Demokrasi, Kebersamaan, dan Jalan Panjang Menuju Kemaslahatan Bersama

0
11 views
Bagikan :

Demokrasi, Kebersamaan, dan Jalan Panjang Menuju Kemaslahatan Bersama

Oleh: Jacob Ereste

JAKARTA,TelusuR.ID – Demokrasi sejatinya bukan sekadar mekanisme memilih pemimpin melalui bilik suara. Demokrasi adalah ruang hidup yang memungkinkan rakyat bernapas lega, menyampaikan pikiran tanpa rasa takut, mengawasi kekuasaan tanpa ancaman, serta mengoreksi kebijakan tanpa dicap sebagai musuh negara. Ketika ruang-ruang itu mulai dipersempit, sesungguhnya yang sedang dikikis bukan hanya kebebasan, melainkan juga martabat demokrasi itu sendiri.

Sebuah negara yang mengaku demokratis semestinya membuka pintu selebar-lebarnya bagi arus informasi, kritik, pengawasan, hingga evaluasi terhadap setiap penyelenggara negara. Sebab kekuasaan yang enggan diawasi akan mudah berubah menjadi kekuasaan yang merasa selalu benar. Dan sejarah telah berkali-kali mengajarkan bahwa kekuasaan yang kehilangan kritik hanya akan melahirkan kesewenang-wenangan.

Di titik inilah kecerdasan intelektual saja tidak pernah cukup. Sebab orang pandai pun dapat menyalahgunakan ilmunya ketika kehilangan kompas moral. Yang dibutuhkan oleh setiap pejabat publik, lebih-lebih seorang pemimpin bangsa, adalah kecerdasan spiritual yang mampu menuntun nurani agar setiap keputusan tetap berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan kepada kepentingan kelompok, partai, apalagi dirinya sendiri.

Mandat rakyat bukanlah cek kosong yang boleh dipergunakan sesuka hati. Ia adalah amanah yang setiap saat harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan konstitusi, tetapi juga di hadapan hati nurani dan sejarah.

Sayangnya, yang kerap kita saksikan justru sebaliknya. Tidak sedikit lembaga perwakilan rakyat yang lebih sibuk menyelamatkan kepentingan politiknya sendiri daripada memperjuangkan suara masyarakat. Parlemen yang semestinya menjadi benteng pengawasan berubah menjadi pagar yang melindungi kekuasaan. Wakil rakyat lebih rajin membangun citra daripada membangun kepercayaan.

Karena itu tidak mengherankan apabila dalam berbagai gelombang demonstrasi mahasiswa muncul tuntutan yang terdengar begitu keras: membubarkan DPR. Bukan karena rakyat membenci demokrasi, melainkan karena mereka kecewa terhadap lembaga yang seharusnya menjadi jantung demokrasi, tetapi justru dianggap gagal menjalankan fungsi pengawasan, legislasi, dan representasi.

Demokrasi memang lahir dari suara mayoritas. Namun demokrasi tidak pernah boleh kehilangan adab. Sebab suara terbanyak tidak otomatis melahirkan kebenaran. Kekuasaan yang memperoleh legitimasi melalui pemilihan umum tetap harus tunduk kepada etika, hukum, dan rasa keadilan.

Demokrasi tanpa moral hanyalah prosedur yang kehilangan jiwa. Ia bisa berubah menjadi alat legal untuk membenarkan ketidakadilan. Bahkan, dengan bungkus demokrasi, praktik manipulasi dapat berlangsung secara sah di atas kertas, meski melukai rasa keadilan masyarakat.

Karena itu demokrasi harus selalu berada dalam pengawasan rakyat. Tidak boleh ada satu pun institusi yang merasa dirinya terlalu tinggi untuk dikritik. Sebab kritik bukan ancaman bagi negara. Kritik justru adalah vitamin yang menjaga demokrasi tetap sehat.

Bangsa Indonesia sesungguhnya telah memiliki warisan yang jauh lebih tua daripada demokrasi elektoral yang kita adopsi dari Barat, yakni musyawarah mufakat. Tradisi ini bukan sekadar metode mengambil keputusan, melainkan cara membangun kebersamaan. Dalam musyawarah, setiap orang tidak berlomba menjadi pemenang, melainkan mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.

Apabila keputusan lahir melalui musyawarah, maka keberhasilannya menjadi kebanggaan bersama. Sebaliknya, kegagalannya pun dipikul bersama. Tidak ada pihak yang saling menyalahkan, karena sejak awal semua merasa ikut memiliki keputusan tersebut.

Inilah watak asli kebudayaan Nusantara yang perlahan mulai terkikis oleh budaya kompetisi yang sering kali menempatkan kemenangan pribadi di atas kepentingan bersama. Kita semakin fasih berbicara tentang hak, tetapi semakin enggan memikul tanggung jawab.

Padahal, gotong royong adalah energi sosial terbesar yang pernah dimiliki bangsa ini. Ia bukan sekadar tradisi mengangkat rumah atau membersihkan kampung, melainkan falsafah hidup yang menempatkan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.

Dalam semangat gotong royong itulah keberagaman menemukan maknanya. Indonesia tidak dibangun dari satu warna, satu suku, satu bahasa, atau satu keyakinan. Negeri ini berdiri justru karena keberanian menerima perbedaan sebagai kekuatan.

Pelangi tidak pernah kehilangan keindahannya karena memiliki banyak warna. Sebaliknya, ia memikat justru karena setiap warna memberi tempat bagi warna lainnya. Begitu pula sebuah orkestra tidak melahirkan harmoni karena semua alat musik memainkan nada yang sama, melainkan karena setiap instrumen memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi.

Maka demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang menyeragamkan suara, melainkan demokrasi yang mampu merawat keberagaman dalam bingkai persatuan. Demokrasi yang menghormati perbedaan, menghidupkan dialog, memperkuat solidaritas, dan menjadikan kekuasaan sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat.

Pada akhirnya, demokrasi bukan tujuan akhir. Demokrasi hanyalah jalan. Tujuan sesungguhnya adalah menghadirkan kehidupan yang adil, bermartabat, dan berkeadaban bagi seluruh warga bangsa. Ketika demokrasi gagal menghadirkan keadilan sosial, gagal melindungi yang lemah, serta gagal menjaga kepercayaan rakyat, maka yang harus diperbaiki bukan hanya sistemnya, melainkan juga nurani para pelakunya.

Sebab bangsa ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah pemimpin yang sanggup mendengar suara hati rakyat sebelum mendengar tepuk tangan para pendukungnya.

Banten, 27 Juni 2026

Tinggalkan Balasan