JOMBANG, TELUSUR.ID – Semburat fajar belum sepenuhnya terang di langit Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno, Jombang, namun kepulan asap tipis sudah mulai menari dari dapur Syaifullah (58). Di rumahnya yang terletak di Dusun Mlaten, pria ini tampak sibuk bergulat dengan wajan raksasa. Bukan minyak goreng yang ia tuangkan, melainkan butiran pasir sungai yang mulai memancarkan panas konsisten.
Syaifullah adalah salah satu penjaga tradisi kuliner lawas: kacang goreng pasir. Sejak tahun 1990, ia setia menggeluti usaha yang mengandalkan hantaran panas alami dari media pasir. Baginya, menggoreng kacang dengan cara ini bukan sekadar urusan dapur, melainkan seni mempertahankan cita rasa orisinal yang sulit digantikan oleh mesin modern.
Memasuki bulan Maret 2026, suasana di rumah produksi Syaifullah mendadak jauh lebih sibuk dari biasanya. Menjelang Hari Raya Idulfitri, permintaan pasar melonjak drastis. Kacang tanah jenis hibrida dan lokal yang menjadi bahan baku utamanya kini datang dalam karung-karung besar, siap untuk diproses menjadi camilan khas lebaran.

Proses pembuatannya pun membutuhkan ketelatenan tinggi. Sebelum bertemu dengan panasnya wajan, kacang kulit harus dijemur di bawah terik matahari hingga benar-benar kering. Tahapan ini sangat krusial demi memastikan tekstur kacang tetap renyah dan tidak mudah tengik saat disimpan dalam toples-toples hari raya nanti.
Setelah kering sempurna, barulah kacang dimasukkan ke dalam wajan berisi pasir sungai yang telah dipanaskan. “Kita goreng pakai pasir sungai biasa dari kampung kita sendiri. Produksinya mulai setelah subuh hingga jam 12 siang,” ujar Syaifullah sembari terus mengaduk kacang dengan ritme yang terjaga, Selasa (10/03/2026).
Alasan penggunaan pasir bukan tanpa sebab. Pasir mampu meratakan panas ke seluruh permukaan kulit kacang tanpa membuatnya gosong seketika. Hasilnya adalah kacang yang matang merata hingga ke bagian dalam, memberikan sensasi rasa gurih yang bersih tanpa meninggalkan jejak minyak di tenggorokan.
Kini, seiring mendekatnya hari kemenangan, volume produksi Syaifullah meningkat berkali-kali lipat. Jika pada hari biasa ia hanya mengolah sekitar 50 hingga 90 kilogram kacang, saat ini angka tersebut melonjak tajam hingga menyentuh angka 200 kilogram per hari demi memenuhi pesanan pelanggan.
“Hari ini saja kami sudah menggoreng sekitar 160 kilogram,” ungkapnya dengan peluh yang membasahi dahi, namun senyum kepuasan tetap mengembang di wajahnya. Peningkatan produksi ini menjadi berkah tahunan yang selalu ia syukuri bersama keluarga dan para pekerjanya.

Kepopuleran kacang goreng pasir buatan Syaifullah ternyata sudah melampaui batas wilayah Jombang. Pelanggannya tersebar mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, hingga Banyuwangi. Bahkan, pesanan dari wilayah Jawa Tengah pun rutin berdatangan melalui jasa pengiriman maupun diambil langsung oleh para pemudik.
Untuk masalah harga, Syaifullah tetap mematok angka yang kompetitif di tengah tingginya permintaan. Kacang jenis hibrida yang berukuran lebih besar dibanderol dengan harga Rp 40.000 per kilogram. Sementara itu, untuk varian kacang lokal yang tak kalah gurih, ia menjualnya dengan harga Rp 37.000 per kilogram.
Tak heran jika omzet yang diraupnya pun ikut melesat tajam. Di momen menjelang lebaran seperti saat ini, perputaran uang di rumah produksi sederhana itu bisa mencapai Rp 7 juta hingga Rp 8 juta dalam sehari. Angka yang sangat fantastis untuk bisnis berskala rumah tangga di tingkat desa.
Bagi warga sekitar, kacang goreng pasir Selorejo bukan sekadar camilan, melainkan memori tentang suasana lebaran di masa lalu. Kehadiran kacang ini di atas meja tamu seolah menjadi pelengkap wajib yang menyatukan obrolan keluarga saat silaturahmi berlangsung.
Meski zaman terus berubah dan aneka kue modern bermunculan, Syaifullah membuktikan bahwa produk tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Di tangan dinginnya, butiran pasir sungai berubah menjadi ladang rezeki yang gurih, serenyah kacang yang ia hasilkan setiap pagi.



