Kontroversi Tempat Lahir Bung Karno: Guru Besar Unas Dukung Maklumat Rakyat Ploso Jombang

0
27 views
Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.id — Perdebatan mengenai sejarah tempat kelahiran Proklamator RI, Ir. Soekarno, kembali mencuat ke publik. Gelombang dukungan terhadap pelurusan sejarah ini terus mengalir, salah satunya datang dari kalangan akademisi senior yang meminta agar fakta-fakta historis baru tidak diabaikan oleh negara.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Prof. Dr. Drs. Adv. Ganjar Razuni, S.H., M.Si., secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap Maklumat Rakyat Kabupaten Jombang. Maklumat ini secara khusus disuarakan oleh masyarakat Kecamatan Ploso yang meyakini bahwa Bung Karno lahir di tanah mereka.

Menurut Prof. Ganjar, klaim bahwa Bung Karno lahir di Ploso, Karesidenan Soerabaia, pada 6 Juni 1902 bukanlah tanpa dasar yang jelas. Gerakan masyarakat ini didukung oleh sederet dokumen historis dan arsip otentik yang berhasil dihimpun oleh para peneliti dan pemerhati sejarah.

“Dukungan ini didasarkan pada arsip-arsip otentik, di antaranya adalah buku stambuk Mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS/ITB) periode 1915–1925,” ujar Prof. Ganjar yang juga merupakan alumni SMPP/SMA 2 Jombang tahun 1983 tersebut dalam keterangan tertulis diterima Telusur.kd, Selasa (30/6/2026).

Selain stambuk perkuliahan Bung Karno, bukti kuat lainnya merujuk pada surat mutasi dinas Ayahanda Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo. Dokumen dari Pemerintah Hindia Belanda itu mencatat perpindahan tugas dinas dari Singaraja, Bali, menuju Ploso, Surabaya.

Bukti-bukti ini kian diperkuat oleh keterangan langsung dari Ayahanda Bung Karno semasa hidupnya. Tidak hanya itu, tim peneliti juga mengumpulkan sumber primer berupa kesaksian faktual dari sosok-sosok yang berkaitan langsung dengan masa balita Bung Karno di Jombang.

Jejak masa kecil Sang Fajar di Ploso bahkan dipertegas dengan keberadaan bukti makam dari tokoh-tokoh yang mengasuhnya sewaktu balita. Di wilayah ini pula, Soekarno kecil diketahui sempat mengenyam pendidikan dasar di sekolah rakyat Ongko Loro (Angka Dua).

Menanggapi adanya resistensi dari beberapa pihak, Prof. Ganjar menegaskan bahwa sejarah memiliki sifat yang dinamis. Sejarah akan selalu menuliskan dirinya sendiri seiring berjalannya waktu, sehingga penemuan fakta-fakta baru di masa kini adalah hal yang sangat lumrah.

Bagi sang akademisi, upaya untuk menyeragamkan atau menunggalkan satu versi fakta sejarah merupakan tindakan yang keliru. Ia menilai sikap tertutup terhadap temuan baru sebagai langkah yang anti-sejarah dan sama sekali tidak mencerminkan prinsip ilmiah.

“Sejarah tidak akan pernah bisa dibungkam. Karena sejarah memiliki kemampuannya sendiri untuk menuliskan kebenaran, meskipun coba ditutupi oleh kekuasaan atau dogma tertentu,” tegas Prof. Ganjar.

Kontroversi ini kian menarik ketika Prof. Ganjar menceritakan pengalamannya saat menghadiri sebuah acara formal di Jombang. Jelang pembukaan acara, ia mendengar langsung pernyataan dari seorang tokoh terkemuka setempat mengenai lokasi kelahiran Bung Karno.

Tokoh tersebut menyatakan bahwa tempat lahir Bung Karno sudah mutlak berada di Kota Surabaya dan tidak bisa diubah lagi. Alasan yang digunakan sang tokoh adalah karena narasi tersebut diklaim telah menjadi bagian dari Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (TAP MPR RI).

Mendengar argumen tersebut, Prof. Ganjar mengaku hanya bisa terheran-heran di dalam hati. Sebagai seorang Guru Besar, ia menilai ada kekeliruan logika hukum dan sejarah yang fatal dalam pola pikir tokoh terkemuka di Jombang tersebut.

Namun, demi menjaga etika dan wibawa sang tokoh di hadapan figur publik lainnya yang hadir, Prof. Ganjar memilih untuk tidak langsung menyanggah argumentasi tersebut secara terbuka di lokasi acara.

Ia merasa kasihan jika harus mematahkan argumen itu di depan umum dengan menjelaskan bahwa kelahiran seorang tokoh bangsa tidak bisa diatur atau dipatenkan secara mutlak oleh produk hukum seperti TAP MPR. Ia menduga sang tokoh telah mendapatkan masukan yang menyesatkan.

Oleh karena itu, Prof. Ganjar mengimbau sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat Jombang untuk tidak ragu-ragu. Ia meminta gerakan moral ini terus bergulir demi meluruskan sejarah bahwa Bung Karno lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

“Mari kita terus gulirkan Maklumat Rakyat Jombang ini tanpa ada keraguan. Mari kita buat petisi dan penggalangan tanda tangan secara terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah dan kultural kita kepada sejarah bangsa,” pungkasnya memotivasi masyarakat.

Tinggalkan Balasan