Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur di Tebuireng
JOMBANG, TelusuR.id – Menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berziarah ke makam Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu, 20 Juni 2026.
Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian tradisi Korps Bhayangkara menjelang Hari Bhayangkara yang diperingati setiap 1 Juli. Bagi Polri, nama Gus Dur memiliki arti khusus karena kepemimpinannya menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan reformasi kepolisian.
Setibanya di kompleks makam keluarga Tebuireng, Listyo Sigit yang mengenakan peci hitam memimpin doa bersama sebelum menaburkan bunga di pusara mantan presiden yang wafat pada 30 Desember 2009 itu. Suasana berlangsung khidmat.
Kedatangan Kapolri disambut Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Dalam tradisi pesantren, Kapolri menerima pengalungan surban sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.
Bagi institusi Polri, Gus Dur dikenang sebagai sosok yang memberi ruang bagi lahirnya kepolisian yang lebih mandiri. Pada masa pemerintahannya, reformasi sektor keamanan terus didorong melalui pemisahan TNI dan Polri, yang kemudian diperkuat melalui TAP MPR Nomor VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri serta TAP MPR Nomor VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri.

Kebijakan itu menjadi salah satu fondasi penting yang menempatkan Polri sebagai institusi yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di bawah Presiden.
Namun warisan Gus Dur tidak hanya dikenang dalam konteks reformasi kelembagaan. Tokoh Nahdlatul Ulama tersebut juga dikenal luas sebagai figur yang memperjuangkan pluralisme, hak-hak kelompok minoritas, serta nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi.
Nilai-nilai itulah yang dinilai masih relevan menjadi pijakan moral bagi aparat kepolisian dalam menjalankan tugasnya. Di usia ke-80 tahun, Polri dituntut tak hanya profesional dalam penegakan hukum, tetapi juga semakin dekat dengan masyarakat.
Usai berziarah, Kapolri dan Gus Kikin melanjutkan pertemuan di kediaman pengasuh pesantren. Dalam suasana hangat, keduanya membahas pentingnya sinergi antara ulama dan kepolisian dalam menjaga keamanan serta merawat persatuan bangsa.
Pihak Pesantren Tebuireng mengapresiasi tradisi Polri yang terus menjaga hubungan dengan para tokoh bangsa. Gus Kikin berharap di usia yang semakin matang, Polri dapat terus memperkuat profesionalisme dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Ziarah ke makam Gus Dur menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi institusi kepolisian, kunjungan itu menjadi pengingat bahwa reformasi, penghormatan terhadap keberagaman, dan pelayanan kepada masyarakat merupakan nilai-nilai yang telah lama dititipkan oleh para pendiri bangsa.



