TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 2

Babinsa Dampingi Panen, Petani Sragen Optimistis Produktivitas Padi Tetap Terjaga

0

SRAGEN,TelusuR.ID — Hamparan padi yang menguning di Desa Plosokerep, Kecamatan Karangmalang, mulai dipanen. Di tengah kesibukan petani memotong bulir padi, Babinsa Desa Plosokerep Koramil 02/Karangmalang Kodim 0725/Sragen, Serka Darmadi, turut turun ke sawah mendampingi proses panen bersama Kelompok Tani (Poktan) Sumber Makmur di Dukuh Lemahbang, Jumat (10/7).

Pendampingan itu tidak sebatas membantu proses panen. Serka Darmadi juga berdiskusi dengan petani mengenai hasil panen, kualitas gabah, hingga berbagai tantangan yang mereka hadapi selama musim tanam.

Menurutnya, kehadiran Babinsa di tengah petani merupakan bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan sekaligus memastikan produktivitas pertanian di wilayah binaan tetap terjaga.

“Keberhasilan panen adalah buah kerja keras petani yang harus didukung bersama. Kami akan terus mendampingi mulai dari pengolahan lahan, masa tanam, perawatan hingga panen agar produksi padi tetap optimal dan kesejahteraan petani semakin meningkat,” ujar Darmadi.

Bagi para petani, pendampingan tersebut tidak hanya membantu pekerjaan di sawah, tetapi juga menjadi suntikan semangat. Ketua Poktan Sumber Makmur, Sukamto, menilai kehadiran Babinsa memberikan rasa percaya diri bagi petani dalam menghadapi setiap tahapan budidaya padi.

“Babinsa selalu hadir mendampingi kami. Dukungan itu membuat petani merasa tidak berjalan sendiri dan semakin termotivasi untuk menjaga hasil panen tetap baik,” kata Sukamto.

Sinergi antara Babinsa dan petani diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi padi di Sragen, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat desa melalui pendampingan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Gulma Ancam Produktivitas Padi, Babinsa di Sragen Turun Langsung Bantu Petani Rawat Sawah

0

SRAGEN,TelusuR.ID – Ancaman terhadap hasil panen padi tak selalu datang dari hama atau cuaca ekstrem. Gulma yang tumbuh di sela-sela tanaman juga dapat menekan produktivitas karena menyerap unsur hara yang seharusnya menjadi sumber pertumbuhan padi.

Kondisi itu mendorong Babinsa Kelurahan Kwangen, Koramil 15/Gemolong, Kodim 0725/Sragen, Serda Ibrahim, turun langsung membantu petani membersihkan gulma di lahan milik Hasan, warga Dukuh Nglangak, Kelurahan Kwangen, Kecamatan Gemolong, Jumat (10/7).

Dengan menyusuri petak sawah yang masih berlumpur, Serda Ibrahim bersama petani mencabut gulma yang mulai mendominasi area tanam. Upaya itu dilakukan agar pertumbuhan padi tidak terganggu dan potensi hasil panen tetap terjaga.

Menurut Ibrahim, pendampingan kepada petani tidak berhenti pada masa tanam atau panen. Perawatan tanaman juga menjadi tahapan penting untuk memastikan produktivitas pertanian tetap optimal.

“Kalau gulma dibiarkan, tanaman padi akan berebut unsur hara sehingga pertumbuhannya tidak maksimal. Karena itu kami ikut membantu agar tanaman tetap sehat dan hasil panen bisa lebih baik,” ujarnya.

Bagi Hasan, kehadiran Babinsa di tengah aktivitas petani bukan hanya membantu meringankan pekerjaan, tetapi juga menjadi penyemangat untuk terus merawat sawah di tengah berbagai tantangan budidaya.

“Beliau tidak hanya datang memberi arahan, tetapi ikut bekerja bersama kami di sawah. Itu membuat kami merasa tidak sendiri dalam menjaga tanaman hingga masa panen nanti,” kata Hasan.

Pendampingan yang dilakukan Babinsa menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan di tingkat desa. Kehadiran aparat di lapangan diharapkan mampu memperkuat semangat petani sekaligus menjaga produktivitas pertanian sebagai salah satu penopang kebutuhan pangan masyarakat.

Polres Jombang Salurkan 6,8 Ton Benih Jagung untuk 11 Kelompok Tani di Diwek

0

JOMBANG,TelusuR.ID – Sebanyak 6.870 kilogram benih jagung dari Kementerian Pertanian disalurkan kepada 11 kelompok tani di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Kamis (9/7/2026). Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat produksi jagung sekaligus mendukung target ketahanan pangan nasional.

Benih jagung diserahkan melalui Polres Jombang kepada kelompok tani di Desa Bulurejo dan Desa Keras. Penyaluran dilakukan di Mapolsek Diwek oleh Kapolsek Diwek AKP Achmad Darul Hudha yang mewakili Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan.

Sebanyak 11 kelompok tani menerima bantuan dengan total 6,87 ton benih. Bantuan itu diharapkan segera ditanam agar dapat meningkatkan produktivitas pertanian pada musim tanam mendatang.

Kapolsek Diwek AKP Achmad Darul Hudha mengatakan keterlibatan Polri dalam penyaluran bantuan merupakan bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.

“Benih ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para petani sehingga mampu meningkatkan hasil produksi dan memperkuat ketahanan pangan di daerah,” ujarnya.

Penyaluran bantuan turut disaksikan perwakilan PT Botani Seed Indonesia, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Diwek, Bhabinkamtibmas Desa Bulurejo dan Desa Keras, serta para ketua kelompok tani penerima.

Para petani menyambut positif bantuan tersebut. Mereka berharap benih yang diterima dapat segera ditanam untuk meningkatkan hasil panen sekaligus menekan biaya produksi pada musim tanam berikutnya.

Program penyaluran benih jagung merupakan bagian dari kolaborasi Kementerian Pertanian dengan Polri dalam mendukung peningkatan produksi komoditas pangan strategis. Pemerintah terus mendorong optimalisasi sektor pertanian sebagai salah satu langkah menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional.

Spiritualitas sebagai Jalan Keluar dari Negeri yang Kehilangan Nurani

0

Spiritualitas sebagai Jalan Keluar dari Negeri yang Kehilangan Nurani

Oleh: Jacob Ereste

JAKARTA,TelusuR.ID – Bangsa ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan undang-undang, tidak pula miskin aturan. Yang semakin langka justru manusia yang mampu menjaga etika ketika memiliki kekuasaan, menjaga moral ketika berhadapan dengan uang, serta memelihara akhlak ketika godaan jabatan datang menawarkan segala kemewahan.

Karena itu, masyarakat adat, generasi muda, aktivis, politisi, pengusaha, birokrat hingga kaum profesional perlu kembali menekuni laku spiritual. Bukan sekadar menjalankan ritual keagamaan yang berhenti di rumah ibadah, melainkan menghidupkan kesadaran batin sebagai pagar agar manusia tidak tergelincir menjadi budak hasrat.

Hari ini ukuran kehormatan telah bergeser. Kekayaan menjadi ukuran kemuliaan. Jabatan dipuja seolah menjadi bukti kecerdasan. Popularitas diperlakukan seperti mahkota kebijaksanaan. Padahal, semua itu hanyalah topeng yang sering kali menutupi kemiskinan jiwa. Di balik pakaian mewah dan pidato yang memukau, tidak sedikit yang menyembunyikan watak serakah, culas, bahkan gemar mengkhianati amanat rakyat.

Di negeri yang sedang mabuk materi, kepalsuan justru tampil lebih meyakinkan daripada kejujuran. Mereka yang pandai memainkan citra sering memperoleh penghormatan lebih tinggi dibanding mereka yang bekerja dalam diam. Seolah-olah bangsa ini telah kehilangan kemampuan membedakan emas dengan kuningan yang dipoles mengilap.

Ironisnya, pengkhianatan kini tidak lagi dianggap aib. Ia berubah menjadi strategi. Kesetiaan dipandang kebodohan, sementara kelicikan dipuji sebagai kecerdikan. Banyak yang dahulu berteriak membela rakyat, tetapi setelah mencicipi kursi kekuasaan, justru menjadi bagian dari mesin yang menindas rakyat itu sendiri. Jalan perjuangan berubah menjadi jalan pintas menuju kemewahan.

Di titik inilah spiritualitas menemukan relevansinya. Spiritualitas bukan pelarian dari kenyataan, melainkan benteng agar manusia tetap tegak ketika badai godaan datang menghantam. Tanpa fondasi batin yang kokoh, idealisme akan mudah dijual dengan harga yang sangat murah. Integritas menjadi barang lelang. Nurani berubah menjadi komoditas.

Leluhur Nusantara sebenarnya telah mewariskan banyak penyangga moral. Orang Bugis mengenal siri’, masyarakat Lampung memiliki piil pesenggiri, sementara berbagai suku lain menyimpan kearifan yang sama: menjaga martabat lebih penting daripada mengejar keuntungan sesaat. Sayangnya, warisan luhur itu perlahan terkikis oleh budaya instan yang mengajarkan bahwa keberhasilan cukup diukur dari saldo rekening dan panjangnya iring-iringan kendaraan.

Teknologi yang semestinya memudahkan kehidupan justru sering mempercepat penyebaran kerakusan. Informasi mengalir deras, tetapi kebijaksanaan berjalan terseok-seok. Manusia semakin cerdas mengoperasikan mesin, tetapi semakin gagap mengendalikan dirinya sendiri. Kecanggihan digital tidak otomatis melahirkan kedewasaan moral.

Akibatnya, politik berubah menjadi panggung sandiwara yang sulit dibedakan antara lakon dan kenyataan. Demokrasi dipenuhi transaksi, hukum dipenuhi negosiasi, sementara ekonomi lebih sibuk memperkaya segelintir orang daripada menghadirkan keadilan. Bangsa ini seperti kapal besar yang nahkodanya saling berebut kemudi, tetapi lupa menentukan arah pelayaran.

Kondisi seperti inilah yang pernah dibaca jauh hari oleh Ronggowarsito melalui peringatan tentang zaman edan. Sayangnya, banyak orang hanya mengutip kalimatnya sebagai ungkapan budaya, tetapi mengabaikan makna yang sesungguhnya. Kegilaan zaman bukan hanya ketika orang berbuat salah, melainkan ketika kesalahan telah diterima sebagai kewajaran. Ketika korupsi dianggap risiko jabatan. Ketika dusta dipoles menjadi pencitraan. Ketika pengkhianatan dipasarkan sebagai kecakapan politik.

Dalam keadaan demikian, penegakan hukum terasa seperti menegakkan benang basah. Bukan karena hukum tidak tersedia, tetapi karena nurani para penegaknya semakin kehilangan daya hidup. Hukum akhirnya tunduk kepada kekuasaan, bukan kepada keadilan. Timbangan tidak lagi mencari kebenaran, melainkan menghitung siapa yang paling kuat dan paling mampu membeli putusan.

Barangkali karena itulah kerusakan politik tidak cukup diselesaikan oleh para politikus. Kekacauan ekonomi tidak otomatis pulih hanya dengan rumus-rumus ekonomi. Carut-marut hukum tidak akan selesai jika para penegak hukumnya ikut menikmati kerusakan yang mereka biarkan tumbuh. Bahkan kehidupan beragama pun perlu bercermin, sebab rumah-rumah ibadah semakin ramai, tetapi kejujuran justru semakin sunyi.

Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar pergantian pemimpin. Yang jauh lebih mendesak adalah pergantian kesadaran. Sebab pergantian wajah tanpa perubahan nurani hanya akan melahirkan penguasa baru dengan kebiasaan lama.

Karena itu, jalan spiritual menjadi ikhtiar yang layak ditempuh. Bukan untuk melarikan diri dari persoalan, melainkan untuk merajut kembali tenunan bangsa yang telah koyak oleh keserakahan, egoisme, dan pengkhianatan. Seperti kain tua yang sobek di banyak sisi, Indonesia tidak cukup ditambal dengan pidato atau slogan. Ia membutuhkan tangan-tangan yang sabar, hati yang jernih, dan keikhlasan untuk menjahitnya kembali.

Mungkin sudah saatnya bangsa ini melakukan ruwat bumi, bukan sekadar sebagai ritual budaya, melainkan sebagai gerakan nasional untuk membersihkan cara berpikir, cara berpolitik, cara berhukum, dan cara memandang sesama manusia. Sebab kerusakan terbesar negeri ini bukan berada di gedung-gedung pemerintahan atau ruang-ruang sidang, melainkan di dalam hati manusia yang perlahan kehilangan rasa malu kepada sesama dan kepada Tuhan.

Banten, 8 Juli 2026

Penghapusan Berita Digital vs Kemerdekaan Pers Jadi Sorotan dalam Diskusi di Surabaya

0

SURABAYA, TelusuR.id — Upaya menghapus konten dari jagat internet kini semakin sering dilakukan oleh berbagai pihak seiring dengan meningkatnya kesadaran dan perhatian masyarakat terhadap reputasi digital. Namun, fenomena ini mulai memicu persoalan serius ketika permintaan penghapusan tersebut menyasar produk berita yang dihasilkan melalui proses kerja jurnalistik.

Kondisi dilematis tersebut memunculkan perdebatan sengit mengenai batas antara hak individu dalam menjaga nama baik (right to be forgotten) dengan kemerdekaan pers dalam menyajikan informasi bagi publik. Banyak pihak menilai arus penghapusan konten secara serampangan berpotensi mengaburkan catatan sejarah dan arsip informasi publik.

Guna mengupas tuntas polemik tersebut, Rumah Literasi Digital (RLD) Surabaya berkolaborasi dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya dan Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN) siap menggelar diskusi publik. Forum bertajuk Jagongan Bareng “Penghapusan Konten Digital Vs Kemerdekaan Pers” ini akan diselenggarakan pada Jumat, 10 Juli 2026.

Diskusi menarik ini dijadwalkan mulai pukul 13.00 WIB dan bertempat di Hanaka Social Space, Jalan Flores Nomor 18, Ngagel, Surabaya. Forum tersebut sengaja dibuka untuk umum guna menjaring berbagai perspektif, baik dari kalangan pembuat berita maupun masyarakat sebagai konsumen informasi.

Direktur Rumah Literasi Digital (RLD), Andika Ismawan, menilai perkembangan teknologi digital yang masif membawa konsekuensi dan tantangan baru dalam pengelolaan informasi. Menurutnya, perlindungan terhadap reputasi pribadi memang penting, tetapi kepentingan publik atas informasi yang diproduksi melalui mekanisme jurnalistik juga tidak boleh diabaikan.

“Setiap orang berhak menjaga reputasi digitalnya. Namun ketika permintaan penghapusan diarahkan pada karya jurnalistik yang disusun berdasarkan fakta dan melalui proses pers, persoalannya menjadi lebih kompleks,” ujar Andika Ismawan dalam keterangan persnya menjelang acara.

Andika menambahkan, kompleksitas persoalan ini muncul karena karya pers berkaitan erat dengan hak konstitusional masyarakat untuk memperoleh informasi yang valid. Ketika sebuah berita dihapus begitu saja dari ruang siber, ada hak publik yang berpotensi ikut terpotong atau hilang.

Oleh karena itu, forum Jagongan Bareng ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Harapannya, persoalan sensitif mengenai penghapusan konten digital ini dapat dibahas secara menyeluruh, objektif, dan tidak hanya melihat dari satu sudut pandang saja.

“Kami ingin menghadirkan diskusi yang melibatkan pemerintah, akademisi, insan pers, pegiat digital, dan masyarakat. Harapannya, lahir pemahaman bersama tentang bagaimana melindungi hak individu tanpa mengikis kemerdekaan pers,” tutur Andika menjelaskan tujuan utama diskusi.

Lebih lanjut, Andika mengingatkan bahwa setiap keberatan atau komplain terhadap suatu pemberitaan sejatinya telah memiliki jalur penyelesaian resmi. Mekanisme tersebut telah diatur secara ketat dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjadi payung hukum media di Indonesia.

Jalur hukum yang sah tersebut mencakup penggunaan hak jawab oleh pihak yang dirugikan, pengajuan hak koreksi, hingga mekanisme penyelesaian sengketa melalui Dewan Pers. Melalui koridor ini, penyelesaian masalah pemberitaan dinilai jauh lebih elegan dan edukatif ketimbang melakukan penghapusan paksa.

“Forum ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman bahwa perlindungan reputasi digital dan kemerdekaan pers seharusnya berjalan beriringan. Yang diperlukan adalah tata kelola yang seimbang sehingga hak semua pihak tetap terlindungi,” kata Andika menegaskan esensi keseimbangan regulasi siber.

Diskusi publik ini akan menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidangnya, di antaranya Ketua Forum Pemred SMSI Jawa Timur, H. Samiadji Makin Rahmat, S.Pd., S.H., M.H., serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.Si., M.IP.

Selain dari unsur jurnalis dan pemerintah, sudut pandang akademis akan diwakili oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Dr. Drs. Harliantara, M.Si., bersanding dengan Ketua Rukun Warta RLD, Fatchur Rohman. Rangkaian acara seru ini nantinya akan dipandu oleh Dewan Penasehat PFI Surabaya, Totok J. Sumarno.

Agenda Jagongan Bareng ini sukses terselenggara atas kerja sama solid RLD, PFI Surabaya, dan Forkom Jurnalis Nahdliyin. Acara ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai mitra strategis, termasuk PTPN I Regional 5, korporasi logistik, firma hukum, hingga pelaku usaha lokal di Jawa Timur.

Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk usai Rem Mendadak di Simpang Mlaras Jombang

0

JOMBANG,TelusuR.ID — Kecelakaan maut terjadi di simpang empat Jalan Raya Desa Mlaras, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Kamis (9/7/2026) sore. Seorang pengendara sepeda motor tewas setelah ditabrak truk dari belakang saat mengerem mendadak di kawasan persimpangan.

Korban diketahui bernama Irmansyah (34), warga Dusun Ingas Pendowo, Desa Sumobito. Ia mengalami luka berat dan dinyatakan meninggal dunia setelah mendapat penanganan di RSUD Jombang.

Sementara penumpangnya, Nenik Yuningsih (36), hanya mengalami luka ringan dan menjalani rawat jalan. Pengemudi truk Mitsubishi bernomor polisi S-9116-UZ, Tudiono (57), dilaporkan selamat tanpa mengalami luka.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal dan keterangan saksi, kecelakaan bermula sekitar pukul 15.15 WIB. Saat itu Honda Vario yang dikendarai korban melaju dari arah timur menuju barat dan berusaha mendahului kendaraan di depannya.

Ketika memasuki simpang empat, tiba-tiba muncul sepeda motor lain yang hendak menyeberang. Korban spontan mengerem untuk menghindari tabrakan.

 

Di saat bersamaan, truk Mitsubishi yang melaju searah tepat di belakang korban tidak memiliki cukup ruang untuk berhenti. Benturan pun tak terhindarkan. Bagian belakang sepeda motor dihantam truk hingga pengendara dan penumpangnya terjatuh.

Akibat kecelakaan tersebut, Irmansyah mengalami luka fatal dan meninggal dunia. Sementara Nenik selamat dengan luka ringan. Kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp1 juta.

Petugas Satlantas Polres Jombang langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan barang bukti, meminta visum terhadap korban, serta memeriksa sejumlah saksi. Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan dan mengingatkan pengendara agar menjaga jarak aman, terutama saat melintas di kawasan persimpangan yang rawan terjadi pengereman mendadak.

Bakti TNI Kebut Pembangunan Jembatan Gantung Idanoho, Akses Dua Desa di Nias Selatan Segera Kembali Normal

0

NIAS SELATAN, TelusuR.ID – Pembangunan Jembatan Gantung Sungai Idanoho di Desa Soto’o Hilisimaetano, Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, terus dikebut. Infrastruktur sepanjang 90 meter itu diproyeksikan segera memulihkan akses utama yang selama ini menghubungkan Desa Soto’o Hilisimaetano dengan Desa Hiliaurifa.

Jembatan tersebut dibangun melalui Program Bakti TNI untuk Rakyat sebagai bagian dari dukungan terhadap percepatan pembangunan infrastruktur di daerah. Kehadirannya diharapkan menjawab kebutuhan warga akan akses transportasi yang lebih aman setelah jembatan lama mengalami kerusakan akibat faktor usia.

Selama bertahun-tahun, kerusakan jembatan menjadi hambatan bagi aktivitas masyarakat. Warga kesulitan mengangkut hasil pertanian, anak-anak harus melewati jalur yang kurang aman untuk berangkat ke sekolah, sementara akses menuju fasilitas kesehatan juga menjadi lebih terbatas.

Memasuki pekan ini, progres pembangunan telah mencapai 79 persen. Pekerjaan difokuskan pada pemasangan pagar jembatan, pekerjaan pasangan batu, serta pengecatan sebagai tahap akhir sebelum jembatan dapat difungsikan.

Pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh personel Yonif TP 908/Gajah Dompak, Yonif TP 905/TS, Yonzipur I/DD, Denzibang, Koramil 12/Teluk Dalam Kodim 0213/Nias bersama masyarakat setempat. Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam mempercepat penyelesaian proyek sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap infrastruktur yang dibangun.

Kapendam I/Bukit Barisan Kolonel Inf Sandy mengatakan pembangunan Jembatan Gantung Idanoho tidak hanya bertujuan memperbaiki konektivitas antarwilayah, tetapi juga membuka kembali akses ekonomi dan pelayanan dasar bagi masyarakat.

“Jembatan Gantung Sungai Idanoho bukan sekadar penghubung dua desa, tetapi menjadi harapan bagi masyarakat. Kehadirannya diharapkan memperlancar mobilitas warga, mempercepat distribusi hasil pertanian, memudahkan akses pendidikan dan layanan kesehatan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).

Menurut Sandy, Program Bakti TNI merupakan bentuk dukungan TNI AD terhadap upaya pemerintah mempercepat pembangunan di daerah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur. Melalui pembangunan fasilitas yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, TNI ingin memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh warga.

Apabila rampung sesuai target, jembatan tersebut akan menjadi jalur penghubung utama yang diharapkan mempercepat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di kedua desa serta mengurangi risiko yang selama ini dihadapi warga saat melintasi sungai.

Bupati Warsubi Lantik 81 Pejabat, Tegas Minta Tak Berlama-lama Beradaptasi: Warga Menunggu Kerja Nyata

0

81 Pejabat Dilantik, Bupati Warsubi Minta Tak Larut Beradaptasi dan Segera Tuntaskan Persoalan Warga

JOMBANG, TelusuR.ID – Pemerintah Kabupaten Jombang merombak struktur birokrasi dengan melantik 81 pejabat administrator dan pengawas di Pendopo Kabupaten Jombang, Kamis (9/7/2026). Pergantian ini diharapkan mempercepat kinerja organisasi perangkat daerah sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Pelantikan dipimpin langsung Bupati Jombang Warsubi dan dihadiri Wakil Bupati Salmanudin, Sekretaris Daerah Agus Purnomo, serta jajaran pimpinan perangkat daerah.

Sebanyak 81 pejabat yang dilantik terdiri atas 25 Pejabat Administrator dan 56 Pejabat Pengawas. Mereka akan mengisi sejumlah posisi strategis, mulai dari camat, kepala bidang, sekretaris perangkat daerah, hingga kepala UPT.

Dalam arahannya, Warsubi menegaskan bahwa mutasi dan rotasi jabatan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan bagian dari upaya memperkuat organisasi agar birokrasi bekerja lebih cepat, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Selamat kepada seluruh pejabat yang hari ini dilantik. Amanah ini harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tunjukkan dedikasi, integritas, loyalitas, serta hasil kerja yang benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Warsubi.

Menurutnya, penataan jabatan merupakan bagian dari evaluasi organisasi yang bertujuan meningkatkan efektivitas pemerintahan. Karena itu, setiap pejabat dituntut segera memahami tugas dan tantangan di tempat kerja yang baru.

Warsubi mengingatkan agar para pejabat tidak menghabiskan waktu terlalu lama untuk beradaptasi. Ia meminta seluruh aparatur segera bekerja menyelesaikan persoalan yang menjadi tanggung jawab masing-masing.

“Jangan terlalu lama beradaptasi. Pahami persoalan di wilayah kerja, ambil langkah yang diperlukan, dan fokus menyelesaikan pekerjaan. Masyarakat menunggu pelayanan yang cepat dan berkualitas,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya kerja kolaboratif di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jombang. Menurutnya, pelayanan publik tidak akan optimal jika setiap perangkat daerah masih bekerja secara sektoral.

“Ciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung, tinggalkan ego sektoral, dan perkuat sinergi antarlembaga agar pelayanan kepada masyarakat semakin efektif,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Warsubi mengajak seluruh pejabat yang baru dilantik menjaga integritas, profesionalisme, dan etika dalam menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara. Ia berharap formasi baru tersebut mampu mempercepat terwujudnya visi pembangunan daerah, yakni Jombang Maju dan Sejahtera untuk Semua.

Dari total pejabat yang dilantik, sejumlah posisi strategis mengalami pergantian, di antaranya Camat Ngoro dijabat Usman, Camat Bareng dijabat Tridoyo Purnomo, Camat Ploso dijabat Faizal Ariawan HS, Camat Mojoagung dijabat Arief Hidajat, Camat Gudo dijabat Wiwik Eko Ratna Sulistyaningsih, Camat Kudu dijabat Khoirul Huda, serta Camat Kesamben dijabat Yanuar Pristyawan Wijaya. Selain itu, dilakukan pula pengisian sejumlah jabatan kepala bidang, sekretaris perangkat daerah, lurah, kepala seksi, kepala subbagian, hingga kepala UPT di berbagai organisasi perangkat daerah.

Daftar 81 Pejabat yang Dilantik

  1. Ahmad Rofiq As’ari, S.T. – Kepala Bagian Pengadaan Barang/Jasa Sekretariat Daerah.
  2. Dodik Agus Hariyanto, S.T. – Kepala Bidang Pengembangan Kawasan Permukiman Dinas Perumahan dan Permukiman.
  3. Usman, S.E., M.Si. – Camat Ngoro.
  4. Tridoyo Purnomo, S.STP. – Camat Bareng.
  5. Faizal Ariawan HS, S.STP. – Camat Ploso.
  6. Dodik Mardiyanto, S.E. – Sekretaris Kecamatan Megaluh.
  7. Arief Hidajat, S.H., M.Si. – Camat Mojoagung.
  8. Wiwik Eko Ratna Sulistyaningsih, S.STP., M.M. – Camat Gudo.
  9. Khoirul Huda, S.Sos. – Camat Kudu.
  10. Ade Yudha Kusuma, S.STP., M.E. – Sekretaris Kecamatan Plandaan.
  11. Muhammad Irfan Ramadhan, S.STP., M.AP. – Lurah Kaliwungu.
  12. Agus Sumartono, S.H. – Kasi Trantib Kecamatan Peterongan.
  13. Arfan Budi Sucahyo, S.E., M.KP. – Sekretaris Kecamatan Bareng.
  14. Astika Cendhana Wangi, S.STP., M.Si. – Kabid Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Ekonomi, Sosial Budaya, Agama pada Bakesbangpol.
  15. Febrianti Indriana, M.M. – Kabid Humas dan Komunikasi Publik Diskominfo.
  16. Moh. Hermianto, S.E. – Kasubbag Protokol Setda.
  17. Tony Wartono, S.E. – Kasi PMD Kecamatan Kesamben.
  18. Syamsul Ma’arif, S.T. – Sekretaris Kecamatan Bandarkedungmulyo.
  19. Heri Setyobudi, S.P., M.M. – Kabid Pengembangan dan Distribusi Disdagrin.
  20. Irsam Dian Bachtiar, S.H. – Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD.
  21. Yanuar Pristyawan Wijaya, S.Kom., M.KP. – Camat Kesamben.
  22. Wahyu Teguh Wicaksono, S.STP. – Sekretaris Kecamatan Jombang.
  23. M. Yasak Yahdillah, S.H., M.M. – Sekretaris Kecamatan Mojoagung.
  24. Agung Setiaji, S.T., M.E. – Sekretaris Dinas PUPR.
  25. M. Arief Rahman Halim, S.T., M.E. – Kabid Bina Marga Dinas PUPR.
  26. Ana Arisanti, S.E., M.Si. – Irban Keuangan dan Aset Inspektorat.
  27. Rhizma Eriko Putro, S.H., M.H. – Kabid Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi.
  28. Putri Arina Hayu, S.E.Ak., M.E. – Kabid Agribisnis Dinas Peternakan.
  29. Hikha Ratri Widyashanti, S.Sos. – Kabid Sarana Perdagangan dan Barang Pokok Penting.
  30. Ratih Ratnawati, S.AP. – Kabid Politik Dalam Negeri dan Ormas Bakesbangpol.
  31. Atik Suprihandini, S.IP. – Kasubbag Rumah Tangga Setda.
  32. Ervina Dwi Jayanti, S.H. – Kasi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SD.
  33. Hadi Suprastyono, S.IP., M.E. – Kasi Kelembagaan dan Sarpras PAUD/PNF.
  34. Kusnul Kotimah, S.E. – Kasubbag Keuangan dan Aset Disdagrin.
  35. Syaifuddin, S.E. – Kasubbid Pengembangan dan Pengolahan Data Bapenda.
  36. Alex Suharto, S.E. – Kasubbid Pendataan, Penetapan PBB-P2 dan BPHTB.
  37. Ratih Ayu Puspitasari, S.AP., M.M. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Dinas Perpustakaan.
  38. Eko Rusdiyono, S.H. – Kasubbag Umum, Kepegawaian, Keuangan dan Aset Dinsos.
  39. Devi Reista Priamitasari, S.H. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Dinas PUPR.
  40. Siti Mardiani, S.T., M.KP. – Kasubbag Umum, Kepegawaian, Keuangan dan Aset Disnaker.
  41. Yeni Fidiasari, S.H., M.M. – Kasi Satlinmas Satpol PP.
  42. Yan Ari Santoso, S.E. – Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP.
  43. Aan Anata, S.H., M.H. – Kasi Bina Potensi Masyarakat Satpol PP.
  44. Moh. Shafuan Isdianto, S.Sos. – Kasi Operasi dan Pengendalian Satpol PP.
  45. Agung Wijaya, S.H. – Kasi Trantib Kecamatan Wonosalam.
  46. Slamet Mardiin, S.E. – Kasi Sosial Budaya Kecamatan Bareng.
  47. Ririn Zuli Farianti, S.E. – Kasubbag Keuangan, Program dan Evaluasi Kecamatan Bareng.
  48. Dewi Rahmawati, S.E. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Kecamatan Bareng.
  49. Ainurrofiq, S.IP. – Kasi Tata Pemerintahan Kecamatan Bareng.
  50. Linda Muzayanah, S.S. – Kasubbag Keuangan, Program dan Evaluasi Kecamatan Diwek.
  51. Reza Yulian Anggoro, S.E., M.M. – Kasi PMD Kecamatan Bareng.
  52. Mokhammad Doni Bakhtiyar, S.E., M.E. – Kasi PMD Kecamatan Jombang.
  53. Antin Sukma Utami, S.E. – Kasi PMD Kecamatan Bandarkedungmulyo.
  54. Rahmanu Handiyoko Atmojo, S.H. – Lurah Jelakombo.
  55. Honggo Dewanto, A.Md.PK. – Kasubbag Evaluasi dan Pelaporan RSUD Jombang.
  56. Gladi Yudha Dwi Santoso, S.E. – Kasi Trantib Kecamatan Ngoro.
  57. Erik Sativa, S.IP. – Kasubbag Keuangan, Program dan Evaluasi Kecamatan Ngoro.
  58. Kustianik, S.M. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Kecamatan Kabuh.
  59. Agus Shofiyullah, S.Sos. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Kecamatan Diwek.
  60. Leary Tandi Banga, S.E. – Kasi Trantib Kecamatan Mojoagung.
  61. Dwi Yulianto Widodo, S.T. – Kasi Pengendalian Operasional Lalu Lintas Dishub.
  62. Bagus Rachmat, S.IP. – Kasi PMD Kecamatan Perak.
  63. Edi Santoso, S.Sos. – Kasubbag Keuangan, Program dan Evaluasi Kecamatan Perak.
  64. Slamet Riadi, S.E. – Kasubbag Keuangan, Program dan Evaluasi Kecamatan Peterongan.
  65. Muslan, S.Sos. – Kasi Trantib Kecamatan Plandaan.
  66. Suwanto, S.E. – Kasi Trantib Kecamatan Perak.
  67. Ardika Nugraha Akbar, S.E., M.E. – Kasubbag Keuangan dan Aset DPMD.
  68. Mas Iwan, S.E. – Kasi Sosial Budaya Kecamatan Kudu.
  69. Yusuf Hidayat, S.E. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Kecamatan Megaluh.
  70. Rina Indryani, S.Sos., M.M. – Kasi Tata Pemerintahan Kecamatan Ploso.
  71. Irwan Arhadiawan, S.H. – Kasi Perparkiran Dishub.
  72. Agus Sukariyanto, S.E. – Kasi Sosial Budaya Kecamatan Ngusikan.
  73. Andik Setiawan, S.H., M.AP. – Kasi Trantib Kecamatan Gudo.
  74. Agung Setio Widodo, S.KM. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Kecamatan Gudo.
  75. Arif Setyawan, S.Sos. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Kecamatan Ploso.
  76. Agung Darmawan, S.E. – Kepala UPT Rumah Potong Hewan Dinas Peternakan.
  77. Wenny Vebriane, S.T., M.Ling. – Kepala UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup.
  78. Andhita Widyaningtyas, S.T., M.T. – Kepala UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Cukir Dinas PUPR.
  79. Agung Triono, A.Md. – Kepala UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Perak Dinas PUPR.
  80. Trirahmatiningsih, S.Pd. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Kecamatan Mojoagung.
  81. Fairus Abadi, S.IP. – Kasubbag Umum dan Kepegawaian Kecamatan Sumobito.

Jembatan Perintis Garuda Dibangun, TNI Buka Akses dan Tumbuhkan Harapan Baru Warga Dusun Jati

0

BOYOLALI, TelusuR.id – Harapan masyarakat Dusun Jati, Desa Keyongan, Kecamatan Nogosari, untuk menikmati akses transportasi yang lebih layak mulai terwujud. Pembangunan Jembatan Perintis Garuda resmi dimulai sebagai upaya membuka keterisolasian wilayah sekaligus memperlancar aktivitas ekonomi dan sosial warga.

Komandan Kodim 0724/Boyolali, Letkol Inf Gunawan Nurbathin, mengatakan pembangunan jembatan merupakan wujud sinergi TNI bersama pemerintah daerah dalam menghadirkan infrastruktur yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Menurut dia, selama ini keterbatasan akses menjadi salah satu kendala yang dihadapi warga, baik untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, mengangkut hasil pertanian, maupun menjangkau layanan pendidikan dan kesehatan.

“Tujuan pembangunan jembatan ini adalah membuka keterisolasian wilayah sebagai penghubung antar dusun, desa hingga kecamatan. Dengan konektivitas yang lebih baik, kami berharap aktivitas masyarakat semakin lancar dan pertumbuhan ekonomi dapat meningkat,” ujar Gunawan.

Ia menjelaskan, keberadaan Jembatan Perintis Garuda diharapkan memangkas waktu tempuh sekaligus menekan biaya transportasi yang selama ini menjadi beban masyarakat. Akses yang lebih mudah juga diyakini akan memperluas peluang pemasaran hasil pertanian dan produk unggulan desa.

Bagi TNI, pembangunan infrastruktur bukan sekadar menghadirkan sarana fisik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan masyarakat. Karena itu, keterlibatan TNI dilakukan melalui semangat gotong royong dan pendampingan agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan warga.

“Ini merupakan wujud kehadiran negara melalui kolaborasi berbagai pihak agar pembangunan dapat dirasakan secara merata, termasuk oleh masyarakat yang berada di wilayah dengan akses terbatas,” kata Gunawan.

Pembangunan Jembatan Perintis Garuda melibatkan sinergi antara TNI, Pemerintah Kabupaten Boyolali, pemerintah desa, dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting agar pembangunan berjalan tepat sasaran, tepat waktu, dan memberi manfaat berkelanjutan.

Keberadaan jembatan ini diharapkan tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga menjadi pengungkit lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kecamatan Nogosari. Dengan akses yang semakin terbuka, hasil pertanian, perdagangan, serta aktivitas sosial masyarakat diyakini akan berkembang lebih baik, sejalan dengan upaya pemerataan pembangunan di Kabupaten Boyolali.(agus kemplu)

TNI dan Linmas Perkuat Patroli Malam, Jaga Rasa Aman Warga di Nguntoronadi

0

WONOGIRI, TelusuR.id – Saat sebagian besar warga beristirahat, aparat TNI bersama anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) tetap berkeliling memastikan situasi wilayah tetap aman. Upaya itu dilakukan melalui patroli malam yang digelar anggota Koramil 04/Nguntoronadi Kodim 0728/Wonogiri bersama Linmas di sejumlah desa di Kecamatan Nguntoronadi, Rabu (8/7/2026) malam.

Patroli dipimpin Peltu Lutfi dengan menyambangi sejumlah kantor desa dan titik-titik yang dinilai membutuhkan pemantauan. Selain memantau situasi keamanan, rombongan juga berdialog dengan petugas jaga untuk memperkuat koordinasi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurut Peltu Lutfi, patroli rutin menjadi bagian dari langkah preventif yang terus dilakukan aparat kewilayahan bersama pemerintah desa dan Linmas. Kehadiran aparat di lapangan diharapkan mampu mencegah munculnya gangguan keamanan sekaligus memberikan rasa tenang bagi masyarakat.

“Patroli ini merupakan upaya pencegahan dini. Kami juga mengajak masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan hal-hal yang mencurigakan kepada aparat desa, Linmas, maupun Babinsa, sehingga dapat ditangani lebih cepat,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Peltu Lutfi juga memberikan semangat kepada para petugas jaga desa agar tetap disiplin menjalankan tugas. Menurutnya, keamanan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.

Bagi TNI, patroli malam tidak sekadar memantau kondisi wilayah, tetapi juga menjadi sarana mempererat komunikasi dengan aparatur desa dan warga. Melalui interaksi langsung, berbagai informasi mengenai kondisi lingkungan dapat dihimpun lebih dini sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Kehadiran TNI bersama Linmas pada malam hari mendapat sambutan positif dari para petugas desa. Mereka menilai patroli bersama menjadi wujud sinergi dalam menjaga keamanan lingkungan sekaligus memperkuat koordinasi antarunsur di tingkat desa.

Patroli rutin tersebut diharapkan mampu menjaga situasi Kecamatan Nguntoronadi tetap aman dan kondusif. Sinergi antara TNI, Linmas, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun lingkungan yang tertib, nyaman, dan aman bagi seluruh warga.(agus kemplu)