MALANG, TELUSUR.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Jatim berhasil memborong tiga penghargaan sekaligus dalam ajang bergengsi UB Halal Metric Award 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya di Kota Malang, Selasa (5/5/2026).
Prestasi ini mencakup dua kategori Gold Winner dan satu kategori Silver Winner. Penghargaan emas diraih atas komitmen luar biasa dalam pembangunan infrastruktur halal serta pengembangan edukasi halal di wilayah Jawa Timur sepanjang tahun 2026.
Sementara itu, kategori Silver Winner diraih dalam bidang inovasi, kolaborasi, serta pemberdayaan publik terhadap ekosistem halal. Capaian ini menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan perolehan penghargaan terbanyak dalam ajang tersebut.
Apresiasi tinggi tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan. Penghargaan diterima oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang hadir mewakili Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Dalam keterangan resminya, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari sinergi kuat antara pemerintah daerah, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat.
“Ini adalah hasil kerja keras bersama, termasuk kontribusi para Bupati dan Walikota di Jawa Timur yang fokus pada produk halal. Kami senantiasa berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi syariah,” ungkap Khofifah dikutip Telusur.id
Data menunjukkan bahwa Jawa Timur kini memiliki infrastruktur halal yang sangat masif. Dari 124 Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) di Indonesia, sebanyak 15 di antaranya beroperasi di Jawa Timur, mempercepat proses sertifikasi bagi pelaku usaha.
Selain itu, Jatim diperkuat oleh 85 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) serta mengerahkan 16.424 tenaga pendamping PPH. Angka ini menjadi kontribusi signifikan terhadap total pendamping halal secara nasional.
Khofifah menekankan bahwa saat ini label halal bukan lagi sekadar urusan religi. Halal telah bertransformasi menjadi customer value dan gaya hidup yang memberikan nilai tambah serta kepercayaan lebih bagi konsumen global.
“Halal sudah menjadi standar kualitas dunia. Kami akan terus fokus memastikan produk-produk dari Jawa Timur memiliki daya saing tinggi melalui standarisasi ini,” tegas Gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga melirik potensi besar pondok pesantren sebagai motor penggerak ekonomi. Dengan jumlah pesantren yang tersebar luas, Jatim optimistis mampu memimpin industri halal di Indonesia bahkan mancanegara.
“Pesantren di Jawa Timur bukan hanya pusat ilmu, tapi juga menjadi mesin penggerak produk halal yang luar biasa. Potensi ini yang terus kami optimalkan secara berkelanjutan,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menyebut bahwa ekosistem halal adalah ruang baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menekankan bahwa manfaat produk halal bersifat universal bagi seluruh kalangan.
“Halal is for everybody. Ini bukan hanya soal agama, tapi soal kualitas dan pertumbuhan ekonomi (growth economy). Isu ini sudah menjadi perhatian serius di Asia Timur hingga Eropa,” kata Haikal Hasan.
Ia juga mengapresiasi inisiatif Universitas Brawijaya dan konsistensi Jawa Timur dalam menjaga standar halal. Sinergi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi provinsi lain untuk mempercepat mandatori sertifikasi halal di Indonesia.
“Terima kasih kepada Universitas Brawijaya dan Jawa Timur yang telah menjadi motor penggerak industri halal. Ajang ini adalah bukti nyata komitmen kita menjadi pusat halal dunia,” pungkasnya.



