Redam Gonjang-ganjing Internal, KH Imam Jazuli dan Gus Muhaimin Sepakati Sinergi Baru NU-PKB

0
39 views
Bagikan :

CIREBON, TelusuR.id — Dinamika yang belakangan menghangat di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) memantik perhatian serius dari berbagai kalangan ulama dan tokoh nasional. Menanggapi situasi tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, Lc., M.A., menggelar pertemuan dan diskusi mendalam bersama Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Gus Muhaimin Iskandar.

Pertemuan yang berlangsung di Aston Cirebon pada Minggu malam (28/06/2026) tersebut menjadi ruang strategis untuk mengurai berbagai kemelut. Keduanya berdialog intens guna membahas berbagai dinamika terkini di lingkungan warga nahdliyin, sekaligus merumuskan upaya memperkuat sinergi antara Jam’iyah NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) demi kemaslahatan bangsa.

Dalam pandangan KH Imam Jazuli, Gus Muhaimin Iskandar bukan sekadar politisi, melainkan salah satu tokoh sentral di lingkungan NU yang memikul tanggung jawab besar. Menurutnya, pria yang akrab disapa Cak Imin tersebut memiliki beban historis, moral, dan ideologis yang melekat kuat terhadap keberlangsungan organisasi yang didirikan oleh para ulama terdahulu.

“Sebagai cicit salah satu muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama, Gus Muhaimin memiliki tanggung jawab biologis sekaligus ideologis untuk menjaga arah dan masa depan NU. Karena itu, setiap langkah dan pandangan beliau selalu menjadi perhatian nahdliyin dan tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang terjadi di tubuh NU,” ujar ulama yang akrab disapa Kiai Imjaz tersebut dalam keterangan pers, dikutip Telusur.id, Selasa (30/06/2026).

Suasana diskusi yang berlangsung hangat namun penuh keseriusan itu membedah berbagai tantangan dan disorientasi yang sedang dihadapi NU saat ini. Kiai Imjaz secara blak-blakan menyoroti adanya gesekan internal yang dinilai mulai menguras energi organisasi yang seharusnya berfokus pada kemaslahatan umat.

“Kami sepakat bahwa hiruk-pikuk, gonjang-ganjing, dan disorientasi di lingkungan organisasi ulama ini harus dihentikan. NU memiliki tugas sangat besar dalam bidang sosial, pendidikan, keagamaan, kesehatan, dan ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan jamaah. Jangan sampai energi organisasi habis untuk persoalan perebutan pengaruh dan kekuasaan internal,” tegas Kiai Imjaz.

Lebih lanjut, Kiai Imjaz menekankan pentingnya membangun formula hubungan baru yang lebih sehat dan produktif antara NU dan PKB. Ia mengingatkan bahwa kedua institusi ini lahir dari rahim sejarah dan akar nilai yang sama, yaitu Ahlussunnah wal Jamaah, sehingga semangat kebersamaan tersebut wajib dirawat secara dinamis.

“NU dan PKB lahir dari rahim perjuangan yang sama. Karena itu, hubungan keduanya harus ditata kembali secara dinamis, harmonis, dan sinergis. Yang diperlukan bukan saling menguasai atau mengkooptasi, melainkan saling menguatkan sesuai peran dan fungsi masing-masing,” urainya mengenai relasi kedua lembaga.

Menurut Kiai Imjaz, kunci utama dari keharmonisan ini terletak pada pembagian peran yang jelas (clear cut of role) antara struktur keagamaan dan partai politik. Langkah tersebut dinilai menjadi solusi terbaik untuk menjaga marwah sekaligus efektivitas perjuangan dari kedua institusi besar tersebut.

“NU harus fokus pada penguatan sosial, pendidikan, dakwah, keagamaan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara PKB menjalankan peran politik kebangsaan melalui jalur demokrasi dan kebijakan publik. Ketika masing-masing berjalan sesuai khittah dan tugasnya, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh nahdliyin,” imbuhnya.

Dari pertemuan tersebut, Kiai Imjaz mengaku selalu menemukan optimisme tinggi dalam visi Gus Muhaimin untuk membangkitkan kapasitas warga Nahdliyin. Ia melihat komitmen Menko Pemberdayaan Masyarakat tersebut bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan diwujudkan konkret lewat berbagai regulasi dan kebijakan negara.

Kiai Imjaz berharap semangat kolaborasi yang dibangun malam itu dapat menjadi teladan bagi seluruh elemen organisasi, baik di tingkat struktural NU maupun PKB. Ia mendorong agar kepentingan umat yang lebih luas selalu diletakkan di atas kepentingan kelompok maupun syahwat politik individu.

“Yang terpenting adalah bagaimana seluruh energi yang dimiliki NU dan PKB diarahkan untuk kemaslahatan umat, memperkuat pendidikan, ekonomi, dakwah, dan kesejahteraan nahdliyin. Di situlah esensi perjuangan yang harus terus dijaga bersama,” kata Kiai Imjaz menutup pandangannya.

Di sisi lain, Gus Muhaimin Iskandar melemparkan apresiasi tinggi kepada KH Imam Jazuli, yang ia sebut sebagai sosok kiai transformatif. Menko dalam kabinet Prabowo-Gibran ini menilai Kiai Imjaz sukses memadukan khazanah keilmuan Islam klasik dengan tantangan modernisasi zaman lewat model pendidikan di pesantrennya.

“Konsep transformasi pendidikan pesantren yang dikembangkan Kiai Imam Jazuli merupakan contoh nyata bagaimana pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi keislaman yang kuat. Ini harus jadi percontohan untuk pengembangan pendidikan di PBNU,” puji Gus Muhaimin.

Pertemuan bermakna tersebut kemudian diakhiri dengan prosesi simbolis yang sarat akan makna filosofis dan budaya. Kiai Imam Jazuli menyerahkan cinderamata istimewa dari ndalem pusaka Bina Insan Mulia Cirebon kepada Gus Muhaimin, berupa selembar Kiswah Ka’bah peninggalan tahun 1995 serta sebuah senjata tradisional.

Bukan sembarang pusaka, senjata tersebut adalah Keris Jangkung Pacar yang dibuat pada tahun 1611 dan pernah digunakan oleh raja Mataram. Dengan gagang istimewa dari batu giok berukir tokoh pewayangan BIMA, penyerahan keris antik dan mistis ini menjadi simbol dukungan moral kepada Gus Muhaimin sebagai sosok yang diproyeksikan memiliki cita-cita besar memimpin Nusantara.

Tinggalkan Balasan