Sejarawan Jombang Cak Arif Soroti Biografi Bung Karno, Nilai Ada Kekeliruan Substansial Soal Tahun Kelahiran
JOMBANG,TelusuR.ID – Perdebatan mengenai tahun kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, kembali mengemuka. Di tengah kuatnya narasi yang selama puluhan tahun bersumber dari buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams, muncul kajian baru yang mengajak publik meninjau kembali sumber-sumber sejarah berdasarkan dokumen primer.
Sorotan itu datang dari peneliti dan pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto atau yang lebih dikenal sebagai Cak Arif. Selama bertahun-tahun, ia menelusuri arsip, dokumen administrasi, hingga jejak perjalanan pendidikan Bung Karno. Baginya, sejarah harus dibangun di atas bukti tertulis yang dapat diverifikasi, bukan semata-mata bertumpu pada narasi biografi.
Menurut Cak Arif, buku Penyambung Lidah Rakyat yang terbit pertama kali pada 1966 memang memiliki nilai penting sebagai karya biografis. Namun, ia menilai buku tersebut tidak dapat ditempatkan sebagai rujukan tunggal, terlebih jika isinya bertentangan dengan dokumen-dokumen primer yang memiliki kekuatan historis lebih tinggi.
Ia menunjuk sedikitnya dua dokumen penting. Pertama, surat tulisan tangan ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, yang mencantumkan tanggal kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1902. Kedua, arsip administrasi saat Bung Karno mendaftar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS)—kini Institut Teknologi Bandung (ITB)—yang memuat data kelahiran serupa.
Bagi Cak Arif, kesesuaian dua dokumen yang berasal dari periode berbeda itu memperkuat validitas data sehingga layak menjadi pijakan utama dalam kajian sejarah.
Sebaliknya, ia menyoroti salah satu narasi dalam buku Cindy Adams yang menyebut adanya upaya ayah Bung Karno memudakan usia putranya agar memenuhi syarat perpindahan sekolah dari Ongko Siji ke Europeesche Lagere School (ELS) di Mojokerto.
Menurut Cak Arif, bagian tersebut justru menyimpan persoalan kronologis yang patut dipertanyakan.
“Dalam buku itu terdapat dialog yang menyebut Bung Karno berkata, ‘umur saya sudah empat belas’. Jika dicocokkan dengan perjalanan pendidikan Bung Karno, keterangan tersebut tidak sinkron. Baik menggunakan asumsi tahun kelahiran 1901 maupun 1902, pernyataan itu tetap menyisakan persoalan dalam urutan waktunya,” ujar Cak Arif, Sabtu (4/7/2026).
Ia menjelaskan, pada usia sekitar 14 tahun Bung Karno telah menempuh pendidikan di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya, sedangkan kisah mengenai rencana memudakan usia disebut terjadi ketika Soekarno masih bersekolah di Mojokerto. Perbedaan kronologi itu, menurutnya, menjadi indikasi bahwa narasi tersebut perlu dikaji ulang secara lebih kritis.
Tak hanya itu, Cak Arif juga menilai belum ditemukan dokumen resmi yang membuktikan adanya perubahan usia Bung Karno secara administratif. Karena itu, kisah dalam buku tersebut dinilainya lebih merupakan tuturan biografis yang belum ditopang bukti tertulis.
Analisis Cak Arif tidak berhenti pada persoalan tahun kelahiran. Ia juga menyoroti sejumlah fase penting kehidupan Bung Karno yang dinilai belum mendapat ruang memadai dalam buku tersebut, khususnya masa ketika Soekarno tinggal dan bersekolah di Ploso, Jombang, serta Sidoarjo.
Menurutnya, jejak tersebut memiliki dasar historis yang jelas, baik melalui pengakuan Bung Karno sendiri maupun dokumen penugasan ayahnya sebagai pegawai pemerintah pada masa itu.
“Fase Bung Karno di Ploso dan Sidoarjo merupakan bagian penting dalam pembentukan perjalanan hidupnya. Sayangnya, bagian itu tidak banyak mendapat perhatian dalam buku tersebut, padahal tersedia data yang dapat ditelusuri,” kata Cak Arif.
Atas dasar itu, Cak Arif mengingatkan bahwa penulisan sejarah seharusnya selalu terbuka terhadap temuan baru dan verifikasi ulang. Ia menilai sebuah karya biografi, sekalipun populer dan berpengaruh, tetap perlu diuji dengan dokumen primer apabila ditemukan perbedaan data.
“Sejarah bukan sesuatu yang beku. Ketika ada dokumen primer yang dapat diverifikasi, maka dokumen itulah yang semestinya menjadi pijakan utama. Jangan sampai generasi mendatang menerima satu narasi tanpa ruang untuk menguji dan mengkritisinya berdasarkan bukti,” ujar Cak Arif.
Bagi Cak Arif, upaya meluruskan data bukan dimaksudkan untuk meruntuhkan karya biografi yang telah lama dikenal publik. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab akademik agar perjalanan sejarah bangsa semakin akurat, utuh, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi berikutnya.



