Spiritualitas sebagai Jalan Keluar dari Negeri yang Kehilangan Nurani

0
16 views
Bagikan :

Spiritualitas sebagai Jalan Keluar dari Negeri yang Kehilangan Nurani

Oleh: Jacob Ereste

JAKARTA,TelusuR.ID – Bangsa ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan undang-undang, tidak pula miskin aturan. Yang semakin langka justru manusia yang mampu menjaga etika ketika memiliki kekuasaan, menjaga moral ketika berhadapan dengan uang, serta memelihara akhlak ketika godaan jabatan datang menawarkan segala kemewahan.

Karena itu, masyarakat adat, generasi muda, aktivis, politisi, pengusaha, birokrat hingga kaum profesional perlu kembali menekuni laku spiritual. Bukan sekadar menjalankan ritual keagamaan yang berhenti di rumah ibadah, melainkan menghidupkan kesadaran batin sebagai pagar agar manusia tidak tergelincir menjadi budak hasrat.

Hari ini ukuran kehormatan telah bergeser. Kekayaan menjadi ukuran kemuliaan. Jabatan dipuja seolah menjadi bukti kecerdasan. Popularitas diperlakukan seperti mahkota kebijaksanaan. Padahal, semua itu hanyalah topeng yang sering kali menutupi kemiskinan jiwa. Di balik pakaian mewah dan pidato yang memukau, tidak sedikit yang menyembunyikan watak serakah, culas, bahkan gemar mengkhianati amanat rakyat.

Di negeri yang sedang mabuk materi, kepalsuan justru tampil lebih meyakinkan daripada kejujuran. Mereka yang pandai memainkan citra sering memperoleh penghormatan lebih tinggi dibanding mereka yang bekerja dalam diam. Seolah-olah bangsa ini telah kehilangan kemampuan membedakan emas dengan kuningan yang dipoles mengilap.

Ironisnya, pengkhianatan kini tidak lagi dianggap aib. Ia berubah menjadi strategi. Kesetiaan dipandang kebodohan, sementara kelicikan dipuji sebagai kecerdikan. Banyak yang dahulu berteriak membela rakyat, tetapi setelah mencicipi kursi kekuasaan, justru menjadi bagian dari mesin yang menindas rakyat itu sendiri. Jalan perjuangan berubah menjadi jalan pintas menuju kemewahan.

Di titik inilah spiritualitas menemukan relevansinya. Spiritualitas bukan pelarian dari kenyataan, melainkan benteng agar manusia tetap tegak ketika badai godaan datang menghantam. Tanpa fondasi batin yang kokoh, idealisme akan mudah dijual dengan harga yang sangat murah. Integritas menjadi barang lelang. Nurani berubah menjadi komoditas.

Leluhur Nusantara sebenarnya telah mewariskan banyak penyangga moral. Orang Bugis mengenal siri’, masyarakat Lampung memiliki piil pesenggiri, sementara berbagai suku lain menyimpan kearifan yang sama: menjaga martabat lebih penting daripada mengejar keuntungan sesaat. Sayangnya, warisan luhur itu perlahan terkikis oleh budaya instan yang mengajarkan bahwa keberhasilan cukup diukur dari saldo rekening dan panjangnya iring-iringan kendaraan.

Teknologi yang semestinya memudahkan kehidupan justru sering mempercepat penyebaran kerakusan. Informasi mengalir deras, tetapi kebijaksanaan berjalan terseok-seok. Manusia semakin cerdas mengoperasikan mesin, tetapi semakin gagap mengendalikan dirinya sendiri. Kecanggihan digital tidak otomatis melahirkan kedewasaan moral.

Akibatnya, politik berubah menjadi panggung sandiwara yang sulit dibedakan antara lakon dan kenyataan. Demokrasi dipenuhi transaksi, hukum dipenuhi negosiasi, sementara ekonomi lebih sibuk memperkaya segelintir orang daripada menghadirkan keadilan. Bangsa ini seperti kapal besar yang nahkodanya saling berebut kemudi, tetapi lupa menentukan arah pelayaran.

Kondisi seperti inilah yang pernah dibaca jauh hari oleh Ronggowarsito melalui peringatan tentang zaman edan. Sayangnya, banyak orang hanya mengutip kalimatnya sebagai ungkapan budaya, tetapi mengabaikan makna yang sesungguhnya. Kegilaan zaman bukan hanya ketika orang berbuat salah, melainkan ketika kesalahan telah diterima sebagai kewajaran. Ketika korupsi dianggap risiko jabatan. Ketika dusta dipoles menjadi pencitraan. Ketika pengkhianatan dipasarkan sebagai kecakapan politik.

Dalam keadaan demikian, penegakan hukum terasa seperti menegakkan benang basah. Bukan karena hukum tidak tersedia, tetapi karena nurani para penegaknya semakin kehilangan daya hidup. Hukum akhirnya tunduk kepada kekuasaan, bukan kepada keadilan. Timbangan tidak lagi mencari kebenaran, melainkan menghitung siapa yang paling kuat dan paling mampu membeli putusan.

Barangkali karena itulah kerusakan politik tidak cukup diselesaikan oleh para politikus. Kekacauan ekonomi tidak otomatis pulih hanya dengan rumus-rumus ekonomi. Carut-marut hukum tidak akan selesai jika para penegak hukumnya ikut menikmati kerusakan yang mereka biarkan tumbuh. Bahkan kehidupan beragama pun perlu bercermin, sebab rumah-rumah ibadah semakin ramai, tetapi kejujuran justru semakin sunyi.

Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar pergantian pemimpin. Yang jauh lebih mendesak adalah pergantian kesadaran. Sebab pergantian wajah tanpa perubahan nurani hanya akan melahirkan penguasa baru dengan kebiasaan lama.

Karena itu, jalan spiritual menjadi ikhtiar yang layak ditempuh. Bukan untuk melarikan diri dari persoalan, melainkan untuk merajut kembali tenunan bangsa yang telah koyak oleh keserakahan, egoisme, dan pengkhianatan. Seperti kain tua yang sobek di banyak sisi, Indonesia tidak cukup ditambal dengan pidato atau slogan. Ia membutuhkan tangan-tangan yang sabar, hati yang jernih, dan keikhlasan untuk menjahitnya kembali.

Mungkin sudah saatnya bangsa ini melakukan ruwat bumi, bukan sekadar sebagai ritual budaya, melainkan sebagai gerakan nasional untuk membersihkan cara berpikir, cara berpolitik, cara berhukum, dan cara memandang sesama manusia. Sebab kerusakan terbesar negeri ini bukan berada di gedung-gedung pemerintahan atau ruang-ruang sidang, melainkan di dalam hati manusia yang perlahan kehilangan rasa malu kepada sesama dan kepada Tuhan.

Banten, 8 Juli 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini