Haji: Jalan Pulang Menemukan Diri
Oleh: —Mohammad Sami’an, SPdI., MPdI.,
JOMBANG,TelusuR.ID – Di tengah denyut kesahajaan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, percakapan tentang haji mengalir bukan sekadar sebagai uraian fikih, melainkan sebagai tafsir kehidupan. Di sebuah rumah sederhana di Gang 5 Desa Tambakrejo, Mohammad Sami’an, SPdI., MPdI., berbicara tentang ibadah haji dengan nada teduh—menghubungkan syariat dengan hakikat, ritual dengan ruhani, serta perjalanan fisik dengan pengembaraan batin manusia menuju Tuhan.
Bagi Ustadz Sami’an, haji bukan semata perpindahan tubuh menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan pulang menuju fitrah kemanusiaan. Sebuah perjalanan untuk membersihkan hati dari debu-debu dunia, sekaligus meneguhkan kembali cinta manusia kepada Sang Khalik.
“Haji adalah rukun Islam kelima. Namun tidak semua orang mendapat panggilan menjadi tamu Allah. Mereka yang berhaji adalah orang-orang pilihan yang dimuliakan-Nya,” tuturnya lirih.
Dalam pandangannya, seluruh rangkaian ibadah haji sesungguhnya adalah jejak spiritual para nabi yang diwariskan kepada umat manusia lintas zaman. Setiap ritual bukan hanya gerak lahiriah, melainkan simbol yang memuat pesan peradaban dan pelajaran kemanusiaan.
Arafah: Padang Kesetaraan Manusia
Wukuf di Arafah, menurut Sami’an, adalah momentum ketika manusia ditanggalkan dari segala atribut duniawi. Di hamparan padang itu, tak ada lagi sekat antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa. Semua mengenakan pakaian yang sama, berdiri setara di hadapan Allah SWT, membawa kerendahan dan pengharapan yang sama.
Tradisi para nabi menyebut Arafah sebagai tempat pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah lama dipisahkan. Karena itu, Arafah bukan hanya ruang pengampunan, tetapi juga simbol rekonsiliasi manusia dengan dirinya, dengan sesamanya, dan dengan Tuhannya.
“Di Arafah, manusia belajar bahwa seluruh kemuliaan dunia hanyalah sementara. Yang tersisa hanyalah ketundukan di hadapan Allah,” ujarnya.
Karena itu pula, ia menegaskan, tidak ada ruang bagi keputusasaan di Padang Arafah. Seorang jamaah harus meyakini bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa-dosa manusia.
Lempar Jumrah: Melawan Iblis dalam Diri
Di Mina, ritual lempar jumrah sering dipahami sekadar simbol melempar setan. Namun bagi Sami’an, maknanya jauh lebih dalam: manusia sedang melawan sisi gelap dalam dirinya sendiri—kesombongan, ketamakan, hawa nafsu, dan godaan kekuasaan dunia.
Ia mengingatkan kembali kisah Nabi Ibrahim AS yang tetap teguh menjalankan perintah Allah meski digoda iblis untuk membatalkan pengorbanannya.
“Allahu Akbar yang terus diucapkan saat melempar jumrah adalah penegasan bahwa tidak ada yang lebih besar selain Allah. Bukan harta, bukan jabatan, bukan pula keinginan diri,” katanya.
Maka sesungguhnya, jumrah adalah pelajaran tentang keberanian moral: kemampuan manusia menundukkan ego demi ketaatan yang lebih tinggi.
Tawaf dan Sa’i: Falsafah Gerak Kehidupan
Dalam perspektif tasawuf, tawaf adalah metafora kehidupan. Manusia diajarkan untuk terus bergerak, berikhtiar, dan mencari makna di tengah putaran zaman.
“Kita tidak menyembah Ka’bah. Ka’bah adalah arah. Tawaf mengajarkan bahwa hidup tidak boleh berhenti. Manusia harus terus berjalan dalam orbit pengabdian kepada Allah,” ungkapnya.
Sementara sa’i antara Shafa dan Marwah menghadirkan kisah agung seorang ibu: Siti Hajar. Di tengah kegersangan padang pasir, ia berlari mencari air demi kehidupan putranya, Nabi Ismail AS. Dari perjuangan itulah lahir pesan besar tentang kesabaran, ketangguhan, dan ikhtiar manusia menghadapi ujian kehidupan.
Bagi Sami’an, sa’i adalah simbol bahwa pertolongan Tuhan sering kali lahir dari keteguhan usaha manusia sendiri.
Haji Mabrur: Ukurannya Akhlak
Di tengah masyarakat yang kadang memaknai haji sebatas gelar sosial, Sami’an mengingatkan bahwa kemabruran tidak diukur dari pakaian putih, panggilan “Pak Haji”, atau simbol-simbol status sepulang dari Tanah Suci.
Ukuran haji mabrur justru tampak pada perubahan akhlak.
“Tanda pertama haji mabrur adalah semakin rukun dengan keluarga, semakin lembut kepada tetangga, dan semakin bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, Tanah Suci adalah madrasah kesabaran. Di tengah panas, kepadatan, dan ujian emosi, manusia ditempa untuk belajar mengendalikan diri. Karena itu, orang yang hajinya diterima akan tampak dari tutur katanya yang lebih halus, sikapnya yang lebih teduh, dan kepeduliannya yang semakin besar kepada sesama.
“Kalau punya harta, ringan bersedekah. Kalau punya tenaga, ringan membantu. Kalau punya ilmu, hadir memberi solusi,” katanya.
Haji dan Jalan Penyucian Ruhani
Pada akhirnya, haji adalah jalan penyucian jiwa. Sebuah perjalanan panjang agar manusia kembali mengenal Tuhan sekaligus mengenali dirinya sendiri.
“Haji bukan hanya perjalanan badan, tetapi perjalanan ruh menuju Allah. Orang yang pulang haji harus semakin dekat kepada Allah dan semakin membawa manfaat bagi manusia,” tutup Sami’an.
Dari percakapan itu, tersirat satu pesan penting: haji sejatinya bukan akhir perjalanan spiritual, melainkan awal kelahiran kembali manusia yang lebih jernih hati, lebih lembut akhlak, dan lebih sadar bahwa hidup hanyalah pengabdian.
Menjelang datangnya Dzulhijjah, Sami’an juga mengingatkan pentingnya menghidupkan sepuluh hari pertama bulan mulia itu dengan amal saleh, terutama puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah. Dalam keyakinan umat Islam, hari-hari tersebut merupakan momentum pelipatgandaan pahala, penghapusan dosa, sekaligus latihan penyucian diri sebelum manusia benar-benar sampai pada makna pengorbanan yang hakiki.



