Pesan untuk Generasi yang Kelak Akan Menikmati Janji 100 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

0
3 views
Bagikan :

Pesan untuk Generasi yang Kelak Akan Menikmati Janji 100 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

Oleh: Jacob Ereste

TelusuR.ID – Korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar kejahatan hukum. Ia telah menjelma menjadi budaya yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa. Dari satu rezim ke rezim berikutnya, dari satu proyek ke proyek lainnya, dari satu lembaga ke lembaga yang lain, cerita tentang korupsi terus berulang seperti sinetron tanpa episode terakhir.

Yang lebih memprihatinkan, pelakunya bukan orang bodoh. Mereka adalah kaum terdidik, bergelar akademik tinggi, menduduki jabatan penting, dan sering tampil sebagai tokoh terhormat. Namun kecerdasan yang mereka miliki tidak berjalan beriringan dengan moralitas. Intelektualitas mereka tercerabut dari akar etika dan spiritualitas. Akibatnya, ilmu pengetahuan hanya menjadi alat untuk memperhalus cara menipu, mempercantik manipulasi, dan menyamarkan pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

Di titik inilah bangsa ini menghadapi krisis yang sesungguhnya: krisis akhlak.

Korupsi tidak lahir dari kemiskinan. Korupsi lahir dari kerakusan. Ia tumbuh dari hasrat yang tidak pernah merasa cukup. Karena itu, mereka yang sudah bergelimang kemewahan tetap mencuri. Mereka yang sudah hidup berkecukupan masih ingin merampas hak orang lain. Yang dikejar bukan lagi kebutuhan, melainkan pemuasan nafsu untuk terus menumpuk kekayaan dan mempertontonkan kemegahan.

Maka jangan heran jika para koruptor kerap tampil dalam simbol-simbol kemewahan. Rumah megah, kendaraan mewah, koleksi barang bernilai fantastis, hingga rekening yang tersembunyi di berbagai tempat. Ironisnya, sebagian besar kekayaan itu bahkan tak sempat mereka nikmati. Mereka lebih sibuk mengumpulkan daripada menggunakan. Seolah hidup hanya perlombaan untuk menjadi yang paling kaya sebelum ajal tiba.

Yang tragis, uang yang mereka rampas sering kali berasal dari hak rakyat kecil. Dana pendidikan, dana kesehatan, dana pensiun, dana haji, subsidi untuk masyarakat miskin, hingga program makan bergizi bagi anak-anak bangsa. Semua menjadi sasaran empuk bagi tangan-tangan yang kehilangan nurani.

Di hadapan kerakusan semacam ini, hukum sering kali tampak kehilangan taring. Rakyat menyaksikan bagaimana keadilan bisa dibeli, bagaimana perkara dapat dinegosiasikan, dan bagaimana hukuman sering kali lebih berat bagi pencuri ayam daripada pencuri uang negara bernilai triliunan rupiah. Ketika hukum kehilangan kepercayaan publik, yang lahir adalah kemarahan sosial. Dan ketika kemarahan sosial terus dipelihara oleh ketidakadilan, maka berbagai bentuk perlawanan akan menemukan jalannya sendiri.

Inilah bahaya yang sering diabaikan para penguasa. Ketidakadilan yang berlangsung lama tidak hanya merusak ekonomi, tetapi juga menghancurkan kepercayaan. Padahal kepercayaan adalah modal paling berharga dalam kehidupan berbangsa.

Hari ini rakyat semakin sulit mempercayai janji. Terlalu banyak harapan yang diumumkan, terlalu sedikit yang diwujudkan. Akibatnya, semangat gotong royong yang dahulu menjadi kekuatan bangsa perlahan memudar. Solidaritas sosial melemah. Kepedulian terhadap sesama berkurang. Masing-masing orang dipaksa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Pada saat yang sama, kapitalisme yang rakus, neoliberalisme yang tak mengenal batas kemanusiaan, serta materialisme yang menjadikan uang sebagai ukuran segala-galanya, semakin leluasa menguasai ruang hidup masyarakat. Nilai-nilai kebangsaan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata perlahan tergeser oleh logika untung-rugi.

Karena itu, pesan ini ditujukan kepada generasi yang kelak memasuki satu abad kemerdekaan Indonesia.

Jangan pernah mewarisi kesalahan kami. Jangan menganggap korupsi sebagai hal biasa. Jangan membiarkan kecerdasan berjalan tanpa hati nurani. Jangan membiarkan agama hanya menjadi simbol, sementara keadilan dan kejujuran ditinggalkan dalam praktik kehidupan.

Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang pintar yang kehilangan akhlak. Indonesia membutuhkan manusia yang berintegritas; yang mampu menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi, yang berani berkata benar ketika kebohongan menjadi kebiasaan, dan yang tetap membela kepentingan rakyat ketika kekuasaan menawarkan berbagai kemewahan.

Jika tidak, maka perayaan 100 tahun kemerdekaan hanya akan menjadi seremoni panjang untuk mengenang janji-janji yang gagal ditepati. Sebaliknya, jika generasi mendatang mampu mengembalikan moralitas sebagai fondasi kehidupan berbangsa, maka Indonesia Emas bukan sekadar slogan politik, melainkan kenyataan yang dapat diwariskan kepada anak cucu bangsa.

Banten, 6 Juni 2026

Tinggalkan Balasan