TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 76

Cahaya Kartini di Madrasah: Refleksi Semangat Lintas Generasi di MAN 1 Jombang

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Pagi yang bersih dan teduh di halaman MAN 1 Jombang menjadi saksi bisu bagaimana semangat Raden Ajeng Kartini kembali dihidupkan dengan penuh khidmat. Dalam balutan upacara bendera yang sakral, seluruh civitas madrasah larut dalam suasana peringatan Hari Kartini yang mengusung tema besar, “Semangat Kartini, Inspirasi Lintas Generasi.”

Langit biru yang membentang luas seolah merestui setiap langkah para peserta upacara yang berdiri tegap di lapangan. Mereka hadir dengan seragam terbaik, membawa beban harapan dan nyala cita-cita yang tak kunjung padam dalam dada masing-masing.

Bagi keluarga besar MAN 1 Jombang, hari itu bukan sekadar seremoni tahunan yang berlalu begitu saja. Peringatan ini menjadi sebuah ruang refleksi kolektif bahwa perjuangan perempuan untuk meraih pendidikan, kesetaraan, dan kemajuan adalah api yang tak pernah lekang oleh waktu.

Suasana semakin hening saat prosesi upacara dimulai, menciptakan harmoni antara penghormatan sejarah dan tekad masa depan. Setiap derap langkah petugas upacara mencerminkan kedisiplinan yang menjadi fondasi dari semangat emansipasi yang dulu diperjuangkan oleh sang pahlawan.

Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala Madrasah, Dr. Hj. Saadatul Athiyah, M.Pd., berdiri di podium dengan wibawa yang menyejukkan. Kehadiran beliau sendiri merupakan bukti nyata dari buah perjuangan Kartini, seorang perempuan yang berdiri di tampuk kepemimpinan pendidikan.

Dalam amanat yang disampaikan dengan suara tenang namun tegas, beliau mengajak seluruh siswa untuk menyelami lebih dalam makna di balik peringatan ini. Beliau menekankan bahwa menjadi “Kartini masa kini” berarti berani bermimpi setinggi langit tanpa melupakan akar budaya.

“Semangat Kartini adalah semangat yang melampaui zaman, sebuah energi yang tidak berhenti pada tumpukan kertas surat saja,” tutur Dr. Hj. Saadatul Athiyah yang biasa disapa Ning Atik di hadapan ratusan pasang mata yang menyimak dengan saksama dikutip Telusur.id, Selasa (21/4/2026).

Ning Atik melanjutkan bahwa jiwa Kartini harus hidup dalam setiap tindakan nyata para siswa sehari-hari. Mulai dari ketekunan dalam menuntut ilmu, keberanian dalam berkarya, hingga konsistensi dalam menjaga akhlakul karimah sebagai identitas siswa madrasah.

Setiap kalimat dalam amanat tersebut terasa meresap dan menyentuh hati para peserta upacara, terutama kaum perempuan muda yang kini memiliki kesempatan luas untuk belajar. Pesan itu menegaskan bahwa pendidikan adalah senjata utama untuk memutus rantai ketidaktahuan.

Upacara berlangsung sangat tertib, dimulai dari pengibaran Sang Merah Putih yang berkibar gagah di angkasa Jombang. Hingga tiba pada saat pembacaan doa, suasana berubah menjadi penuh haru, mengalirkan harapan-harapan tulus kepada Sang Pencipta.

Di antara barisan siswa, tampak wajah-wajah muda yang menyimpan tekad kuat untuk terus maju. Mereka sadar bahwa posisi mereka hari ini adalah sebagai generasi penerus yang memiliki tanggung jawab besar untuk menulis sejarah mereka sendiri.

Sebagaimana Kartini pernah menuliskan mimpi-mimpinya melalui pena, para siswa MAN 1 Jombang kini menuliskan prestasi melalui karya dan teknologi. Semangat literasi dan kemajuan berpikir menjadi napas baru dalam kehidupan pendidikan di lingkungan madrasah.

Di halaman madrasah yang bersejarah itu, pagi tidak hanya sekadar menghadirkan cahaya matahari yang menghangatkan kulit. Pagi itu membawa cahaya inspirasi yang menerangi pikiran, membangkitkan kesadaran akan pentingnya peran setiap individu bagi masyarakat.

Dari langkah kecil di upacara sederhana ini, semangat besar Kartini dipastikan akan terus terjaga. Ia akan tetap menyala, menembus sekat waktu, dan menjadi jembatan yang menghubungkan inspirasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Refleksi Hari Kartini, Dini Rahmania: Emansipasi Adalah Kesempatan Perempuan untuk Berkarya

0

JAKARTA, TELUSUR.ID – Peringatan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini setiap tanggal 21 April selalu menjadi momentum sakral untuk merefleksikan kembali perjalanan panjang emansipasi perempuan di Indonesia. Semangat perjuangan ini terus bergaung, menginspirasi berbagai tokoh perempuan di era modern untuk terus melangkah maju.

Politisi perempuan dari Fraksi NasDem, Hj. Dini Rahmania, turut memberikan pandangan mendalam mengenai makna emansipasi saat ini. Baginya, esensi perjuangan perempuan telah bertransformasi dari sekadar menuntut kesetaraan menjadi perjuangan untuk mendapatkan kesempatan yang nyata di segala bidang.

Menurut Dini, emansipasi perempuan bukan hanya soal berdiri sejajar dengan laki-laki, tetapi lebih kepada ketersediaan ruang untuk tumbuh dan berkembang. Anggota DPR RI ini menekankan bahwa perempuan harus memiliki hak untuk didengar dan berperan tanpa harus terbentur batasan-batasan kolot.

“Inti dari emansipasi itu sebenarnya sederhana, yakni perempuan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang dan memberi manfaat bagi sesama,” ujar Dini Rahmania saat memberikan keterangan tertulis pada peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4/2026) dikutip Telusur.id

Anggota Komisi VIII DPR RI ini menegaskan bahwa sosok Kartini merupakan inspirasi sekaligus pembuka jalan bagi peradaban perempuan di tanah air. Tanpa keberanian Kartini untuk berpikir berbeda di masa lampau, pencapaian perempuan hari ini mungkin tidak akan pernah terwujud.

Dini menilai, kesempatan bagi perempuan untuk bersekolah tinggi, merintis karier di dunia profesional, hingga menduduki posisi kepemimpinan strategis adalah buah dari keberanian Kartini. Namun, ia mengingatkan bahwa tugas generasi sekarang sudah bergeser dari sekadar membuka jalan.

“Tugas kita sekarang bukan lagi membuka jalan seperti yang dilakukan R.A. Kartini dahulu, melainkan melanjutkan dan mengisi jalan tersebut dengan karya-karya nyata yang berdampak luas,” tutur alumnus FISIP Universitas Airlangga (Unair) tersebut.

Selain sosok Kartini, Dini juga menyoroti peran Laksamana Malahayati sebagai tokoh perempuan pejuang yang luar biasa. Jika Kartini identik dengan kekuatan pemikiran dan literasi, maka Malahayati adalah simbol dari keberanian fisik dan keteguhan mental di medan laga.

Sosok Malahayati memberikan pelajaran berharga bahwa perempuan mampu berdiri di garis terdepan, bahkan dalam situasi yang paling berat sekalipun. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan perempuan tidak hanya terletak pada kelembutan hati, tetapi juga pada ketegasan dalam bertindak.

“Malahayati mengajarkan kita semua bahwa perempuan memiliki kekuatan ganda; kuat secara hati namun juga sangat tangguh dalam mengambil tindakan nyata,” terang Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Probolinggo tersebut.

Bergerak ke era modern, Dini Rahmania menunjuk sosok mantan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sebagai contoh nyata pemimpin perempuan yang tangguh. Khofifah dianggap berhasil merepresentasikan perpaduan antara kecerdasan intelektual dan kepemimpinan yang humanis.

Sebagai Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif versi Forkom Jurnalis Nahdliyin, Dini melihat pengalaman panjang Khofifah dalam birokrasi dan organisasi telah membentuk karakter kepemimpinan yang inklusif. Khofifah dinilai mampu memimpin dengan kuat tanpa kehilangan sisi kepeduliannya.

“Kepemimpinan perempuan memiliki keunikan tersendiri karena sering kali jauh lebih dekat dengan kebutuhan dasar masyarakat. Sisi empati dan kepedulian inilah yang menjadi kekuatan utama,” tambah Dini menjelaskan pandangannya.

Baginya, perpaduan semangat pemikiran Kartini, keberanian Malahayati, dan ketangguhan pemimpin seperti Khofifah harus menjadi fondasi bagi perempuan Indonesia. Tantangan global yang semakin dinamis menuntut perempuan untuk lebih adaptif dan berani mengambil peran-peran strategis.

Sebagai penutup, Dini Rahmania berharap peringatan Hari Kartini tahun 2026 ini menjadi titik balik bagi seluruh perempuan Indonesia untuk berani menunjukkan potensi terbaiknya. Dengan optimisme yang tinggi, ia yakin masa depan bangsa akan semakin cerah dengan keterlibatan aktif kaum perempuan di dalamnya.

Peringati Hari Kartini 2026, Gubernur Khofifah Ajak Perkuat Sinergi Tekan Angka Kematian Ibu

0

SURABAYA, TELUSUR.ID – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memanfaatkan momentum Hari Kartini 2026 untuk menyerukan penguatan kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan bahwa kualitas kesehatan ibu adalah kunci utama dalam mendorong peran strategis perempuan di berbagai sektor pembangunan.

Seruan ini sejalan dengan tema besar Hari Kartini tahun ini, yaitu “Bergerak Bersama Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI)”. Fokus tersebut diambil karena keselamatan ibu dianggap sebagai fondasi paling mendasar dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Menurut Khofifah, upaya penurunan AKI tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus dibarengi dengan penguatan peran perempuan sebagai subjek utama pembangunan. Ia mendorong agar spirit perjuangan R.A. Kartini terus diaktualisasikan melalui kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Spirit perjuangan Kartini harus kita wujudkan melalui langkah konkret, salah satunya dengan memastikan kesehatan ibu sebagai fondasi utama pembangunan manusia yang unggul,” ujar Khofifah di Surabaya, Selasa (21/4/2026).

Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menegaskan bahwa posisi perempuan sangat strategis dalam meningkatkan kualitas generasi bangsa. Selain memperkuat ketahanan keluarga, keterlibatan perempuan juga menjadi mesin penggerak keberlanjutan ekonomi dan sosial.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus meningkatkan akses serta kualitas layanan kesehatan ibu dan anak. Berbagai upaya ini terbukti telah berkontribusi signifikan pada penurunan angka kematian ibu serta perbaikan gizi masyarakat secara luas.

Pemprov Jatim juga terus memperkuat infrastruktur kesehatan melalui pengembangan pusat layanan terpadu, mulai dari stroke center, jantung, hingga onkologi. Bahkan, layanan kesehatan bergerak terus dioptimalkan guna menjangkau masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan terpencil.

“Pemanfaatan teknologi juga terus kita dorong, salah satunya melalui aplikasi e-Desi untuk deteksi dini risiko hipertensi. Ini merupakan bagian penting dalam mencegah komplikasi pada ibu hamil,” jelas mantan Menteri Sosial tersebut.

Data menunjukkan capaian positif pada tahun 2025, di mana prevalensi stunting di Jawa Timur berhasil ditekan hingga angka 14,7 persen. Meski demikian, Khofifah mengingatkan bahwa sinergi lintas sektor tetap harus diperkuat untuk memastikan tren penurunan ini terus berlanjut.

Ia menegaskan bahwa urusan nyawa ibu bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan semata. Baginya, penurunan AKI membutuhkan gerakan kolektif dari seluruh elemen bangsa, mulai dari edukasi tingkat keluarga hingga kebijakan tingkat nasional.

Di sisi lain, indeks pembangunan di Jawa Timur juga menunjukkan arah yang menggembirakan. Indeks Pembangunan Gender (IPG) tahun 2025 tercatat sebesar 93,29, sebuah angka yang terus menunjukkan tren peningkatan dan secara konsisten berada di atas rata-rata nasional.

Selain IPG, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Jawa Timur juga semakin membaik di angka 0,347. Hal ini membuktikan bahwa kesenjangan akses terhadap kesehatan, pendidikan, dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan di wilayah tersebut terus mengecil.

Partisipasi publik kaum perempuan di Jawa Timur pun kian nyata dengan angka keterwakilan legislatif yang menyentuh 20 persen. Selain itu, Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan juga tercatat cukup tinggi di angka 60,64 persen pada tahun lalu.

Namun, di tengah capaian tersebut, Khofifah tetap memberikan catatan kritis terhadap tantangan yang masih ada. Masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, pernikahan dini, serta risiko stunting tetap menjadi agenda besar yang harus dituntaskan secara bersama-sama.

Sebagai langkah perlindungan, Pemprov Jatim terus mengoptimalkan peran UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA). Institusi ini diharapkan menjadi garda terdepan dalam memberikan dukungan psikososial dan keselamatan bagi perempuan.

Khofifah juga mengapresiasi peran perempuan Indonesia di kancah global, seperti inisiatif Muslimat NU yang aktif menyuarakan perdamaian dunia ke PBB. Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan tidak terbatas pada ranah domestik, tetapi juga dalam membangun peradaban dunia.

“Selamat Hari Kartini. Mari kita jadikan momentum ini untuk bergerak bersama, meningkatkan kualitas hidup perempuan, dan menghadirkan generasi yang sehat serta berdaya saing global,” pungkas Ketua Umum Muslimat NU tersebut.

Babinsa Turun Malam, Hadirkan Rasa Aman di Desa Krobokan

0

Boyolali,TelusuR.ID – Demi menciptakan situasi yang aman dan kondusif, Babinsa melaksanakan patroli malam sekaligus sambang wilayah di Desa Krobokan, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Senin (20/04/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap keamanan dan kenyamanan masyarakat di wilayah binaan.

Dalam patroli tersebut, Babinsa menyusuri lingkungan permukiman warga, berinteraksi langsung dengan masyarakat, serta memberikan imbauan kamtibmas. Kehadiran aparat di tengah warga pada malam hari disambut positif, karena mampu memberikan rasa tenang sekaligus mencegah potensi gangguan keamanan.

Selain memastikan kondisi wilayah tetap aman, Babinsa juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempererat komunikasi sosial dengan warga. Melalui dialog santai, berbagai informasi dan aspirasi masyarakat dapat terserap dengan baik, sehingga upaya deteksi dini terhadap permasalahan di lingkungan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Warga Desa Krobokan mengaku merasa lebih nyaman dengan adanya patroli malam tersebut. Mereka berharap kegiatan serupa terus dilakukan secara rutin sebagai bentuk sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan secara bersama-sama.

(Agus Kemplu)

Kartini dalam Pusaran Negosiasi: Melawan Patriarki, Feodalisme, dan Kolonialisme

0

SURABAYA, TELUSUR.ID – Raden Ajeng Kartini selama ini dikenal luas sebagai figur ikonik sekaligus pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Melalui surat-suratnya, ia menyuarakan pentingnya pendidikan dan kebebasan berpikir bagi kaum perempuan pribumi yang saat itu terkungkung.

Namun, di balik narasi besar tersebut, posisi Kartini sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar memperjuangkan kesetaraan gender. Hal ini diungkapkan oleh Lilies Pratiwining Setyarini, S.Hub, Int, M.IP, seorang Pengamat Humanis Strategik sekaligus Sekretaris SP IMPPI Jawa Timur.

Menurut Lilies, jika dibedah menggunakan perspektif feminisme dekolonial dan teori subaltern dari Gayatri Chakravorty Spivak, Kartini terlihat berdiri di persimpangan yang tajam. Ia terhimpit di antara kekuatan kolonialisme, patriarki, dan feodalisme yang sangat kuat.

Feminisme dekolonial, sebagaimana yang digagas Chandra Talpade Mohanty (2003), menolak pandangan Barat yang sering menganggap perempuan Dunia Ketiga sebagai kelompok yang homogen dan pasif. Dalam pandangan ini, Kartini justru menjadi representasi agensi yang spesifik.

Kartini adalah perempuan pribumi yang hidup dalam cengkeraman sistem kolonial Belanda, namun di sisi lain ia juga terbelenggu oleh struktur feodal Jawa. Praktik pingitan dan pembatasan akses pendidikan menjadi bukti nyata bagaimana ruang geraknya dibatasi secara sistematis.

Melalui kumpulan surat dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini sebenarnya sedang melakukan artikulasi kritik yang sangat tajam. Ia tidak hanya mengeluhkan nasib perempuan secara personal, melainkan menunjukkan kesadaran bahwa penindasan tersebut bersifat struktural.

Kesadaran kritis ini mencakup kritik terhadap norma budaya dan relasi kekuasaan yang timpang. Lilies menilai, Kartini telah memiliki kesadaran kritis awal terhadap penindasan gender jauh sebelum wacana feminisme modern berkembang pesat di tanah air.

Meski demikian, suara Kartini tidak muncul dari ruang hampa karena sangat dipengaruhi oleh konteks kolonial di sekelilingnya. Di sinilah teori subaltern Spivak menjadi relevan untuk mempertanyakan apakah subjek terjajah benar-benar bisa berbicara secara mandiri.

Perlu dicermati bahwa suara Kartini hadir melalui korespondensi dengan tokoh-tokoh Eropa seperti J.H. Abendanon dan Estella Zeehandelaar. Fakta ini menunjukkan bahwa artikulasi pemikirannya tetap melalui perantara atau mediasi dari pihak kolonial itu sendiri.

Kartini berbicara menggunakan bahasa dan saluran yang dapat dipahami serta diterima oleh audiens kolonial. Hal ini menciptakan sebuah ambivalensi; ia mengkritik tradisi lokal yang menindas, namun di saat yang sama ia mengagumi modernitas Barat yang dibawa penjajah.

Namun, Lilies menekankan bahwa ambivalensi ini bukanlah sebuah kelemahan. Dalam kerangka feminisme dekolonial María Lugones (2007), kondisi ini justru mencerminkan realitas perempuan terjajah yang harus terus bernegosiasi dengan berbagai sistem kekuasaan yang tumpang tindih.

Lugones menyebutnya sebagai coloniality of gender, di mana kolonialisme tidak hanya menindas secara rasial, tetapi juga membentuk hierarki gender. Kartini bukanlah sekadar korban pasif, melainkan agen yang aktif melakukan tawar-menawar dalam struktur tersebut.

Salah satu bukti agensinya adalah ketidaksukaannya terhadap sistem Tanam Paksa yang ia ketahui dari buku Max Havelaar. Pendapat ini ia tuangkan secara berani dalam surat kepada Estelle Zeehandelaar pada tahun 1899 demi menyuarakan keadilan bagi rakyat.

Ia secara cerdik memanfaatkan akses terbatas yang dimilikinya, seperti kemampuan literasi dan koneksi dengan orang Eropa. Modal ini digunakannya untuk terus mendorong pentingnya pendidikan bagi perempuan pribumi sebagai jalan menuju kemandirian.

Meski begitu, kita tidak boleh menutup mata terhadap keterbatasan posisi sosial Kartini. Sebagai bagian dari kelas priyayi, Kartini memiliki privilese yang sangat kontras jika dibandingkan dengan rakyat jelata atau kaum perempuan di kelas bawah.

Fokus emansipasinya pada pendidikan dan kebebasan individu lebih relevan bagi perempuan kelas atas. Hal ini berbeda dengan nasib perempuan kelas bawah yang saat itu harus berhadapan langsung dengan eksploitasi ekonomi dan kerja paksa di bawah sistem kolonial.

Dalam konteks ini, suara Kartini mungkin belum sepenuhnya mewakili pengalaman perempuan yang berada di posisi paling marginal. Narasi resmi negara juga sering kali melakukan depolitisasi terhadap pemikiran kritis Kartini dengan menjadikannya simbol emansipasi yang “aman”.

Representasi tersebut cenderung mereduksi kritik radikal Kartini terhadap feodalisme menjadi sekadar wacana domestik. Hal ini merupakan bagian dari “kolonialitas pengetahuan”, di mana pemikiran kompleks disederhanakan agar lebih mudah diterima oleh ideologi dominan.

Ke depan, Lilies menyarankan agar cita-cita Kartini diteruskan dengan fokus pada stabilitas ekonomi dan kesetaraan yang nyata. Hal ini mencakup upaya redistribusi kekayaan yang menjadi basis material bagi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Sebagai penutup, memahami Kartini berarti melihatnya sebagai figur yang terus bernegosiasi di ruang sempit antara patriarki dan kolonialisme. Ia bukan titik akhir, melainkan titik awal bagi munculnya suara-suara perempuan lain yang masih belum terwakili dalam sejarah.

Progres Pesat! Jembatan Beton Garuda di Sambeng Kian Kokoh dan Mendekati Rampung

0

Boyolali,TelusuR.ID – Pembangunan Jembatan Beton Garuda di Desa Sambeng, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hingga Senin (20/04/2026), pengerjaan telah memasuki tahap struktur utama dengan fokus pada penguatan pondasi serta dinding penopang jembatan yang tampak semakin kokoh.

Di lokasi pembangunan, para pekerja terlihat aktif menyelesaikan bagian-bagian penting konstruksi dengan hasil yang rapi dan solid. Tahapan ini menjadi kunci dalam memastikan kekuatan jembatan agar mampu bertahan dalam jangka panjang serta aman digunakan oleh masyarakat.

Warga setempat pun menyambut positif progres tersebut dan berharap pembangunan dapat segera selesai. Keberadaan Jembatan Beton Garuda nantinya diharapkan mampu memperlancar akses transportasi serta meningkatkan perekonomian warga Desa Sambeng dan sekitarnya.

(Agus Kemplu)

Hama Gulma Jadi Perhatian Khusus, Babinsa Dampingi Petani Lakukan Pembersihan Lahan

0

Sragen,TelusuR.ID – Serangan hama gulma pada lahan pertanian menjadi perhatian khusus Babinsa Koramil 15/Gemolong Kodim 0725/Sragen Koptu Ngadiono. Untuk mencegah penurunan hasil panen, Ngadiono turun langsung mendampingi petani membersihkan gulma di areal persawahan wilayah binaan, Senin (20/04/2026).

Gulma dinilai sangat mengganggu karena menyerap unsur hara, air, dan sinar matahari yang seharusnya untuk tanaman padi. Jika dibiarkan, pertumbuhan padi terhambat dan hasil produksi bisa turun drastis.

“Hama gulma ini perhatian khusus kami karena dampaknya langsung ke hasil panen petani. Kalau gulma dibiarkan, padi bisa kalah bersaing dan petani rugi,” tegas Babinsa saat ikut mencabut gulma bersama petani.

Kegiatan pembersihan dilakukan secara manual dan gotong royong. Selain membersihkan, Ngadiono juga berkoordinasi dengan PPL untuk edukasi pengendalian gulma secara tepat, baik mekanis maupun penggunaan herbisida yang bijak.

Petani mengaku terbantu dengan pendampingan Babinsa. “Biasanya kami kewalahan kalau gulma sudah tebal. Dengan dibantu Pak Babinsa, kerjaan jadi ringan dan cepat selesai,” ujar Wito (54) salah satu petani.

Ngadiono berharap dengan penanganan gulma yang serius, produktivitas pertanian tetap terjaga dan program ketahanan pangan di wilayah binaan dapat tercapai. Babinsa juga mengimbau petani rutin memantau lahan agar gulma tidak kembali berkembang.

(Agus Kemplu)

Khofifah: Konsumen Berdaya adalah Kunci Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara

0

SURABAYA, TELUSUR.ID – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memanfaatkan momentum strategis Peringatan Hari Konsumen Nasional (Harkonas) Tahun 2026 sebagai penguat peran konsumen dalam ekonomi.

Langkah ini dinilai krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya kuat, tetapi juga berdaya, transparan, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri peringatan Harkonas 2026 yang mengusung tema besar “Perlindungan Konsumen Menuju Indonesia Emas” di Surabaya, Senin (20/4).

Dalam pidatonya, Khofifah menekankan bahwa konsumen yang berdaya, cerdas, kritis, dan terlindungi merupakan fondasi utama dalam mewujudkan perekonomian yang tangguh di masa depan.

“Hari Konsumen Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk meneguhkan bahwa konsumen yang berdaya adalah kunci penguatan ekonomi menuju Indonesia Emas,” tegasnya.

Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang terus konsisten dalam meningkatkan level keberdayaan masyarakat sebagai konsumen.

Komitmen tersebut dibuktikan dengan tren positif Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) Jawa Timur yang terus menunjukkan grafik kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data yang dirilis, pada tahun 2022 IKK Jawa Timur berada di angka 55,40, kemudian melesat menjadi 59,17 pada tahun 2023, dan menyentuh 62,68 pada tahun 2024.

Tren positif ini berlanjut hingga tahun 2025 dengan capaian IKK sebesar 66,34, yang mengindikasikan masyarakat semakin memahami peran mereka di pasar global.

“Ini menunjukkan bahwa konsumen Jawa Timur semakin cerdas, sadar akan hak dan kewajibannya, serta semakin selektif dalam menentukan pilihan produk,” jelas Khofifah.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penguatan posisi konsumen memiliki peran strategis dalam mendukung visi besar Jawa Timur sebagai “Gerbang Baru Nusantara”.

Jawa Timur tidak hanya diproyeksikan sebagai pusat distribusi dan perdagangan, tetapi juga wilayah dengan masyarakat yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

“Sebagai Gerbang Baru Nusantara, konsumen yang cerdas akan mendorong pelaku usaha untuk lebih bertanggung jawab, inovatif, dan memiliki daya saing tinggi,” imbuhnya.

Khofifah juga menyoroti bahwa perlindungan konsumen merupakan pilar utama dalam membangun kepercayaan publik yang menjadi bahan bakar aktivitas ekonomi nasional.

Menurutnya, ketika masyarakat merasa aman dan terlindungi secara hukum, tingkat kepercayaan dalam bertransaksi akan meningkat secara otomatis dan berdampak pada pertumbuhan pasar.

“Kepercayaan adalah modal utama. Karena itu, perlindungan konsumen harus diperkuat melalui regulasi yang tegas, edukasi masif, serta pengawasan berkelanjutan,” tuturnya.

Di tengah pesatnya ekonomi digital, Khofifah menilai literasi konsumen menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak hanya menjadi objek pasar atau sekadar pengguna.

Ia mendorong warga agar tetap kritis menghadapi beragam tawaran produk dan layanan digital yang semakin kompleks agar tidak terjebak dalam praktik perdagangan yang merugikan.

Keberhasilan peningkatan IKK di Jawa Timur diakui Khofifah sebagai buah dari sinergi yang solid antara pemerintah, pelaku usaha, serta kesadaran kolektif dari masyarakat.

Menutup arahannya, Khofifah mengajak seluruh pihak menjadikan Harkonas sebagai refleksi bersama guna memperkuat fondasi ekonomi menuju Indonesia Emas yang maju dan berkelanjutan.

Berantas Judi Sabung Ayam di Jombang, TNI-Polri Bakar Arena hingga Pelosok Desa

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Ketegasan aparat penegak hukum dalam memberantas penyakit masyarakat terus diperlihatkan di wilayah Kabupaten Jombang. Jajaran kepolisian bersama unsur TNI kini memperkuat sinergi untuk menyisir praktik perjudian sabung ayam yang diduga berlangsung secara tersembunyi.

Fokus operasi gabungan kali ini mengarah ke wilayah Dusun Sendangrejo, Desa Banjardowo, Kecamatan Jombang. Lokasi ini menjadi sorotan setelah adanya laporan mengenai aktivitas perjudian yang meresahkan warga setempat dan kerap luput dari pantauan.

Jajaran Polres Jombang tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi erat dengan Polsek setempat serta personel Koramil dari Kodim 0814 Jombang untuk melakukan penetrasi ke titik-titik yang dianggap rawan menjadi arena judi.

Tercatat, sepanjang Februari hingga Maret 2026, petugas telah melaksanakan sedikitnya dua kali razia besar-besaran di lokasi tersebut. Operasi ini merupakan bagian dari upaya cipta kondisi agar wilayah Jombang tetap aman dan kondusif.

Namun, menembus arena perjudian ini ternyata bukan perkara mudah. Dalam setiap operasi yang dilakukan, para pelaku perjudian diduga telah mengantisipasi kedatangan petugas sehingga berhasil melarikan diri sebelum aparat tiba di lokasi tujuan.

Meski para pelaku berhasil lolos dari sergapan, aparat tidak tinggal diam. Langkah tegas diambil dengan membongkar seluruh sarana perjudian dan membakar arena sabung ayam yang ditemukan di lokasi guna memastikan fasilitas tersebut tidak bisa digunakan kembali.

Berdasarkan hasil pendalaman petugas di lapangan, praktik perjudian sabung ayam di wilayah ini dilakukan dengan pola yang cukup rapi. Para pelaku menerapkan sistem berpindah-pindah lokasi atau nomaden guna menghindari endapan petugas.

Waktu pelaksanaan judi pun tidak menentu, namun umumnya terdeteksi berlangsung pada akhir pekan, yakni hari Sabtu dan Minggu. Mereka memanfaatkan area terpencil yang jauh dari permukiman warga untuk meminimalisir kecurigaan.

Lokasi-lokasi yang dipilih pun sangat sulit dijangkau karena hanya dapat diakses melalui jalan setapak. Hal inilah yang seringkali menjadi kendala bagi aparat saat melakukan penggerebekan karena kedatangan mereka mudah terdeteksi dari kejauhan.

Pihak kepolisian sejauh ini telah mengidentifikasi dua titik lokasi utama yang kerap digunakan sebagai arena perjudian dengan pola “kucing-kucingan”. Lokasi pertama berada di wilayah Kecamatan Diwek yang dikenal memiliki medan cukup menantang.

Meskipun wilayah Diwek telah beberapa kali dirazia, aktivitas serupa kerap muncul kembali dengan berpindah tempat. Sementara itu, lokasi kedua di Dusun Sendangrejo, Desa Banjardowo, kini terus dipantau secara ketat oleh tim gabungan.

Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan melalui Kasihumas, Ipda Achmad Muzaiyin Noor, menegaskan komitmen tinggi aparat dalam memberantas segala bentuk perjudian tanpa pandang bulu di wilayah hukum Jombang.

“Pihak kepolisian tidak akan memberikan ruang bagi praktik perjudian dalam bentuk apa pun. Kami akan terus melakukan penindakan secara tegas serta berkelanjutan,” ujar Ipda Achmad Muzaiyin Noor dalam keterangannya dikutip Telusur.id, Senin (20/4/2026).

Sinergi antara TNI dan Polri ke depan akan terus ditingkatkan melalui rapat koordinasi berkala. Selain itu, pelaksanaan operasi mendadak akan menjadi strategi utama untuk memaksimalkan penindakan di lapangan agar memberikan efek jera.

Polres Jombang juga sangat mengharapkan peran aktif dari masyarakat untuk melaporkan jika menemukan aktivitas mencurigakan di lingkungannya. Partisipasi warga dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Hingga saat ini, aparat gabungan masih terus melakukan pemantauan dan pendalaman di lapangan. Proses penegakan hukum dipastikan akan terus berjalan sesuai ketentuan guna memastikan Kabupaten Jombang bersih dari praktik perjudian ilegal.

Jacob Ereste ; *Program MBG, Sekolah Rakyat dan Koperasi Merah Putih Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Patut Didukung Penuh Oleh Rakyat*

0

Jacob Ereste ; *Program MBG, Sekolah Rakyat dan Koperasi Merah Putih Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Patut Didukung Penuh Oleh Rakyat*

Jakarta,TelusuR.ID – Hashim Djojohadikusumo menilai program MBG (Makan Bergizi Gratis) untuk anak-anak sekolah wajar mengalami berbagai masalah karena harus menjangkau jumlah penerima yang banyak jumlahnya. Tapi masalah kasus keracunan hingga temuan belantung dalam sajian malam MBG itu, sulit dipahami karena harus menjadi tanggung jawab pihak pelaksana teknis pada tingkah lapangan. Karena itu sejak awal, program yang sangat baik dan membuktikan bahwa Presiden Prabowo sungguh pro rakyat perlu didukung, namun teknis pelaksanaannya yang kacau perlu dievaluasi ulang. Setidaknya patut untuk diperbaiki agar teknis pelaksanaannya agar insiden yang pernah terjadi tidak berulang seperti yang sudah banyak membuat rakyat kecewa.

 

Pertama, teknis pelaksanaan MBG dapat diberikan langsung kepada orang tua murid untuk mengelola sajian menu yang telah ditentukan oleh pemerintah. Sehingga pihak pengawas yang disediakan oleh pemerintah tinggal melakukan pengawasan serta pendarahan yang dianggap perlu dilakukan perbaikan.

 

Kecuali itu, dengan memberikan dana untuk MBG kepada setiap orang tua murid atau wali dari masing-masing siswa yang dianggap perlu dan pantas memperoleh MBG, dapat dipersiapkan oleh masing-masing orang tua atau para wali murid yang disesuaikan dengan daftar menu yang harus disajikan setiap hari kepada para siswa penerima MBG tersebut. Jadi, selain efektif dan efisien dalan pelaksanaanya — tiada perlu biaya untuk membuat dapur, tiada perlu petugas pelaksana pengadaan MBG serta tiada perlu adanya petugas pengantar dan pengumpul kembali peralatan makan dari MBG itu — pasti akan lebih menghemat dana yang tidak perlu dihambur-hamburkan. Termasuk membeli sejumlah kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua yang sungguh fantastis nilainya itu.

 

Artinya, program MBG yang dilakukan oleh Presiden Prabowo akan lebih efektif dan efisien menyasar rakyat yang membutuhkan MBG tersebut, hingga bisa menekan jumlah kebocoran yang tidak perlu terjadi, namun sasarannya bisa lebih maksimal dinikmati oleh rakyat yang memang cukup banyak jumlahnya yang membutuhkan MBG dilaksanakan.

 

Pernyataan Hashim Djojohadikusumo tentang MBG yang dilontarkan pada acara Jaga Desa Award, Minggu 19 April 2026 di Jakarta, dapat dipahami sebagai bentuk perhatian terhadap program MBH yang benar-benar dapat dinikmati oleh rakyat. Demikian juga kritik dari masyarakat yang semakin meningkat atensinya, jelas menunjukkan pula harapan terhadap MBG dapat dilakukan dengan baik, efisien dan menyadari secara maksimal kebutuhan yang sangat diperlukan oleh warga masyarakat. Karena itu, teknis pelaksanaanya yang kacau dan buruk perlu dicarikan jalan keluar yang terbaik, sehingga hasil capaian program yang pro rakyat lainnya pun dapat mencapai sasaran dengan hasil yang maksimal.

 

MBG yang muncul dari pemikiran Prabowo Subianto mengatasi masalah stunting sangat tepat dan jenial. Seperti yang dilanjutkan dengan program “Sekolah Rakyat” dan akan terus ditimpali oleh gebrakan Koperasi Merah Putih untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, sungguh baik dan luar biasa kesan dari keberpihakan program tersebut yang hendak diperuntukkan bagi rakyat. Setidaknya amanat UUD 1945 memang jelas memerintahkan kepada negara dan pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah fakir miskin dan anak terlantar serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Karena itu sejak awal usulan dan gagasan dari pelaksanaan MBG, Sekolah Rakyat dan Koperasi Merah Putih hendaknya bisa maksimal diorientasikan untuk rakyat. Khususnya dalam rekrutmen tenaga pengajar, toh bisa memberi prioritas kepada guru honorer yang masih cukup banyak tidak mendapat perhatian — utamanya untuk diangkat menjadi pegawai tetap, tak lagi outsourcing atau pegawai honorer yang belum memiliki masa depan yang jelas untuk menunaikan karier profesionalnya sebagai pengajar.

 

Demikian idealnya untuk pengelola Koperasi Merah Putih dapat disinergikan dengan koperasi yang sudah ada di desa-desa untuk diberdayakan tata kelolanya. Memang harus diakui, tidak semua personil lama dari pengurus koperasi yang telah ada itu mempunyai niat dan tekat serta keinginan yang baik untuk mengutarakan kesejahteraan bagi rakyat, banyak. Namun pihak pemerintah pusat dan daerah dapat melakukan seleksi secara lebih ketat, ketimbang membentuk lembaga yang baru yang sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk mengelola koperasi guna meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena tujuan pokok dari koperasi bukan untuk memperkaya para pengurus seperti yang harus dan layak dilakukan juga dalam pelaksanaan MBG maupun sekolah rakyat.

 

Pada intinya warga masyarakat akan mendukung semua program pemerintah Presiden Prabowo yang serius berpihak kepada rakyat serta hendak segera meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam pengertian lahir dan bathin.

 

 

Pecenongan, 20 April 2026