JOMBANG, TelusuR.id — Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang bersiap menjadi pusat perhatian pemikir dan pelaku seni tanah air. Kampus hijau ini resmi ditunjuk menjadi tuan rumah gelaran akbar Muktamar Kebudayaan Indonesia Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU 2026 yang akan berlangsung pada Jumat hingga Minggu (12–14/6/2026).
Mengusung tema besar “Kembali ke Akar”, perhelatan nasional ini dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas generasi. Forum ini akan mempertemukan para tokoh bangsa, pelaku budaya, akademisi, kelompok mahasiswa, hingga elemen masyarakat umum dalam satu visi penguatan identitas kebudayaan.
Muktamar tersebut dipastikan tidak hanya menghadirkan rentetan agenda seremonial formal semata. Beragam kegiatan telah dikonsep secara matang guna mengawinkan gagasan besar kebudayaan dengan realitas seni pertunjukan, pelestarian tradisi, kebangkitan ekonomi kreatif, serta dinamika kehidupan riil di tengah masyarakat.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat UNWAHA, Rohmat Hidayat, S.S., M.Pd., menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan komprehensif ini akan dipusatkan di lingkungan kampus UNWAHA Jombang. Pihak universitas telah melakukan berbagai persiapan sarana dan prasarana demi menyambut kedatangan para partisipan dari berbagai daerah.
“Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 akan dilaksanakan pada 12 hingga 14 Juni 2026. Kegiatan ini terbuka lebar sebagai ruang bersama untuk mengenal, menikmati, dan memaknai kembali kekayaan budaya Indonesia,” jelas Rohmat saat memberikan keterangan resmi di Jombang dikutip Telusur.id, Minggiu (14/6/2026).
Agenda berskala nasional ini dijadwalkan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, pemikir kebudayaan, serta ulama terkemuka. Beberapa nama besar yang mengonfirmasi kehadiran di antaranya adalah Dr. Ahmad Muzani, KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Afifuddin Muhajir, KH. Yusuf Chudlori, KH. Ulil Abshar Abdalla, KH. Imam Jazuli, hingga budayawan Sabrang M. Damar Panuluh.
Kehadiran para tokoh dari berbagai latar belakang tersebut semakin memperkuat posisi muktamar sebagai forum kebudayaan yang berbobot. Di dalam forum ini, kebudayaan tidak lagi sekadar dibahas sebagai tontonan pertunjukan seni, melainkan bagian integral dari sistem sosial, pendidikan, tradisi keagamaan, dan ketahanan nasional.
Melalui tema “Kembali ke Akar”, muktamar ini ingin mengajak masyarakat luas untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Akar budaya bangsa tidak diposisikan sebagai peninggalan masa lalu yang statis, melainkan fondasi dinamis untuk menjawab tantangan zaman modern.
Selain ruang diskusi ideologis, geliat muktamar akan dimeriahkan oleh pameran pusaka nusantara, seni kaligrafi, kerajinan tangan, hingga bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sektor kuliner tradisional dan komoditas multiproduk lokal juga mendapatkan porsi khusus untuk unjuk gigi sepanjang acara.
Menurut Rohmat, kehadiran pameran dan bazar komersial tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari esensi muktamar itu sendiri. Hal ini membuktikan bahwa kebudayaan dapat terus hidup dan relevan melalui kreativitas langsung masyarakat serta aktivitas penguatan ekonomi di tingkat lokal.
“Kami ingin menghadirkan esensi kebudayaan dalam bentuk yang nyata, membumi, dan dekat dengan keseharian masyarakat,” ujar Rohmat menambahkan mengenai konsep interaksi dua arah antara pengisi acara dan pengunjung yang hadir di lokasi pameran.
Tidak kalah memikat, panggung utama muktamar akan diisi oleh beragam seni pertunjukan tradisional hingga hiburan populer secara bergantian. Seni selawat, banjari, parade puisi, Tari Songket, Tari Sufi, Tari Topeng Kaliwungu, teater besut, kentrung, seni pencak silat bantengan, wayang orang, hingga pertunjukan wayang kulit siap disuguhkan.
Bahkan, musisi legendaris Cak Sodiq juga dijadwalkan tampil untuk memeriahkan suasana panggung rakyat. Kombinasi apik antara seni tradisi murni dan hiburan populer dalam satu ruang ini menunjukkan betapa luas dan inklusifnya ekspresi kebudayaan yang dimiliki Indonesia saat ini.
Penyelenggaraan muktamar di UNWAHA ini sekaligus menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam lokomotif pelestarian budaya bangsa. Kampus tidak boleh menjauh dari realitas sosial, melainkan harus menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan pengetahuan akademik, tradisi lokal, dan kebutuhan nyata masyarakat.



