JOMBANG, TelusuR.ID – Ketika ratusan siswa SMPN 1 Kabuh mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang Agus Purnomo tidak memilih menunggu laporan dari balik meja.
Ia turun langsung ke Puskesmas Kabuh.
Agus datang untuk memastikan para siswa yang diduga menjadi korban mendapatkan penanganan medis dengan cepat. Di sana, ia tidak hanya menerima laporan dari tenaga kesehatan, tetapi menemui langsung para siswa dan orang tua yang masih mendampingi anak-anak mereka.
Bagi Agus, persoalan tersebut pertama-tama menyangkut keselamatan anak.
Sebanyak 256 siswa SMPN 1 Kabuh terdata mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Rabu (2/9/2026). Sebanyak 71 siswa sempat mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Di Puskesmas Kabuh, Agus menghampiri salah seorang siswi yang masih menjalani perawatan.
“Bagaimana rasanya sekarang?” tanya Agus.
“Agak mendingan, Pak,” jawab siswi tersebut.
Agus kembali memastikan kondisi korban.
“Masih mual, pusing dan diare?”
“Untuk saat ini mual dan diarenya sudah tidak, Pak. Tapi masih lemas dan agak pusing,” jawabnya.
Percakapan sederhana itu menggambarkan perhatian Agus terhadap kondisi korban. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan benar-benar mendapatkan penanganan, bukan sekadar menjadi angka dalam laporan kejadian.
Turun Mendengar Langsung Keluhan Korban
Agus juga berdialog dengan orang tua siswa yang mendampingi anaknya.
Ia ingin mengetahui secara langsung bagaimana kondisi korban setelah mengonsumsi makanan MBG dan kapan keluhan kesehatan mulai muncul.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai kejadian yang dialami para siswa.
Saat berbincang dengan salah seorang siswi, Agus kemudian menanyakan kondisi makanan ketika dibagikan.
“Bagaimana kondisi makanannya waktu itu ketika dibagikan?” tanyanya.
Siswi tersebut menyebut salah satu menu yang menurutnya memiliki kondisi berbeda.
“Ya, udangnya agak bau, Pak,” jawabnya.
Keterangan tersebut langsung menjadi perhatian Agus.
Namun, ia tidak serta-merta menyimpulkan udang sebagai penyebab gangguan kesehatan. Dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Agus justru membawa informasi dari korban tersebut untuk ditelusuri lebih jauh kepada pihak yang bertanggung jawab terhadap penyediaan makanan.
Kepala SPPG Ditanya Langsung
Agus kemudian meminta penjelasan kepada Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangunan, Kecamatan Kabuh.
“Mas, Kepala SPPG, udang itu datang jam berapa? Apa sudah dipastikan kondisinya masih segar atau tidak?” tanya Agus.
Pertanyaan itu menyoroti hal mendasar dalam penyediaan makanan untuk anak-anak: bagaimana bahan pangan diterima, diperiksa, disimpan, diolah hingga akhirnya disajikan kepada penerima manfaat.
Sebab, keamanan makanan tidak boleh hanya menjadi formalitas.
Setiap bahan yang masuk ke dapur SPPG harus dipastikan memenuhi standar sebelum diolah dan dibagikan.
Apalagi makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak dalam jumlah besar.

“Kasihan Pak Presiden, Program Baik Jangan Dirusak”
Di hadapan pengelola SPPG, Agus menyampaikan pesan yang lebih tegas.
Ia meminta seluruh pihak yang terlibat tidak main-main dalam menjaga kualitas pelaksanaan MBG.
“Anda ini sebagai perwakilan BGN di SPPG harusnya menjaga program prioritas Presiden. Kasihan Pak Presiden. Karena kejadian seperti ini akhirnya dicela banyak orang,” ujar Agus.
Menurutnya, MBG merupakan program baik yang memiliki tujuan besar untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak.
Karena itu, persoalan dalam pelaksanaan tidak boleh dibiarkan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.
“Ini program baik dan harus dijaga pelaksanaannya,” tegas Agus.
Ia juga menaruh perhatian besar pada dampak yang dialami para siswa.
“Kasihan anak-anak ini jadi korban,” ujarnya.
Pernyataan Agus sekaligus menegaskan bahwa membela program MBG bukan berarti menutup mata terhadap persoalan di lapangan.
Justru sebaliknya.
Program yang baik harus dikawal dengan pengawasan yang baik. Ketika muncul persoalan, pemerintah harus hadir memastikan korban tertangani sekaligus mencari sumber masalah agar tidak terulang.
Tidak Berhenti di Puskesmas
Setelah memastikan kondisi siswa di Puskesmas Kabuh, Agus tidak langsung mengakhiri kunjungannya.
Ia memilih melanjutkan penelusuran ke dapur SPPG Mangunan.
“Sudah, habis ini kita sidak ke dapur SPPG-nya. Kita lihat sarana dan prasarananya layak apa tidak,” ujar Agus.
Sidak tersebut menjadi langkah lanjutan untuk melihat secara langsung proses penyediaan makanan MBG.
Kondisi dapur, sarana dan prasarana, kebersihan, penyimpanan bahan makanan hingga proses pengolahan menjadi bagian yang perlu diperiksa.
Bagi Agus, penanganan kejadian ini tidak boleh berhenti ketika siswa sudah mendapatkan obat dan diperbolehkan pulang.
Sumber persoalan juga harus dicari.
Jika ditemukan kelemahan dalam proses pelaksanaan, maka harus segera diperbaiki.
Soroti Variasi Menu
Dalam dialog dengan siswa, Agus juga menyinggung persoalan variasi menu MBG.
Ia bertanya apakah siswa pernah mendapatkan menu daging sapi.
“Pernah dapat menu daging sapi apa tidak, Nak?” tanya Agus.
“Pernah sih, Pak, tapi sudah lama,” jawab siswi tersebut.
Agus kemudian mempertanyakan frekuensi pemberian menu tersebut.
Menurut Agus, berdasarkan keterangan BGN dalam pertemuan melalui Zoom sebelumnya, menu daging sapi seharusnya dapat disediakan secara berkala, kurang lebih dua minggu sekali.
“Nah, ini,” kata Agus kepada pihak SPPG.
Bagi Agus, pemenuhan gizi tidak berhenti pada tersedianya makanan setiap hari. Komposisi, kualitas, keamanan dan variasi menu juga harus diperhatikan.
Keselamatan Anak Tetap yang Utama
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Sampel makanan telah diambil, termasuk udang berbumbu, nasi, sayuran dan pepaya. Sampel air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan juga diperiksa.
Seluruh sampel akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber persoalan.
Kepolisian juga melakukan penelusuran terhadap distribusi makanan dan meminta keterangan dari pihak sekolah maupun pengelola SPPG.
Di tengah proses tersebut, Agus Purnomo menunjukkan sikap yang berbeda dari sekadar menunggu hasil pemeriksaan.
Ia datang ke tempat para korban dirawat, mendengarkan keluhan mereka, berbicara dengan orang tua, meminta penjelasan pengelola SPPG, lalu bergerak memeriksa dapur penyedia makanan.
Langkah itu menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak ingin persoalan kesehatan ratusan siswa hanya berhenti sebagai berita atau laporan administratif.
Anak-anak harus dipastikan sehat terlebih dahulu. Setelah itu, seluruh proses harus dievaluasi.
Dan di atas semuanya, Agus ingin agar persoalan ini tidak mengaburkan tujuan besar MBG.
Program pemenuhan gizi tersebut merupakan program yang baik dan menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, kualitas pelaksanaannya justru harus semakin diperketat.
“Program baik jangan dirusak.”
Pesan itu menjadi garis tegas Agus: MBG harus tetap dijaga, tetapi keselamatan anak-anak tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar untuk mempertahankan sebuah program.
Sebab program yang baik hanya akan benar-benar dirasakan manfaatnya apabila setiap makanan yang sampai ke tangan anak-anak terjamin bergizi, aman dan layak dikonsumsi.