SURABAYA, TELUSUR.ID – Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) baru saja memperingati hari lahirnya pada 29 April 2026. Organisasi perempuan terbesar di dunia tersebut tahun ini resmi genap berusia 80 tahun, sebuah usia matang dalam mengabdikan diri untuk bangsa dan agama.
Anggota DPRD Jawa Timur, Anik Maslachah, mengungkapkan bahwa sejak awal berdiri hingga saat ini, Muslimat NU memiliki peran yang sangat strategis. Kontribusi mereka dinilai tak lekang oleh waktu, baik dalam kehidupan bernegara maupun bermasyarakat secara luas.
Anik mengenang kembali sejarah panjang organisasi ini, di mana pada masa revolusi fisik, para ibu Muslimat NU tidak ragu untuk ikut angkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat patriotisme itulah yang kini bertransformasi dalam bentuk pengabdian yang berbeda.
“Muslimat NU punya peran strategis dari masa ke masa. Jika dulu mereka berjuang secara fisik, saat ini kontribusi mereka mengisi semua lini kehidupan modern,” kata Anik Maslachah dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026) dikutip Telusur.id
Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur tersebut menjelaskan bahwa kiprah Muslimat NU saat ini sudah melampaui batas kegiatan keagamaan dan pendidikan formal saja. Mereka kini menjadi motor penggerak dalam berbagai kegiatan sosial hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurut Anik, para ibu Muslimat NU juga memikul tanggung jawab besar sebagai penjaga benteng ketahanan keluarga. Di tengah derasnya arus modernisasi, peran mereka sangat vital dalam membentengi keluarga dari berbagai dampak negatif yang muncul.
Peran tersebut mencakup pendidikan generasi bangsa agar memiliki karakter akhlaqul karimah. Dengan sentuhan kasih sayang ibu, Muslimat NU memastikan nilai-nilai moral tetap terjaga di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan dinamis.
“Muslimat NU berfungsi pula dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Hal ini berarti mereka aktif memperkuat peran perempuan, baik di ranah publik maupun domestik,” tandas politisi perempuan asal Jawa Timur tersebut.
Selain penguatan peran perempuan, organisasi ini juga menjadi garda terdepan dalam menjamin perlindungan bagi perempuan dan anak dari berbagai tindak kekerasan. Hal ini membuktikan bahwa Muslimat NU peka terhadap isu-isu kemanusiaan yang berkembang saat ini.
Tokoh Nahdliyin Inspiratif versi Forkom Jurnalis Nahdliyin ini melanjutkan, Ibu-ibu Muslimat NU kini juga telah berevolusi menjadi penggerak isu sosial dan lingkungan. Mereka aktif mengampanyekan kebersihan, kesehatan, hingga upaya kelestarian lingkungan hidup.
Tak berhenti di situ, Muslimat NU juga dinilai memiliki peran nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan di daerah. Melalui berbagai unit ekonomi produktif, organisasi ini secara langsung membantu masyarakat yang lemah secara ekonomi agar bisa lebih berdaya.
Anik menambahkan bahwa sektor ekonomi produktif yang dikelola oleh Muslimat NU di tingkat akar rumput telah menjadi solusi bagi kemandirian banyak keluarga di perdesaan maupun perkotaan. Hal ini menjadi bukti nyata kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Muslimat NU juga berperan menjaga tradisi dan moderasi beragama. Itu artinya merawat tradisi keislaman yang moderat dan menjadi benteng kokoh dari paham radikalisme,” pungkas Anik mengakhiri pernyataannya.
Melalui spirit harlah ke-80 ini, Muslimat NU diharapkan terus konsisten menjadi pilar stabilitas bangsa. Organisasi ini membuktikan bahwa peran ibu bukan hanya di dapur, melainkan juga di pusat perubahan peradaban yang lebih inklusif dan damai.



