TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 9

Anjangsana di Napua, Cara Satgas Yonif 645/GTY Bangun Kepercayaan Masyarakat

0

Satgas Yonif 645/GTY Perkuat Kedekatan dengan Warga Lewat Anjangsana di Distrik Napua

Jayawijaya, Papua,TelusuR.ID — Personel Satgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan Yonif 645/Gardatama Yudha (GTY) terus membangun kedekatan dengan masyarakat melalui pendekatan teritorial. Salah satunya diwujudkan lewat kegiatan anjangsana yang digelar di Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (4/7/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin Danpos Napua, Letda Inf I Kadek Adi Muliawan, S.Tr.(Han), bersama sembilan personel. Dalam kunjungan itu, rombongan menyambangi sejumlah warga dan tokoh masyarakat, termasuk Yosua Aswenmurif, seorang aparatur sipil negara (ASN) di wilayah Wamena.

Anjangsana menjadi bagian dari pembinaan teritorial yang bertujuan mempererat komunikasi sekaligus membangun kepercayaan antara personel Satgas dengan masyarakat. Melalui interaksi langsung, Satgas juga ingin memahami berbagai kebutuhan dan kondisi warga di wilayah penugasan.

Pos Napua yang berada di bawah komando Dankipur 1 Kapten Inf Haris Verbiyan Saputra, S.Tr.(Han), merupakan bagian dari Satgas Yonif 645/GTY yang kini menggantikan penugasan Satgas Yonif 521/Dharma Yudha. Selain menjalankan tugas pengamanan perbatasan, personel juga aktif melaksanakan kegiatan sosial sebagai upaya memperkuat hubungan dengan masyarakat setempat.

Danpos Napua Letda Inf I Kadek Adi Muliawan mengatakan, kehadiran Satgas tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga berupaya hadir membantu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami hadir di Distrik Napua bukan hanya untuk menjalankan tugas pengamanan, tetapi juga ingin menjadi bagian dari masyarakat dengan membantu setiap kesulitan yang bisa kami lakukan. Melalui komunikasi yang baik, kami berharap hubungan yang telah terjalin dapat terus semakin erat,” ujarnya.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari warga. Suasana penuh keakraban terlihat sepanjang kunjungan, di mana masyarakat menyampaikan apresiasi atas kehadiran personel Satgas yang dinilai aktif menjalin komunikasi dan membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar.

Melalui kegiatan pembinaan teritorial seperti anjangsana, Satgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan Yonif 645/Gardatama Yudha berupaya memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat sekaligus mendukung terciptanya situasi yang aman, kondusif, dan harmonis di Distrik Napua.

Gagalkan 3,3 Ton Ganja asal Thailand, GP Ansor Jatim Puji Sinergi Bea Cukai dan BNN

0

SURABAYA, TelusuR.id – Pengungkapan kasus penyelundupan narkotika berskala internasional yang berhasil digagalkan oleh aparat penegak hukum mendapat respons positif dari berbagai organisasi kepemudaan. Salah satu apresiasi besar datang dari jajaran pemuda pemudi Nahdlatul Ulama di Jawa Timur.

Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur, Musaffa Safril, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bea Cukai Republik Indonesia dan Badan Narkotika Nasional (BNN) RI. Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan luar biasa membongkar penyelundupan barang haram tersebut.

Aparat gabungan diketahui berhasil menyita total 3.371,4 kilogram atau sekitar 3,37 ton bunga serta pucuk cannabinoid marijuana. Narkotika jenis ganja siap edar tersebut diselundupkan dari Thailand dan masuk ke Indonesia melalui jalur laut.

Pintu masuk yang digunakan oleh jaringan internasional ini adalah Pelabuhan Internasional Tanjung Priok, Jakarta. Berkat kejelian petugas, upaya memasukkan barang terlarang dalam jumlah masif tersebut berhasil diendus sebelum sempat menyebar ke masyarakat.

Keberhasilan pengungkapan ini merupakan buah manis dari operasi gabungan yang terintegrasi antara Bea Cukai dan BNN RI. Kedua instansi tersebut berhasil membongkar modus penyamaran (false concealment) yang digunakan oleh para penyelundup.

Untuk mengelabui petugas di pelabuhan, para pelaku menyembunyikan ribuan kilogram narkotika tersebut di dalam koper-koper besar. Tidak hanya itu, sebagian barang bukti juga disisipkan secara rapi di dalam gulungan matras lateks.

Operasi tidak berhenti di pelabuhan saja, melainkan langsung dikembangkan ke sejumlah daerah yang diduga menjadi titik distribusi. Petugas melakukan pengejaran dan pengembangan kasus hingga ke wilayah Gresik, Jawa Timur, dan Purwakarta, Jawa Barat.

Dari hasil pengembangan berskala lintas provinsi tersebut, petugas berhasil mengamankan seluruh barang bukti seberat 3,37 ton. Jumlah ini tergolong salah satu tangkapan terbesar yang berhasil dibongkar dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Melalui keberhasilan operasi gabungan ini, negara diperkirakan telah menyelamatkan lebih dari 10 juta jiwa generasi muda. Angka tersebut dihitung dari potensi dampak kerusakan akibat ancaman penyalahgunaan narkotika jika barang tersebut lolos ke pasar gelap.

“Keberhasilan ini bentuk nyata penyelamatan jutaan anak bangsa dari ancaman narkotika. Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bea Cukai dan BNN RI,” ujar Musaffa Safril memberikan pernyataan resminya di Surabaya, kepada Telusur.id, Sabtu (4/7/2026).

Musaffa juga memuji kinerja lapangan para petugas yang dinilai sangat profesional, sinergis, dan tanpa kompromi. Menurutnya, koordinasi yang solid antarlembaga menjadi kunci utama dalam meruntuhkan dominasi jaringan kriminal internasional.

Lebih lanjut, pemimpin pemuda Ansor Jatim ini menegaskan bahwa perang melawan narkoba di Indonesia tidak boleh mengenal kata kompromi. Sikap tegas harus terus ditegakkan demi melindungi kelangsungan masa depan negara dari kehancuran moral.

“Siapa pun yang menjadikan generasi muda sebagai sasaran bisnis haram narkotika adalah musuh bangsa. Karena itu, PW GP Ansor Jawa Timur mendukung penuh langkah aparat,” kata Musaffa dengan nada lugas dan tegas.

Ansor Jatim juga mendesak pihak kepolisian dan BNN untuk memburu serta memutus seluruh mata rantai jaringan narkotika ini sampai ke akarnya. Penindakan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan atau kurir semata, melainkan harus menyasar aktor intelektual di baliknya.

Selain mendukung tindakan hukum, Musaffa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut bergerak. Dirinya menginstruksikan kader Ansor dan Banser di seluruh daerah untuk memperkuat ketahanan sosial melalui edukasi intensif mengenai bahaya narkoba.

“Menjaga generasi dari narkotika adalah ikhtiar menjaga masa depan Indonesia. Tidak boleh ada ruang sedikit pun bagi bandar narkoba di negeri ini. Melindungi generasi bangsa adalah harga mati,” pungkas Musaffa mengakhiri pernyataannya.

Jembatan Beton Merah Putih Mulai Dibangun, Penantian Warga Dukuh Joho Berakhir dengan Doa dan Gotong Royong

0

BOYOLALI,TelusuR.ID – Harapan yang selama bertahun-tahun dinanti warga Dukuh Joho, Kelurahan Sambeng, Kabupaten Boyolali, akhirnya mulai terwujud. Pembangunan Jembatan Beton Merah Putih yang menghubungkan RT 06 dan RT 07 resmi dimulai pada Jumat (3/7/2026), diawali dengan doa bersama sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan agar proses pembangunan berjalan lancar hingga selesai.

Bagi warga, jembatan tersebut bukan sekadar infrastruktur. Akses itu menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari, mulai dari menuju lahan pertanian, bekerja, hingga memperlancar mobilitas masyarakat. Selama ini, kondisi jembatan yang kurang memadai kerap menyulitkan warga, terutama saat musim hujan.

Pembangunan Jembatan Beton Merah Putih merupakan bagian dari program pemerintah yang diinisiasi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk memperkuat konektivitas desa, membuka akses ekonomi, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pembangunan infrastruktur dasar.

Di lapangan, semangat gotong royong tampak mengiringi dimulainya pekerjaan. Warga bersama aparat bahu-membahu mempersiapkan pembangunan yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan transportasi masyarakat.

Kehadiran Babinsa Serka Asmara menjadi bagian dari pendampingan TNI dalam memastikan proses pembangunan berjalan tertib dan melibatkan partisipasi masyarakat. Tidak hanya mendampingi, Babinsa juga mendorong semangat kebersamaan agar budaya gotong royong tetap menjadi kekuatan utama dalam membangun desa.

Menurut Serka Asmara, keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada tersedianya anggaran, tetapi juga pada kekompakan seluruh elemen masyarakat.

“Ketika masyarakat dan aparat saling bekerja sama, pembangunan dapat berjalan lebih cepat, tertib, dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga,” ujarnya.

Peran Babinsa dalam kegiatan tersebut mencerminkan komitmen TNI melalui pembinaan teritorial yang tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga aktif mendukung percepatan pembangunan serta pemberdayaan masyarakat di wilayah binaan.

Warga berharap, setelah rampung dibangun, Jembatan Beton Merah Putih akan menghadirkan akses yang lebih aman dan nyaman, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di Dukuh Joho.

Pembangunan ini menjadi contoh bagaimana sinergi antara pemerintah, TNI, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan warga. Di balik berdirinya sebuah jembatan, tersimpan harapan baru akan meningkatnya kesejahteraan dan semakin kuatnya semangat kebersamaan dalam membangun desa.(agus kemplu)

Babinsa Menyatu dengan Petani, Panen Padi Jadi Bukti Kepedulian

0

SRAGEN,Telusur.ID – Hamparan padi yang menguning di Kampung Candi Asri, Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, menjadi saksi kebersamaan antara TNI dan petani. Di tengah kesibukan musim panen Serma Sumartana Babinsa Koramil 02/Karangmalang Kodim 0725/Sragen turun langsung memanen padi di lahan milik Sumarno sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program ketahanan pangan, Jum’at (03/07/2026).

Dengan sabit di tangan, Serma Sumartana membaur bersama para petani memanen bulir padi yang telah memasuki masa panen. Kehadiran Babinsa bukan sekedar membantu pekerjaan di sawah, tetapi juga memberi motivasi agar petani tetap optimistis menjaga produktivitas pertanian di tengah berbagai tantangan.

“Babinsa akan selalu hadir mendampingi petani, mulai dari pengolahan lahan, masa tanam, perawatan hingga panen. Ketahanan pangan yang kuat berawal dari semangat petani yang terus kami dampingi,” tegas Serma Sumartana.

Sumarno mengaku bangga karena Babinsa selalu hadir di setiap tahapan budidaya padi. Menurutnya, pendampingan tersebut menjadi penyemangat sekaligus bukti nyata kepedulian TNI terhadap kesejahteraan petani.
“Kami tidak pernah merasa berjalan sendiri. Pak Babinsa selalu datang, ikut bekerja bersama kami, memberi semangat dan solusi ketika ada kendala. Kehadiran beliau membuat petani semakin yakin untuk terus menanam,” ujar Sumarno.

(Agus Kemplu)

Ribuan Mata Akan Tertuju ke Lapangan! Piala Soeratin 2026 Jombang Siap Lahirkan Bintang Baru

0

Piala Soeratin 2026 Jombang Siap Bergulir, PSSI Fokus Perkuat Pembinaan Usia Dini

JOMBANG – Atmosfer pembinaan sepak bola usia dini di Kabupaten Jombang kembali bergairah. Piala Soeratin 2026 kelompok usia U-13 dan U-15 dipastikan segera bergulir dengan melibatkan klub-klub terbaik binaan anggota PSSI Jombang.

Kompetisi yang menjadi jenjang pembinaan paling bergengsi bagi pesepak bola muda itu akan digelar di dua lokasi berbeda. Kategori U-13 berlangsung di Lapangan Sebani, sedangkan U-15 dipusatkan di Stadion Merdeka Jombang. Penyelenggaraan kompetisi usia muda seperti Piala Soeratin merupakan bagian dari sistem pembinaan berjenjang yang terus didorong PSSI di berbagai daerah. (PSSI Jawa Timur)

Di balik persiapan kompetisi tersebut, terdapat peran sejumlah pengurus Askab PSSI Jombang yang memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai rencana. Salah satunya adalah Exco PSSI Jombang Edy Musyadad, yang aktif mengawal kesiapan teknis maupun koordinasi antarpanitia agar pelaksanaan turnamen berlangsung tertib dan berkualitas.

Bagi Edy, Piala Soeratin bukan sekadar kompetisi mencari juara. Ajang ini merupakan ruang pembelajaran bagi pemain muda untuk membangun karakter, disiplin, dan mental bertanding sejak dini.

“Kompetisi menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Anak-anak membutuhkan pertandingan yang teratur agar kemampuan mereka berkembang dan siap melangkah ke level yang lebih tinggi,” ujarnya.

Komitmen yang sama juga ditunjukkan Sekretaris PSSI Jombang M. Adi Irwansyah. Dalam setiap tahapan persiapan, Adi memastikan seluruh administrasi kompetisi, jadwal pertandingan, hingga koordinasi dengan klub peserta berjalan sesuai regulasi.

Kehadiran Adi di lapangan selama persiapan menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kompetisi tidak hanya ditentukan oleh pertandingan di atas rumput hijau, tetapi juga oleh manajemen organisasi yang rapi di belakang layar.

“Kami ingin menghadirkan kompetisi yang tertib, sportif, dan menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta. Harapannya, dari Piala Soeratin lahir talenta-talenta terbaik yang nantinya bisa membawa nama Jombang di tingkat provinsi maupun nasional,” katanya.

U-13 Diikuti 12 Tim

Kategori U-13 diikuti 12 tim yang dibagi ke dalam empat grup.

Grup A

  • Harapan Muda
  • Tambakrejo FC
  • Akor FC
  • Bintang Muda J.

Grup B

  • B. Maestro Ultima
  • Putra Reka
  • Azka Dharma
  • Pesawat FC

Grup C

  • Kauman United
  • Mojoduwur FC
  • SKB Gudo

Grup D

  • Putra Nusantara
  • Garuda Nusantara SS
  • AB Perkasa

Babak penyisihan berlangsung 5–9 Juli 2026, dilanjutkan semifinal pada 10 Juli, semifinal silang pada 11 Juli, dan partai final 12 Juli 2026 di Lapangan Sebani.

U-15 Diikuti 12 Tim

Kategori U-15 juga menghadirkan persaingan ketat dengan peserta:

Grup A

  • Garuda Nusantara SS
  • Tambakrejo FC
  • Pesawat FC

Grup B

  • Harapan Muda
  • Mojoduwur FC
  • Bintang Muda J.

Grup C

  • SKB Gudo
  • AB Perkasa
  • Azka Dharma

Grup D

  • B. Maestro Ultima
  • Seribu Dewa
  • Akor FC

Pertandingan penyisihan dijadwalkan berlangsung 8–10 Juli 2026 di Stadion Merdeka Jombang. Babak semifinal dimainkan pada 11 Juli, sementara laga final digelar 12 Juli 2026.

Melalui penyelenggaraan kompetisi yang terjadwal dengan baik, Askab PSSI Jombang berharap proses pembinaan pemain muda tidak berhenti pada latihan semata. Kompetisi yang berkesinambungan diyakini menjadi fondasi lahirnya generasi pesepak bola yang matang secara teknik, mental, dan sportivitas.

Piala Soeratin 2026 pun menjadi momentum bagi Jombang untuk menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem sepak bola usia dini. Dengan dukungan seluruh klub anggota, perangkat pertandingan, dan pengurus yang dipimpin oleh jajaran Exco, termasuk Edy Musyadad serta Sekretaris PSSI Jombang M. Adi Irwansyah, harapan melahirkan bibit-bibit pesepak bola masa depan kembali menemukan panggungnya di lapangan hijau Jombang.

Nenek di Jombang Bingung, Pinjaman Rp500.000 Disebut Membengkak hingga Rp70 Juta

0
foto ilustrasi Bank Jombang by Zafin

JOMBANG, TelusuR.ID – Seorang warga lanjut usia asal Desa Banjardowo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Ngatini (69), mengaku kebingungan setelah pinjaman yang menurutnya bermula dari Rp500.000 di PT BPR Bank Jombang kini disebut mencapai sekitar Rp70 juta. Kondisi itu membuatnya khawatir kehilangan tanah milik keluarga yang dijadikan agunan.

Kepada wartawan, Ngatini menceritakan bahwa pinjaman pertamanya diajukan di PT BPR Bank Jombang Unit Kabuh dengan jaminan berupa BPKB sepeda motor Suzuki Shogun. Saat hendak membayar bunga pinjaman, ia mengaku mendapat penjelasan bahwa BPKB tersebut tidak lagi dapat digunakan sebagai agunan.

Karena belum mampu melunasi pinjaman, Ngatini mengatakan diminta mengganti jaminan dengan sertifikat tanah. Setelah BPKB dikembalikan, ia menyerahkan dua sertifikat tanah sebagai agunan.

Salah satu sertifikat yang dijaminkan adalah Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 789 atas nama Sukarman seluas 1.476 meter persegi di Desa Sumberingin, Kecamatan Kabuh. Sementara satu sertifikat lainnya merupakan milik anaknya.

Dari pengajuan pinjaman dengan jaminan sertifikat tersebut, Ngatini mengaku menerima dana sebesar Rp25 juta. Ia mengatakan sempat membayar angsuran sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menghentikan pembayaran.

Menurut Ngatini, keputusan itu diambil setelah seorang pria bernama Nur Ali, warga Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, menawarkan bantuan untuk melunasi seluruh pinjamannya di Bank Jombang.

Merasa percaya, ia mengaku menyerahkan uang sebesar Rp55 juta kepada Nur Ali. Penyerahan uang tersebut, kata Ngatini, disaksikan sekitar tujuh orang, termasuk perangkat Desa Jokerep.

Namun, belakangan ia mengetahui bahwa uang tersebut diduga tidak digunakan untuk melunasi pinjaman di bank. Akibatnya, menurut pengakuannya, kewajiban pembayaran tetap berjalan dan pihak bank masih melakukan penagihan.

Ngatini juga mengaku salah satu sertifikat atas nama Sukarman telah disita akibat tunggakan. Sementara sertifikat milik anaknya hingga kini masih menjadi agunan.

Ia menyebut pihak bank meminta pelunasan sekitar Rp70 juta. Padahal, menurut pengakuannya, ia telah kembali menyetorkan pembayaran sebesar Rp10 juta. Ngatini mengaku tidak memahami dasar perhitungan nilai tagihan tersebut karena merasa total dana yang pernah diterimanya hanya sekitar Rp25,5 juta.

Hingga berita ini ditulis, PT BPR Bank Jombang belum memberikan keterangan resmi terkait pengakuan Ngatini maupun rincian perhitungan kewajiban pinjaman yang dimaksud.

Saat didatangi wartawan pada Kamis (2/7/2026), petugas front office Kantor Kas PT BPR Bank Jombang Unit Kabuh menyampaikan bahwa Kepala Kantor Kas Kabuh sedang mengikuti rapat di kantor pusat sehingga belum dapat memberikan penjelasan.

Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari PT BPR Bank Jombang serta pihak-pihak terkait guna mendapatkan penjelasan yang utuh mengenai persoalan tersebut.(Zfn)

Jacob Ereste : Membangun Bangsa dan Negara agar Lebih Baik, Religius, dan Lebih Manusiawi

0

Membangun Bangsa dan Negara agar Lebih Baik, Religius, dan Lebih Manusiawi

Oleh: Jacob Ereste

Banten,TelusuR.ID – Mahasiswa yang turun ke jalan sesungguhnya bukan sedang mencari panggung, melainkan sedang mencari ruang yang telah lama ditinggalkan oleh mereka yang mengaku mewakili rakyat. Ketika parlemen lebih sibuk menjaga kenyamanan kursinya daripada kegelisahan masyarakat, jalan raya berubah menjadi ruang sidang yang sesungguhnya. Di sanalah suara hati rakyat diperdengarkan, meski kerap dianggap sebagai kebisingan yang mengganggu telinga kekuasaan.

Aksi mahasiswa tidak lahir dari kegemaran membuat keramaian. Ia tumbuh dari rahim kesadaran. Kesadaran bahwa bangsa ini tidak boleh dibiarkan berjalan menuju jurang hanya karena para pengemudinya lebih sibuk menghitung laba politik daripada keselamatan penumpangnya.

Karena itu, pendidikan tidak pernah cukup dipahami sebatas ruang kelas, lembar ijazah, atau seremoni wisuda. Pendidikan adalah perjalanan panjang membentuk manusia. Ia dimulai dari terpenuhinya gizi anak-anak, kesempatan belajar yang adil, ruang berkarya yang terbuka, hingga keberanian untuk berpikir merdeka tanpa rasa takut. Sebab bangsa yang sehat tidak dibangun oleh gedung-gedung megah, tetapi oleh manusia-manusia yang pikirannya tidak dijajah dan nuraninya tidak diperjualbelikan.

Mahasiswa adalah bagian dari mata hati bangsa. Mereka belajar bukan hanya dari buku, melainkan juga dari kenyataan yang setiap hari memperlihatkan betapa hukum sering kehilangan keberanian, keadilan kehilangan rumah, dan kekuasaan kehilangan rasa malu. Maka demonstrasi sering kali menjadi mata kuliah kehidupan yang tidak pernah diajarkan di kampus, tetapi selalu dipaksa lahir oleh keadaan.

Yang patut disesalkan justru ketika gerakan mahasiswa dijadikan kendaraan politik. Ada yang membungkam, ada yang mengintimidasi, ada pula yang menyodorkan amplop dan jabatan. Semua dilakukan agar idealisme berubah menjadi komoditas. Padahal, membunuh idealisme anak muda jauh lebih berbahaya daripada membangun seribu penjara. Sebab bangsa yang kehilangan idealisme akan melahirkan generasi yang pandai menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung harga diri.

Sesungguhnya, setiap upaya menunggangi gerakan mahasiswa adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan. Sebab negeri ini tidak diwariskan kepada para politisi, melainkan kepada generasi yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Jika sejak dini mereka diajarkan bahwa kebenaran dapat dibeli, maka kelak mereka akan tumbuh menjadi pejabat yang percaya bahwa keadilan juga memiliki tarif.

Ironisnya, mahasiswa sering dipaksa mengambil alih tugas parlemen. Mereka turun ke jalan bukan karena hobi berteriak, melainkan karena terlalu banyak wakil rakyat yang kehilangan suara ketika berhadapan dengan kekuasaan. Gedung parlemen tetap megah berdiri, tetapi gema nurani di dalamnya kian sulit terdengar. Kursi-kursinya terisi, namun amanah rakyat sering kali kosong.

Indonesia terus berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Tetapi emas bukan sekadar angka dalam kalender. Emas adalah watak, integritas, kejujuran, dan keberanian menegakkan keadilan. Apa artinya berburu Indonesia Emas jika setiap hari kita justru menambang kerakusan, memelihara korupsi, menyuburkan penyalahgunaan wewenang, serta membiarkan budaya “mumpung berkuasa” menjadi agama baru birokrasi?

Lebih menyedihkan lagi ketika agama hanya berhenti sebagai simbol, sementara spiritualitas kehilangan makna. Ketuhanan Yang Maha Esa yang ditempatkan sebagai sila pertama Pancasila sering kali hanya menjadi hiasan pidato dan slogan di dinding kantor. Tuhan disebut berulang kali, tetapi kejujuran justru ditinggalkan. Ayat-ayat suci dibaca dengan suara merdu, sementara hak rakyat dirampas tanpa rasa bersalah.

Di tengah ironi itu, kehadiran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pun patut dipertanyakan efektivitasnya. Ideologi tidak akan hidup hanya melalui seminar, seremoni, atau pelatihan yang sibuk menghafal teks. Pancasila kehilangan makna ketika hanya diajarkan sebagai hafalan, bukan sebagai laku hidup. Nilai-nilai kemanusiaan tidak lahir dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari keberanian menolak korupsi, berlaku adil, menghormati martabat sesama manusia, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri sendiri.

Ironi terasa semakin lengkap ketika energi bangsa lebih banyak dihabiskan mengurus tata cara upacara daripada memperbaiki tata cara bernegara. Anak-anak muda diajarkan berbaris dengan sempurna, tetapi para pemimpinnya gagal memberi teladan tentang bagaimana berjalan lurus di jalan kejujuran. Disiplin menjadi tontonan, sementara integritas justru menghilang dari panggung kehidupan berbangsa.

Padahal, bangsa ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Yang semakin langka adalah manusia yang memiliki rasa malu. Kita memiliki begitu banyak gelar akademik, tetapi terlalu sedikit kebijaksanaan. Kita menghasilkan ribuan sarjana setiap tahun, namun masih kesulitan melahirkan negarawan.

Pada akhirnya, membangun Indonesia tidak cukup dengan membangun jalan, bendungan, atau gedung-gedung pencakar langit. Yang jauh lebih mendesak adalah membangun manusia. Sebab dari manusia yang berakhlak akan lahir hukum yang adil. Dari manusia yang jujur akan lahir pemerintahan yang bersih. Dari manusia yang memiliki kecerdasan spiritual akan lahir peradaban yang bermartabat.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kaya, bukan pula yang paling banyak proyeknya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga nuraninya agar tidak dijual kepada kekuasaan, tidak disewakan kepada kepentingan, dan tidak ditukar dengan kenikmatan sesaat.

Karena itu, mahasiswa harus tetap menjadi suara yang merdeka. Bukan suara yang dibeli, bukan pula suara yang diperalat. Sebab selama masih ada anak-anak muda yang berani berdiri membela kebenaran, harapan bagi Indonesia belum sepenuhnya padam.

Banten, 3 Juli 2026

Jembatan Bailey di Sungai Yo’o Mulai Dibangun, Bakti TNI Buka Harapan Baru bagi Warga Pedalaman Nias

0

NIAS,TelusuR.ID – Harapan masyarakat Desa Sihare’o III Bawosalo’o Berua, Kecamatan Ma’u, Kabupaten Nias, untuk memiliki akses penyeberangan yang aman mulai terwujud. Satgas Bakti TNI memulai pembangunan Jembatan Bailey di Sungai Yo’o, Jumat (3/7/2026), sebagai solusi atas keterbatasan infrastruktur yang selama ini menjadi kendala aktivitas warga.

Jembatan sepanjang 30 meter itu dibangun untuk menggantikan jalur penyeberangan sungai yang selama bertahun-tahun digunakan masyarakat tanpa adanya fasilitas jembatan. Kondisi tersebut kerap menghambat mobilitas warga sekaligus meningkatkan risiko keselamatan, terutama ketika debit air sungai naik akibat hujan dengan intensitas tinggi.

Pembangunan jembatan merupakan bagian dari program percepatan pemerataan pembangunan yang diprakarsai Presiden RI Prabowo Subianto guna memperkuat konektivitas wilayah hingga menjangkau daerah-daerah terpencil.

Pada hari pertama pelaksanaan, personel Satgas Bakti TNI memulai pekerjaan perambutan untuk pembangunan abutmen sembari menunggu kedatangan alat berat. Hingga saat ini, progres pekerjaan telah mencapai sekitar 1,5 persen.

Proyek tersebut dikerjakan secara bergotong royong dengan melibatkan personel Yon TP 905/TS, Yon TP 903/Baluseda, Yonzipur I/DD, Koramil 02/Gido Kodim 0213/Nias, para tukang, serta masyarakat setempat. Kolaborasi itu mencerminkan semangat kebersamaan dalam menghadirkan infrastruktur yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kapendam I/Bukit Barisan Kolonel Inf Sandy, S.I.P., mengatakan pembangunan Jembatan Bailey merupakan implementasi nyata program Bakti TNI untuk Rakyat yang berfokus pada membantu mengatasi berbagai kesulitan masyarakat melalui pembangunan infrastruktur yang memberikan manfaat langsung.

Menurutnya, keberadaan jembatan tidak hanya menghadirkan akses penyeberangan yang lebih aman, tetapi juga akan memperlancar transportasi warga, distribusi hasil pertanian, akses menuju sekolah, pelayanan kesehatan, hingga membuka peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.

“Bakti TNI untuk Rakyat kami hadirkan melalui pembangunan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Kami berharap Jembatan Bailey di Sungai Yo’o nantinya menjadi penghubung aktivitas warga sekaligus membuka peluang bagi meningkatnya kesejahteraan masyarakat di wilayah ini,” ujar Sandy.

 

Bagi masyarakat setempat, pembangunan jembatan menjadi lebih dari sekadar proyek infrastruktur. Kehadirannya diharapkan mengakhiri ketergantungan warga pada penyeberangan sungai yang selama ini berisiko, sekaligus menghadirkan rasa aman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pembangunan Jembatan Bailey di Sungai Yo’o juga menjadi gambaran peran TNI yang tidak hanya menjalankan tugas pertahanan negara, tetapi turut berkontribusi melalui karya nyata yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Melalui semangat gotong royong bersama pemerintah daerah dan warga, TNI menghadirkan solusi atas persoalan aksesibilitas yang selama ini membatasi mobilitas masyarakat pedalaman.

Apabila rampung sesuai rencana, jembatan tersebut diharapkan menjadi penghubung penting yang mempercepat konektivitas antarwilayah, memperkuat roda perekonomian lokal, sekaligus mendukung pemerataan pembangunan di Kabupaten Nias.

Sumber: Pendam I/Bukit Barisan.

“Torang Sehat, Kampung Kuat”, Satgas Yonif 645/GTY Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis 24 Jam bagi Warga Kurima

0

YAHUKIMO,TelusuR.ID – Komitmen menghadirkan pelayanan bagi masyarakat terus diwujudkan Satgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan Yonif 645/Gardatama Yudha melalui Pos Kurima. Mengusung semangat “Torang Sehat, Kampung Kuat”, personel Pos Kurima memberikan layanan kesehatan gratis selama 1 x 24 jam serta pelayanan door to door bagi warga di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (3/7/2026).

Sebanyak 11 personel Pos Kurima yang dipimpin Danpos Kurima, Letda Inf Nurdin Muhayat, terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Selain membuka pelayanan kesehatan di Pos Kurima selama 24 jam, personel juga mendatangi kampung-kampung di wilayah Distrik Kurima untuk memastikan masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan secara lebih mudah.

Beragam layanan diberikan kepada warga, mulai dari pemeriksaan kesehatan, penyuluhan mengenai pola hidup sehat, hingga pembagian obat-obatan dan vitamin secara cuma-cuma. Program ini menjadi bagian dari upaya Satgas dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah penugasan.

“Kesehatan merupakan investasi yang paling berharga. Melalui pelayanan ini, kami ingin mengajak masyarakat agar semakin peduli terhadap kondisi kesehatannya dengan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sekaligus memperkuat kedekatan antara tenaga kesehatan, prajurit TNI, dan warga,” ujar Letda Inf Nurdin Muhayat.

Sementara itu, Dansatgas Pamtas RI–PNG Kewilayahan Yonif 645/GTY, Letkol Inf Yan Rangga Rahabistara, S.M., menegaskan bahwa layanan kesehatan diberikan secara gratis kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari orang tua hingga anak-anak. Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk kepedulian TNI untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat hingga ke daerah terpencil.

Ia menambahkan, pendekatan jemput bola melalui pelayanan langsung ke kampung-kampung menjadi salah satu upaya TNI untuk memastikan masyarakat memperoleh akses kesehatan yang lebih dekat. Kehadiran prajurit di tengah masyarakat juga diharapkan semakin memperkuat hubungan yang harmonis antara TNI dan warga sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pelaksanaan kegiatan. Salah seorang tokoh pemuda Distrik Kurima menyampaikan apresiasinya atas pelayanan yang diberikan Satgas Yonif 645/GTY.

“Terima kasih kepada TNI yang telah hadir di kampung kami. Kami sangat terbantu dengan pelayanan kesehatan ini dan semakin mencintai TNI,” ujarnya.

Kegiatan pelayanan kesehatan berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar, sekaligus menjadi wujud nyata komitmen Satgas Yonif 645/GTY dalam mendukung kesejahteraan masyarakat melalui pelayanan kemanusiaan di wilayah perbatasan.

Sumber: Pen Satgas Yonif 645/GTY – Gardatama Yudha.

Mata Tak Pernah Lengah, Babinsa Tipes Turun Langsung Pantau Wilayah Demi Ciptakan Rasa Aman

0

Surakarta,TelusuR.ID – Sebagian masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari, Babinsa Tipes Koramil 03 Serengan Kodim 0735 Surakarta Serka Sarmin dan Serka Anjas, justru memastikan seluruh wilayah binaan tetap berada dalam kondisi aman dan kondusif. Melalui kegiatan pemantauan atau sambang kepada Linmas Kelurahan yang sedang Piket wilayah untuk melihat langsung situasi serta menjalin komunikasi dengannya bertempat di Jalan Cokro Baskoro Kelurahan Tipes Serengan Kota Surakarta, Jum’at (03/07/2026)

Pemantauan wilayah menjadi bagian penting dari tugas aparat teritorial dalam mendeteksi setiap perkembangan yang terjadi di lapangan. Dengan turun langsung, berbagai potensi permasalahan dapat diketahui lebih awal sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan.

Di sela kegiatan, Serka Sarmin juga membuka obrolan dengan Linmas Bapak Wisnu dan rekan-rekannya, mengajak dan menekankan mereka terus menjaga kerukunan, meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar, serta tidak ragu melaporkan setiap kejadian yang berpotensi mengganggu ketertiban.
“Keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi tanggung jawab kita bersama. Karena itu kami terus hadir di tengah masyarakat untuk memastikan wilayah tetap aman, sekaligus mempererat komunikasi agar setiap persoalan dapat diselesaikan dengan cepat.

Kegiatan pemantauan atau sambang wilayah ini menjadi bukti nyata komitmen Babinsa Tipes dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat. Kehadiran aparat di lapangan tidak hanya sebagai pengawas situasi, tetapi juga sebagai mitra warga yang siap mendengar, membantu, dan menjaga kondusivitas wilayah demi terciptanya kehidupan masyarakat yang tenteram dan harmonis, Tegas Serka Anjas

(Agus Kemplu)