Fakta Sejarah Perjuangan Ulama Mulai Dilupakan Gen-Z, Lesbumi Jatim Desak Reorientasi Sejarah Nasional

0
6 views
Bagikan :

SURABAYA, TelusuR.id — Perjuangan para ulama dan kiai pesantren dalam menegakkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah tidak perlu diragukan lagi. Rekam jejak sejarah nasional Indonesia mencatat peran vital kelompok santri, mulai dari era sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), masa perang kemerdekaan, hingga fase mengisi kemerdekaan.

Namun, narasi besar mengenai kontribusi kaum sarungan tersebut dinilai mulai meredup di panggung sejarah modern. Banyak pihak menyayangkan bahwa fakta empiris mengenai perjuangan fisik dan pemikiran para ulama pesantren kini terkesan dianggap sepi dan kurang mendapatkan porsi yang proporsional.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada minimnya literasi sejarah di tingkat akar rumput, terutama bagi generasi muda. Akibatnya, sebagian besar Generasi Z (Gen-Z) saat ini tidak lagi mengenal secara utuh dan mendalam bagaimana potret perjuangan berdarah-darah para kiai dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

 

Keprihatinan mendalam tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, dalam keterangannya yang diterima Telusur.id, pada Senin (8/6/2026). Ia menilai, perlu ada langkah konkret untuk menyosialisasikan kembali peran ulama kepada generasi muda.

Pandangan tersebut diungkapkan Riadi di hadapan 41 mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Kajian Poskolonial Universitas Islam Negeri (UIN) KH Achmad Siddiq (KHAS) Jember. Di bawah bimbingan dosen Kautsar Pratama, forum diskusi ilmiah tersebut berlangsung dinamis dengan adanya dialog dua arah.

Dalam kesempatan itu, Riadi Ngasiran yang juga dikenal sebagai Tim Penulis Sejarah Satu Abad NU, mencoba menjawab berbagai pertanyaan dan gugatan akademik dari para mahasiswa. Penulis buku Sejarah Gerakan Kemerdekaan Bawah Tanah di Indonesia ini menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai perjuangan bagi Gen-Z.

Riadi mengingatkan kembali pesan-pesan ideologis dari KH Muhammad Hasyim Asy’ari selaku Pendiri NU. Salah satu poin penting yang wajib dipahami oleh generasi muda saat ini adalah substansi yang terkandung di dalam kitab monumental Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.

Dalam kitab tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa sikap sosial, saling tolong-menolong, menjaga persatuan, dan kasih sayang merupakan fakta yang tiada seorang pun menolak manfaatnya. Beliau menyitir hadis Rasulullah SAW bahwa kuasa Allah bersama jemaah, dan berpisah dari persatuan merupakan pintu masuk bagi setan.

Selain aspek teologis, Riadi Ngasiran juga memaparkan peran geopolitik NU dalam memperjuangkan gerakan antikolonialisme sejak zaman Hindia Belanda. Kelompok ulama secara konsisten konsisten menentang segala bentuk penjajahan, baik secara gerilya fisik maupun melalui jalur diplomasi formal.

Di tengah percaturan global, NU terbukti lihai mengambil langkah diplomasi internasional yang strategis. Jejak tersebut terekam jelas mulai dari pengiriman Komite Hijaz ke Arab Saudi, diplomasi taktis pada zaman pendudukan Jepang, hingga keterlibatan dalam memotori berbagai forum regional.

Salah satu tonggak sejarah diplomasi yang monumental adalah terselenggaranya Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada tahun 1965. Forum internasional tersebut digagas oleh tokoh pemikir NU, KH Achmad Sjaichu dan KH Idham Chalid, sesaat sebelum pecahnya peristiwa gerakan pengkhianatan G30S/PKI.

Tidak berhenti pada era kemerdekaan fisik, peran global NU terus berlanjut pada dekade-dekade berikutnya dalam menjaga perdamaian dunia. NU bertransformasi menjadi organisasi yang konsisten menolak paham terorisme dan mengampanyekan esensi Islam antikekerasan ke berbagai belahan dunia.

Gerakan kemanusiaan tersebut salah satunya dipelopori oleh KH Hasyim Muzadi melalui forum ilmiah internasional. Kiprahnya diwujudkan lewat pertemuan para cendekiawan dunia lintas mazhab dalam International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang digelar secara berkala sejak tahun 2009 hingga 2014.

Melalui kilas balik sejarah yang panjang ini, Lesbumi Jatim berharap para mahasiswa dan Gen-Z dapat memetik pelajaran berharga. Pemahaman sejarah yang utuh diharapkan mampu membentengi generasi muda dari distorsi informasi, sekaligus menumbuhkan rasa nasionalisme yang berbasis pada nilai-nilai luhur pesantren.

Tinggalkan Balasan