Konflik AS-Israel vs Iran Memanas: Ancaman Guncangan Global Intai IHSG Pekan Depan

0
91 views
Bagikan :

JAKARTA, TELUSUR.ID – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Serangan ini diprediksi tidak hanya mengubah peta geopolitik dunia, tetapi juga memicu gelombang kepanikan di pasar keuangan global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Mengutip laporan Reuters, operasi militer udara yang diluncurkan pasukan AS dan Zionis Israel tersebut secara spesifik menargetkan pusat kepemimpinan tertinggi Iran, yakni Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian. Serangan ini menandai keterlibatan langsung Washington dalam konfrontasi fisik yang selama ini lebih banyak terjadi lewat proksi.

Meski demikian, sumber internal yang mengetahui operasi tersebut melaporkan bahwa Ayatollah Khamenei tidak berada di Teheran saat rudal menghantam. Pemimpin tertinggi Iran tersebut dikabarkan telah dievakuasi ke lokasi rahasia yang lebih aman sesaat sebelum serangan dimulai, guna menghindari dampak langsung dari agresi udara tersebut.

Respons cepat segera datang dari Teheran melalui Garda Revolusi Iran yang meluncurkan serangan balik masif ke pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Hujan rudal dan drone dilaporkan menyasar seluruh instalasi militer Amerika sebagai bentuk pembalasan atas serangan terhadap kedaulatan Iran.

Dampak ledakan keras bahkan dilaporkan terdengar hingga ke Abu Dhabi dan Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Mengingat UEA adalah produsen minyak utama dunia sekaligus sekutu dekat AS, keterlibatan wilayah ini dalam jangkauan konflik menciptakan kekhawatiran akut akan terganggunya rantai pasok energi global.

Pengamat pasar modal, Wahyu Laksono, menilai bahwa keterlibatan langsung AS dalam agresi ini membuat level ancaman jauh lebih serius dibandingkan ketegangan Iran-Israel sebelumnya. Situasi ini dinilai berpotensi menyeret sekutu-sekutu AS di Timur Tengah ke dalam pusaran perang terbuka yang luas.

“Ini jauh lebih serius. Melibatkan AS secara langsung berarti banyak negara sekutu di kawasan tersebut kini dalam posisi siap tempur melawan Iran. Dampak sistemiknya terhadap ekonomi global akan sangat terasa,” ujar Wahyu dalam keterangannya, Minggu (29/2/2026) dikutip Telusur.id.

Wahyu memperingatkan bahwa tanpa adanya de-eskalasi atau resolusi diplomatik segera, pasar saham dunia akan menghadapi “Senin Berdarah” pada perdagangan 2 Maret 2026. Tekanan jual masif diprediksi akan menghantam Wall Street, bursa global, dan tidak terkecuali IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Analisis ini muncul di tengah kondisi IHSG yang sebenarnya masih berusaha mencari kestabilan. PT Bursa Efek Indonesia mencatat bahwa sepanjang periode 23-27 Februari 2026, data perdagangan ditutup bervariasi dengan kecenderungan melemah secara tipis di akhir pekan kemarin.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan bahwa meski IHSG terkoreksi 0,44 persen ke level 8.235,485, volume transaksi harian justru naik menjadi 51,02 miliar lembar saham. Hal ini menunjukkan adanya volatilitas yang tinggi sebelum ketegangan di Timur Tengah meledak.

Namun, kapitalisasi pasar BEI tercatat sudah menyusut 1,03 persen menjadi Rp14.787 triliun. Penurunan ini semakin diperparah dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp694,22 miliar hanya pada hari Jumat (27/2), mencerminkan sikap hati-hati pemodal besar terhadap risiko global.

Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, investor asing telah mencatatkan net sell sebesar Rp9,51 triliun. Angka ini menjadi sinyal merah bahwa sentimen ketidakpastian geopolitik dapat mempercepat arus modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset aman (safe haven).

Dengan pecahnya perang terbuka di Iran, pasar modal Indonesia kini berada dalam posisi rentan. Investor diharapkan meningkatkan kewaspadaan ekstra menghadapi pembukaan pasar pekan depan, mengingat komoditas minyak dan emas diprediksi akan melonjak tajam menyusul ketidakstabilan di jantung produsen energi dunia tersebut.

Tentu, melihat situasi geopolitik yang memanas antara AS-Israel dan Iran, pasar modal biasanya akan bereaksi dengan volatilitas tinggi (gejolak harga).

Berikut adalah ringkasan strategi investasi yang bisa dipertimbangkan oleh para investor untuk menghadapi pembukaan pasar pada Senin, 2 Maret 2026:

Strategi Investasi Menghadapi Gejolak Geopolitik

1. Rebalancing ke Aset Safe Haven

Dalam kondisi perang atau ketidakpastian global, investor cenderung menarik dana dari aset berisiko (saham) dan memindahkannya ke aset aman.

* Emas: Harga emas biasanya melonjak saat terjadi konflik bersenjata.

* Mata Uang Kuat: Dolar AS (USD) seringkali menguat sebagai pelarian nilai.

2. Pantau Sektor Energi dan Komoditas

Timur Tengah adalah jantung produksi minyak dunia. Serangan di wilayah tersebut (terutama jika mengenai infrastruktur minyak di Iran atau sekutu AS seperti UEA) akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Saham-saham perusahaan migas di IHSG berpotensi menjadi penahan koreksi indeks.

3. Hindari Keputusan Emosional (Panic Selling)

Meskipun IHSG diprediksi tertekan, hindari menjual seluruh portofolio secara terburu-buru di harga rendah. Perhatikan level support kuat IHSG. Jika penurunan terjadi karena sentimen global (bukan fundamental perusahaan), biasanya akan terjadi rebound teknikal setelah situasi sedikit mereda.

4. Siapkan Cash On Hand

Memiliki porsi tunai yang cukup sangat penting. Penurunan tajam akibat sentimen perang seringkali menjadi kesempatan “belanja” saham-saham blue chip dengan harga diskon (strategi buy on weakness) bagi investor jangka panjang.

5. Cermati Sektor Defensif

Sektor yang kurang terdampak oleh daya beli global seperti Consumer Goods (barang konsumsi pokok) dan Telekomunikasi biasanya lebih stabil dibandingkan sektor perbankan atau properti saat terjadi guncangan makroekonomi.

Tinggalkan Balasan