TelusuR.ID

Beranda blog Halaman 68

Realitas yang Bernapas: Sebuah Pengantar untuk Memahami Teori Realitas Terintegrasi

0

Realitas yang Bernapas: Sebuah Pengantar untuk Memahami Teori Realitas Terintegrasi

Oleh: M. Shoim Haris

(Peserta Program Doktor Ilmu Ekonomi UNTAG Surabaya)

 

TelusuR.ID – Kita terbiasa memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang diberikan—sebuah panggung statis, sebuah latar yang tetap, di mana kehidupan berlangsung. Fisika mengajarkan kita tentang partikel, gaya, dan hukum-hukum yang tidak berubah. Biologi berbicara tentang sel, evolusi, dan adaptasi. Ekonomi merumuskan insentif, pasar, dan keseimbangan. Ilmu politik memetakan kekuasaan, institusi, dan konflik. Setiap disiplin memotong realitas menurut garisnya sendiri, lalu kita bertanya-tanya mengapa potongan-potongan itu tidak pernah kembali menyatu.

Ada sebuah pertanyaan tua yang terus menghantui: mengapa masyarakat yang makmur secara material dan berpengetahuan luas tetap rentan terhadap krisis, konflik, dan kehampaan makna? Mengapa individu yang cerdas dan bekerja keras sering tidak kunjung keluar dari kebuntuan? Mengapa negara dengan sumber daya alam melimpah justru tenggelam dalam pusaran korupsi dan kemiskinan? Bukan karena kurangnya data atau kemauan. Bukan karena kebodohan kolektif. Jawabannya, menurut Teori Realitas Terintegrasi (Integrated Reality Theory – IRT), adalah bahwa kita telah kehilangan kemampuan untuk melihat realitas sebagai sesuatu yang bernapas—sebuah gerakan berkelanjutan, sebuah proses yang mengalir, di mana energi, informasi, hambatan, kesadaran, dan pembelajaran saling terkait dalam tarian yang tak terpisahkan.

Inti Teori: Bukan Sekadar Rumus

Di balik uraian ini, ada sebuah inti yang dirumuskan secara matematis. Rumus itu hanyalah sebuah cara untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya sangat manusiawi:

Mari kita bedaki perlahan, bukan sebagai mantra, tetapi sebagai narasi.

  • R adalah hasil realitas: stabilitas, kesejahteraan, kemajuan—apa pun yang kita pedulikan pada suatu waktu.
  • E adalah energi: kapasitas material, sumber daya, kesehatan, uang, infrastruktur.
  • I adalah informasi: struktur, pengetahuan, aturan, hukum, strategi—apa pun yang memberi bentuk pada energi.
  • S adalah entropi: hambatan, kekacauan, kebocoran—utang, korupsi, birokrasi berbelit, trauma, lingkungan yang toksik.
  • C adalah kesadaran: kemampuan untuk memantau diri, memilih arah, dan mengintervensi lintasan.
  • v adalah evolusi: kecepatan belajar, adaptasi, dan pembaruan diri.

Mengapa bentuk perkalian dan pembagian? Mengapa tidak penjumlahan? Karena energi tanpa informasi hanya gerakan acak; informasi tanpa energi hanya impian. Dan entropi bukan sekadar pengurang—ia adalah pembagi. Satu titik korupsi dapat membatalkan sepuluh titik investasi. Sebuah utang kecil yang tidak dilunasi bisa menghambat seluruh langkah maju. Inilah logika yang keras tetapi jujur.

Adapun pangkat v dan tanda integral adalah pengingat bahwa realitas tidak linear dan tidak melupakan. Jika suatu sistem belajar cepat (v > 1), setiap perbaikan kecil akan berlipat ganda. Jika ia mandek (v < 1), energi sebanyak apa pun akan tergerus oleh diminishing returns. Dan integral di awal persamaan itu mengingatkan: masa lalu tidak bisa dihapus. Setiap keputusan yang pernah kita buat terakumulasi seperti lapisan sedimen, membentuk daratan di mana kita sekarang berdiri.

Membaca Realitas dengan Kacamata IRT

Ambil contoh tiga negara: Indonesia, Vietnam, dan Brasil. Dengan mata telanjang, sulit membedakan nasib mereka hanya dari PDB per kapita. Namun dengan lensa IRT, pola menjadi jelas.

Indonesia memiliki energi yang besar: sumber daya alam, populasi muda, posisi strategis. Namun informasinya masih kacau: hukum yang tumpang tindih, birokrasi berbelit, penegakan hukum yang tidak konsisten. Akibatnya, entropinya tinggi: korupsi sistemik, polarisasi yang menguras energi, biaya transaksi yang membebani rakyat kecil. Kesadaran kolektif terfragmentasi: tidak ada visi bersama yang membakar semangat. Evolusinya lambat: kita mengulang kesalahan yang sama, dari reformasi yang setengah hati hingga program pembangunan yang mandek di tengah jalan.

Vietnam, dengan energi awal yang lebih rendah, memilih jalan yang berbeda. Ia berani menekan entropi: menyederhanakan birokrasi, memberantas korupsi secara sistemik, membuka diri pada perdagangan global. Informasinya dibangun ulang: hukum yang lebih jelas, pendidikan yang merata, investasi dalam inovasi. Kesadarannya terjaga: para pemimpin tahu ke mana arah yang harus dituju, dan rakyat ikut bergerak. Ia belajar cepat—dari kegagalan perang, dari kesuksesan tetangga, dari perubahan global. Hasilnya, Vietnam melompat. Indonesia berjalan di tempat.

Brasil? Energinya sedikit lebih besar, tetapi entropinya jauh lebih tinggi—ketimpangan yang menganga, polarisasi yang melumpuhkan, utang yang membebani. IRT memperingatkan: tanpa intervensi pada S dan I, energi yang besar hanya akan memperbesar kebocoran.

Kesadaran Bukanlah Kata Ajaib

Salah satu klaim paling berani teori ini adalah bahwa kesadaran (C) bukan epifenomena. Ia bukan gelembung yang muncul dari aktivitas saraf tanpa daya ubah. Kesadaran adalah kemampuan suatu sistem untuk menatap dirinya sendiri, untuk membaca kelemahannya sendiri, untuk memilih di antara kemungkinan-kemungkinan, dan untuk mengintervensi jalur yang tadinya tampak ditentukan. Dalam rumus, C adalah pengali. Ia tidak menciptakan energi dari ketiadaan, tetapi ia menentukan ke mana arah energi yang ada akan mengalir. Tanpa C, sistem akan tunduk pada gradien resistensi terkecil—yang biasanya adalah entropi.

Dengan kata lain: tanggung jawab bukanlah konsep moral belaka. Ia adalah imperatif termodinamik. Tidak sadar berarti membiarkan kekacauan menang. Dan berhenti belajar berarti bunuh diri perlahan.

Untuk yang Merasa Hidup Berputar-putar

Teori ini bukan hanya untuk negara dan peradaban. Ia untuk setiap kita. Pernahkah Anda merasa sudah berusaha keras—menambah penghasilan, mengikuti pelatihan, membaca buku motivasi—tetapi hidup masih terasa seperti roda hamster? IRT membisikkan prioritas yang mungkin terbalik dari intuisi Anda.

Jangan dulu mengejar uang (E). Jangan dulu membanjiri diri dengan kursus (I). Langkah pertama adalah menurunkan entropi. Selesaikan utang. Bersihkan meja dan kamar. Lepaskan hubungan yang toksik. Maafkan masa lalu. Selesaikan urusan yang menggantung. Karena selama S masih tinggi, segala energi dan informasi yang Anda masukkan hanya akan tersedot ke dalam lubang hitam.

Setelah S rendah, bangun informasi: buat strategi, belajar secara terstruktur, cari mentor. Lalu aktifkan kesadaran: tulis visi, praktikkan refleksi harian, buat komitmen publik. Percepat evolusi: evaluasi setiap minggu, minta kritik, coba cara baru. Maka, ketika akhirnya Anda mengejar energi, setiap langkah akan terasa ringan.

Sebuah Peta, Bukan Wilayah

Teori ini tidak mengklaim kebenaran final. Ia mengakui dengan jujur bahwa kesadaran masih sulit diukur, bahwa evolusi baru didekati dengan proksi kasar, bahwa analogi dengan termodinamika dapat diperdebatkan. Ia bahkan merumuskan kriteria kegagalan: jika data menunjukkan bahwa variabel efisiensi sistem tidak signifikan, atau arah hubungannya terbalik, maka IRT harus direvisi atau ditinggalkan.

Kejujuran inilah yang membedakan teori ilmiah dari dogma. Karena realitas, sebagaimana diajarkan IRT, tidak akan menunggu. Ia terus mengalir, terus menjadi, terus mengintegrasikan setiap keputusan kecil yang kita buat hari ini ke dalam arus besar sejarah.

Sebuah Pinjaman dari Masa Depan

Tulisan ini ditutup dengan sebuah pepatah dari penduduk asli Amerika: “Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur kita; kita meminjamnya dari anak cucu kita.” Demikian pula dengan kebenaran. Teori Realitas Terintegrasi bukanlah warisan yang harus dijaga dengan cemburu. Ia adalah pinjaman dari generasi mendatang—sebuah hipotesis yang kita bawa ke meja pengujian, dengan harapan bahwa setelah diuji, ia akan menjadi sedikit lebih berguna daripada ketika kita menerimanya.

Dan jika kelak ia terbukti salah, biarlah kerangkanya menjadi kayu bakar untuk api pengetahuan yang lebih hangat. Karena satu-satunya dosa dalam ilmu pengetahuan bukanlah kesalahan, melainkan keengganan untuk terus belajar. Atau, dalam bahasa IRT: membiarkan v mendekati nol.

Hangat dan Penuh Kebersamaan, Babinsa Pracimantoro Perkuat Sinergi dengan Warga Desa Glinggang

0

Wonogiri,TelusuR.ID – Suasana penuh keakraban terlihat dalam kegiatan anjangsana dan komunikasi sosial oleh Babinsa Koramil 13/Pracimantoro, Kodim 0728/Wonogiri, Kamis (30/4/2026).

Kegiatan ini menjadi momen penting dalam mempererat hubungan antara aparat teritorial dengan masyarakat, khususnya di Desa Glinggang, Kecamatan Pracimantoro.

Dengan pendekatan humanis, Babinsa hadir langsung di tengah warga, berdialog santai sekaligus membangun kepercayaan.

Dalam kegiatan tersebut, Babinsa melakukan silaturahmi dengan tokoh masyarakat setempat, Bapak Lagino, yang dikenal sebagai Ketua RW dan sosok berpengaruh di lingkungan desa.

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh keterbukaan, mencerminkan hubungan harmonis antara TNI dan masyarakat.

Bapak Lagino menyampaikan apresiasinya serta komitmennya untuk terus mendukung program-program pemerintah demi kemajuan wilayah.

Tak hanya itu, dukungan juga datang dari Bapak Suradi selaku anggota Linmas Desa Glinggang. Ia menegaskan pentingnya menjaga sinergitas antara masyarakat dan aparat keamanan demi terciptanya situasi yang aman dan kondusif.

Menurutnya, kolaborasi yang solid akan menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan di wilayah, khususnya dalam menjaga stabilitas keamanan di Kecamatan Pracimantoro.

Di sektor pertanian, Bapak Arif yang berprofesi sebagai penggilingan padi turut menyampaikan pandangannya. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas pertanian sebagai tulang punggung ekonomi warga.

Selain itu, ia juga mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin baik antara masyarakat dengan Kodim 0728/Wonogiri, yang dinilai mampu memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani.

Melalui kegiatan anjangsana ini, diharapkan hubungan yang sudah terjalin baik dapat terus ditingkatkan.

Kehadiran Babinsa di tengah masyarakat bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai sahabat dan mitra dalam membangun desa.

Kegiatan berlangsung dengan lancar, aman, dan penuh kebersamaan menjadi bukti nyata bahwa komunikasi yang baik mampu memperkuat persatuan dan kemajuan bersama.

(Agus Kemplu)

Cara Jurnalistik TMMD Reg 128 Kodim Sragen Dapat Berita di Lokasi TMMD Reg Kodim Sragen.

0

Sragen,TelusuR.ID – Menjadi seorang jurnalis bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, mereka mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memberikan informasi yang valid berdasarkan fakta-fakta yang ada di lapangan.

Pada era sekarang ini sudah banyak lembaga pers yang bebas untuk memberitakan segala macam informasi, hal yang berkaitan dengan isu-isu mengenai pemerintahan, politik, ekonomi, begitu juga yang dilaksanakan oleh Tim Jurnalis TMMD Reguler Kodim Sragen.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Sertu Eko Sucipto, mengemban tugas sebagai kameramen jurnalistik Penerangan Kodim (Pendim) Sragen di lokasi Program TMMD Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen, yaitu pengambilan dokumentasi, meliput sekaligus menjalin kedekatan bersama warga masyarakat di lokasi TMMD.

“Untuk memperoleh materi yang akurat sebagai bahan rilisan berita, kami wajib menggali informasi langsung ke narasumber dengan ngobrol santai, sehingga kita mendapatkan informasi valid sesuai fakta dan harus bisa dituangkan dalam bentuk cerita, yang merupakan kaidah seorang insan jurnalis,” ujarnya, Selasa (28/04/2026)

Ditambahkan oleh Sertu Eko Sucipto, apabila kita dekat dengan masyarakat, selain bisa memperoleh bahan berita maka juga merekatkan hubungan antara warga dengan TNI sehinga dengan sendirinya bisa mewujudkan kemanunggalan TNI dengan rakyat.
“Saat ini, peran humas sangat penting untuk mensosialisasikan program atau non program TNI dalam membantu Pemerintah Daerah maupun pihak terkait lainnya, serta kegiatan sosial kemasyarakatan,” tandasnya.

(Agus Kemplu)

Menuju Muktamar NU ke-35: Gus Lilur Bedah Peta Koalisi ‘Paslon’ dan Potensi Koalisi Besar

0

JAKARTA, TELUSUR.ID – Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) kian memanas menjelang perhelatan Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang. Berbagai manuver mulai muncul ke permukaan, baik dalam bentuk pencalonan mandiri maupun pengusungan figur tertentu oleh gerbong-gerbong kekuatan di dalam organisasi.

Mencermati fenomena tersebut, warga NU sekaligus pengamat organisasi, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, memberikan analisis mendalam. Menurutnya, pola kontestasi kali ini semakin terang terbaca dalam format berpasangan antara calon Ketua Umum dan calon Rais Aam.

“Fenomena ini menarik karena kontestasi kian mengerucut dalam format ‘paslon’. Meskipun Rais Aam dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), dalam praktiknya komposisi tersebut sering kali dikondisikan oleh kepentingan calon Ketua Umum,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya diterima Telusur.id, Kamis (30/4/2026).

Terkait peta kekuatan yang ada, Gus Lilur memetakan setidaknya enam poros utama yang sedang bergerak. Poros pertama dihuni oleh petahana Ketua Umum, KH Yahya Cholil Staquf, yang menurut pengamatannya sedang aktif mencari pasangan Rais Aam demi memperluas legitimasi dukungan.

Sementara itu, poros kedua melibatkan Rais Aam petahana KH Miftachul Akhyar yang berjalan beriringan dengan Sekjen petahana Saifullah Yusuf. Pasangan ini, menurut Gus Lilur, tengah mencari sosok Ketua Umum yang tepat untuk mereka usung sebagai penantang petahana.

Beranjak ke poros ketiga, Gus Lilur menyoroti munculnya figur yang disokong oleh kekuatan penguasa, yakni Menteri Agama Nasaruddin Umar. Sosok ini dinilai memiliki posisi tawar yang tinggi dan saat ini sedang dalam tahap penjajakan mencari pasangan Rais Aam yang sepadan.

Di sisi lain, poros keempat datang dari kekuatan jejaring Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII. Di internal gerbong ini, Gus Lilur melihat masih terjadi kontestasi nama-nama besar seperti KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudhori, KH Imam Jazuli, hingga KH Abdul Ghoffar Rozin.

Meski posisi calon Ketua Umum di poros tersebut masih dinamis, Gus Lilur menyebut satu nama telah menguat untuk posisi Rais Aam. “Satu hal yang sudah mengerucut di poros PKB-PMII adalah pengusungan KH Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam,” jelasnya.

Selanjutnya, poros kelima muncul dari kekuatan PWNU Jawa Timur yang mendorong KH Abdul Hakim Mahfuz atau Gus Kikin. Selain itu, ada pula poros keenam sebagai alternatif yang mengusung KH Marzuki Mustamar, di mana kelompok ini sudah tegas menyatakan dukungan kepada KH Said Aqil Siradj.

Berbicara mengenai kekuatan suara, Gus Lilur memaparkan data yang cukup signifikan terkait peta dukungan nasional. Jaringan PKB-IKA PMII diperkirakan memegang kendali atas 250 suara, sementara jaringan Kementerian Agama mengantongi sekitar 130 suara.

Sejalan dengan itu, gerbong petahana Ketua Umum diperkirakan memiliki basis dukungan sebesar 20 persen atau sekitar 100 suara. Angka yang sama juga diprediksi dimiliki oleh barisan Rais Aam dan Sekjen petahana, dengan sisa sekitar 80 suara yang masih belum menentukan sikap.

Berdasarkan hitung-hitungan tersebut, Gus Lilur berpendapat bahwa peluang kemenangan terbesar berada di tangan jaringan PKB-IKA PMII. Namun, peluang tersebut baru akan menjadi kekuatan absolut jika mereka mampu membangun koalisi dengan jaringan Kementerian Agama.

“Jika jaringan PKB-PMII berpadu dengan kekuatan Kementerian Agama, maka potensi suara bisa mencapai 400 suara. Angka ini secara praktis akan menentukan hasil akhir Muktamar,” tambah pria yang dijuluki Kiai Kampung ini.

Kendati demikian, Gus Lilur mengingatkan adanya tantangan besar dalam membangun kompromi tersebut. Persoalan muncul terkait siapa yang akan mengisi posisi Ketua Umum, mengingat baik Nasaruddin Umar maupun figur di internal PKB-PMII sama-sama memiliki ambisi yang kuat.

Oleh karena itu, Gus Lilur mempertanyakan apakah skenario koalisi antara Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum dan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam dapat terwujud. Jika skenario ini disepakati oleh Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid, ia menilai Muktamar akan terasa “selesai sebelum dimulai”.

Namun, di tengah kuatnya poros tersebut, Gus Lilur mengimbau agar tidak meremehkan kekuatan petahana. Menurutnya, KH Yahya Cholil Staquf masih memiliki peluang membangun pasangan tandingan dengan menggandeng tokoh sekaliber KH Asep Saifuddin Chalim atau KH Ma’ruf Amin.

Selain poros-poros besar tersebut, Gus Lilur juga melihat adanya kemungkinan munculnya pasangan alternatif lain. Nama KH Zulfa Mustofa yang berpasangan dengan KH Miftachul Akhyar dinilai tetap memiliki potensi untuk meramaikan bursa kepemimpinan.

Begitu pula dengan peluang pasangan dari Jawa Timur seperti KH Marzuki Mustamar yang bisa saja dipasangkan dengan KH Ma’ruf Amin. Figur-figur ini menurut Gus Lilur tetap memiliki basis kultural yang sangat luas di akar rumput warga Nahdliyin.

Lebih lanjut, Gus Lilur menekankan bahwa hasil akhir Muktamar akan sangat bergantung pada bersedianya para kandidat di jaringan PKB-PMII untuk menekan ego pribadi. “Pertanyaannya, apakah mereka bersedia melepas ambisi Ketua Umum demi koalisi besar bersama Nasaruddin Umar?” tanyanya retoris.

Terlepas dari segala hitung-hitungan politik tersebut, Gus Lilur menyampaikan pesan krusial mengenai integritas organisasi. Ia menegaskan bahwa kemandirian NU harus menjadi prioritas utama di atas kepentingan faksi-faksi yang ada.

Ia juga mengajak seluruh warga NU untuk belajar dari pengalaman Muktamar sebelumnya, di mana intervensi penguasa justru membawa dampak buruk bagi kepemimpinan organisasi. Baginya, NU tidak boleh lagi terjebak dalam pusaran kepentingan politik praktis jangka pendek.

“NU adalah fondasi republik ini. Kehormatannya harus dijaga agar tetap menjadi organisasi yang berdaulat dan bermartabat, terutama di hadapan intervensi kekuasaan negara,” tegas Gus Lilur dengan nada serius.

Sebagai penutup, Gus Lilur berharap Muktamar ke-35 benar-benar menjadi momentum kembalinya NU sebagai kekuatan moral bangsa yang independen. Ia menyerukan semangat amar ma’ruf nahi munkar untuk memastikan NU tetap menjadi organisasi yang berdikari dan bebas dari tekanan pihak luar.

Serunya Siswa SMKN 1 Jombang “Cegat” Kapolres, Belajar Jadi Jurnalis hingga Dapat Helm

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Suasana halaman SMKN 1 Jombang mendadak riuh pada Rabu (29/4/2026) siang. Puluhan siswa tampak berkerumun dengan ponsel dan alat tulis di tangan, mencoba “mencegat” Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, yang baru saja selesai memaparkan materi di hadapan mereka.

Bukan sebuah demonstrasi, aksi spontan tersebut merupakan simulasi wawancara doorstop atau wawancara cegat. Agenda ini menjadi bagian utama dari rangkaian acara “PWI Jombang Goes to School and Campus” yang digelar untuk membekali literasi kepada generasi muda.

Dalam simulasi ini, para siswa ditantang untuk mempraktikkan langsung ilmu jurnalistik yang baru saja mereka terima. Mereka dibimbing langsung oleh para narasumber dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jombang yang berpengalaman di lapangan.

Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja layaknya sebuah tim redaksi sungguhan di media massa. Ada yang bertugas sebagai reporter untuk melontarkan pertanyaan tajam, hingga videografer yang harus menjaga stabilitas gambar di tengah kerumunan.

Tak ketinggalan, beberapa siswa juga berperan sebagai fotografer yang sibuk mencari sudut pandang (angle) terbaik demi mendapatkan foto ikonik. Isu yang diangkat dalam simulasi tersebut adalah seputar pencegahan kenakalan remaja dan kesiapan menuju Indonesia Emas 2045.

Suasana semakin meriah saat AKBP Ardi Kurniawan memberikan tantangan khusus kepada para peserta simulasi. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kekritisan para siswa, Kapolres memberikan hadiah kejutan berupa helm kepada lima siswa yang berani maju.

Pemberian helm ini bukan tanpa alasan filosofis. Selain sebagai penghargaan atas keberanian bertanya, hadiah tersebut merupakan simbol pesan keselamatan berkendara dan kepatuhan hukum di jalan raya, sesuai dengan materi kedisiplinan yang disampaikan sebelumnya.

“Tadi sempat grogi saat harus maju dan menyodorkan HP untuk merekam suara Pak Kapolres, tapi seru sekali,” ujar Nabila, salah satu peserta yang tampak semringah setelah berhasil mendapatkan jawaban dari sang narasumber utama.

Nabila mengaku tidak menyangka keberaniannya bertanya akan diganjar hadiah helm. Baginya, pengalaman ini memberikan gambaran nyata mengenai profesi wartawan yang harus sigap dan tangguh dalam mengejar informasi dari tokoh-tokoh penting.

Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, tampak antusias melayani “serbuan” pertanyaan dari para reporter cilik tersebut. Ia menilai metode simulasi dan pemberian reward ini sangat efektif untuk mengukur sejauh mana siswa menyerap materi yang diberikan.

“Melalui praktik doorstop ini, siswa belajar berani berbicara dan menyusun pertanyaan kritis. Pemberian helm adalah cara kami menyemangati mereka agar terus berani menyuarakan kebenaran dan tetap disiplin,” tutur AKBP Ardi dengan nada bangga.

Dalam pemaparannya, Kapolres juga mengingatkan bahwa Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi jika para pelajar mulai menanamkan disiplin hari ini. Ia menekankan bahwa kualitas masa depan bangsa sangat bergantung pada karakter pelajar saat ini.

Ia juga berpesan agar para siswa tidak menggadaikan masa depan cerah hanya demi emosi sesaat yang merugikan. “Lebih baik dikenal karena prestasi daripada menjadi viral karena melakukan pelanggaran hukum,” tegasnya di hadapan ratusan siswa.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap tindakan negatif seperti balap liar, perundungan, hingga narkoba akan memiliki konsekuensi hukum serius. Catatan kriminal pada SKCK di masa depan bisa menjadi penghambat utama bagi mereka dalam meraih cita-cita.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Eko Redjo Sunariyanto, menyatakan dukungannya. Ia menilai sinergi antara kepolisian dan pers di lingkungan sekolah merupakan langkah inovatif untuk membenteng siswa dari pengaruh negatif.

Sementara itu, Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid, menutup rangkaian acara dengan menjelaskan tujuan besar safari jurnalistik ini. “Kita ingin siswa tidak hanya menjadi penonton informasi, tapi juga paham proses produksinya dan berani berinteraksi dengan narasumber,” pungkasnya.

Jumhur di Kabinet, Aktivis 98 Yakin Ada Energi Baru untuk Perbaikan Lingkungan

0

Oleh: Andrianto Andri

JAKARTA,TelusuR.ID – Penunjukan Muhammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup oleh Prabowo Subianto layak diapresiasi sebagai langkah berani. Namun apresiasi itu tidak boleh berhenti sebagai euforia politik. Justru di sinilah titik awal pengujian: apakah pilihan ini akan benar-benar menghadirkan perubahan, atau sekadar menjadi simbol di tengah krisis lingkungan yang semakin akut.

Jumhur bukan figur biasa. Ia lahir dari tradisi aktivisme yang keras, terbiasa berhadapan dengan kekuasaan, dan memiliki rekam jejak panjang dalam memperjuangkan kepentingan publik. Saya mengenalnya sejak masa sebelum Reformasi—sebuah periode ketika keberanian bersuara memiliki konsekuensi nyata. Karakter itu tidak berubah, bahkan ketika ia masuk dan keluar dari lingkar kekuasaan.

Dalam berbagai fase politik—dari era Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo—Jumhur menunjukkan satu hal yang konsisten: sikap kritis tanpa kompromi. Bahkan ketika harus berhadapan dengan proses hukum akibat posisinya sebagai oposisi, ia tetap berdiri pada keyakinannya. Itu adalah kualitas langka di tengah politik yang sering kali pragmatis.

Namun justru karena latar belakang itulah, tantangan Jumhur hari ini menjadi jauh lebih berat. Ia tidak lagi berada di luar sistem sebagai pengkritik, melainkan di dalam sebagai pengambil kebijakan. Di sinilah integritas diuji secara nyata—bukan melalui retorika, tetapi melalui keputusan yang sering kali harus berhadapan langsung dengan kepentingan ekonomi dan politik yang besar.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Banjir, longsor, deforestasi, dan eksploitasi tambang yang masif di berbagai wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Halmahera bukan sekadar bencana alam, melainkan cermin dari kegagalan tata kelola dan keberpihakan negara.

Masalah utamanya bukan pada kurangnya regulasi, melainkan lemahnya keberanian untuk menegakkan aturan terhadap para pelanggar—terutama ketika berhadapan dengan pemilik modal besar. Karena itu, penunjukan Jumhur harus dibaca sebagai ujian bagi pemerintahan Prabowo Subianto: apakah benar ada komitmen untuk melindungi lingkungan, atau justru tetap tunduk pada tekanan oligarki.

Saya meyakini, Jumhur memiliki kapasitas, daya juang, dan imajinasi keadilan yang kuat untuk melakukan perubahan. Namun kapasitas saja tidak cukup. Ia membutuhkan dukungan politik yang nyata, ruang gerak yang bebas, serta keberanian kolektif dari pemerintah untuk berpihak pada kepentingan jangka panjang bangsa.

Lingkungan hidup bukan sekadar isu sektoral. Ia adalah soal keberlangsungan hidup generasi mendatang. Alam tidak boleh terus-menerus dieksploitasi hingga kehilangan daya dukungnya. Negara harus hadir bukan sebagai fasilitator eksploitasi, tetapi sebagai pelindung.

Karena itu, kita mengapresiasi keputusan Presiden Prabowo. Tetapi lebih dari itu, kita menuntut pembuktian. Jumhur kini berada di garis depan. Jika ia mampu menjaga integritas dan konsistensinya, maka ini bisa menjadi titik balik bagi perbaikan lingkungan di Indonesia. Jika tidak, maka publik akan melihatnya sebagai satu lagi aktivis yang larut dalam sistem yang dulu ia kritik.

Pilihan sudah dibuat. Kini saatnya kerja nyata—bukan sekadar narasi.

Gowes 123 KM Bangkalan-Jombang: GP Ansor Satukan Energi Pemuda untuk Negeri

0

JOMBANG, TELUSUR.ID – Gerakan Pemuda (GP) Ansor menggelar aksi bersepeda jarak jauh atau gowes dari Bangkalan menuju Jombang sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-92. Kegiatan ini menjadi simbol semangat juang pemuda dalam menjaga warisan para ulama nusantara.

Menempuh jarak sejauh 123 kilometer, rute ini melintasi enam kabupaten dan kota di Jawa Timur. Perjalanan fisik yang menantang ini diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari kader internal hingga masyarakat umum.

Kegiatan bertajuk “Ziarah Akbar & SEPEDA (Satukan Energi Pemuda Indonesia)” ini tidak hanya diikuti oleh pemuda Muslim. Organisasi kepemudaan lintas iman turut serta memperkuat solidaritas kebangsaan dalam acara tersebut.

Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Dr. H. Addin Jauharudin, menyampaikan bahwa agenda besar ini bertujuan utama untuk merefleksikan kembali peran strategis para ulama Nahdlatul Ulama (NU). Khususnya dalam sejarah berdirinya organisasi dan perjuangan umat.

Addin menekankan bahwa keteladanan yang ditinggalkan para pendahulu harus menjadi kompas bagi anak muda zaman sekarang. Ia mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih aktif dalam berkhidmat kepada masyarakat luas.

“Kita ingin mengenang perjalanan yang tidak mudah dan penuh tawadu seperti yang dilakukan oleh Kiai As’ad saat membawa isyarah pendirian NU,” ujar Addin dalam keterangannya diterima Telusur.id, Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, napak tilas dari Mbah Kholil Bangkalan menuju Mbah Hasyim Asy’ari di Jombang bukan sekadar perjalanan fisik. Ada pesan spiritual dan komitmen intelektual yang mendalam dalam setiap jengkal tanah yang dilalui.

Pesan perjuangan ini, lanjut Addin, bersifat universal dan tidak terbatas hanya untuk kalangan internal NU saja. Keyakinan yang kuat dan luhur menjadi modal utama bagi siapa pun yang ingin berkontribusi bagi bangsa.

Ia mengenang bahwa saat menjalankan tugas sejarah tersebut, Kiai As’ad masih berada di usia yang sangat muda. Hal ini membuktikan bahwa anak muda memiliki potensi besar untuk menjadi penentu perubahan sejarah.

“Inilah nilai penting bagi kita semua. Dengan keyakinan dan ketakziman, kita bisa mencapai mimpi-mimpi besar dan berperan untuk hal yang besar bagi negeri,” imbuhnya dengan penuh semangat.

Melalui kegiatan gowes ini, GP Ansor berharap agenda tersebut dapat menjadi hub atau pusat pertemuan bagi anak muda. Fokusnya bukan hanya pada sejarah, tetapi juga pengembangan diri melalui kreativitas.

Addin meyakini bahwa jika energi kolektif anak muda Indonesia disatukan, dampaknya akan sangat masif bagi kemajuan bangsa. Sinergi ini dianggap sebagai kunci utama dalam menghadapi tantangan masa depan.

Selain aspek spiritual dan historis, kegiatan ini juga memberikan dampak nyata bagi sektor ekonomi kerakyatan. GP Ansor sengaja melibatkan para pelaku UMKM di setiap titik pemberhentian peserta.

Hidangan dan lokasi istirahat dirancang sedemikian rupa untuk memperkenalkan potensi kuliner serta produk unggulan masing-masing daerah. Langkah ini diambil untuk menunjang perekonomian lokal.

“Di beberapa titik disediakan makanan khas daerah dengan banyak produk UMKM. Bahkan, teman-teman lintas iman menyambut hangat dengan menyediakan halaman gereja sebagai tempat istirahat,” tutur Addin.

Perjalanan yang dimulai dari ziarah ke makam Syaikhona Cholil di Bangkalan ini berakhir di makam tokoh bangsa lainnya. Peserta menggelar doa bersama di Kompleks Makam Pahlawan Nasional, KH Abdul Wahab Hasbullah.

Menutup rangkaian acara, Addin menginstruksikan seluruh kader Ansor di Indonesia untuk melakukan ziarah serentak ke makam ulama di daerah masing-masing. Hal ini guna menjaga keterhubungan batin dengan para muassis dan kiai setempat.

Komsos Malam Hari di Desa Kembang, Babinsa Jatipurno Perkuat Kedekatan dengan Warga

0

Wonogiri,TelusuR.ID – Suasana hangat penuh keakraban terlihat dalam pelaksanaan kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) yang digelar Koramil 15/Jatipurno Kodim 0728/Wonogiri. Selasa (28/4/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di wilayah Desa Kembang, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara aparat teritorial dengan masyarakat setempat.

Dalam kegiatan tersebut, Babinsa Koramil 15/Jatipurno, Sertu Tri Samekta, melaksanakan silaturahmi secara langsung dengan sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Bapak Budi, Bapak Tio di Dusun Kembang, serta Bapak Purwoko yang juga berada di Dusun Kembang, Desa Kembang.

Kehadiran Babinsa disambut hangat oleh warga yang merasa senang atas perhatian dan kedekatan TNI kepada masyarakat di wilayah binaannya. Melalui kegiatan Komsos ini, Sertu Tri Samekta menegaskan pentingnya menjaga komunikasi yang baik antara Babinsa dan seluruh elemen masyarakat.

Dengan terjalinnya hubungan yang harmonis, berbagai persoalan di lingkungan desa dapat lebih mudah diselesaikan secara bersama-sama. Selain itu, kedekatan antara TNI dan rakyat juga menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah.

Bapak Purwoko selaku Ketua RT setempat menyampaikan bahwa dirinya bersama warga Dusun Kembang selalu siap mendukung program pemerintah maupun kegiatan yang dilaksanakan Koramil 15/Jatipurno.

Menurutnya, sinergi antara masyarakat dan aparat sangat penting demi terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, dan sejahtera bagi seluruh warga Desa Kembang.

Hal senada juga disampaikan Ketua Karang Taruna Dusun Kembang, Mas Budi. Ia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kondusivitas wilayah serta siap membantu setiap kegiatan Koramil demi kemajuan desa.

Kegiatan Komsos seperti ini diharapkan terus dilakukan secara rutin, karena terbukti mampu mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada TNI.

(Agus Kemplu)

Sidoarjo Terbaik Nasional, Squad Nusantara: Efisiensi Jadi Senjata, Bukan Hambatan

0

SIDOARJO, TelusuR.ID – Saat banyak daerah masih berjibaku dengan keterbatasan anggaran, Kabupaten Sidoarjo justru melesat dan dinobatkan sebagai daerah dengan kinerja terbaik se-Indonesia. Capaian ini tak hanya mengejutkan, tetapi juga memunculkan satu pertanyaan besar: apa yang dilakukan Sidoarjo hingga bisa melampaui daerah lain?

Ketua DPW Squad Nusantara Jawa Timur, Kemas Alfiansyah Baky, menilai keberhasilan ini bukan faktor keberuntungan, melainkan hasil dari pola kerja yang terukur dan kepemimpinan yang berani mengambil keputusan di tengah tekanan efisiensi.

“Banyak yang menganggap efisiensi itu membatasi gerak. Tapi Sidoarjo justru membalik keadaan—efisiensi dijadikan alat untuk mempercepat kinerja. Ini yang tidak semua daerah mampu lakukan,” ujar Kemas kepada Telusur.id melalui pers rilis via medsos(28/04/2026).

Ia menyoroti bahwa di saat sebagian daerah cenderung defensif dalam penggunaan anggaran, Sidoarjo mengambil langkah progresif dengan tetap mendorong inovasi dan menjaga kualitas pelayanan publik.

“Ini yang membedakan. Bukan sekadar hemat anggaran, tapi bagaimana anggaran itu dipakai secara cerdas dan berdampak langsung ke masyarakat,” tegasnya.

Namun demikian, Squad Nusantara juga mengingatkan bahwa predikat terbaik nasional bukan tanpa konsekuensi. Menurut Kemas, capaian ini akan menjadi tolok ukur baru yang menuntut konsistensi bahkan peningkatan kinerja di masa mendatang.

“Justru setelah ini, tantangannya lebih berat. Publik akan menuntut lebih. Kalau tidak dijaga, capaian ini bisa cepat pudar,” ujarnya lugas.

Dalam konteks tersebut, Squad Nusantara menegaskan posisinya tidak hanya sebagai pihak yang memberi apresiasi, tetapi juga sebagai mitra kritis yang siap mengawal arah kebijakan pembangunan agar tetap berada di jalur yang berpihak kepada masyarakat.

“Kami akan tetap mendukung, tapi juga mengingatkan. Kolaborasi harus dibarengi dengan kontrol agar pembangunan tetap on track dan tidak melenceng dari kepentingan rakyat,” kata Kemas.

Ia juga melihat momentum ini sebagai peluang besar bagi Sidoarjo untuk naik kelas, bukan hanya dalam kinerja administratif, tetapi juga dalam dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat dan daya saing daerah.

“Kalau momentum ini dimanfaatkan dengan tepat, Sidoarjo bisa jadi role model nasional. Tapi kuncinya satu: jangan cepat puas,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Kemas menyampaikan ucapan selamat kepada Bupati Sidoarjo dan seluruh jajaran pemerintah daerah, seraya menegaskan bahwa keberhasilan ini harus menjadi awal dari kerja yang lebih besar, bukan sekadar pencapaian yang dirayakan.

“Selamat, tapi pekerjaan belum selesai. Justru ini titik awal untuk pembuktian berikutnya,” pungkasnya.

(Team-SN)

MTQ ke-32 Jombang Resmi Dibuka, Ratusan Generasi Qur’ani Siap Unjuk Prestasi!

0

JOMBANG,TelusuR.ID – Suasana penuh khidmat dan semangat kebersamaan mewarnai pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXII Tingkat Kabupaten Jombang Tahun 2026 yang resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, pada Senin (27/4) di Pendopo Kabupaten Jombang.

Kegiatan tahunan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat syiar Islam sekaligus menampilkan kemampuan terbaik ratusan putra-putri Jombang dalam membaca, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai suci Al-Qur’an. MTQ tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah pembinaan generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan berdaya saing.

Pembukaan acara yang ditandai dengan lantunan Basmallah dan pemukulan bedug berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi, Ning Ema Erfina, Ketua DWP Kabupaten Jombang Lilik Agus Purnomo, serta jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Jombang dan instansi vertikal lainnya.

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah yang mewakili Bupati Jombang menegaskan bahwa MTQ memiliki peran strategis dalam pembangunan karakter masyarakat. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan ajang ini sebagai sarana meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

“MTQ adalah sarana membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlakul karimah. Kami berharap seluruh peserta dapat tampil maksimal dengan penuh percaya diri dan semangat,” ujarnya penuh optimisme.

Ia juga menaruh harapan besar kepada Dewan Hakim agar menjunjung tinggi nilai sportivitas, keadilan, dan kejujuran, sehingga dapat melahirkan peserta terbaik yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Jombang di ajang MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2027 di Kabupaten Tulungagung.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesra Purwanto dalam laporannya menyampaikan tingginya antusiasme masyarakat. Dari total 818 pendaftar, sebanyak 792 peserta dinyatakan memenuhi syarat dan siap berkompetisi di berbagai cabang lomba.

Ragam cabang yang dilombakan menunjukkan luasnya potensi dan minat generasi muda Jombang dalam bidang Al-Qur’an, mulai dari tilawah, tahfidz, tafsir, hingga karya tulis ilmiah. Hal ini mencerminkan semangat pembinaan yang terus berkembang dan semakin berkualitas dari tahun ke tahun.

Pelaksanaan lomba akan berlangsung selama tiga hari, 28–30 April 2026, di berbagai lokasi strategis seperti Masjid Agung Baitul Mukminin, Islamic Center, serta sejumlah instansi pemerintahan di Kabupaten Jombang.

Melalui penyelenggaraan MTQ ke-32 ini, Pemerintah Kabupaten Jombang berharap tidak hanya sukses dalam pelaksanaan, tetapi juga mampu melahirkan generasi Qur’ani yang unggul, berilmu, dan berkontribusi positif bagi masyarakat serta masa depan daerah.