertajuk “From Prompt to Production: Vibe Coding Your Custom LLM”. Beliau membimbing peserta dari dasar prompt engineering hingga pengenalan kustomisasi Large Language Model (LLM) melalui tren terbaru, Vibe Coding.

Sebagai penutup hari pertama, Dr. Ir. Joan Santoso, M.Kom., menyampaikan materi mengenai Arah Riset dan Inovasi Kecerdasan Buatan di Indonesia. Sesi ini memaparkan peluang kolaborasi strategis antara sektor akademik dan industri dalam peta jalan (roadmap) adopsi AI nasional.

Memasuki hari kedua, Sabtu, 23 Mei 2026, atmosfer perhelatan menghadirkan eskalasi materi yang jauh lebih berat, berbobot, dan sarat muatan teknis tingkat lanjut. Sesi ini ditargetkan bagi para profesional, arsitek perangkat lunak, dan praktisi IT senior yang berfokus pada skalabilitas, keamanan, serta deployment sistem AI di industri.

Pakar teknologi internasional, Thu Ya Kyaw, membuka sesi dengan membedah realitas penggunaan kode hasil kecerdasan buatan di lingkungan industri lewat topik “Beyond the Vibes: The Realities of Shipping AI-Generated Code”. Fokus utamanya adalah mitigasi risiko keamanan dan standarisasi kualitas produksi.

Sementara itu, Alvin Prayuda Juniarta D. mengupas tuntas Model Context Protocol (MCP) sebagai protokol mutakhir untuk standarisasi dan keamanan akses basis data oleh agen AI. Di sisi lain, Bayu Hanantasena menyajikan talk session eksklusif yang membedah kesiapan infrastruktur digital dari perspektif industri telekomunikasi.

Materi mengenai otomatisasi alur kerja berbasis agentic AI didemonstrasikan oleh Fikri Helmi Setiawan menggunakan ekosistem Google Workspace Studio. Sesi teknis kemudian diperdalam oleh Rendra Toro yang membuktikan kapabilitas agen AI dalam mengeksekusi sistem dan memanggil API secara mandiri melalui metode Tool Calling.

Eksplorasi arsitektur pemrograman tingkat lanjut juga dipaparkan oleh Poo Kuan Hoong yang mengombinasikan Google Antigravity dan Gemini CLI. Langkah ini disusul oleh Fon Kamolphan Liwprasert yang memberikan pandangan komparatif mengenai deployment agen AI yang efisien, aman, serta memiliki skalabilitas tinggi di tingkat enterprise.

Arsitektur aplikasi modern turut dibedah oleh Connie Leung yang berfokus pada pemisahan logika prompt dari kode utama aplikasi menggunakan Firebase dan Angular. Pemisahan struktur ini dinilai sangat penting demi kemudahan pemeliharaan (maintenance) aplikasi AI dalam skala besar.

Sebagai puncak acara, edukator teknologi terkemuka Indonesia, Sandhika Galih, memimpin sesi penguatan kapabilitas teknis bagi para pengembang lokal. Sesi paralel ini berjalan bersamaan dengan tahap akhir penilaian kompetisi inovasi Pitching Antigravity yang diikuti oleh para talenta digital terbaik.

Sokong Swasembada Pangan 2026, Bhabinkamtibmas di Jombang Turun Ke Sawah Cek Tanaman Jagung

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Kepolisian Resor (Polres) Jombang melalui jajaran polsek sekor terus memperkuat peran aktifnya di sektor penguatan ekonomi agraria. Langkah ini diwujudkan dengan menerjunkan personel Bhabinkamtibmas untuk mengawal langsung produktivitas lahan pertanian di tingkat akar rumput.

Aksi nyata tersebut dilakukan dalam rangka mendukung penuh program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan pemerintah pusat. Fokus utamanya adalah untuk mengawal dan menyukseskan target pencapaian Swasembada Pangan Nasional pada tahun 2026 ini.

Sebagai bentuk implementasi di lapangan, Bhabinkamtibmas Desa Plemahan melaksanakan pengecekan intensif pada tanaman jagung milik warga, Jumat (22/5/2026) pagi. Peninjauan ini menyasar area lahan pertanian subur yang terletak di kawasan Dusun Babut, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.

Kegiatan monitoring dan pengecekan berkala tersebut dilaksanakan secara langsung oleh personel Bhabinkamtibmas Desa Plemahan, Aipda Firman Adi. Objek peninjauan lapangan kali ini berlokasi di lahan tanaman jagung milik seorang petani setempat bernama Sugiono.

Lahan pertanian yang menjadi fokus pengawalan berkala oleh personel kepolisian ini tercatat memiliki luas kurang lebih 2.500 meter persegi. Di lokasi tersebut, petugas memantau langsung kondisi fisik tanaman untuk memastikan proses pemeliharaan berjalan tanpa kendala.

Aipda Firman Adi menjelaskan bahwa proses pengecekan berkala ini dilakukan guna memastikan pertumbuhan tanaman jagung milik warga dapat berjalan secara optimal. Langkah preventif ini penting untuk memitigasi risiko gagal panen akibat serangan hama maupun faktor cuaca.

Melalui peninjauan langsung, petugas kepolisian bersama para petani dapat mengidentifikasi potensi permasalahan atau gangguan pertumbuhan tanaman sejak dini. Dengan demikian, langkah penanganan yang cepat dan tepat dapat segera diambil demi memaksimalkan hasil panen nantinya.

Secara terpisah, Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan melalui Kapolsek Sumobito AKP Bagus Tejo Purnomo memberikan konfirmasi dan apresiasinya atas pergerakan personel di lapangan. Ia membenarkan bahwa pengawalan sektor agraria kini menjadi salah satu atensi utama korps bhayangkara.

AKP Bagus Tejo Purnomo menyampaikan bahwa kegiatan pengecekan tanaman pangan tersebut merupakan bentuk nyata dari komitmen dukungan Polri terhadap akselerasi program pemerintah. Sinergi antara polisi dan petani diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi pedesaan.

“Polsek Sumobito berkomitmen untuk terus mendukung masyarakat dalam memanfaatkan lahan produktif. Hal ini penting guna meningkatkan hasil pertanian dan mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional tahun 2026,” ujar Kapolsek Sumobito secara lugas dikutip Telusur.id.

Lebih lanjut, Kapolsek menambahkan bahwa keterlibatan aktif personel Bhabinkamtibmas dalam kegiatan pertanian masyarakat bukan sekadar fungsi pengawasan. Agenda ini merupakan bagian dari upaya Polri untuk selalu hadir secara fisik di tengah masyarakat guna memberikan manfaat instan.

Dalam kegiatan di Dusun Babut tersebut, petugas kepolisian tidak hanya sekadar melakukan pengecekan teknis pada daun dan buah jagung. Personel di lapangan juga memanfaatkan momentum tersebut untuk berdialog secara humanis dengan para pengelola lahan.

Petugas memberikan suntikan semangat serta motivasi kepada para petani agar terus melakukan proses perawatan tanaman secara maksimal. Pendampingan psikologis ini dinilai penting untuk menjaga konsistensi para petani dalam mengelola ketahanan pangan daerah.

Melalui kerja keras dan sinergi yang konsisten ini, hasil panen jagung yang diperoleh nantinya diharapkan dapat melimpah. Hasil yang maksimal diproyeksikan mampu mendongkrak kesejahteraan ekonomi petani serta memperkuat ketahanan pangan di seluruh wilayah Kabupaten Jombang.

Babinsa Dampingi Transparansi, Kawal Penyaluran Bansos Beras dan Minyak Untuk 585 KK

0

Sragen,TelusuR.ID – Guna memastikan bantuan sosial tepat sasaran dan berjalan tertib, Babinsa Koramil 16/Miri Kodim 0725/Sragen Serda Nur Widodo turut serta mengawal dan mendampingi jalannya pembagian bantuan paket sembako berupa beras dan minyak goreng kepada warga masyarakat.

Kegiatan ini dilaksanakan langsung di balai desa pada Jum’at (22/05/2026), dengan target penerima manfaat sebanyak 585 Kepala Keluarga (KK). Kehadiran Babinsa di lokasi tidak hanya untuk memonitor jalannya acara, tetapi juga membantu aparat desa dalam mengatur antrean agar warga terutama lansia dan ibu menyusui bisa mendapatkan pelayanan lebih cepat dan nyaman.

Menurut Serda Nur, pendampingan ini merupakan bagian dari tugas pokok dalam mendukung program pemerintah terkait kesejahteraan sosial, sekaligus memastikan bahwa seluruh bantuan sampai utuh ke tangan yang berhak.

“Kami hadir untuk memastikan proses penyaluran berjalan dengan aman, tertib, dan transparan. Dengan total 585 KK penerima, potensi kerumunan cukup besar, sehingga pengaturan di lapangan sangat penting dilakukan agar warga tidak perlu mengantre terlalu lama,” ujar Nur di sela-sela kegiatan.

(Agus Kemplu)