Membangun Bangsa dan Negara agar Lebih Baik, Religius, dan Lebih Manusiawi
Oleh: Jacob Ereste
Banten,TelusuR.ID – Mahasiswa yang turun ke jalan sesungguhnya bukan sedang mencari panggung, melainkan sedang mencari ruang yang telah lama ditinggalkan oleh mereka yang mengaku mewakili rakyat. Ketika parlemen lebih sibuk menjaga kenyamanan kursinya daripada kegelisahan masyarakat, jalan raya berubah menjadi ruang sidang yang sesungguhnya. Di sanalah suara hati rakyat diperdengarkan, meski kerap dianggap sebagai kebisingan yang mengganggu telinga kekuasaan.
Aksi mahasiswa tidak lahir dari kegemaran membuat keramaian. Ia tumbuh dari rahim kesadaran. Kesadaran bahwa bangsa ini tidak boleh dibiarkan berjalan menuju jurang hanya karena para pengemudinya lebih sibuk menghitung laba politik daripada keselamatan penumpangnya.
Karena itu, pendidikan tidak pernah cukup dipahami sebatas ruang kelas, lembar ijazah, atau seremoni wisuda. Pendidikan adalah perjalanan panjang membentuk manusia. Ia dimulai dari terpenuhinya gizi anak-anak, kesempatan belajar yang adil, ruang berkarya yang terbuka, hingga keberanian untuk berpikir merdeka tanpa rasa takut. Sebab bangsa yang sehat tidak dibangun oleh gedung-gedung megah, tetapi oleh manusia-manusia yang pikirannya tidak dijajah dan nuraninya tidak diperjualbelikan.
Mahasiswa adalah bagian dari mata hati bangsa. Mereka belajar bukan hanya dari buku, melainkan juga dari kenyataan yang setiap hari memperlihatkan betapa hukum sering kehilangan keberanian, keadilan kehilangan rumah, dan kekuasaan kehilangan rasa malu. Maka demonstrasi sering kali menjadi mata kuliah kehidupan yang tidak pernah diajarkan di kampus, tetapi selalu dipaksa lahir oleh keadaan.
Yang patut disesalkan justru ketika gerakan mahasiswa dijadikan kendaraan politik. Ada yang membungkam, ada yang mengintimidasi, ada pula yang menyodorkan amplop dan jabatan. Semua dilakukan agar idealisme berubah menjadi komoditas. Padahal, membunuh idealisme anak muda jauh lebih berbahaya daripada membangun seribu penjara. Sebab bangsa yang kehilangan idealisme akan melahirkan generasi yang pandai menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung harga diri.
Sesungguhnya, setiap upaya menunggangi gerakan mahasiswa adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan. Sebab negeri ini tidak diwariskan kepada para politisi, melainkan kepada generasi yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Jika sejak dini mereka diajarkan bahwa kebenaran dapat dibeli, maka kelak mereka akan tumbuh menjadi pejabat yang percaya bahwa keadilan juga memiliki tarif.
Ironisnya, mahasiswa sering dipaksa mengambil alih tugas parlemen. Mereka turun ke jalan bukan karena hobi berteriak, melainkan karena terlalu banyak wakil rakyat yang kehilangan suara ketika berhadapan dengan kekuasaan. Gedung parlemen tetap megah berdiri, tetapi gema nurani di dalamnya kian sulit terdengar. Kursi-kursinya terisi, namun amanah rakyat sering kali kosong.
Indonesia terus berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Tetapi emas bukan sekadar angka dalam kalender. Emas adalah watak, integritas, kejujuran, dan keberanian menegakkan keadilan. Apa artinya berburu Indonesia Emas jika setiap hari kita justru menambang kerakusan, memelihara korupsi, menyuburkan penyalahgunaan wewenang, serta membiarkan budaya “mumpung berkuasa” menjadi agama baru birokrasi?
Lebih menyedihkan lagi ketika agama hanya berhenti sebagai simbol, sementara spiritualitas kehilangan makna. Ketuhanan Yang Maha Esa yang ditempatkan sebagai sila pertama Pancasila sering kali hanya menjadi hiasan pidato dan slogan di dinding kantor. Tuhan disebut berulang kali, tetapi kejujuran justru ditinggalkan. Ayat-ayat suci dibaca dengan suara merdu, sementara hak rakyat dirampas tanpa rasa bersalah.
Di tengah ironi itu, kehadiran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pun patut dipertanyakan efektivitasnya. Ideologi tidak akan hidup hanya melalui seminar, seremoni, atau pelatihan yang sibuk menghafal teks. Pancasila kehilangan makna ketika hanya diajarkan sebagai hafalan, bukan sebagai laku hidup. Nilai-nilai kemanusiaan tidak lahir dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari keberanian menolak korupsi, berlaku adil, menghormati martabat sesama manusia, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri sendiri.
Ironi terasa semakin lengkap ketika energi bangsa lebih banyak dihabiskan mengurus tata cara upacara daripada memperbaiki tata cara bernegara. Anak-anak muda diajarkan berbaris dengan sempurna, tetapi para pemimpinnya gagal memberi teladan tentang bagaimana berjalan lurus di jalan kejujuran. Disiplin menjadi tontonan, sementara integritas justru menghilang dari panggung kehidupan berbangsa.
Padahal, bangsa ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Yang semakin langka adalah manusia yang memiliki rasa malu. Kita memiliki begitu banyak gelar akademik, tetapi terlalu sedikit kebijaksanaan. Kita menghasilkan ribuan sarjana setiap tahun, namun masih kesulitan melahirkan negarawan.
Pada akhirnya, membangun Indonesia tidak cukup dengan membangun jalan, bendungan, atau gedung-gedung pencakar langit. Yang jauh lebih mendesak adalah membangun manusia. Sebab dari manusia yang berakhlak akan lahir hukum yang adil. Dari manusia yang jujur akan lahir pemerintahan yang bersih. Dari manusia yang memiliki kecerdasan spiritual akan lahir peradaban yang bermartabat.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kaya, bukan pula yang paling banyak proyeknya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga nuraninya agar tidak dijual kepada kekuasaan, tidak disewakan kepada kepentingan, dan tidak ditukar dengan kenikmatan sesaat.
Karena itu, mahasiswa harus tetap menjadi suara yang merdeka. Bukan suara yang dibeli, bukan pula suara yang diperalat. Sebab selama masih ada anak-anak muda yang berani berdiri membela kebenaran, harapan bagi Indonesia belum sepenuhnya padam.
Banten, 3 Juli 2026



