
Di Tengah Riuh Dinamika Internal, Nahdliyyin Akar Rumput Mendambakan Sosok Peneduh untuk NU
JOMBANG,TelusuR.ID – Menjelang fase penting perjalanan Nahdlatul Ulama (NU), percakapan di kalangan warga nahdliyyin tidak lagi sekadar berkutat pada soal siapa yang layak memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Yang mengemuka justru pertanyaan yang lebih mendasar: ke mana arah NU akan dibawa di tengah dinamika internal yang semakin kompleks dan tantangan kebangsaan yang terus berubah?
Di berbagai daerah, mulai dari pesantren, majelis taklim, komunitas santri, hingga ruang-ruang diskusi warga NU, muncul kegelisahan yang relatif sama. Banyak nahdliyyin berharap organisasi yang didirikan para ulama pada 1926 itu tetap teguh sebagai rumah besar umat, penjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus kekuatan moral yang mampu meneduhkan kehidupan berbangsa.
Suara-suara dari bawah itu perlahan mengerucut pada satu harapan yang sederhana namun sarat makna: NU membutuhkan sosok pemimpin yang alim, teduh, berwibawa, dan mampu menjadi titik temu di tengah beragam pandangan yang berkembang dalam tubuh jam’iyah.
Harapan tersebut bukan lahir dari ruang hampa. Dalam beberapa tahun terakhir, NU menghadapi berbagai dinamika yang menyita perhatian publik. Perbedaan pandangan di kalangan elite organisasi, meningkatnya polarisasi sosial-politik, hingga tuntutan agar NU tetap menjadi jangkar moral bangsa telah memunculkan kegelisahan tersendiri di kalangan warga nahdliyyin akar rumput.
Bagi mereka, NU tidak boleh terlalu larut dalam pusaran kontestasi kepentingan. Jam’iyah ini harus tetap berpijak pada khittah perjuangan para muassis yang meletakkan ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada umat sebagai fondasi utama organisasi.
Di tengah suasana itulah nama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA mulai banyak diperbincangkan.
Figur yang dikenal sebagai ulama, intelektual, sekaligus negarawan tersebut dinilai memiliki karakter yang dibutuhkan NU saat ini. Bukan semata karena jabatan yang pernah diemban atau pengaruh yang dimiliki, melainkan karena rekam jejak panjangnya dalam merawat moderasi Islam, membangun dialog lintas kelompok, serta menjaga keseimbangan antara nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
KH. Nasaruddin Umar tumbuh dari tradisi keilmuan Islam yang kuat. Kiprahnya selama puluhan tahun memperlihatkan konsistensi dalam memperjuangkan nilai-nilai wasathiyah atau jalan tengah, prinsip yang sejak lama menjadi napas perjuangan Nahdlatul Ulama. Dalam berbagai kesempatan, ia dikenal sebagai figur yang lebih memilih merajut dialog daripada mempertajam perbedaan, lebih mengedepankan hikmah daripada konfrontasi.
Pandangan serupa disampaikan Minhadj Mansyur, mantan Presiden BEM UIN Malang dan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Namun lebih dari sekadar narasumber, Minhadj oleh banyak kalangan dipandang sebagai representasi generasi muda nahdliyyin yang tumbuh dari kultur pesantren dan proses kaderisasi NU.
Apa yang disampaikannya tidak lahir dari ruang kekuasaan atau kepentingan elite organisasi. Gagasannya tumbuh dari denyut kehidupan warga NU di tingkat bawah, dari dialog dengan para santri, kader PMII, pengurus ranting, hingga masyarakat nahdliyyin yang sehari-hari berhadapan langsung dengan berbagai persoalan sosial.
Karena itu, ketika Minhadj berbicara tentang kebutuhan NU akan sosok pemimpin yang mampu meneduhkan suasana dan menyatukan berbagai elemen organisasi, pandangan tersebut dianggap mencerminkan kegelisahan yang berkembang luas di kalangan akar rumput.
“Setiap zaman menghadirkan tantangannya sendiri. Karena itu NU membutuhkan pemimpin yang bukan hanya memahami organisasi, tetapi juga memahami perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisi. Sosok yang alim, teduh, mampu merangkul semua pihak, dan memiliki pandangan luas untuk menjaga marwah organisasi,” ujar Minhadj.
Menurutnya, banyak warga nahdliyyin saat ini merindukan hadirnya figur pemersatu yang mampu menjadi jembatan di tengah beragam pandangan yang berkembang dalam tubuh organisasi. Mereka menginginkan kepemimpinan yang mengedepankan kebijaksanaan ketimbang polarisasi, persaudaraan ketimbang pengelompokan, serta keteladanan moral ketimbang sekadar manuver kekuasaan.
Dalam konteks itu, Minhadj menilai KH. Nasaruddin Umar memiliki modal moral dan intelektual yang kuat untuk memainkan peran tersebut. Pengalaman panjangnya dalam dunia pendidikan, dakwah, birokrasi, serta forum-forum dialog nasional maupun internasional dinilai menjadi bekal penting untuk menjaga posisi NU sebagai organisasi yang tetap relevan sekaligus disegani.
Bagi Minhadj, kepemimpinan NU tidak boleh dipahami semata sebagai arena perebutan jabatan atau kemenangan kelompok tertentu. Jabatan di NU adalah amanah besar untuk merawat warisan para ulama, menjaga persatuan warga nahdliyyin, memperkuat pesantren, serta memastikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin tetap menjadi panduan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, suara yang muncul dari akar rumput sesungguhnya bukan sekadar dukungan terhadap satu nama. Lebih jauh dari itu, suara tersebut merupakan ekspresi kerinduan terhadap hadirnya kepemimpinan yang mampu menghadirkan keteduhan di tengah berbagai silang pendapat yang berkembang.
NU, dalam pandangan warga nahdliyyin, membutuhkan figur yang dapat mengubah perbedaan menjadi kekuatan, menjadikan keberagaman pandangan sebagai energi persatuan, serta menjaga jam’iyah tetap berdiri di atas kepentingan umat dan bangsa.
Di tengah riuh dinamika yang terus bergerak, harapan itu kini semakin jelas terdengar dari bawah. NU membutuhkan pemimpin yang mampu menenangkan suasana, menguatkan ukhuwah, merawat tradisi keilmuan, dan mengembalikan fokus organisasi pada khidmah kepada umat. Dalam perspektif banyak nahdliyyin akar rumput yang suaranya turut diartikulasikan oleh Minhadj Mansyur, KH. Nasaruddin Umar merupakan salah satu figur yang dinilai memiliki kapasitas moral, keluasan ilmu, pengalaman kebangsaan, serta keteduhan untuk menjalankan amanah besar tersebut.
Di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang mempersatukan, nama Nasaruddin Umar bukan sekadar muncul sebagai figur alternatif. Ia hadir sebagai simbol harapan sebagian warga nahdliyyin yang merindukan NU tetap menjadi penuntun moral bangsa, bukan sekadar pemain dalam riuhnya dinamika kekuasaan.


