JOMBANG, TELUSUR.ID -MAN 4 PP. Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, menerima kunjungan dari Pesantren Mahasantri An-Najah Purwokerto. Kunjungan ini bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman dalam bidang pendidikan dan pengembangan kelembagaan.
Kegiatan yang digelar di Gedung KH. Bisri Syansuri lantai 3 ini menitikberatkan pada penguatan motivasi hidup mahasantri serta pengenalan pendekatan pembelajaran dan kurikulum berbasis cinta.
Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, Mohammad Rokib, menyampaikan bahwa kunjungan ini tidak sekadar silaturahmi, akan tetapi menjadi ikhtiar mempertemukan mahasantri dengan lingkungan pendidikan yang dinilai berhasil membangun karakter dan arah hidup murid.
“Kunjungan ke MAN 4 Jombang ini dilandasi niat silaturahmi dan berbagi ilmu. Kami ingin para mahasantri mendapatkan motivasi langsung dari lingkungan pendidikan yang telah berpengalaman membina karakter dan prestasi,” ujar Mohammad Rokib, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, mahasantri perlu memiliki orientasi hidup yang jelas supaya mampu menata masa depan secara matang tanpa kehilangan pijakan nilai.
“Mahasantri harus punya arah hidup. Kesuksesan bukan hanya soal capaian, tetapi bagaimana nilai-nilai keislaman tetap menjadi pegangan dalam setiap prosesnya,” tuturnya.
Kepala MAN 4 Jombang, Moh. Ilyas menekankan bahwa pendidikan harus mampu menyiapkan murid menghadapi realitas kehidupan melalui proses panjang dan berkesinambungan.

Menurutnya, kesuksesan tidak datang secara instan. Yakni, Ia dibentuk oleh niat yang lurus, proses yang konsisten, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar serta memperbaiki diri.
“MAN 4 Jombang terus mendorong ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menanamkan karakter, etos kerja, dan keberanian bermimpi pada murid,” tuturnya.
Pembahasan kemudian diperkuat melalui materi pembelajaran dan kurikulum berbasis cinta yang disampaikan oleh Waka Kurikulum, Didik Pratikno. Pendekatan ini menempatkan hubungan manusiawi antara pendidik dan murid sebagai fondasi utama proses belajar.
“Kurikulum berbasis cinta menempatkan murid sebagai manusia utuh, bukan sekadar objek belajar. Pendidikan harus menghadirkan rasa aman, empati, dan keteladanan,” terang Didik.
Dia menegaskan, pembelajaran yang berangkat dari cinta akan melahirkan pemahaman yang lebih dalam dan berdampak jangka panjang.
“Ketika cinta menjadi dasar pembelajaran, maka ilmu tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
MAN 4 PP Mambaul Maarif Denanyar Jombang menilai kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat peran lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman melalui kolaborasi dan pertukaran gagasan.



