Beranda blog Halaman 18

Babinsa Turun ke Kandang, Dorong Peternak Kambing di Sragen Tingkatkan Produktivitas

0

SRAGEN,TelusuR.ID — Di tengah aktivitas peternak memberi pakan dan merawat ternak, kehadiran Babinsa Desa Pelemgadung, Serka Sugeng, menjadi penyemangat tersendiri bagi warga yang menggantungkan penghasilan dari usaha peternakan kambing.

Babinsa Koramil 02/Karangmalang Kodim 0725/Sragen itu menyambangi peternakan kambing milik warga di Dukuh Gumantar, Desa Pelemgadung, Kecamatan Karangmalang, Senin (8/6). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka komunikasi sosial sekaligus memantau secara langsung perkembangan usaha peternakan rakyat di wilayah binaannya.

Dalam kunjungan itu, Sugeng berdialog dengan peternak mengenai berbagai aspek pemeliharaan ternak, mulai dari kondisi kesehatan kambing, ketersediaan pakan, hingga perkembangan populasi ternak yang menjadi salah satu sumber ekonomi keluarga masyarakat desa.

Menurut Sugeng, sektor peternakan rakyat memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pendampingan dan motivasi kepada peternak perlu terus dilakukan agar usaha yang dijalankan dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kami ingin memastikan para peternak tetap semangat mengembangkan usahanya. Peternakan kambing memiliki prospek yang baik dan dapat menjadi salah satu penopang kesejahteraan masyarakat apabila dikelola dengan baik,” kata Sugeng.

Suasana akrab terlihat selama pertemuan berlangsung. Diskusi yang dilakukan tidak hanya membahas kondisi ternak saat ini, tetapi juga peluang peningkatan produktivitas dan pengembangan usaha ke depan.

Bagi para peternak, kehadiran Babinsa dinilai menjadi bentuk perhatian nyata terhadap usaha yang mereka jalankan. Selain memberikan motivasi, Babinsa juga kerap menjadi tempat berdiskusi mengenai berbagai kendala yang dihadapi di lapangan.

“Babinsa tidak hanya datang melihat ternak, tetapi juga memberikan semangat dan masukan yang bermanfaat bagi kami. Kehadirannya membuat kami merasa diperhatikan,” ujar Suwito, pemilik peternakan kambing.

Melalui pendekatan langsung kepada masyarakat, Babinsa diharapkan dapat terus memperkuat sinergi dengan warga sekaligus mendorong tumbuhnya sektor peternakan rakyat sebagai salah satu penopang ekonomi pedesaan.

Serapan Infrastruktur Masih Rendah, Bupati Jombang Janji Proyek APBD 2026 Mulai Ngebut Pertengahan Tahun

0

JOMBANG,TelusuR.ID — Realisasi anggaran pembangunan infrastruktur di Kabupaten Jombang hingga memasuki Juni 2026 masih terbilang minim. Di tengah sorotan publik terhadap kondisi jalan dan lambatnya pelaksanaan proyek fisik, Pemerintah Kabupaten Jombang baru merealisasikan sekitar Rp9 miliar untuk pengadaan sarana-prasarana dan perbaikan infrastruktur.

Menanggapi hal itu, Bupati Jombang Warsubi memastikan proyek-proyek yang bersumber dari APBD 2026 akan mulai bergerak masif pada semester kedua tahun ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Warsubi usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Jombang, Senin (8/6), ketika menjawab pertanyaan wartawan terkait rendahnya serapan anggaran infrastruktur yang masih jauh dari ekspektasi hingga triwulan kedua.

“Mulai Juni, Juli, dan Agustus kegiatan pembangunan sudah berjalan. Sebelumnya masih dalam tahapan persiapan dan penataan administrasi,” kata Warsubi.

Menurutnya, rendahnya realisasi anggaran bukan disebabkan mandeknya program pembangunan, melainkan karena sebagian besar proyek fisik baru memasuki fase pelaksanaan setelah melalui proses perencanaan, verifikasi, hingga administrasi pengadaan.

Di Tengah Kritik APBD, Warsubi Tegaskan Bantuan Desa dan Peremajaan Motor Kades Tetap Dibutuhkan

Namun di tengah rendahnya serapan pembangunan jalan, publik juga menyoroti komposisi APBD yang dinilai lebih besar mengalokasikan dana hibah dan bantuan sosial dibandingkan pembangunan infrastruktur.

Menjawab kritik tersebut, Warsubi menegaskan seluruh kebijakan anggaran telah disusun sesuai regulasi dan melalui pembahasan bersama berbagai pihak.

Ia juga membela program bantuan keuangan desa melalui skema Mantra Desa, yang selama ini menjadi salah satu instrumen utama pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan dari tingkat desa.

Menurut Warsubi, dana yang dikucurkan ke desa tidak semata digunakan untuk kegiatan seremonial atau belanja konsumtif, melainkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pembangunan, termasuk infrastruktur desa.

“Di dalam Mantra Desa ada banyak menu kegiatan yang bisa dipilih pemerintah desa, termasuk pembangunan infrastruktur maupun pengadaan kendaraan operasional kepala desa,” ujarnya.

Salah satu program yang menjadi perhatian publik adalah alokasi bantuan pengadaan kendaraan operasional kepala desa senilai Rp40 juta per desa.

Warsubi menilai kebijakan tersebut memiliki alasan yang rasional. Ia menyebut sebagian besar kendaraan operasional kepala desa telah digunakan lebih dari satu dekade sehingga sudah memasuki masa peremajaan.

“Sejak 2015 sampai sekarang sudah lebih dari sepuluh tahun. Sementara umur ekonomis kendaraan bermotor rata-rata delapan tahun, sehingga memang perlu dilakukan penggantian,” katanya.

Ia menegaskan pemerintah kabupaten tidak mengatur merek maupun tipe kendaraan yang harus dibeli. Kewenangan tersebut sepenuhnya berada di tangan pemerintah desa sesuai kebutuhan masing-masing.

“Kami tidak menentukan merek atau jenis kendaraan. Ada yang memilih NMax, ada yang PCX, ada yang lainnya. Yang penting sesuai ketentuan dan mendukung operasional pemerintahan desa,” ujar Warsubi.

Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat juga disebut tidak berdampak signifikan terhadap laju pembangunan di Kabupaten Jombang.

Warsubi menilai kemampuan fiskal desa yang relatif kuat serta dukungan bantuan keuangan daerah menjadi faktor penting yang menjaga roda pembangunan tetap berjalan hingga ke tingkat bawah.

“Jombang memiliki kemampuan fiskal desa yang cukup baik. Dengan adanya bantuan keuangan desa, pembangunan untuk masyarakat tetap bisa dilaksanakan,” katanya.

Meski serapan infrastruktur hingga pertengahan tahun masih rendah, Pemerintah Kabupaten Jombang optimistis grafik realisasi APBD akan melonjak pada semester kedua seiring dimulainya berbagai proyek fisik di sejumlah wilayah.

Tantangannya kini bukan lagi pada perencanaan, melainkan bagaimana pemerintah daerah mampu membuktikan bahwa percepatan pembangunan benar-benar terjadi di lapangan dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.(gus)

Buka Workshop 5.000 Pengasuh Pesantren, Gus Yahya Ingatkan Kiai Jaga Kekuatan Spiritual di Era Disrupsi

0
Keterangan Foto: Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026). (Foto: Dok. Bima)

CIREBON, TelusuR.id — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, mengapresiasi langkah progresif yang diinisiasi oleh Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli. Apresiasi tersebut diberikan atas terselenggaranya Workshop 5.000 Pengasuh Pesantren Se-Indonesia sebagai upaya memperkuat kesiapan pesantren menghadapi era disrupsi global.

Pujian dan dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Gus Yahya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026). Di hadapan sekitar 150 pengasuh pesantren sewilayah Jawa Barat, ia menegaskan pentingnya pesantren merespons perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri utamanya.

Gus Yahya mengingatkan para kiai untuk tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah atau kekuatan spiritual pesantren sebagai pilar utama pelahirkan kader-kader peradaban. Menurutnya, ulama terdahulu telah mewariskan nilai luhur yang menjadikan pesantren tidak sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat ri’ayatul ummah atau penjagaan bagi umat.

Pada kesempatan yang sama, KH Imam Jazuli menjelaskan bahwa program workshop nasional ini lahir dari kegelisahan mendalam terhadap perubahan besar di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Ia mencontohkan bagaimana korporasi dan institusi raksasa dunia bisa tumbang seketika akibat gagal beradaptasi, sementara yang fleksibel justru berkembang pesat.

Kiai Imam membantah anggapan bahwa minat masyarakat terhadap dunia pesantren saat ini mulai menurun. Fenomena yang terjadi saat ini sebenarnya adalah migrasi preferensi, di mana wali murid bergeser dari model pesantren lama ke model pesantren baru yang jauh lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman modern.

Lebih lanjut, Kiai Imam menegaskan bahwa tantangan besar yang dihadapi Nahdlatul Ulama (NU) pada abad kedua tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh individu atau kelompok tertentu. Dibutuhkan transformasi cara berpikir dari paradigma lama “ana wal akhar” (aku dan mereka) menuju semangat kolektif “nahnu” (kita).

Menurut tokoh yang juga dikenal sebagai pengusaha ini, mentalitas “ana wal akhar” yang melahirkan sekat kelompok dan faksi berpotensi menghambat optimalisasi potensi besar NU. Kekuatan NU di abad kedua justru terletak pada kemampuan mengonsolidasikan seluruh potensi untuk menjawab tantangan teknologi dan ekonomi umat.

Ia menjelaskan bahwa filosofi “nahnu” merupakan manifestasi dari semangat ukhuwah nahdliyah yang diterjemahkan dalam praktik profesionalisme modern bersanding dengan spirit khidmah jam’iyyah. Dalam konsep ini, seluruh kader mulai dari ulama hingga aktivis akar rumput memiliki peran penting yang saling melengkapi.

Kiai Imam menilai NU saat ini memiliki modal sumber daya manusia luar biasa yang tersebar di berbagai sektor strategis, baik nasional maupun internasional. Potensi melimpah ini harus segera dikonsolidasikan melalui pemetaan talenta, kolaborasi lintas generasi, serta pembangunan ekosistem kerja yang inovatif.

Ia menekankan bahwa semangat kolektif “nahnu” harus diwujudkan dalam sistem tata kelola organisasi yang modern dan berkelanjutan. Kekuatan organisasi (jam’iyah) harus ditempatkan di atas figuritas individu, sehingga keberlangsungan perjuangan NU tidak bergantung pada sosok tertentu melainkan pada sistem.

Di era digital, transformasi tersebut juga membutuhkan integrasi data makro dan digitalisasi potensi kader di seluruh daerah. Keterbukaan informasi antarlembaga di lingkungan NU dinilai akan mempercepat kolaborasi, sekaligus mengurangi ego sektoral yang selama ini kerap muncul akibat minimnya koordinasi.

Selain penataan organisasi, semangat kolektif ini harus diarahkan pada penguatan kemandirian ekonomi jamaah di akar rumput. Jaringan pesantren yang kuat, modal warga, dan kepakaran profesional NU dapat disinergikan menjadi kekuatan ekonomi besar yang menopang agenda dakwah secara mandiri.

Kiai Imam Jazuli berharap perbedaan pandangan di internal NU ke depan dapat dipandang sebagai khazanah intelektual yang memperkaya strategi, bukan ancaman perpecahan. Melalui semangat tabayun dan keterbukaan, NU diyakini akan semakin kokoh dan kuat dalam menghadapi segala bentuk tantangan zaman.

 

Dukung Program Asta Cita, Polsek Diwek Jombang Kawal Distribusi 10 Ton Jagung Petani ke Gudang Bulog

0

JOMBANG, TelusuR.id — Upaya nyata dalam mendukung program ketahanan pangan nasional terus digalakkan oleh jajaran kepolisian bersama para pemangku kepentingan terkait di daerah. Salah satu aksi konkret ditunjukkan oleh personel Polsek Diwek, Polres Jombang, yang mengawal langsung pengiriman hasil panen jagung milik petani lokal ke Gudang Bulog.

Kegiatan pendampingan dan pengawalan ketat ini menyasar pengiriman komoditas jagung milik M. Saifur, seorang petani asal Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, Jombang. Proses distribusi menuju Gudang Bulog Tunggorono, Kabupaten Jombang, tersebut dipimpin langsung oleh PS. Kanit Binmas Polsek Diwek, Aiptu Suwito, pada Senin (8/6/2026).

Langkah taktis kepolisian di sektor pertanian ini bukan tanpa alasan. Kegiatan pendampingan tersebut merupakan bagian dari implementasi program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam mendukung penguatan sektor ketahanan pangan nasional secara masif dari tingkat akar rumput.

Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan, S.H., S.I.K., CPHR, melalui Kapolsek Diwek AKP Darul Hudha, menjelaskan bahwa keterlibatan aktif anggota Polri dalam sektor pertanian merupakan bentuk komitmen institusi. Pihaknya ingin memastikan program pemerintah berjalan simultan dengan peningkatan kesejahteraan petani lokal.

“Polri hadir tidak hanya untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga mendukung penuh program strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar AKP Darul Hudha saat memberikan keterangan resmi kepada media.

Darul Hudha berharap, melalui pengawalan ini, seluruh hasil panen raya dari para petani di wilayah Jombang dapat terserap dengan baik oleh negara. Penyerapan yang optimal dari lembaga resmi seperti Bulog tentu akan memberikan dampak multiplier ekonomi yang positif bagi masyarakat.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pengawalan distribusi dari lahan pertanian menuju gudang penyimpanan merupakan salah satu bentuk pelayanan prima. Hal ini untuk mengantisipasi adanya kendala teknis maupun gangguan keamanan di jalan raya yang dapat merugikan para petani.

“Kami ingin memastikan hasil panen petani dapat tersalurkan dengan aman dan lancar hingga ke Bulog. Dengan pendampingan ini, petani merasa lebih tenang dan hasil panennya dapat terserap dengan baik,” tutur Kapolsek Diwek menambahkan perihal tujuan pengawalan tersebut.

Pihak kepolisian optimistis sinergi ini akan membawa dampak jangka panjang yang baik. Harapannya, kesejahteraan ekonomi para petani di wilayah Diwek dapat merangkak naik, seiring dengan semakin kuatnya fondasi ketahanan pangan nasional yang disokong dari daerah.

Berdasarkan data teknis hasil penimbangan di lokasi tujuan, total komoditas jagung pipil yang berhasil dikirim ke Gudang Bulog Tunggorono mencapai 10 ton. Jumlah yang cukup besar ini menjadi bukti produktivitas lahan pertanian di kawasan Jombang yang masih terjaga dengan baik.

Komoditas jagung pipil milik petani tersebut dibeli oleh pihak Bulog dengan harga Rp6.400 per kilogram. Harga yang dipatok dinilai cukup kompetitif dan telah memenuhi kualifikasi mutu standar nasional, dengan catatan kadar air sebesar 14 persen.

Di sisi lain, pendampingan intensif yang dilakukan oleh personel Polsek Diwek ini mendapat apresiasi positif dari para petani setempat. Kehadiran aparat kepolisian berseragam di lapangan dinilai memberikan rasa aman dan kenyamanan psikologis tersendiri bagi mereka.

Para petani mengakui bahwa kehadiran polisi mampu memastikan proses transaksi dan distribusi hasil panen berjalan sangat aman, tertib, dan lancar. Pola jemput bola ini diharapkan dapat ditiru di wilayah lain untuk memangkas potensi kerugian pascapanen akibat rantai distribusi yang tersendat.

Melalui sinergi yang terjalin erat antara Polri, Bulog, dan kelompok tani, diharapkan program swasembada dan ketahanan pangan nasional dapat terus berjalan secara optimal. Kolaborasi berkala ini juga diproyeksikan mampu menyetabilkan harga pasar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi makro di Kabupaten Jombang.

UNWAHA Jombang Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU 2026, Hadirkan Tokoh Nasional

0

JOMBANG, TelusuR.id — Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang bersiap menjadi pusat perhatian pemikir dan pelaku seni tanah air. Kampus hijau ini resmi ditunjuk menjadi tuan rumah gelaran akbar Muktamar Kebudayaan Indonesia Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU 2026 yang akan berlangsung pada Jumat hingga Minggu (12–14/6/2026).

Mengusung tema besar “Kembali ke Akar”, perhelatan nasional ini dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas generasi. Forum ini akan mempertemukan para tokoh bangsa, pelaku budaya, akademisi, kelompok mahasiswa, hingga elemen masyarakat umum dalam satu visi penguatan identitas kebudayaan.

Muktamar tersebut dipastikan tidak hanya menghadirkan rentetan agenda seremonial formal semata. Beragam kegiatan telah dikonsep secara matang guna mengawinkan gagasan besar kebudayaan dengan realitas seni pertunjukan, pelestarian tradisi, kebangkitan ekonomi kreatif, serta dinamika kehidupan riil di tengah masyarakat.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat UNWAHA, Rohmat Hidayat, S.S., M.Pd., menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan komprehensif ini akan dipusatkan di lingkungan kampus UNWAHA Jombang. Pihak universitas telah melakukan berbagai persiapan sarana dan prasarana demi menyambut kedatangan para partisipan dari berbagai daerah.

“Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 akan dilaksanakan pada 12 hingga 14 Juni 2026. Kegiatan ini terbuka lebar sebagai ruang bersama untuk mengenal, menikmati, dan memaknai kembali kekayaan budaya Indonesia,” jelas Rohmat saat memberikan keterangan resmi di Jombang dikutip Telusur.id, Minggiu (14/6/2026).

Agenda berskala nasional ini dijadwalkan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, pemikir kebudayaan, serta ulama terkemuka. Beberapa nama besar yang mengonfirmasi kehadiran di antaranya adalah Dr. Ahmad Muzani, KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Afifuddin Muhajir, KH. Yusuf Chudlori, KH. Ulil Abshar Abdalla, KH. Imam Jazuli, hingga budayawan Sabrang M. Damar Panuluh.

Kehadiran para tokoh dari berbagai latar belakang tersebut semakin memperkuat posisi muktamar sebagai forum kebudayaan yang berbobot. Di dalam forum ini, kebudayaan tidak lagi sekadar dibahas sebagai tontonan pertunjukan seni, melainkan bagian integral dari sistem sosial, pendidikan, tradisi keagamaan, dan ketahanan nasional.

Melalui tema “Kembali ke Akar”, muktamar ini ingin mengajak masyarakat luas untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Akar budaya bangsa tidak diposisikan sebagai peninggalan masa lalu yang statis, melainkan fondasi dinamis untuk menjawab tantangan zaman modern.

Selain ruang diskusi ideologis, geliat muktamar akan dimeriahkan oleh pameran pusaka nusantara, seni kaligrafi, kerajinan tangan, hingga bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sektor kuliner tradisional dan komoditas multiproduk lokal juga mendapatkan porsi khusus untuk unjuk gigi sepanjang acara.

Menurut Rohmat, kehadiran pameran dan bazar komersial tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari esensi muktamar itu sendiri. Hal ini membuktikan bahwa kebudayaan dapat terus hidup dan relevan melalui kreativitas langsung masyarakat serta aktivitas penguatan ekonomi di tingkat lokal.

“Kami ingin menghadirkan esensi kebudayaan dalam bentuk yang nyata, membumi, dan dekat dengan keseharian masyarakat,” ujar Rohmat menambahkan mengenai konsep interaksi dua arah antara pengisi acara dan pengunjung yang hadir di lokasi pameran.

Tidak kalah memikat, panggung utama muktamar akan diisi oleh beragam seni pertunjukan tradisional hingga hiburan populer secara bergantian. Seni selawat, banjari, parade puisi, Tari Songket, Tari Sufi, Tari Topeng Kaliwungu, teater besut, kentrung, seni pencak silat bantengan, wayang orang, hingga pertunjukan wayang kulit siap disuguhkan.

Bahkan, musisi legendaris Cak Sodiq juga dijadwalkan tampil untuk memeriahkan suasana panggung rakyat. Kombinasi apik antara seni tradisi murni dan hiburan populer dalam satu ruang ini menunjukkan betapa luas dan inklusifnya ekspresi kebudayaan yang dimiliki Indonesia saat ini.

Penyelenggaraan muktamar di UNWAHA ini sekaligus menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam lokomotif pelestarian budaya bangsa. Kampus tidak boleh menjauh dari realitas sosial, melainkan harus menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan pengetahuan akademik, tradisi lokal, dan kebutuhan nyata masyarakat.

“Anak yang Hancur Bisa Dirakit Kembali”, Curhat Mengharukan Siswa Sekolah Rakyat di Hadapan Prabowo

0
foto by : Momen siswa sekolah rakyat curhat langsung ke Prabowo. (Eva/detikcom)

Dari Korban Bullying Menjadi Penggerak Anti-Perundungan, Kisah Siswa Sekolah Rakyat di Hadapan Presiden Prabowo

TABANAN, TELUSUR.ID — Kisah haru sekaligus inspiratif disampaikan Gede Bagus Abimanyu, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, saat bertemu Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke sekolah tersebut, Minggu (7/6/2026).

Di hadapan Presiden, Bagus menceritakan pengalaman pahit yang pernah dialaminya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengaku kerap menjadi korban ejekan dan perundungan karena sifatnya yang pendiam dan kurang aktif bergaul dengan teman-temannya.

“Saya sering mendapatkan ejekan dari teman-teman karena saya anak yang pendiam dan tidak terlalu suka berkumpul dengan teman-teman,” ujar Bagus.

Perundungan yang dialaminya sempat membuat dirinya kehilangan semangat belajar. Bahkan, ia mengaku pernah tidak masuk sekolah selama beberapa hari karena merasa tertekan dan putus asa.

“Dulu saya pernah hampir sampai putus asa dan tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Tapi ibu saya memberikan dukungan sampai saya memiliki kembali semangat untuk belajar,” katanya.

Namun kehidupan Bagus perlahan berubah setelah bergabung dengan Sekolah Rakyat. Lingkungan belajar yang lebih inklusif, suportif, dan mengedepankan pembentukan karakter membuatnya mampu bangkit dari trauma yang pernah dialami.

Kini, Bagus dipercaya menjadi bagian dari organisasi Anti-Bullying di sekolahnya. Peran tersebut menjadi simbol transformasi dirinya dari seorang korban perundungan menjadi sosok yang berupaya melindungi teman-temannya agar tidak mengalami pengalaman serupa.

“Saya harap dengan tugas ini saya dapat membantu mencegah bullying di sekolah dan menjaga teman-teman saya agar tidak merasakan apa yang pernah saya rasakan sebelumnya,” ujarnya.

Dalam pernyataan yang menyentuh, Bagus menggambarkan bagaimana dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan yang sehat mampu mengubah masa depan seorang anak.

“Saya ingin menyampaikan bahwa sehancur-hancurnya seorang anak, jika diberikan dukungan dan lingkungan yang tepat, maka anak itu dapat dirakit kembali,” tuturnya.

Kisah Bagus menjadi salah satu gambaran nyata tujuan Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah, yakni menghadirkan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus menciptakan ruang belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari diskriminasi.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, penguatan mental, serta pendampingan sosial bagi peserta didik agar mampu berkembang secara optimal.

Di hadapan Presiden Prabowo, Bagus juga menyampaikan rasa syukur atas hadirnya Sekolah Rakyat yang dinilainya telah membuka harapan baru bagi dirinya dan keluarganya.

“Kepada Bapak Presiden, saya sangat berterima kasih atas pembangunan Sekolah Rakyat ini. Keluarga kami merasa sangat terbantu dengan adanya program ini. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” kata Bagus.

Kunjungan Presiden ke SRMP 17 Tabanan menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan Program Sekolah Rakyat berjalan sesuai tujuan, yakni memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak, berkualitas, dan bermartabat.

Kisah Bagus menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya tentang ruang kelas dan pelajaran, tetapi juga tentang menghadirkan harapan, memulihkan kepercayaan diri, serta membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia.

 

Aksi Nyata Peduli Lingkungan, Babinsa dan Warga Serengan Bersihkan Makam Bersejarah

0

Babinsa Joyotakan dan Warga Gotong Royong Bersihkan Makam Padangan di Surakarta

SURAKARTA, TELUSUR.ID — Babinsa Kelurahan Joyotakan Koramil 03/Serengan Kodim 0735/Surakarta, Serma Rumbawa, bersama warga RW 04 menggelar kerja bakti membersihkan area Makam Padangan di RT 02 RW 04, Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Minggu (7/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi itu merupakan bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memperkuat budaya gotong royong di tengah masyarakat.

Serma Rumbawa menjelaskan, kerja bakti tersebut merupakan lanjutan dari kegiatan pembersihan yang sebelumnya telah dilakukan di kawasan makam. Kali ini, fokus kegiatan diarahkan pada pembersihan rumput liar, semak belukar, serta sampah yang masih terdapat di sejumlah titik area pemakaman.

Menurutnya, kebersihan lingkungan makam perlu terus dijaga agar tetap rapi, nyaman, dan mudah diakses oleh masyarakat yang datang untuk berziarah.

“Kerja bakti ini bertujuan menjaga kebersihan dan kerapian area makam sehingga memberikan kenyamanan bagi warga yang berkunjung maupun berziarah,” ujar Rumbawa.

Kegiatan berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan. Warga dan aparat kewilayahan tampak bahu-membahu membersihkan lingkungan makam sebagai bentuk kepedulian terhadap fasilitas umum di wilayah mereka.

Rumbawa menambahkan, kegiatan semacam ini tidak hanya berdampak pada terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antara Babinsa dengan masyarakat binaan.

“Melalui kerja bakti bersama, kami berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan semakin meningkat sekaligus memperkuat kebersamaan dan kekompakan warga,” katanya.

Kerja bakti tersebut menjadi salah satu wujud sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga.

Fun Bike Kodim Sragen Diserbu Warga, Umi Rahayu Beruntung Bawa Pulang Motor

0

Ribuan Warga Meriahkan Fun Bike dan Senam Sehat Kodim Sragen, Hadiah Utama Sepeda Motor Jadi Rebutan

SRAGEN, TELUSUR.ID — Ribuan warga memadati Alun-Alun Sragen untuk mengikuti kegiatan Fun Bike dan Senam Sehat yang digelar Kodim 0725/Sragen dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Sragen ke-280, Minggu (7/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut dihadiri Bupati Sragen Sigit Pamungkas, Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta sejumlah pejabat dari unsur pemerintah daerah, TNI, dan Polri.

Komandan Kodim 0725/Sragen Letkol Inf Dindin Rohidin mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat kebersamaan antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat.

“Atas nama pribadi dan keluarga besar Kodim 0725/Sragen, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir dan berpartisipasi. Kehadiran masyarakat menunjukkan semangat kebersamaan yang patut diapresiasi,” kata Dindin dalam sambutannya.

Ia berharap kegiatan olahraga bersama tersebut mampu memperkuat komunikasi dan sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, serta seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi yang kuat menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan demi mewujudkan Kabupaten Sragen yang maju, aman, nyaman, dan sejahtera.

Tak hanya menyuguhkan kegiatan olahraga, panitia juga menyediakan berbagai layanan kesehatan gratis berupa pemeriksaan tekanan darah dan cek gula darah bagi masyarakat yang hadir.

Antusiasme peserta semakin meningkat dengan adanya pembagian doorprize bernilai jutaan rupiah. Kodim 0725/Sragen menyiapkan hadiah utama satu unit sepeda motor, dua unit sepeda listrik, lima sepeda gunung, serta sejumlah peralatan rumah tangga seperti kulkas, mesin cuci, kompor gas, kipas angin, dispenser, dan puluhan hadiah hiburan lainnya.

Pada akhir acara, Letkol Inf Dindin Rohidin menyerahkan langsung hadiah utama berupa satu unit sepeda motor kepada Umi Rahayu, warga Dukuh Garut RT 07, Desa Jekani, Kecamatan Mondokan, Sragen, yang beruntung memenangkan undian.

Kegiatan Fun Bike dan Senam Sehat ini menjadi salah satu rangkaian perayaan Hari Jadi Sragen ke-280 yang bertujuan memperkuat kebersamaan sekaligus mendorong gaya hidup sehat di tengah masyarakat.

Sentuh Masa Depan Papua, Satgas Yonif 521/DY Bagikan Buku dan Edukasi Kesehatan di Kobakma

0

Satgas Yonif 521/DY Bagikan Buku dan Edukasi Kesehatan untuk Anak-Anak Papua di Kobakma

MAMBERAMO TENGAH, TELUSUR.ID — Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Yonif 521/DY terus menunjukkan kepeduliannya terhadap pembangunan sumber daya manusia di Papua. Melalui kegiatan komunikasi sosial (komsos), prajurit TNI memberikan edukasi kesehatan sekaligus membagikan buku bacaan kepada anak-anak di Distrik Kobakma, Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua Pegunungan, Sabtu (7/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Satgas Yonif 521/DY untuk mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus mendorong lahirnya generasi muda Papua yang sehat, cerdas, dan berwawasan.

Dankipur 2 Satgas Yonif 521/DY, Kapten Inf Kartono, mengatakan para prajurit memberikan pemahaman sederhana kepada anak-anak mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri, pola hidup sehat, serta semangat belajar sebagai bekal meraih masa depan yang lebih baik.

“Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan. Mereka aktif berinteraksi dan menyimak berbagai materi yang diberikan oleh personel Satgas,” ujarnya.

 

Selain edukasi kesehatan, Satgas Yonif 521/DY juga menyalurkan bantuan berupa buku bacaan dan alat tulis. Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat baca serta memperluas wawasan anak-anak di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan yang masih dihadapi sejumlah wilayah pedalaman Papua.

Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., menegaskan bahwa kehadiran Satgas tidak hanya bertugas menjaga stabilitas keamanan wilayah, tetapi juga berupaya memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat.

“Anak-anak adalah harapan masa depan Papua. Melalui kegiatan ini kami ingin menumbuhkan semangat belajar, menjaga kesehatan, serta memberikan motivasi agar mereka terus berani bermimpi dan meraih cita-citanya,” kata Rahadyan.

Apresiasi juga datang dari masyarakat setempat. Salah seorang warga, Demi Pagawak (50), menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan Satgas Yonif 521/DY kepada anak-anak di kampung mereka.

Menurutnya, kehadiran prajurit TNI tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga membawa manfaat positif melalui berbagai kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Melalui pendekatan humanis tersebut, Satgas Yonif 521/DY berharap dapat terus memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat, sekaligus mendukung terciptanya generasi Papua yang sehat, berkarakter, dan siap berkontribusi dalam pembangunan daerah di masa mendatang.

“Bersama Rakyat TNI Kuat, Bersama Generasi Muda Papua Menatap Masa Depan yang Hebat.”

Menjadikan Lingkungan sebagai Kebiasaan Hati dan Tata Kelola Negara

0

Menjadikan Lingkungan sebagai Kebiasaan Hati dan Tata Kelola Negara

Oleh: Abdullah Rasyid
Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN dan Pendiri GREAT Institute

Wawancara Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat dengan UNDP Indonesia memberi pesan yang sederhana, tetapi sangat penting: menjaga lingkungan tidak boleh hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi juga harus menjadi kebiasaan hidup masyarakat.

Menteri Jumhur menyampaikan bahwa kesadaran lingkungan perlu menjadi habit of our heart, kebiasaan hati. Artinya, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hadir karena aturan, imbauan, atau kampanye sesaat. Ia harus tumbuh dari kesadaran sehari-hari: bagaimana kita membuang sampah, menggunakan air, menghemat energi, menjaga ruang hidup, dan tidak merusak alam sekitar.

Pesan ini penting karena persoalan lingkungan di Indonesia semakin nyata. Perubahan iklim, banjir, pencemaran, krisis sampah, kerusakan sungai, polusi udara, dan tekanan terhadap wilayah pesisir bukan lagi ancaman jauh di masa depan. Semua itu sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di antara berbagai persoalan itu, sampah menjadi masalah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sampah ada di rumah, pasar, jalan, sungai, laut, dan tempat pembuangan akhir. Karena itu, benar jika Menteri Jumhur menempatkan sampah sebagai isu yang “di depan mata”.

Sampah bukan hanya soal kebersihan. Sampah adalah soal kesehatan, tata kelola kota, perilaku masyarakat, tanggung jawab produsen, kemampuan pemerintah daerah, dan kualitas pelayanan publik. Bila sampah tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa merambat ke mana-mana: lingkungan tercemar, sungai tersumbat, banjir meningkat, penyakit menyebar, dan biaya sosial menjadi semakin besar.

Namun, menyelesaikan masalah sampah tidak cukup hanya dengan mengangkut sampah ke TPA. Cara berpikir seperti itu sudah tidak memadai. Indonesia perlu bergerak dari sekadar membuang sampah menjadi mengurangi, memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah.

Pemilahan dari rumah tangga harus menjadi kebiasaan. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos. Sampah plastik dan kertas dapat masuk ke rantai daur ulang. Produsen harus ikut bertanggung jawab atas kemasan yang mereka hasilkan. Pemerintah daerah harus memperkuat sistem pengumpulan, pengolahan, data, dan pengawasan. Masyarakat juga harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya menunggu pemerintah bekerja.

Di sinilah makna penting dari pesan habit of our heart. Kesadaran lingkungan harus dimulai dari hati, tetapi tidak boleh berhenti di hati. Kesadaran itu harus berubah menjadi tindakan nyata.

Namun, tanggung jawab tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat. Negara juga harus hadir dengan tata kelola yang kuat. Pemerintah perlu memastikan data sampah benar, kebijakan jelas, pembiayaan memadai, aparat daerah mampu bekerja, pelanggaran ditindak, dan program lingkungan tidak berhenti sebagai slogan.

Dengan kata lain, habit of our heart harus diperkuat menjadi governance of the state. Kebiasaan hati masyarakat harus bertemu dengan tata kelola negara yang efektif.

Hal yang sama berlaku dalam isu perubahan iklim. Bagi Indonesia, keadilan iklim bukan hanya soal mengurangi emisi karbon. Keadilan iklim berarti memastikan rakyat kecil tidak menjadi korban paling besar dari kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

Petani yang menghadapi gagal panen, nelayan kecil yang terdampak cuaca ekstrem, masyarakat pesisir yang menghadapi rob, warga miskin kota yang rentan banjir, serta generasi muda yang akan mewarisi bumi di masa depan harus menjadi pusat perhatian kebijakan lingkungan.

Karena itu, pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak boleh dipertentangkan. Indonesia tetap membutuhkan pertumbuhan ekonomi, investasi, industri, energi, pangan, infrastruktur, dan lapangan kerja. Tetapi pertumbuhan itu harus dijalankan dengan cara yang tidak merusak alam.

Ekonomi yang baik bukan ekonomi yang mengorbankan lingkungan. Lingkungan yang baik juga bukan berarti menghentikan pembangunan. Jalan yang harus dipilih Indonesia adalah pembangunan yang bersih, adil, dan berkelanjutan.

Wawancara Menteri Jumhur dengan UNDP mengingatkan kita bahwa agenda lingkungan hidup harus dibumikan. Ia tidak boleh hanya menjadi bahasa konferensi internasional, laporan teknis, atau dokumen kebijakan. Lingkungan hidup harus hadir dalam kebijakan kota, perilaku rumah tangga, dunia usaha, sekolah, desa, industri, dan pelayanan publik.

Menjaga lingkungan berarti menjaga kesehatan rakyat. Mengelola sampah berarti menjaga kualitas kota. Melindungi hutan, sungai, laut, dan udara berarti melindungi masa depan bangsa.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan sekadar menjaga alam. Menjaga lingkungan adalah menjaga kehidupan. Menjaga lingkungan adalah menjaga republik.

Indonesia tidak boleh memilih antara ekonomi dan lingkungan. Pilihan yang benar adalah membangun ekonomi yang menjadikan alam sebagai modal bangsa, bukan korban pembangunan.

Itulah pesan penting yang perlu kita ambil: kesadaran lingkungan harus menjadi kebiasaan hati, tetapi tata kelola lingkungan harus menjadi kerja nyata negara.