JOMBANG, TELUSUR.ID – Women’s Crisis Center (WCC) Jombang merilis Catatan Tahunan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (CATAHU) 2025 yang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Jombang masih berlangsung secara sistemik.
Sepanjang tahun 2025, WCC Jombang menerima 102 aduan yang teridentifikasi menjadi 127 kasus kekerasan dengan 112 perempuan sebagai korban.
“Angka ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan dua tahun sebelumnya. Kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan paling dominan dengan 75 kasus, meliputi perkosaan, pelecehan seksual, kekerasan seksual berbasis elektronik, pemaksaan perkawinan, hingga pemaksaan aborsi,” ujar Ana Abdillah Direktur WCC Jombang dalam keterangan tertulisnya dikutip Telusur.id, Selasa (10/2/2026).
Dampak yang dialami korban sangat nyata, di antaranya 13 korban mengalami bullying dan victim blaming, 4 korban putus sekolah, serta 7 korban mengalami kehamilan tidak diinginkan. Selain itu, CATAHU 2025 juga mencatat 45 kasus kekerasan dalam rumah tangga serta satu kasus perkosaan yang disertai pembunuhan berencana.
Ana menilai bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan persoalan struktural yang berkaitan dengan ketimpangan relasi kuasa, ketergantungan ekonomi, serta kebijakan publik yang belum sepenuhnya berorientasi pada pengalaman korban.
Berdasarkan temuan tersebut, WCC Jombang merekomendasikan penguatan implementasi Perda melalui alokasi anggaran khusus layanan korban, pengembangan sistem layanan terpadu yang aman dan mudah diakses, serta mekanisme pemantauan yang akuntabel.
WCC Jombang juga mendorong integrasi kebijakan perlindungan perempuan dengan kebijakan pendidikan, ketenagakerjaan, dan perlindungan sosial, termasuk pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi berbasis hak serta skema perlindungan ekonomi bagi korban.
Reformasi praktik penegakan hukum berperspektif korban, pencegahan reviktimisasi, serta perlindungan ruang sipil dan pembela hak perempuan juga menjadi rekomendasi kunci.
Ana juga berharap CATAHU ini menjadi rujukan kritis bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kebijakan dan memperkuat sistem perlindungan perempuan yang adil dan berkelanjutan.
“Dengan demikian, diharapkan kekerasan terhadap perempuan di Jombang dapat dicegah dan ditangani secara efektif, pungkasnya.
SURABAYA, TELUSUR.ID – Kasus korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menjadi sorotan publik. Perkara yang menjerat 21 tersangka ini memerlukan keberanian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menghadapi korupsi yang berulang dan sistemik di tubuh birokrasi Jawa Timur.
Pegiat antikorupsi Jawa Timur, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menyatakan bahwa KPK tidak boleh bermain aman dalam kasus ini. Menurutnya, langkah setengah hati dengan menunda penahanan tersangka hanya akan memperpanjang kejahatan dan mengirim pesan keliru bahwa korupsi dana publik masih memiliki ruang tawar.
“Ini bukan kasus biasa. Ini kejahatan berulang. Kalau KPK gagal menjadikan perkara ini sebagai titik putus, maka korupsi di Pemprov Jawa Timur akan terus hidup,” tegas Gus Lilur, dikutip Telusur.id, Senin (9/2/2026).
Kasus dana hibah Jawa Timur merupakan bagian dari rangkaian panjang skandal korupsi yang membelit Pemprov Jatim. KPK telah membuka konstruksi kejahatan yang sangat terang, namun belum menunjukkan ketegasan maksimal dengan menahan seluruh tersangka.
Gus Lilur menilai bahwa penahanan menyeluruh terhadap para tersangka bukan hanya penting untuk kepentingan penyidikan, tetapi juga penting secara simbolik dan politik hukum. “Korupsi dana hibah ini merampas hak rakyat miskin. Maka setiap hari keterlambatan penahanan adalah perpanjangan ketidakadilan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan menuntaskan kasus ini secara tuntas akan berdampak langsung pada kepercayaan publik terhadap agenda pemberantasan korupsi secara nasional. KPK harus berdiri di depan dan tidak menunggu suasana aman.
Gus Lilur menuntut KPK untuk menahan seluruh 21 tersangka, menyita aset hasil korupsi, dan menggunakan perkara ini sebagai pintu masuk untuk membongkar serta memutus pola korupsi yang selama ini menggerogoti Pemprov Jawa Timur. “Ini bukan sekadar penegakan hukum, ini penyelamatan masa depan tata kelola pemerintahan daerah,” pungkasnya.
BANGKALAN, TELUSUR.ID – Olahraga domino di Kabupaten Bangkalan memasuki fase baru yang lebih terarah dan berorientasi prestasi. Untuk pertama kalinya, Pengurus Cabang (Pengcab) Federasi Olahraga Domino (Orado) Bangkalan resmi terbentuk sebagai upaya menghadirkan sistem pembinaan yang tertata dan berkelanjutan.
Helmi Fuad dipercaya menakhodai organisasi tersebut. Ia mengusung visi menjadikan domino tidak lagi dipandang semata sebagai permainan pengisi waktu, melainkan cabang olahraga yang memiliki standar aturan, pembinaan atlet, serta ruang kompetisi yang jelas.
Selama ini, domino tumbuh dan hidup di tengah masyarakat Bangkalan, terutama di warung kopi. Namun, potensi besar para pemain dinilai belum tersentuh secara optimal karena belum adanya wadah organisasi yang menaungi.
“Orado Bangkalan lahir dari nol. Fokus utama kami membangun fondasi agar domino memiliki arah dan masa depan yang jelas,” ujar Helmi, dikutip Telusur.id Minggu (8/2/2026).
Mantan Ketua PC PMII Kabupaten Bangkalan itu menilai Bangkalan memiliki modal sosial yang kuat. Basis pemain domino tersebar luas, dari kawasan perkotaan hingga pelosok desa, dan aktif hampir setiap hari. Budaya bermain domino di warung kopi justru dipandang sebagai kekuatan.
Sebagai langkah awal, Orado Bangkalan akan melakukan pendataan komunitas domino yang telah ada. Turnamen lokal juga disiapkan, tidak hanya untuk memperkenalkan organisasi, tetapi juga memetakan kualitas pemain di berbagai wilayah. Helmi menegaskan Orado tidak hadir untuk menghapus tradisi yang telah mengakar di masyarakat.
Sebaliknya, organisasi ini ingin mengangkat domino menjadi olahraga yang menjunjung tinggi etika, sportivitas, dan nilai silaturahmi.
“Domino tetap menjadi ruang kebersamaan, tetapi juga bisa melahirkan atlet berprestasi,” tegasnya.
Ke depan, Orado Bangkalan berharap dukungan dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Dengan pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan, domino diyakini mampu berkembang sebagai identitas baru olahraga rakyat di Bangkalan.
“Ini baru langkah awal. Target kami sederhana tapi jelas, domino Bangkalan naik kelas,” kata Helmi.
MALANG, TELUSUR.ID – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri puncak peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) dalam rangkaian Mujahadah Kubro yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Ahad (8/2/2026). Mujahadah Kubro yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti puluhan ribu warga Nahdliyin dari berbagai daerah.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas peran besar NU dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, NU menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan bangsa. “NU selalu menjaga persatuan. Jika Negara dalam bahaya, NU selalu tampil bagi bangsa Indonesia,” tegasnya.
Presiden Prabowo juga mengapresiasi konsistensi NU dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Nilai-nilai toleransi yang dijunjung NU sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa. “NU diharapkan terus memberikan contoh toleransi terhadap umat beragama. Saya yakin NU akan terus menjaga bangsa dan semua ummat agama tanpa pandang bulu sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa,” katanya.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama telah membuktikan diri sebagai organisasi keagamaan dan kebangsaan yang mampu bertahan dan terus relevan selama satu abad perjalanan bangsa Indonesia. NU dinilai konsisten menjaga tradisi, toleransi, serta berkontribusi nyata dalam pembangunan peradaban nasional.
“NU mengedepankan Islam moderasi, Islam wasathiyah, yang menjaga toleransi, tradisi kenusantaraan dan turut berkontribusi mengembangkan peradaban lewat lembaga-lembaga pendidikan,” ujar Khofifah. Ia juga menekankan bahwa NU memiliki jaringan pesantren yang sangat luas, baik pesantren tradisional maupun modern, yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Khofifah juga menegaskan bahwa di usia satu abad, NU telah tumbuh menjadi rumah besar umat yang memberdayakan dan mengayomi masyarakat lintas latar belakang. Semangat Islam moderasi yang terus dirawat NU dinilainya menjadi perekat dalam keberagaman Indonesia.
Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Kota Malang. Ia menyebut dukungan datang tidak hanya dari warga Nahdliyin, tetapi juga dari berbagai elemen masyarakat.
Atas nama warga NU Jawa Timur, Gus Kikin juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kota Malang atas potensi ketidaknyamanan selama rangkaian kegiatan berlangsung. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Malang dan mohon maaf apabila selama beberapa hari ini terdapat gangguan aktivitas,” ungkapnya.
Sragen, TelusuR.ID – Dalam rangka memperingati HUT ke-80 Persit Kartika Chandra Kirana, Kodim 0725/Sragen menggelar lomba permainan tradisional ibu dan anak di lapangan Makodim. Peserta lomba adalah ibu Persit dan anak anggota Kodim Sragen. Adapun Jenis lomba babak penyisihan berupa balap bakiak, lompat karet, bola bekel, pindah karet, bentik dan dilakukan secara beruntun (squad game) dengan waktu permainan 7 menit. Pemenang yang masuk semifinal dilanjutkan dengan permainan dakon, setelah masuk babak final peserta lomba akan memainkan lomba nyunggi tampah. Minggu, 08/02/2026.
Dalam sambutannya Dandim 0725/Sragen Letkol Inf Dindin Rohidin, S.IP mengatakan bahwa lomba ini digelar dalam rangka memeriahkan dan memperingati HUT ke-80 Persit Kartika Chandra Kirana.
“Hari ini kita bergembira jangan ada yang bersedih, memikirkan yang lain, ini permainan happy fun semuanya harus tertawa semuanya harus gembira”
“Di hari ulang tahun Persit ini saya mengucapkan terima kasih kepada ibu ibu Persit yang selama ini sudah setia mendampingi suami, mendukung setiap kegiatan suami, saya berharap agar ibu ibu makin menyayangi suaminya, mendukung suaminya dalam mengabdi kepada nusa dan bangsa” pungkas Dandim.
Setelah melalui berbagai tahapan lomba keluar sebagai juara 1 dari Ranting 10/Sambungmacan hadiah Rp. 1.000.000, juara 2 Ranting 03/Karangmalang hadiah Rp. 700.000 , juara 3 Ranting 16/Gemolong hadiah Rp. 500.000 dan juara 4 Ranting 05/Sidoharjo mendapatkan hadiah Rp. 400.000.
Boyolali, TelusuR.ID – Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Babinsa Koramil 09/Sawit Kodim 0724/Boyolali, Serma Joko S, melaksanakan patroli malam sekaligus mengunjungi kegiatan Siskamling di Desa Gombang, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Minggu Malam (08/02/2026).
Kehadiran Babinsa di tengah kegiatan ronda malam tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian TNI terhadap keamanan lingkungan.
Bersama warga, Serma Joko S turut memantau situasi wilayah guna meminimalisir potensi tindak kriminalitas serta memastikan kondisi desa tetap aman dan kondusif.
“Sudah menjadi tugas kami sebagai Babinsa untuk selalu hadir dan bersinergi dengan tokoh masyarakat maupun warga dalam menjaga keamanan lingkungan,” ujar Serma Joko S.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara aparat dan masyarakat merupakan kunci utama terciptanya rasa aman.
Warga Desa Gombang pun menyambut positif kehadiran Babinsa dalam kegiatan Siskamling. Salah satu warga mengungkapkan rasa senangnya karena keikutsertaan Babinsa menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk lebih aktif dalam ronda malam.
Menurutnya, Siskamling merupakan bukti nyata kemanunggalan TNI dan rakyat dalam menjaga lingkungan tetap aman dan tenteram.
The Network Defense: Mengapa Kekayaan Epstein Melampaui Uang
Oleh: M. Shoim Haris
Penulis Novel, Peminat Ekonomi Pembangunan
Jakarta,TelusuR.ID – Tidak ada lonceng yang berbunyi ketika kekuasaan bekerja dengan sempurna. Ia tidak datang dengan seragam, tidak mengetuk pintu, dan tidak pernah memperkenalkan diri. Ia hadir dalam keheningan—dalam anggukan saling memahami di tengah makan malam, dalam penerbangan malam yang sunyi, dalam perkenalan yang terdengar sepele namun menentukan segalanya. Jeffrey Epstein memahami ini lebih baik daripada siapa pun. Ia tahu bahwa di atas level kekayaan tertentu, uang berhenti menjadi tujuan dan berubah menjadi alat beli—bukan untuk benda, melainkan untuk dimensi sosial yang tak terlihat.
Epstein bukan industrialis besar. Bukan penemu jenius. Bukan juga maestro pasar keuangan dengan portofolio publik yang bisa dilacak. Namun, ia hidup seperti mereka yang berada di puncak dunia: armada jet pribadi, pulau eksklusif di Karibia, rumah-rumah megah di Manhattan dan Palm Beach. Kekayaannya nyata, tetapi asal-usulnya kabur. Seolah-olah uang hanyalah efek samping dari sesuatu yang lebih besar—dan jauh lebih berharga.
Yang diperdagangkan Epstein bukan komoditas fisik. Ia memperdagangkan akses. Ia memperdagangkan kepercayaan. Dan di atas segalanya, ia memperdagangkan kerahasiaan. Bayangkan sebuah pasar yang tidak tercatat di bursa mana pun. Tidak ada layar harga yang berkedip, tidak ada laporan tahunan, tidak ada pengawas. Mata uangnya bukan dolar atau euro, melainkan reputasi dan utang budi. Para pelakunya tidak bertemu di gedung pencakar langit, tetapi di kabin jet pribadi yang melintasi zona waktu, di vila-vila yang terisolasi, di pulau-pulau yang jauh dari mata publik. Di pasar gelap inilah Epstein bukan penyimpang—ia adalah broker ulung.
A document that was included in the U.S. Department of Justice release of the Jeffrey Epstein files, photographed Monday, Feb. 2, 2026, shows a diagram prepared by the FBI attempting to chart the network of Epstein’s victims and the timeline of their alleged abuse. (AP Photo/Jon Elswick)
Kekayaan yang Hidup dari Jarring
Ilmu ekonomi konvensional kerap menggambarkan pasar sebagai arena rasional tempat individu bertindak berdasarkan kepentingan pribadi. Namun, para sosiolog ekonomi sejak lama membongkar ilusi ini. Ekonomi, menurut mereka, tidak pernah hidup dalam ruang kosong. Ia selalu “tertanam” (embedded) dalam jalinan sosial yang kompleks—dalam relasi kekerabatan, norma budaya, dan struktur kekuasaan. Pasar tidak netral; ia selalu berpihak pada mereka yang menguasai jaringannya.
Epstein adalah ilustrasi ekstrem dari kenyataan ini. Tidak ada produk yang ia hasilkan, tidak ada inovasi yang bisa ia klaim. Namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih langka di dunia modern: posisi strategis sebagai simpul dalam jaringan elite global. Ia mengenal mereka yang memiliki kekuasaan politik, kekayaan finansial, legitimasi akademik, dan aura filantropi. Lebih dari itu, ia mahir mempertemukan mereka. Dalam ekonomi jaringan seperti ini, nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia ciptakan, melainkan oleh siapa yang bisa ia pertemukan.
Epstein menjelma menjadi katalis sosial. Tempat di mana jalur-jalur kekuasaan yang berbeda bertemu, bersilangan, lalu berpisah kembali—dengan ikatan saling berutang yang tak pernah diucapkan. Ia adalah pintu belakang ke dunia yang sangat eksklusif. Dan seperti penjaga pintu mana pun, kekuatannya terletak pada kemampuannya memutuskan siapa yang boleh masuk.
Jet Pribadi sebagai Ruang Pasar yang Bergerak
Armada jet pribadi Epstein—”Lolita Express”—bukan sekadar alat transportasi mewah. Itu adalah ruang sosial yang dapat bergerak. Di dalamnya, percakapan terjadi tanpa catatan, kesepakatan lahir tanpa saksi, dan relasi dibangun tanpa gangguan dunia luar. Pulau Little St. James bukan sekadar properti; ia adalah batas geografis yang memisahkan “kita” dari “mereka”. Di ruang-ruang tertutup dan terisolasi inilah logika masyarakat terbuka berhenti bekerja.
Hukum ada, tetapi terasa jauh. Moral publik terdengar samar. Etika bisnis menjadi bahan lelucon. Yang berlaku adalah logika klub eksklusif: siapa di dalam, siapa di luar; siapa dipercaya, siapa tidak; apa yang terjadi di sini, tetap di sini.
Dokumen flight logs—yang kemudian hari menjadi sorotan publik—sebenarnya bukan sekadar catatan penerbangan. Ia adalah peta sosiologis. Peta tentang siapa yang memiliki akses ke ruang-ruang di mana kekuasaan bergerak tanpa pengawasan. Bagi seorang jaksa, itu mungkin petunjuk kejahatan. Bagi seorang antropolog, itu adalah anatomi kelas penguasa. Setiap nama di daftar itu bukan hanya penumpang, melainkan partisipan dalam ekosistem sosial yang sangat spesifik.
Ketika Hukum Menjadi Arena Negosiasi
Saat tuduhan pertama muncul pada pertengahan 2000-an, Epstein tidak runtuh. Ia tidak panik. Ia bernegosiasi. Sistem hukum yang bagi kebanyakan orang tampak seperti tembok kokoh nan impersonal, baginya berubah menjadi rangkaian pintu—beberapa berat, beberapa ringan, tetapi semuanya bisa diketuk dan dibuka dengan kunci yang tepat.
Kesepakatan hukum (plea deal) tahun 2008 menjadi momen ketika tirai tersibak sejenak. Ancaman pidana federal yang berat—yang bisa menghancurkannya—menguap menjadi hukuman ringan di tingkat lokal: 13 bulan di penjara county, dengan izin kerja keluar 12 jam sehari, enam hari seminggu. Bukan karena hukum tidak ada, tetapi karena hukum itu sendiri beroperasi di dalam jaringan kekuasaan yang sama.
Jaksa Alexander Acosta, yang kemudian menjadi Menteri Tenaga Kerja AS, membuat keputusan kontroversial itu setelah “berunding dengan pengacara Epstein.” Apa yang sebenarnya dinegosiasikan? Tidak hanya hukuman, tetapi juga biaya sosial. Menuntut Epstein secara maksimal berarti membongkar jaringan, memanggil saksi-saksi berprofil tinggi, dan mengganggu keseimbangan kekuasaan yang sudah mapan. Di sini, kekayaan Epstein berhenti menjadi alat konsumsi. Ia berubah menjadi perisai institusional.
Inilah pelajaran paling pahit: di strata tertentu, kekayaan tidak lagi membeli barang. Ia membeli pengurangan risiko. Ia membeli alternatif realitas hukum. Ia membeli ketidaklihatan.
Kematian Seorang Simpul dan Keabadian Sebuah Sistem
Ketika Epstein ditemukan meninggal di sel tahanan pada Agustus 2019, dunia seolah mendapatkan penutup cerita yang dramatis. Namun, kematian seorang broker tidak berarti runtuhnya pasar tempat ia bekerja. Jaringan sosial-ekonomi adalah organisme yang lebih tangguh daripada individu mana pun. Ia tidak membutuhkan satu orang untuk terus hidup; ia hanya membutuhkan logika yang sama: bahwa akses lebih bernilai daripada transparansi, dan bahwa keheningan adalah komoditas termahal.
Itulah kesalahan terbesar dalam membaca Epstein sebagai monster tunggal, sebagai “satu apel busuk.” Ia bukan anomali. Ia adalah gejala. Gejala dari sistem ekonomi yang memungkinkan kekayaan ekstrem berubah menjadi kekebalan sosial, dan relasi personal menjadi pengganti akuntabilitas publik.
Selama pasar tak terlihat ini terus beroperasi—selama masih ada ruang di mana elite bisa bertemu tanpa catatan, selama hukum masih bisa dinegosiasikan seperti kontrak bisnis, dan selama kerahasiaan dianggap lebih penting daripada keadilan—maka akan selalu ada figur-figur baru yang mengambil peran serupa. Mungkin dengan wajah yang lebih rapi. Mungkin dengan metode yang lebih halus. Mungkin dengan jet yang lebih mewah.
—
Epilog: Pasar yang Harus Kita Berani Lihat
Pelajaran dari Epstein bukanlah tentang satu orang yang jatuh, melainkan tentang arsitektur sosial yang tetap berdiri tegak. Keadilan tidak cukup ditegakkan hanya dengan undang-undang baru dan kecaman moral di media sosial. Ia menuntut keberanian untuk melihat ekonomi sebagaimana adanya: sebagai jaringan relasi kuasa yang hidup dan bernapas, bukan sebagai mesin abstrak yang netral.
Sosiolog ekonomi Mark Granovetter pernah menulis bahwa “aktor ekonomi tidak bertindak sebagai atom yang terisolasi, tetapi sebagai makhluk sosial yang terkungkung dalam jaringan hubungan.” Epstein membawa kebenaran ini ke konsekuensi logisnya yang paling gelap. Ia menunjukkan bahwa ketika jaringan itu menjadi terlalu padat, terlalu eksklusif, dan terlalu tertutup, ia bisa menciptakan zona otonomi di mana aturan masyarakat biasa tidak berlaku.
Pasar selalu mencerminkan siapa yang kita lindungi dan siapa yang kita abaikan. Jeffrey Epstein, dengan segala kegelapan dan kompleksitasnya, memaksa kita untuk bercermin—dan bertanya apakah kita siap melihat bayangan kita sendiri di sana. Karena pasar yang tak terlihat itu tidak hanya ada di pulau Karibia atau jet pribadi. Ia ada di setiap ruangan di mana keputusan dibuat berdasarkan siapa yang mengenal siapa, di setiap kesepakatan yang terlalu sensitif untuk ditulis, di setiap akses istimewa yang diberikan sebagai hadiah untuk kesetiaan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apa yang Epstein lakukan, tetapi mengapa dunia mengizinkannya bertahan begitu lama. Dan jawabannya, sayangnya, tidak ada di buku kasnya. Ia ada dalam jaringan diam-diam yang memilih melindungi dirinya—karena dalam logika klub eksklusif, melindungi satu anggota berarti melindungi diri sendiri. Itulah pertahanan jaringan. Dan itulah kenapa, dalam kasus Epstein, kekayaannya tidak pernah benar-benar tentang uang.
MALANG, TELUSUR.ID – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu pagi. Dalam sambutannya, Prabowo menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari keluarga besar NU.
Menurutnya, suasana kebersamaan yang ditunjukkan para jemaah mencerminkan nilai-nilai persatuan yang selama ini dijaga dan dirawat oleh organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
“Setiap kali saya berada di tengah-tengah Nahdlatul Ulama, saya selalu bahagia, saya selalu semangat, karena saya merasakan kesejukan, saya merasakan getaran hati saudara-saudara dan saudari-saudari sekalian,” kata Prabowo dikutip Telusur.id, Minggu (8/2/2026).
Prabowo juga menegaskan bahwa dukungan para ulama, kyai, serta santri memberikan dorongan moral yang kuat bagi dirinya untuk terus menjalankan amanah sebagai pemimpin nasional. Ia mengaku merasa semakin berani dalam mengabdikan diri bagi kepentingan rakyat Indonesia.
“Terima kasih undangan ini. Setiap kali saya muncul di tengah-tengah Nahdlatul Ulama, di tengah-tengah santri-santriwati, di tengah-tengah Kyai, apalagi ada Kyai-Kyai besar dan ulama-ulama besar di belakang saya, rasanya saya terus jadi lebih berani untuk berbakti, mengabdi dan membela rakyat Indonesia seluruhnya,” kata Prabowo.
Prabowo menilai perjalanan panjang NU selama satu abad telah membuktikan konsistensi organisasi tersebut dalam menjaga nilai kebangsaan dan keutuhan negara. Kiprah NU disebut sebagai salah satu pilar penting yang memperkuat fondasi persatuan Indonesia.
“Saudara-saudara, 100 tahun kiprah pengabdian NU telah membuktikan bahwa NU sungguh-sungguh adalah pilar daripada kebesaran bangsa Indonesia,” kata Prabowo.
Dengan demikian, Prabowo berharap agar NU terus menjadi kekuatan moral dan spiritual yang mendukung pembangunan bangsa dan negara. Ia juga berharap agar persatuan dan kesatuan bangsa dapat terus terjaga dan diperkuat.
MALANG, TELUSUR.ID – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk memberantas korupsi yang merugikan kekayaan negara dan rakyat Indonesia.
Komitmen ia lontarkan saat berpidato di acara Mujahadah Kubro dalam rangka Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu pagi.
Dalam pidatonya, Prabowo mengungkap bahwa sejak menjabat sebagai Presiden, dirinya mempelajari berbagai data dan fakta terkait kondisi kekayaan nasional.
Kata dia, Indonesia dianugerahi sumber daya yang sangat besar, tetapi pengelolaannya masih menghadapi tantangan serius.
Presiden Prabowo menyebut bahwa banyak kekayaan negara yang hilang akibat praktik penyimpangan. Menurutnya, persoalan tersebut merupakan tantangan besar yang harus dihadapi bersama demi mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan ragu mengambil langkah tegas dalam memberantas berbagai bentuk korupsi, penipuan, dan manipulasi terhadap kekayaan rakyat.
“Kita tidak boleh ragu-ragu dan saya dan pemerintah yang sebelumnya tidak akan ragu-ragu untuk melawan segala bentuk korupsi, segala bentuk penipuan, segala bentuk manipulasi, segala bentuk penggalungan atas kekayaan rakyat Indonesia. Saya tidak akan ragu-ragu dan saya tidak akan mundur setapak pun,” tegas Prabowo, Minggu (8/2/2026).
Besarnya harapan masyarakat menjadi energi moral sekaligus pengingat bagi pemerintah untuk bekerja lebih keras dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang berkeadilan dan berkemakmuran. Prabowo yakin Indonesia memiliki potensi sumber daya yang sangat besar untuk menopang kesejahteraan rakyat.
Namun, menurutnya, potensi tersebut hanya dapat dirasakan secara merata apabila dikelola dengan baik. “Dan apabila kita berani, apabila kita pandai, apabila kita bertekad, insya Allah kekayaan kita cukup untuk seluruh rakyat Indonesia hidup dalam keadaan sejahtera,” kata Prabowo.
Dengan komitmen yang kuat untuk memberantas korupsi dan mengelola kekayaan negara dengan baik, Prabowo berharap Indonesia dapat menjadi negara yang makmur dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.
Sragen, Agar lebih dekat dengan TNI, Kodim 0725/Sragen menggelar lomba mewarnai tingkat Paud di aula guyub rukun Makodim Sragen. Lomba Mewarnai Dandim cup dan Yayasan Kartika Jaya mengambil tema “TNI bersama anak anak harapan bangsa”. Sabtu, 07/02/2026.
Dari 90 pendaftar lomba akan di tentukan juara I, II, III, harapan I & II dengan hadiah juara I Rp. 1.000.000, juara II Rp. 750.000, Juara III Rp. 500.000, Juara harapan I & II masing masing Rp.250.000. Selain mendapatkan uang pembinaan pemenang lomba mewarnai juga mendapatkan piagam penghargaan dan piala.
Dalam Sambutannya saat membuka acara lomba Dandim 0725/Sragen Letkol Inf Dindin Rohidin, S.IP mengatakan bahwa lomba ini menjadi jembatan untuk saling mengenal antar peserta, mengenal keluarga besar Kodim 0725 dan mengenal yayasan kartika jaya.
“Selama kami di amanahkan untuk menjabat disini sebagai Komandan Kodim dan istri saya sebagai Ketua Yayasan Kartika Jaya dapat mendukung cita cita dari ibu Bupati sragen, untuk menciptakan keluarga kecil masyarakat sragen yg harmonis dan penuh kasih sayang”.
“Mari kita bersama sama, membantu tumbuh kembang anak, menyadari bahwa tidak harus menjadi pintar untuk sukses, tidak harus menjadi selalu juara 1 untuk menjadi org kaya, namun kita bantu mereka untuk terus semangat belajar sesuai tingkat kemampuan mereka dan sesuai bakat alami masing masing anak, hati anak yg bahagia, akan membuat mental mereka tumbuh dengan baik, mendorong mereka dapat berfikir secara kreatif dan percaya diri. Di bentengi dengan akhlak dan ilmu Agama yg baik, insyaAllah anak2 ini akan menjadi anak yg sukses dunia akhirat” tutup Dandim.
Nur wijayani salah satu orangtua peserta lomba mengaku senang dengan kegiatan lomba ini. “Ini kali pertama anak saya ikut lomba mewarnai, kebetulan Rifky anak saya suka sekali dengan Tentara, semoga kelak anak saya bisa menjadi TNI” ucapnya sambil tersenyum.
Setelah melalui proses penjurian dengan kriteria kreatifitas, kerapian, keserasian dan keindahan mewarnai, akhirnya terpilihlah juara harapan I ananda Mutiara dengan nilai 234, Juara harapan II ananda Evira dengan nilai 230, Juara III ananda Sada Dengan nilai 245, Juara II ananda alycia dengan nilai 250 dan Sang Juara I ananda Winner dengan nilai 255.