SURABAYA, TELUSUR.ID – Gerbong kepemimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur periode 2025-2030 resmi dinakhodai oleh duet Bagus Prasetia Lelana sebagai Ketua dan Muhammad Syadid sebagai Sekretaris. Menariknya, kedua pucuk pimpinan baru ini merupakan figur yang tidak menjabat sebagai anggota legislatif (non-aleg) maupun pejabat publik.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena dinilai berbeda dengan tren kepengurusan pada periode sebelumnya, di mana posisi strategis biasanya diisi oleh anggota dewan. Di saat partai politik lain umumnya menempatkan kepala daerah atau legislator di kursi ketua dan sekretaris, PKS Jatim justru memilih jalan yang berbeda.
Fakta unik ini mendapat respons positif dari pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdus Salam. Menurutnya, absennya jabatan publik pada diri kedua pimpinan tersebut justru menjadi keuntungan tersendiri bagi internal partai dalam lima tahun ke depan.
Surokim menilai, dengan tidak menjabat sebagai aleg maupun kepala daerah, Bagus dan Syadid dapat mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk membesarkan partai. Fokus tunggal ini dianggap krusial dalam menggerakkan roda organisasi agar lebih efisien dan terarah.
“Ketua dan Sekretaris DPW tidak harus selalu dari kalangan aleg atau eksekutif. Yang paling penting adalah bagaimana mereka bisa melayani dan membersamai kader agar menjadi energi besar untuk membesarkan partai,” ujar Surokim di Surabaya, Selasa (10/3/2026).
Wakil Rektor III UTM ini menambahkan, ada risiko bagi pimpinan partai yang merangkap jabatan di pemerintahan atau parlemen. Secara otomatis, perhatian pimpinan akan terbagi antara tanggung jawab kepartaian dan kewajiban pelayanan publik di luar struktur partai.

Bila konsentrasi terbelah, Surokim khawatir jalannya mesin partai akan melambat dan kurang responsif terhadap dinamika politik yang cepat. Hal ini seringkali menjadi tantangan bagi partai-partai yang pimpinannya memiliki beban kerja ganda di ranah legislatif maupun eksekutif.
“Saya kira tanpa beban di luar partai, duet Bagus – Syadid bisa bekerja lebih progresif, adaptif, dan responsif dalam menghadapi tantangan politik ke depan,” tambah pria yang juga dikenal sebagai Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC) tersebut.
Lebih lanjut, Surokim mengingatkan bahwa relevansi visi kepemimpinan menjadi kata kunci utama di era yang serba cepat. Pimpinan partai dituntut memiliki visi yang kuat agar kebijakan partai tetap selaras dengan kebutuhan konstituen dan perubahan zaman.
Surokim juga melihat adanya nilai tambah dari sisi representasi wilayah yang dimiliki duet ini. Bagus berasal dari Tulungagung yang mewakili basis massa Mataraman, sementara Syadid berasal dari Lumajang yang mewakili karakteristik wilayah Tapal Kuda.
“Variabel geografis ini merupakan nilai plus karena memperkuat basis demografis, sosiologis, hingga psikologis rasional partai. Hal ini sangat penting untuk memperluas jangkauan dukungan di berbagai pelosok Jawa Timur,” tegas alumni santri Pondok Pesantren Langitan, Tuban tersebut.
Sebagai catatan penutup, Surokim menekankan bahwa tantangan utama kedua pemimpin ini adalah mempertahankan identitas PKS sebagai partai yang terbuka. Konsistensi dalam merangkul berbagai elemen masyarakat akan menjadi penentu keberhasilan duet non-legislatif ini dalam menjaga tren positif partai di Jawa Timur.



