Membuka Kotak Hitam 1996: Nestapa dan Nyanyian dari Bawah Tanah

0
24 views
Bagikan :

JAKARTA, TelusuR.id — Di tengah komitmen penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang masih terus bergulir dan mencari ujungnya, sebuah lembaran sejarah kelam kembali dibuka di hadapan publik. Buku berjudul Nyanyian Bawah Tanah: Kisah Penangkapan dan Penyiksaan Aktivis SMID/PRD 1996 resmi diluncurkan.

Suasana Kalia Restoran di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, mendadak khidmat saat acara Soft Launching dan Bedah Buku tersebut dimulai. Ruangan itu seolah bertransformasi menjadi ruang sidang sejarah yang mengetuk kembali kesadaran kolektif bangsa atas apa yang terjadi tiga dekade silam.

Buku ini bukan sekadar deretan teks biasa, melainkan sebuah rekaman atas nestapa dan keteguhan. Di dalamnya, terhampar kesaksian langsung dari para penyintas yang pernah merasakan dinginnya sel tahanan, penangkapan sewenang-wenang, hingga siksaan fisik yang tak berperikemanusiaan menjelang runtuhnya rezim Orde Baru.

Melalui penuturan jujur dari delapan orang penyintas, buku ini berupaya keras melawan lupa. Mereka mendokumentasikan setiap jengkal rasa sakit dan intimidasi, bukan untuk memelihara dendam, melainkan demi menyusun kepingan sejarah perjuangan demokrasi Indonesia yang sempat dikaburkan.

Hadir dalam acara tersebut, Ester Jusuf yang kini menjabat sebagai Tenaga Ahli Kementerian HAM RI. Bertindak sebagai keynote speaker, Ester memberikan penekanan khusus mengenai betapa pentingnya negara dan generasi muda untuk terus mendengarkan suara-suara dari masa lalu yang sempat dibungkam.

Panggung diskusi pun semakin hangat saat dua penulis yang juga merupakan penyintas peristiwa tersebut, Trio Marpaung dan Syani, membagikan pengalamannya. Suara mereka yang sesekali bergetar membawa ingatan seluruh hadirin kembali ke tahun 1996, masa di mana keberanian bersuara harus dibayar dengan keselamatan nyawa.

Kesaksian autentik dari Trio dan Syani tersebut kemudian dibedah secara tajam oleh para penanggap yang kompeten di bidangnya. Salah satunya adalah Uli Parulian Sihombing, S.H, M.H, yang hadir mewakili institusi Komisioner Komnas HAM RI untuk memberikan sudut pandang hukum dan kemanusiaan.

Tak kalah memikat, tokoh gerakan buruh dan ikon demokrasi Indonesia, Dita Indah Sari, juga turut memberikan catatan kritisnya. Dita, yang juga akrab dengan dinamika represi politik masa itu, menguliti kembali memori kolektif gerakan perlawanan rakyat yang menjadi motor penggerak reformasi.

Alur diskusi yang sarat akan nilai sejarah dan emosi ini dipandu dengan apik oleh akademisi hukum, Assoc. Prof. Dr. Tuti Widyaningrum, S.H., M.H. Sebagai moderator, ia berhasil menjembatani memori masa lalu para korban dengan realitas penegakan HAM di era kontemporer saat ini.

Peluncuran karya ini pada hakikatnya bukan sekadar seremoni memperkenalkan sebuah buku baru ke pasar literasi. Lebih dari itu, agenda ini merupakan upaya berani untuk membuka ruang dialog publik yang sehat mengenai pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa agar tidak amnesia sejarah.

Satu pesan kuat yang tersirat dari testimoni para penyintas adalah bahwa kebebasan yang dinikmati hari ini tidak jatuh dari langit. Demokrasi Indonesia lahir dari rahim pengorbanan darah dan air mata banyak orang yang harus melewati interogasi berhari-hari demi sebuah perubahan.

Buku Nyanyian Bawah Tanah ini seolah menjadi undangan terbuka bagi masyarakat luas, terutama generasi Z dan milenial. Buku ini mengajak mereka melihat bahwa sejarah bangsa tidak hanya hidup di dalam dokumen kaku milik arsip negara, melainkan berdenyut dalam trauma dan ingatan para korban.

Mendengar langsung suara para korban melalui literatur seperti ini dinilai menjadi instrumen krusial dalam merawat kewarasan publik. Kesadaran ini penting ditanamkan agar metode kekerasan dan praktik pelanggaran HAM serupa tidak pernah mendapatkan tempat lagi di masa depan.

Melalui momentum peluncuran ini, pihak penyelenggara menaruh harapan besar agar diskursus mengenai pelanggaran HAM masa lalu tidak mandek. Mereka ingin perdebatan sejarah ini keluar dari batas dinding ruang akademik dan bertransformasi menjadi kesadaran sosial yang masif.

Sebab, pada akhirnya, pengakuan terhadap sejarah yang jujur dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap hak asasi manusia adalah fondasi paling mutlak dalam merawat sebuah negara yang mengaku dirinya demokratis.

Sebagai informasi, buku Nyanyian Bawah Tanah: Kisah Penangkapan dan Penyiksaan Aktivis SMID/PRD 1996 merupakan kumpulan kesaksian berharga yang memperkaya literatur perjuangan. Buku ini kini berdiri sebagai monumen pengingat dari perspektif korban yang menolak untuk tunduk pada pelupaan sejarah.

Tinggalkan Balasan