Jacob Ereste:
Diskusi ForJis Ba’da Jum’at, 7 Agustus 2026: Sungguhkah Akan Ada Kerusuhan?
Banten,TelusuR.ID – Pagar-pagar tinggi yang mendadak berdiri mengelilingi pusat-pusat perbelanjaan dan sejumlah gedung perbankan di berbagai kota di Pulau Jawa sejak Juli 2026 telah melahirkan banyak tafsir. Bagi sebagian orang, ia hanya konstruksi biasa untuk menata lalu lintas, mengatur jalur ojek daring, sekaligus memperkuat sistem pengamanan kawasan. Namun bagi yang lain, pagar itu menjadi simbol dari kecemasan yang diam-diam sedang tumbuh.
Bukankah setiap pagar selalu lahir dari rasa khawatir? Tidak ada tembok yang dibangun tanpa alasan, sebagaimana tidak ada ketakutan yang muncul tanpa bayangan yang menghantuinya. Karena itu, ketika pagar-pagar menjulang lebih tinggi daripada biasanya, publik pun mulai bertanya: adakah sesuatu yang sedang diantisipasi?
Pihak APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia) telah memberikan penjelasan bahwa pembangunan pagar tersebut semata-mata dilakukan untuk kepentingan penataan kawasan dan pengamanan. Penjelasan itu tentu layak dihormati. Akan tetapi, dalam kehidupan sosial-politik, persepsi masyarakat sering kali berjalan lebih cepat daripada klarifikasi yang disampaikan.
Kesan adanya keresahan itu semakin menarik perhatian ketika Gubernur DKI Jakarta meminta agar pagar-pagar tersebut segera dibongkar karena situasi Ibu Kota dipastikan aman. Sebagian pagar pun akhirnya dibuka kembali untuk memberikan ruang kepada pejalan kaki. Sementara di sejumlah kota lain seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Bandung, Atlantika Institut Nusantara mengaku masih belum memperoleh informasi yang memadai mengenai kondisi serupa.
Sesungguhnya, yang lebih penting bukanlah pagar itu sendiri, melainkan suasana batin bangsa yang tercermin melalui berbagai respons terhadapnya. Sebab sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa keresahan kolektif sering kali lebih berbahaya daripada benda-benda yang menjadi simbolnya.
Menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, bulan Agustus semestinya menjadi ruang bersama untuk merayakan persatuan, bukan memperbesar prasangka. Karena itulah kolaborasi lintas elemen—PPJNA 98, Majelis Shalawat Cahaya Nusantara, Sinergi Media Merah Putih, dan Rumah Literasi Merah Putih—menggelar “Gema Agustus Berzikir dan Bershalawat untuk Keberkahan dan Keselamatan Negeri.” Sebuah ikhtiar spiritual yang mengingatkan bahwa bangsa ini dibangun bukan hanya oleh kekuatan politik, tetapi juga oleh doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.
Membaca Al-Qur’an, melantunkan shalawat, dan menghidupkan zikir secara berjamaah bukan sekadar ritual keagamaan. Ia merupakan upaya merawat keseimbangan batin, menghadirkan keteduhan di tengah hiruk-pikuk kehidupan politik yang kerap dipenuhi kegaduhan. Ketika ruang publik dipenuhi berbagai spekulasi, ruang spiritual justru mengajak manusia kembali kepada kejernihan nurani.
Namun demikian, kegelisahan yang berkembang di tengah masyarakat tetap menjadi bahan perbincangan. Atas dasar itulah sejumlah aktivis yang tergabung dalam Api Perubahan Indonesia di bawah koordinasi M. Nur Lapong, SH, akan menggelar diskusi bertajuk “Pertarungan Politik dalam Skenario Rencana Kerusuhan Bulan Agustus.” Forum tersebut dijadwalkan berlangsung ba’da Salat Jumat, 7 Agustus 2026, di Coffee Mas Miskun, Jalan Percetakan Negara Nomor 15, Paseban, Jakarta.
Diskusi itu menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Dr. Muzakkir Djabir selaku Staf Ahli DPD RI, Amur Hamzah sebagai pengamat kebijakan dan intelijen, Buyung Ishak, SH dari Aktivis UI Bangkit, Agung Marsudi selaku Direktur Duri Institut, serta Sopian Kasim, SH., MH dari Kelompok Studi Wawasan Nusantara. Forum tersebut dimaksudkan sebagai ruang bertukar pandangan atas dinamika politik yang berkembang, bukan untuk menegaskan adanya peristiwa yang pasti akan terjadi.
Adapun polemik mengenai pembangunan pagar permanen di kawasan Tunjungan, Surabaya, sebelumnya diberitakan berkaitan dengan kebutuhan pengamanan ketika berlangsung aksi demonstrasi di sekitar Gedung Negara Grahadi. Peristiwa itu kemudian memunculkan beragam penafsiran yang berkembang di ruang publik.
Pada akhirnya, pertanyaan yang patut diajukan bukanlah apakah kerusuhan akan benar-benar terjadi, melainkan apakah bangsa ini telah cukup dewasa untuk tidak mudah digiring oleh rasa takut, isu, dan prasangka.
Sebab sejarah Indonesia tidak pernah kekurangan orang yang pandai menciptakan kegaduhan. Yang selalu dibutuhkan justru lebih banyak warga negara yang mampu merawat akal sehat, menahan diri dari kesimpulan yang tergesa-gesa, serta mengedepankan dialog daripada permusuhan.
Jika memang Agustus adalah bulan kemerdekaan, maka kemerdekaan berpikir dan kejernihan hati adalah perayaan yang paling layak dipertahankan.
Banten, 5 Agustus 2026