Masjid Riyadhul Jannah Jadi Magnet 10 Muharam, Santunan Yatim hingga Tausiyah KH Khairil Anam Bikin Jamaah Tak Beranjak

0
10 views
Bagikan :

Masjid Riyadhul Jannah Kembali Jadi Pusat Syiar Islam, Santunan Yatim dan Tausiyah KH Khairil Anam Menyentuh Hati

JOMBANG, TelusuR.ID – Masjid Riyadhul Jannah di Kauman Utara Gang I, Desa Jombang, kembali menegaskan perannya bukan sekadar sebagai tempat ibadah. Pada momentum 10 Muharam 1448 Hijriah, Jumat (26/6/2026) malam, masjid bersejarah itu menjelma menjadi pusat syiar Islam, ruang berbagi, sekaligus rumah bagi anak-anak yatim dan masyarakat kurang mampu.

Ratusan jamaah memadati ruang utama masjid sejak sore. Lantunan istighotsah, tahlil, sholawat, hingga tabuhan rebana yang telah menjadi bagian dari tradisi lebih dari satu abad menggema memenuhi ruangan. Suasana religius itu berpadu dengan wajah-wajah bahagia puluhan anak yatim dan kaum dhuafa yang menerima santunan dari para donatur.

Momentum tersebut menjadi bukti bahwa Masjid Riyadhul Jannah terus menjaga tradisi Nahdlatul Ulama dalam memuliakan anak yatim pada Hari Asyura atau 10 Muharam. Tidak berhenti pada seremoni tahunan, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar masjid untuk membangun kepedulian sosial dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.

Wakil Ketua MWCNU Jombang Raya, Ustaz Wildan, mengajak seluruh jamaah meluruskan niat agar setiap bentuk kepedulian benar-benar menjadi ibadah.

“Mari kita niatkan dengan tulus dan ikhlas untuk membahagiakan anak-anak yatim dan kaum dhuafa.”

Menurutnya, 10 Muharam merupakan momentum terbaik untuk memperbanyak sedekah. Bukan semata memberi bantuan materi, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Riyadhul Jannah, Ustaz Muhammad Fadhil, menegaskan bahwa masjid harus hadir sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, sekaligus penggerak kepedulian sosial.

Ia menyampaikan apresiasi kepada para ulama, jamaah, tokoh masyarakat, panitia, dan para donatur yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut.

“Mudah-mudahan seluruh amal kebaikan yang diberikan dibalas Allah SWT dengan pahala berlipat ganda,” ujarnya.

Fadhil menambahkan, peringatan 10 Muharam bukan hanya agenda rutin, melainkan bagian dari upaya memakmurkan Masjid Riyadhul Jannah sebagai pusat syiar Islam yang memiliki nilai historis penting di Jombang.

Masjid tersebut dikenal sebagai salah satu ruang dakwah yang pernah menjadi tempat berkumpul para ulama besar Nusantara, di antaranya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Wahab Hasbullah, hingga Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Warisan sejarah itulah yang terus dijaga melalui kegiatan keagamaan, pendidikan, dan pelayanan sosial kepada masyarakat.

Puncak kegiatan ditandai dengan penyerahan santunan kepada anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Prosesi berlangsung khidmat diiringi lantunan sholawat dari grup rebana Masjid Riyadhul Jannah yang telah eksis lebih dari satu abad.

Kegiatan turut dihadiri perangkat Desa Jombang, jajaran MWCNU Jombang Raya, Pengurus Ranting NU Desa Jombang, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan jamaah.

Ceramah KH Khairil Anam Hidupkan Suasana

Suasana semakin hangat ketika KH Khairil Anam naik ke mimbar. Dengan gaya dakwah yang komunikatif, humor segar, dan dialek khas Jawa, pendakwah asal Denanyar itu berhasil membuat jamaah bertahan hingga akhir acara. Gelak tawa berkali-kali pecah, terutama dari kalangan ibu-ibu, tanpa mengurangi kedalaman pesan yang disampaikan.

Dalam tausiyahnya, KH Khairil Anam mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum melakukan evaluasi diri.

“Tahun boleh berganti, tetapi yang paling penting adalah diri kita ikut berubah menjadi lebih baik. Jangan sampai kalender terus berganti, sementara ibadah, akhlak, dan keimanan kita tetap di tempat,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa bertambahnya usia semestinya diiringi dengan bertambahnya ilmu, ketakwaan, dan amal saleh.

Menurutnya, manusia tidak akan pernah lepas dari persoalan hidup. Justru karena itulah setiap orang harus memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

“Dunia ini penuh dengan masalah. Ketika usia bertambah, mata mulai kabur, pendengaran berkurang, tulang mulai rapuh. Bahkan makanan yang dulu disukai pun lama-lama terasa membosankan. Itulah kehidupan manusia,” tutur KH Khairil Anam yang disambut tawa jamaah.

Di akhir ceramahnya, ia mengingatkan bahwa waktu adalah nikmat yang tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap kesempatan hidup harus diisi dengan amal kebajikan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

Idul Yatama, Tradisi Kepedulian yang Terus Dijaga

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, 10 Muharam juga dikenal sebagai Idul Yatama atau Lebaran Anak Yatim. Istilah ini bukan hari raya dalam syariat Islam sebagaimana Idulfitri dan Iduladha, melainkan tradisi yang hidup di tengah masyarakat Nahdliyin sebagai momentum memuliakan anak yatim melalui santunan, sedekah, dan berbagai bentuk kasih sayang.

Tradisi tersebut terus dirawat oleh Masjid Riyadhul Jannah melalui kegiatan sosial yang setiap tahun melibatkan jamaah, tokoh masyarakat, dan para donatur. Dengan cara itu, masjid tidak hanya menjadi tempat mendirikan salat, tetapi juga hadir sebagai pusat pemberdayaan umat yang menumbuhkan solidaritas, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama.

Peringatan 10 Muharam di Masjid Riyadhul Jannah tahun ini kembali memperlihatkan bahwa kemakmuran sebuah masjid bukan hanya diukur dari ramainya jamaah yang datang untuk beribadah, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya.(gus)

Tinggalkan Balasan