Lawan Pragmatisme Politik, Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU di Jombang Serukan Kebudayaan Sebagai Panglima

0
7 views
Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.id – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur melayangkan refleksi kritis mengenai kondisi sosiopolitik bangsa saat ini. Lesbumi mengingatkan kembali pentingnya elemen masyarakat untuk pulang kepada akar tradisi Nusantara dan berani memposisikan kebudayaan sebagai panglima kehidupan.

Ketua Lesbumi PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, menilai bahwa selama ini panggung politik praktis terlampau mendominasi hajat hidup masyarakat dan menjebak generasi muda ke dalam pola pikir pragmatis. Langkah Lesbumi merebut kembali jargon “kebudayaan sebagai panglima” menjadi antitesis atas dominasi politik dan ekonomi faksi Orde Baru hingga era Reformasi.

Pandangan mendalam tersebut diutarakannya menjelang pembukaan agenda akbar Muktamar Kebudayaan Indonesia yang diinisiasi oleh Lesbumi PBNU. Hajatan kebudayaan nasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada 12–14 Juni 2026 di Universitas Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

“Politik sebagai panglima yang menjadi gejala sosial sejak Reformasi belum bergeser menjadikan kebudayaan sebagai arah perbaikan bangsa di tengah krisis moral. Terbukti, makin merajalelanya kasus korupsi dan perilaku tak mengindahkan adab menjangkiti kehidupan kita,” tutur Riadi Ngasiran dalam keterangannya diterima Telusur.id Jumat (12/6/2026).

Menurut pengamat sejarah pergerakan Islam ini, makna kembali ke akar budaya menjadi kian darurat akibat adanya fenomena generasi muda yang tercerabut dari nilai bangsanya sendiri. Padahal, khazanah lokal seperti Islam yang melekat erat dengan tradisi Jawa, Melayu, Sunda, Bugis, hingga Banjar, adalah modal utama kemajuan peradaban.

Riadi mengenang keberhasilan forum serupa, yakni Muktamar Sastra Indonesia 2018 di Sukorejo Situbondo, yang mampu mempertemukan tokoh lintas iman dan etnis seperti KH Mustofa Bisri hingga Zawawi Imron. Ia berharap muktamar di Jombang tahun ini mampu meniru kesuksesan tersebut dalam melahirkan pemikiran yang jernih dan genial.

Sesuai rencana organisasi, Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 ini akan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Forum ini dipastikan menarik perhatian publik karena menghadirkan kombinasi pembicara lintas sektoral, mulai dari kalangan intelektual, agamawan, seniman, hingga para politikus nasional.

Di sisi lain, perhelatan akbar ini juga bertepatan dengan momentum sakral peringatan satu abad lahirnya salah satu tokoh muassis (pendiri) Lesbumi, Asrul Sani, yang jatuh pada 10 Juni 2026. Ketua Lesbumi PBNU, KH Muhammad Jadul Maula, menyebut momentum ini sangat pas untuk menggali ulang pemikiran besar sang maestro.

“Bukan semata-mata figurnya, tapi kita ingin menggali lagi pemikiran kebudayaan Asrul Sani yang sampai sekarang sebetulnya masih sangat relevan. Beliau merumuskan bahwa kebudayaan dalam NU adalah sarana mendidik manusia yang ditopang tiga pilar utama: agama, ilmu pengetahuan, dan seni,” urai Kiai Jadul.

Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak Bantul ini menegaskan bahwa ketiga pilar peninggalan Asrul Sani tersebut wajib berjalan secara selaras, seimbang, dan tidak saling meniadakan. Dari garis filosofis itulah, sudut pandang dan karakter kebudayaan Nahdlatul Ulama yang ramah serta membumi dapat dilihat secara utuh.

Sementara itu, panitia lokal kegiatan, Ki Wasis, menambahkan bahwa muktamar tiga hari ini sengaja dirancang terbuka untuk umum. Forum ini mempertemukan ulama, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif sebagai oase penyegar di tengah kondisi himpitan ekonomi masyarakat yang sedang mengalami kesumpekan.

Aktivitas muktamar pun dikemas interaktif dan tidak monoton, di mana selain seminar juga digelar pameran pusaka, kaligrafi, pertunjukan ludruk, tari topeng, hingga macapatan. Guna menjamin kelancaran acara, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Jombang juga telah menyatakan kesiapan penuh menerjunkan tim medis di lokasi.

Dipilihnya kampus Unwaha Tambakberas sebagai lokasi utama bukan tanpa alasan strategis, melainkan karena kampus dinilai ideal sebagai “dapur peracik seni-budaya”. Lesbumi berharap, luaran dari muktamar ini mampu mendorong fungsi ribuan masjid di Indonesia agar tidak sekadar menjadi tempat ibadah formalitas belaka.

Masjid-masjid di tanah air didorong bertransformasi menjadi pusat ilmu, seni, dan kebudayaan Islamis yang hidup, sehingga mampu mengentaskan umat dari belenggu kemiskinan kultural maupun struktural. Ruh tradisi masa kemerdekaan inilah yang ingin dihidupkan kembali agar Indonesia mampu menjadi mercusuar peradaban dunia.

Melalui keteguhan pada akar tradisi dan nilai spiritual, Lesbumi optimistis Muktamar Kebudayaan ini melahirkan rumusan jenius yang aplikatif bagi umat. Rumusan tersebut nantinya akan menjadi panduan strategis dalam menjalankan misi amar ma’ruf nahi munkar yang mengedepankan etika, moral, dan akhlak mulia.

Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 di Jombang ini pada akhirnya bukan sekadar seremoni keagamaan dan kebudayaan tahunan. Ini adalah ikhtiar kultural Nahdlatul Ulama untuk memastikan bahwa menjelang momentum Indonesia Emas, seni dan budaya tetap berdiri kokoh sebagai benteng jati diri bangsa yang majemuk.

Tinggalkan Balasan