TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 123

Mahasiswa Aktifis Buktikan : Organisasi Bukan Penghambat, Tetapi Laboratorium Karakter !

0

SURABAYA, TELUSUR.ID – Pandangan miring mengenai mahasiswa aktivis yang cenderung sulit lulus tepat waktu dan memiliki prestasi akademik rendah perlahan mulai terkikis. Ni Kadek Ayu Wardani, S.T., seorang lulusan Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang kini menjabat sebagai Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, membuktikan bahwa kedua dunia tersebut bisa berjalan beriringan.

Bagi perempuan yang akrab disapa Kadek ini, organisasi bukanlah penghambat, melainkan laboratorium karakter. Perjalanannya dimulai sejak tahun 2021, di mana ia tidak hanya fokus pada rumus-rumus teknik, tetapi juga menyelami dunia pergerakan dan kerohanian.

“Bagi saya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul atau berdebat, melainkan ruang pembentukan karakter. Di dalamnya, mahasiswa belajar memimpin dengan bijaksana dan mengasah kepekaan sosial,” ujar Ni Kadek Ayu Wardani.

Kiprah Kadek di dunia organisasi terbilang sangat padat. Tercatat pada tahun 2023, ia mengemban empat tanggung jawab sekaligus, mulai dari Bendahara Himpunan Mahasiswa Teknik Industri hingga peran di Unit Kegiatan Mahasiswa Kebangsaan. Puncaknya, ia terpilih sebagai Ketua DPC GMNI Surabaya Raya periode 2025–2027 melalui Konfercab XXIV.

Meski beban tanggung jawabnya besar, ia tetap mampu menyelesaikan program magang di industri besar seperti PT Bogasari Flour Mills dan PT Kerta Rajasa Raya pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan bahwa disiplin waktu adalah kunci utama.

“Pengalaman di luar ruang kelas justru memberikan pembelajaran menyeluruh yang melengkapi pengetahuan akademik. Kita diajak mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.

Kadek menyadari bahwa banyak orang tua yang khawatir jika anaknya terlalu aktif berorganisasi. Namun, ia menegaskan bahwa masa perkuliahan adalah fase emas untuk membentuk jati diri yang mandiri dan bertanggung jawab.

Keberhasilan Kadek menyandang gelar Sarjana Teknik (S.T) menjadi jawaban konkret atas keraguan tersebut. Ia menunjukkan bahwa indeks prestasi dan integritas organisasi dapat dicapai secara selaras.

Sebagai kader GMNI yang memegang teguh ideologi Marhaenisme, Kadek memiliki rencana besar untuk melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana (S2). Ia bercita-cita menjadi dosen agar tetap bisa menyuarakan amanah penderitaan rakyat melalui jalur intelektual.

Foto Langka 1925 Buktikan Bung Karno Lahir Di Ploso, Jombang !

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Pemerhati sejarah di Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif, kembali membuka lembaran sejarah terkait kelahiran Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau Bung Karno di Ploso Karesidenan Surabaya pada tanggal 6 Juni 1902. Kali ini, Cak Arif mempertontonkan sebuah foto lama tahun 1925 yang menjadi bukti kuat bahwa Bung Karno lahir di Ploso, Jombang.

Di dalam foto itu terdapat sosok yang bernama Mas Kiai Suro Sentono atau Kek Suro, yang ternyata menjadi saksi kelahiran Bung Karno. “Foto yang ada tulisan ‘Koenjoengan R.Djamiloen ke Broemboeng 1925 ini saya temukan di Kabuh Jombang. Raden Djamiloen adalah saudara Bupati Jombang Pertama, R. A. A Soeroadiningrat V,” kata Cak Arif, Rabu (17/02/2026) dikutip Telusur.id.

Cak Arif mengatakan, nama Kek Suro sekian lama menjadi misteri, namun akhirnya terbuka setelah dirinya mendapatkan cerita dari keluarga Situs Persada Soekarno Kediri. “Oleh pemilik foto yang bernama Pak Sulisyono Imam Jayaharja, ada beberapa sosok yang disebutkan. Ada Raden Djamiloen, Mbah Suro (Kek Suro), dan buyut Pak Sulisyono sendiri yang bernama Buyut Ilyas. Nah Buyut Ilyas ini Lurah Brumbung (Broemboeng) saat itu,” ungkap Cak Arif.

Maka ujar Cak Arif, tak heran jika Bung Karno lahir di Ploso yang saat itu masuk wilayah Karesidenan Surabaya, dan tidak jauh daerah Kabuh. “Jadi Bung Karno lahir di Ploso 6 Juni 1902, saksi kelahirannya adalah Kek Suro orang Kabuh. Ploso dan Kabuh wilayah yang berdekatan, ada di utara Brantas di Kabupaten Jombang,” terang Cak Arif.

Selang beberapa waktu, lanjut Cak Arif, dirinya bersama penelusur sejarah, Binhad Nurrohmat, membawa foto tersebut untuk dicarikan pembanding ke keluarga Raden Djamiloen di Sedayu, Gresik. Namun, keluarga Raden Djamiloen di Sedayu ternyata sama sekali tidak memiliki foto Raden Djamiloen, dan hanya memiliki lukisan masa tuanya.

“Sehingga apa yang diceritakan oleh pemilik foto, Sulisyono Imam Jayaharja adalah memang benar adanya,” ucap Cak Arif. Cak Arif mengaku dirinya bersama sejumlah penelusur sejarah sudah berkunjung ke Yogyakarta, tepatnya ke makam Kuncen, tempat Kek Suro dimakamkan.

Tak hanya itu, bagi Cak Arif, kejelasan tentang Kek Suro di foto yang dia temukan itu seperti ‘klik’ dengan narasi sejarah yang ada di buku biografi Bung Karno yang ditulis oleh penulis Amerika bernama Cindy Adams pada tahun 1966.

“Siapakah kakek tua yang dimaksud di buku itu, tak lain adalah Mas Kiai Suro Sentono atau Kek Suro, kerabat keluarga Bung Karno. Kek Suro lahir di Kabuh yang saat ini masuk Kabupaten Jombang,” pungkas Cak Arif.

Cak Arif berharap, narasi sejarah ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa Bung Karno memang lahir pada tanggal 6 Juni 1902 di Ploso, Karesidenan Surabaya. “Ploso kini masuk wilayah Kabupaten Jombang,” pungkas Cak Arif.

GUBERNUR JATIM BUKA RAKERNAS PERGUNU DAN JKSN: “JADIKAN ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN”

0

SURABAYA, TELUSUR.ID – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) sekaligus peresmian gedung Kantor Pusat JKSN, Sabtu (14/2).

Acara ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI Djamari Chaniago, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra, serta Wakil Walikota Surabaya Armuji.

Gubernur Khofifah mengapresiasi acara Rakernas Pergunu dan JKSN ini dan berharap agar peresmian Kantor Pusat JKSN bisa membawa manfaat besar dan seluruh jaringan kiai santri bisa menjadi penyejuk bangsa.

“Ini luar biasa. Ini adalah jaringan santri dan kiai Indonesia. Tentu kita berharap bahwa ini akan jadi rumah besar yang menyejukkan. Karena para ulama senantiasa menjadi penyejuk, pendamai, dan referensi kehidupan dengan penuh kebaikan,” kata Khofifah, dikutip Telusur.id, Minggu (16/2/2026).

Gubernur Khofifah menekankan pentingnya komitmen setiap anggota untuk menjadikan Islam rahmatan lil ‘alamin. “Di JKSN kita bersama tentu punya komitmen bagaimana ini menjadi rumah besar yang menyejukkan untuk semua pihak. Bagaimana dari sisi pikiran, kita punya global mindset. Tetapi dari sisi kebijakan, antara local wisdom dan global mindset,” terangnya.

Menko Djamari Chaniago hadir dengan menceritakan kisah heroisme peran santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia mengingatkan bagaimana KH Hasyim Asy’ari mencetuskan perlawanan yang memicu pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

“Inilah yang kita rayakan setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan. Semuanya bermula di Jawa Timur. Oleh karena itu, nyala api itu sampai redup. Harusnya semakin membesar, agar kita bisa mengabdi sepenuhnya kepada bangsa ini,” ujarnya.

Ketua Umum JKSN KH. Asep Saifuddin Chalim menegaskan posisi strategis pesantren dalam sejarah pendidikan dan perjuangan bangsa. “Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memberikan layanan pendidikannya pertama di Indonesia. Di saat-saat belum ada layanan pendidikan, pondok pesantren telah menjalankan pendidikan, dan pondok-pondok pesantren menjadi sentral perjuangan melawan penjajah di mana-mana,” ujarnya.

Dengan komitmen dan semangat yang sama, JKSN dan Pergunu siap menjadi garda terdepan dalam membangun bangsa dan negara yang lebih baik.

Dilantik Pimpin DMI Jombang, Gus Didin Serukan Pemimpin Kembali ke Masjid: “Jadilah Dirigen Shaf Berjamaah”

0

JOMBANG, TelusuR.ID — Pagi itu, suasana di Islami Center, areal Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni pelantikan pengurus, melainkan momentum yang sarat pesan moral. Di hadapan para tokoh agama, jajaran pengurus wilayah, dan perwakilan Pemerintah Kabupaten Jombang, Didin Ahmad Sholahudin—yang akrab disapa Gus Didin—resmi memimpin Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Jombang masa bakti 2025–2030.

Namun, yang mengemuka bukan sekadar ucapan terima kasih atau janji program kerja. Gus Didin justru menyampaikan ajakan yang tak biasa: mengundang para pemimpin daerah—mulai bupati, camat, hingga kepala desa—untuk kembali memakmurkan masjid dengan memberi teladan sholat berjamaah.

“Pemimpin itu dirigen. Kalau pemimpin hadir di masjid untuk sholat berjamaah, rakyat akan mengikuti. Itu cara paling efektif memakmurkan masjid,” tuturnya, Minggu (15/2), dengan nada tenang namun penuh penekanan.

Sebanyak 48 pengurus DMI dan sekitar 30 pengurus Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid-DMI resmi dikukuhkan. Amanah yang mereka pikul tidak ringan: mengembalikan masjid sebagai pusat peradaban.

Bagi Gus Didin, kemakmuran masjid tidak diukur dari megahnya kubah atau luasnya halaman. Ukurannya sederhana—hidupnya jamaah. Ia menegaskan, kehadiran pemimpin di tengah rakyat tak cukup di ruang rapat dan forum resmi, tetapi juga di saf sholat, berdiri sejajar tanpa sekat jabatan.

“Kalau pemimpin hadir bersama rakyat di masjid, rasa aman tumbuh. Persoalan sosial, kemiskinan, dan kelaparan bisa diurai bersama. Masjid itu pusat solusi,” ujarnya.

Pelantikan ini sekaligus menjadi ruang refleksi. Di tengah arus modernitas yang kian deras, masjid perlahan ditinggalkan sebagian generasi muda. Kegelisahan itu diakui, namun tak disesali. Justru dijadikan titik tolak perubahan.

Hampir separuh kepengurusan DMI Jombang kini diisi kalangan muda dari beragam elemen. Mereka diproyeksikan menggerakkan dua bidang strategis: digitalisasi masjid dan muharik masjid—motor penggerak aktivitas jamaah.

“Kita ingin anak muda kembali memiliki masjid. Bukan sekadar datang, tapi mengelola. Masjid harus hidup, bukan hanya menunggu waktu sholat,” katanya.

Pesan senada disampaikan Ketua PW DMI Jawa Timur, Sujak. Ia mengingatkan, masjid tidak boleh menjadi ruang sunyi yang hanya diisi mereka yang merasa telah selesai dengan urusan dunia.

“Masjid harus diramaikan generasi muda. Mereka adalah masa depan peradaban,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Asisten I Pemkab Jombang, Masduki Zakaria, yang hadir mewakili Bupati Warsubi, menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap penguatan peran masjid.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah. Masjid adalah pusat silaturahmi, pusat kesadaran sosial, dan kekuatan pembangunan masyarakat,” pungkasnya.

Di akhir acara, satu pesan terasa menggema lebih kuat dari yang lain: bila pemimpin mau melangkah lebih dulu ke masjid, rakyat tak akan ragu mengikuti. Dari saf yang rapat, mungkin peradaban kembali dirajut.(Din)

IWOI Jombang Rayakan Harlah ke-8 dan HPN 2026, Teguhkan Semangat Jurnalis Tepercaya untuk Demokrasi yang Sehat

0

Jombang, TelusuR.ID – Suasana hangat dan penuh semangat terasa di Kabupaten Jombang, Sabtu (14/2/2026), saat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Jombang menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-8 IWO Indonesia yang dirangkai dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.

Mengusung tema Trusted Journalist atau jurnalis tepercaya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, integritas dan profesionalisme adalah fondasi utama dalam menjaga demokrasi serta membangun peradaban informasi yang sehat.

Acara tersebut dihadiri jajaran pengurus dan anggota IWOI Jombang, unsur Forkopimda, perwakilan pemerintah daerah, hingga tokoh masyarakat. Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang refleksi bagi insan pers untuk terus memperbaiki kualitas, menjaga etika, dan memperkuat kepercayaan publik.

Ketua DPD IWOI Kabupaten Jombang, Agus Pamuji, dalam sambutan pembukanya menyampaikan apresiasi atas soliditas dan kerja keras seluruh anggota. Ia menilai keberhasilan terselenggaranya kegiatan tersebut tidak lepas dari kekompakan dan semangat kebersamaan.

“Kerja keras dan semangat teman-teman IWOI Jombang membuat kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. Kami juga sangat membutuhkan kritik dalam bingkai kebebasan pers yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Agus juga menyinggung masih adanya persoalan diskriminasi pelayanan dan informasi serta kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Menurutnya, pers harus hadir sebagai jembatan aspirasi sekaligus pengawal keadilan sosial.

“Kami berharap tidak ada lagi diskriminasi pelayanan dan informasi, serta tidak ada lagi kesenjangan sosial di Jombang. Pers harus hadir sebagai jembatan aspirasi masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, sambutan Kapolres Jombang Ardi Kurniawan yang diwakili Wakapolres Syarlis, menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Kapolres karena agenda persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Dalam pesannya, pihak kepolisian mengucapkan selamat Hari Pers Nasional kepada seluruh insan pers Jombang.

“Jurnalis adalah salah satu tonggak demokrasi dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kami berharap lahir jurnalisme yang terpercaya, objektif, dan berimbang,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian dan media dalam menyampaikan informasi serta menampung aspirasi masyarakat demi terciptanya situasi yang aman dan kondusif.

Pembina IWOI Jombang sekaligus Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Jombang, Syarif Hidayatullah atau yang akrab disapa Gus Sentot, turut menegaskan bahwa masyarakat kini sangat membutuhkan media yang kredibel dan dapat dipercaya.

“Masyarakat membutuhkan media yang menyajikan berita faktual, realistis, dan bisa dipertanggungjawabkan. Jurnalisme terpercaya adalah kebutuhan utama saat ini,” tuturnya.

Ia juga menyinggung pentingnya kolaborasi dalam pembangunan daerah, termasuk perhatian terhadap infrastruktur di Kabupaten Jombang yang dinilai belum sepenuhnya menjadi prioritas nasional.

“Kita perlu berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membangun Jombang lebih baik. Media memiliki peran besar dalam mengawal pembangunan,” jelasnya.

Gus Sentot berharap IWOI terus meningkatkan kualitas dan kuantitas jurnalis agar semakin profesional dan mampu menjadi mitra strategis pemerintah serta masyarakat.

Sambutan Bupati Jombang Warsubi yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Syaiful Anwar, juga menyampaikan ucapan selamat atas Harlah ke-8 IWO Indonesia dan Hari Pers Nasional 2026.

“Semoga IWOI semakin solid, profesional, dan terus menjadi bagian dalam membangun peradaban informasi yang sehat, khususnya di Kabupaten Jombang,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis dalam kehidupan demokrasi. Wartawan dituntut untuk kritis, berimbang, dan beretika dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Pers memiliki tugas penting untuk mencerdaskan masyarakat. Profesionalisme harus terus ditingkatkan,” katanya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, mendorong terwujudnya sinergi antara insan pers dengan aparat penegak hukum, eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

“Bersinergi bukan berarti anti kritik. Kami tetap membuka ruang kritik, selama bersifat konstruktif demi kemajuan bersama,” tegasnya.

Peringatan Harlah ke-8 IWO Indonesia dan Hari Pers Nasional 2026 ini menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan komitmen insan pers di Jombang untuk menjaga independensi, integritas, dan kualitas jurnalistik.

Di tengah tantangan era digital dan derasnya arus informasi, media memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat partisipasi publik, serta mengawal kebijakan agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.

Melalui momentum ini, IWOI Jombang menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi menciptakan iklim informasi yang sehat, edukatif, dan bertanggung jawab.

“Dengan semangat Hari Pers Nasional, mari kita wujudkan Jombang yang maju, aman, kondusif, dan sejahtera untuk semua,” pungkas Ketua Pelaksana IWOI.

Peringatan ini pun diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi sekaligus mitra strategis pembangunan daerah di Kabupaten Jombang. (Zafin)

Angkong Sederhana Jadi Saksi Kerja Nyata Prajurit TNI bersama Masyarakat & Ormas Di TMMD

0

Surakarta,TelusuR.ID – Hari ini Minggu di bawah Cuaca Mendung sinar Matahari tertutup awan, Dengan dorongan tenaga dan kebersamaan, anggota Satgas TMMD Sengkuyung Tahap I TA 2026 Kodim 0735/Surakarta tampak mendorong angkong berisi Pasir dan Tanah, menyusuri Jalan yang belum rata demi mempercepat sasaran Pembuatan Saluran Air sepanjang 327 M dengan Uditch ukuran 80 Cm x 80 Cm di lokasi sasaran Rt 05/06 Joyotakan Serengan Kota Surakarta, (15/02/2026)

Angkong sederhana itu menjadi saksi kerja nyata prajurit TNI bersama masyarakat. Tanpa ragu, mereka bergantian mengangkut pasir dan Tanah Urug, memastikan setiap tahapan Sasaran berjalan lancar. Keringat yang menetes menjadi bukti bahwa pengabdian bukan sekadar kata, melainkan aksi nyata di lapangan.

Danramil 03 Serengan Kapten Cba Tri Rusman Prasetyo S.Sos menyampaikan bahwa penggunaan alat sederhana seperti angkong justru mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ruh kegiatan TMMD ini.
“Tidak ada pekerjaan yang ringan tanpa kebersamaan. Dengan alat seadanya, kami bersama masyarakat tetap optimis menyelesaikan seluruh sasaran tepat waktu.

Kehadiran Satgas TMMD bukan hanya membangun fisik semata, tetapi juga membangun kedekatan dan kebersamaan dengan warga. Tawa ringan di sela kerja, saling bantu saat mengangkat material, hingga obrolan sederhana di pinggir lokasi menjadi warna tersendiri dalam proses Sasaran, Tegas Danramil

Melalui TMMD terus menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, membantu percepatan pembangunan serta mempererat kemanunggalan TNI dan rakyat. Angkong yang terus didorong itu bukan sekadar alat kerja, tetapi simbol semangat, ketulusan, dan pengabdian tanpa batas, Pungkas Danramil

(Agus Kemplu)

Pemerhati Sejarah Jombang Klaim Bung Karno Lahir di Ploso, Surabaya!

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Pemerhati sejarah di Jombang, Arif Yulianto menegaskan klaimnya bahwa Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau Bung Karno, lahir pada tanggal 6 Juni 1902 di Ploso, Jombang, yang saat itu bagian dari wilayah Karesidenan Surabaya.

Cak Arif, demikian kerab dipanggil ini membeberkan sejumlah data yang menguatkan hal tersebut, termasuk data tertulis ‘beseluit’ atau Surat Keputusan (SK) tugas ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso, Surabaya tertanggal 28 Desember 1901.

“Raden Soekeni mulai bertugas di Ploso pada tanggal 28 Desember 1901,” ujar Cak Arif asal Kesamben Jombang itu dikutip Telusur.id, Minggu (15/2/2026).

Kemudian, dia juga menunjukkan data tertulis lainnya yakni, tulisan tangan ayah Bung Karno, yang menuliskan jika Raden Soekarno lahir pada tanggal 6 Juni 1902.

Menurut dia, data tertulis lainnya yang menunjukkan bahwa Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902, termasuk arsip ITB atau THS, yang menuliskan bahwa Raden Soekarno lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1902.

Lantas, Cak Arif menjelaskan tentang data laporan pekerjaan sipil era Hindia-Belanda yang menunjukkan penyebutan Surabaja (Surabaya) untuk desa-desa yang saat ini masuk wilayah Kabupaten Jombang.

“Dengan penyebutan Surabaja atau Surabaya terhadap desa-desa yang sekarang masuk Kabupaten Jombang, menandakan pada masa itu wilayah Kabupaten Jombang memang bagian dari Karesidenan Surabaya,” bebernya.

Ia menegaskan, sangat masuk akal jika kelahiran Bung Karno pada 6 Juni tahun 1902 itu ditulis dengan Surabaya.”Jadi, Surabaya yang dimaksud adalah Ploso bagian dari Karesidenan Surabaya,” tandasnya.

Hal itu sesuai pula dengan narasi sejarah yang ditulis pada buku biografi Bung Karno berjudul ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia’ yang ditulis oleh penulis Amerika, Cindy Adams pada tahun 1966.

“Jadi yang dimaksud Surabaja di sini adalah Ploso, yang waktu itu masuk wilayah Karesidenan Surabaya, dan kini ikut (kabupaten) Jombang,” pungkasnya

Ini Dia Sosok Mbah Kasidi Yang Turut Mensukseskan TMMD 127 Di Desa Kembang Jatipurno

0

‎Wonogiri, TelusuR.ID – Mbah Kasidi (70), kakek yang usianya terbilang tidak muda untuk ukuran kerja fisik, dengan usia yang sudah kepala tujuh itu, laki-laki yang berprofesi sebagai petani itu masih tetap setia dan handal, ikut membangun jalan di desanya, Mbah Kasidi turut berperan aktif dalam mendukung penyelenggaraan program TMMD Reguler ke 127 Tahun 2026 Kodim 0728/Wonogiri.

‎Tidak mengingat usianya yang sudah tua, dirinya selalu semangat bersama warga dan anggota TNI mengerjakan sasaran fisik pengecoran jalan selama TMMD berlangsung. Semangat Mbah Kasidi dalam bergotong- royong di lokasi TMMD, bersama warga dan anggota Satgas TMMD patut diacungi jempol.

‎Mbah Kasidi, mengatakan, biarpun sudah tua, saya juga ingin membantu pak TNI yang bekerja membangun jalan di desa kami, katanya. “Sedikit capek tidak apa-apa besok juga sudah seger lagi, lebih lama menikmati hasil pengecoran jalan ini dari pada capek saya,”ujarnya sambil mencangkul batu koral. Sabtu (14/2/2026).

‎“Saya merasa senang kepada TNI yang selalu semangat dan kompak saat bekerja, bahkan sesekali mengajak bergurau warga yang ada di lokasi TMMD ini,” ungkap Mbah Kasidi. “Jadi saya ikut kerja membangun jalan,” tambahnya.

‎Alhamdulillah biarpun cuman hanya sedikit mencangkul batu koral , saya merasa senang bisa berbaur bersama-sama TNI,”pungkas Mbah Kasidi.

(Agus Kemplu)

Tebuireng Institute Gelar Diskusi Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī

0

JOMBANG, TELUSUR.ID -Pesantren Tebuireng bersama Tebuireng Institute menggelar roundtable discussion bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī” di Aula Lantai 3 Gedung KH Yusuf Hasyim, kompleks Tebuireng, Jombang, Sabtu (14/2/2026).

Kegiatan ini diikuti 59 peserta yang terdiri dari jajaran pimpinan pesantren, kepala unit pendidikan, tim pemikir dan pengembangan, pentashih dan penerjemah, tim Pusat Kajian Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari (Unhasy), serta tim Tebuireng Institute.

Forum dipimpin Ketua Tebuireng Institute, KH Achmad Roziqi, dan diawali dengan keynote speech Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Machfudz. Dalam pemaparannya, Gus Kikin menyinggung kebijakan pemerintah kolonial Belanda, seperti ordonansi pernikahan dan aturan tentang guru liar.

Menurut dia, lahirnya Nahdlatul Ulama tidak terlepas dari konteks penjajahan dan dinamika sosial-keagamaan saat itu. “NU berdiri di tengah berbagai persoalan umat, khususnya ketika masyarakat berada dalam tekanan kolonialisme,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya membaca kembali Al-Qānūn Al-Asāsī bukan hanya sebagai dokumen sejarah, melainkan sebagai pijakan nilai dan arah gerak organisasi yang tetap relevan di berbagai zaman.

Sejumlah akademisi dan peneliti turut menjadi narasumber, antara lain Prof Abd A’la, H M Nasruddin Anshoriy, Dr Rijal Mumazziq, Prof Masdar Hilmy, Dr Ahmad Ginanjar Sya’ban, dan Prof Achmad Muhibin Zuhri.

Mereka membahas genealogi tekstual dan institusional Al-Qānūn Al-Asāsī sejak awal abad ke-20 hingga perkembangan kontemporer di tubuh NU. Diskusi juga mengangkat interpretasi ayat-ayat rujukan, peta jalan transformasi, serta keterkaitan antara dinamika organisasi dan tradisi spiritual pesantren.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Melalui forum ini, Tebuireng Institute berharap lahir rumusan pemikiran yang mampu menjembatani warisan historis Al-Qānūn Al-Asāsī dengan tantangan organisasi di era modern.

Dekranasda Jombang Dilantik, Fokus Angkat Harkat Martabat Perajin Lokal

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Jombang Masa Bakti 2025–2030 resmi dilantik oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang Ibu Yuliati Nugrahani Warsubi di Pendopo Kabupaten Jombang. Pelantikan ini dihadiri oleh Ketua Dekranasda Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, S.E, serta Bupati Jombang yang diwakili oleh Salmanudin Wakil Bupati Jombang.

Momentum ini menandai komitmen pemerintah Kabupaten Jombang dalam mengangkat marwah perajin lokal agar karya mereka memiliki nilai jual tinggi di pasar nasional maupun internasional. Ketua Dekranasda Jatim, Arumi Bachsin Emil Dardak, memberikan apresiasi atas kesiapan Jombang dan berpesan agar para kepala OPD yang masuk dalam kepengurusan tidak menganggap tugas ini sebagai beban tambahan.

“Ngurusin Dekranasda itu tidak menambah beban. Justru ini adalah motor penggerak program Bapak/Ibu sekalian. Dengan kehadiran Ibu Ketua Dekranasda sebagai public figure dan orang terdekat pemegang kebijakan, impact dan kepercayaan masyarakat terhadap program UMKM akan jauh lebih tinggi,” ungkap Arumi, dikutip Telusur.id Sabtu (14/2/2026).

Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi menegaskan bahwa kepengurusan baru ini dirancang secara profesional dan inklusif. Fokus utama Dekranasda adalah memastikan karya tangan terampil masyarakat Jombang memiliki nilai jual tinggi dan dihargai di pasar luas.

Dekranasda akan bekerja sama dengan agen travel untuk mengarahkan peziarah Makam Gus Dur agar berkunjung ke galeri Dekranasda. Selain itu, seluruh kantor OPD dan Kecamatan diwajibkan memasang display produk unggulan di lobi kantor sebagai bentuk dukungan pemasaran langsung.

Wakil Bupati Jombang, Salmanudin, menekankan pentingnya kurasi yang ketat terhadap kualitas, kemasan, dan branding agar produk Jombang naik kelas. “Saya berharap Dekranasda melakukan kurasi terhadap kualitas, kemasan, dan branding agar produk kita naik kelas,” ujarnya.

Dengan pelantikan ini, Dekranasda Jombang siap mengangkat harkat martabat perajin lokal dan meningkatkan ekonomi kreatif di Kabupaten Jombang.