Total Politik Jombang Hadirkan Ruang Dialog, Dorong Masyarakat Memahami Politik secara Utuh
JOMBANG,TelusuR.ID – Di tengah derasnya arus informasi dan menguatnya polarisasi di ruang publik, upaya meningkatkan literasi politik masyarakat dinilai semakin penting. Berangkat dari kebutuhan tersebut, sejumlah pegiat media, komunitas, dan pemerhati politik di Kabupaten Jombang menggagas Total Politik Jombang Part 1, sebuah forum diskusi publik yang dirancang sebagai ruang dialog terbuka untuk membangun pemahaman politik yang lebih utuh, kritis, dan berimbang.
Kegiatan tersebut akan digelar pada Minggu, 5 Juli 2026, pukul 19.19 WIB, di Omah The Kian Lauw, Jombang. Berbeda dengan forum politik yang cenderung formal, diskusi ini dikemas melalui konsep ngopi, cangkruk, dan membaca bersama agar masyarakat lebih leluasa berdialog tanpa sekat.
Tiga narasumber akan berbagi perspektif dalam forum tersebut, yakni Gus Didin, pemerhati kebijakan publik; Gus Misbah, tokoh masyarakat sekaligus politisi; serta Prov Sean, konsultan politik. Ketiganya akan mengulas berbagai isu politik lokal maupun nasional dari sudut pandang yang berbeda sehingga peserta dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Salah satu penggagas kegiatan, Edy Musyadad, mengatakan ruang diskusi yang sehat merupakan salah satu kebutuhan mendasar dalam kehidupan demokrasi. Menurut dia, masyarakat memerlukan forum yang tidak hanya menyampaikan informasi politik, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghargai keberagaman pandangan.
“Politik tidak seharusnya dipahami hanya sebagai perebutan kekuasaan atau kontestasi elektoral. Politik adalah ruang untuk membicarakan kepentingan publik, mencari solusi bersama, dan memperkuat kesadaran sebagai warga negara. Karena itu, masyarakat membutuhkan ruang dialog yang terbuka, bukan ruang yang dipenuhi prasangka,” ujar Edy.
Ia menjelaskan, Total Politik Jombang lahir dari semangat menghadirkan budaya diskusi yang lebih sehat di tengah masyarakat. Forum ini tidak dibangun untuk kepentingan kelompok atau afiliasi politik tertentu, melainkan sebagai wadah bertemunya berbagai gagasan yang dapat diperdebatkan secara rasional dan saling menghormati.
Menurut Edy, rendahnya literasi politik kerap membuat masyarakat terjebak pada informasi yang parsial, bahkan disinformasi. Karena itu, ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai perspektif menjadi penting agar publik mampu melihat persoalan secara lebih utuh sebelum mengambil sikap.
“Kami ingin masyarakat datang bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk mendengar, membaca persoalan dari berbagai sisi, kemudian membangun kesimpulan secara mandiri. Demokrasi akan tumbuh lebih sehat ketika masyarakat memiliki tradisi berdiskusi dan berpikir kritis,” katanya.
Forum ini mengusung slogan “Ngopi Bareng, Cangkruk Bareng, Membaca Bareng untuk Memahami Politik Secara Utuh.” Slogan tersebut mencerminkan upaya penyelenggara menghadirkan politik sebagai ruang belajar bersama yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang eksklusif atau hanya menjadi konsumsi kalangan elite.
Komitmen itulah yang menjadi salah satu alasan berbagai media dan komunitas turut memberikan dukungan terhadap kegiatan ini. Di antaranya duta.co, Telusur ID, Times Indonesia, KR 53 Broadcast, DPP KNPI Jombang, Marhaen Project Jombang, dan Coffee Sofie. Kolaborasi lintas unsur tersebut diharapkan mampu memperluas ruang partisipasi publik sekaligus memperkuat budaya berdialog di tingkat lokal.
Untuk menjaga kualitas interaksi, panitia membatasi peserta sebanyak 30 orang. Seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini tanpa dipungut biaya, dengan tetap mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan penyelenggara.
Melalui Total Politik Jombang Part 1, penyelenggara berharap lahir ruang diskusi yang berkelanjutan dan mampu memperkuat kualitas demokrasi dari tingkat akar rumput. Sebab, demokrasi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh penyelenggaraan pemilu, melainkan juga oleh hadirnya warga yang memiliki literasi politik, terbuka terhadap perbedaan, serta aktif berpartisipasi dalam kehidupan publik.
Bagi penyelenggara, politik pada akhirnya bukan semata tentang kekuasaan, melainkan instrumen untuk menghadirkan pelayanan, pengabdian, dan kemaslahatan bagi masyarakat. Dari semangat itulah Total Politik Jombang diharapkan menjadi ruang bersama untuk merawat nalar publik dan memperkuat budaya demokrasi yang lebih dewasa.



