Gerakan Pilah Sampah Jakarta Dapat Apresiasi, Dinilai Jadi Langkah Nyata Ubah Budaya Pengelolaan Limbah
JAKARTA – Upaya membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya mulai mendapat perhatian berbagai kalangan. Gerakan pemilahan sampah terpadu melalui program Jaga Jakarta Bersih dan Asri yang digagas Polda Metro Jaya dinilai menjadi langkah konkret dalam mendorong perubahan pola pikir masyarakat terhadap persoalan sampah perkotaan.
Program yang dicanangkan pada 23 Mei 2026 tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap kebijakan pengelolaan sampah berbasis energi terbarukan. Pelaksanaannya melibatkan jajaran Polda Metro Jaya, Polres, hingga Polsek dengan mendorong penerapan sistem pemilahan sampah di lingkungan kerja masing-masing.
Koordinator Komrad Pancasila, Antony Komrad, mengapresiasi sinergi yang dibangun antara Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengampanyekan gerakan pilah sampah. Menurut dia, langkah tersebut menyentuh akar persoalan pengelolaan sampah, yakni kebiasaan masyarakat dalam memilah dan mengelola limbah sejak dari sumbernya.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan keterlibatan aparat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk membangun budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan,” kata Antony dalam keterangannya.
Menurut dia, kehadiran institusi kepolisian dalam kampanye lingkungan menunjukkan bahwa konsep keamanan publik saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketertiban dan penegakan hukum, tetapi juga mencakup kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.
“Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan bagian dari kualitas hidup warga kota. Karena itu, upaya membangun kesadaran ekologis menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Antony menilai dukungan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DKI Jakarta menjadi faktor penting agar gerakan tersebut tidak berhenti di lingkungan internal institusi. Ia berharap kampanye pilah sampah dapat menjangkau kawasan permukiman, sekolah, pasar, perkantoran, rumah ibadah, hingga ruang publik lainnya.
Menurut dia, sinergi antara aparat keamanan dan pemerintah daerah dapat menjadi model kolaborasi dalam menghadapi berbagai persoalan perkotaan, termasuk pengelolaan sampah yang selama ini menjadi tantangan Jakarta.
Dalam pelaksanaannya, Polda Metro Jaya telah menyiapkan fasilitas tempat sampah terpilah untuk kategori organik, anorganik, dan bahan berbahaya serta beracun (B3). Program tersebut juga melibatkan ribuan personel dari berbagai satuan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
Antony menegaskan bahwa pemilahan sampah merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sampah anorganik dapat didaur ulang, sedangkan limbah B3 perlu dipisahkan agar tidak mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat.
“Pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang sekadar urusan mengangkut dan membuang. Sampah berkaitan dengan tata kelola kota, kesehatan publik, dan pengembangan ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” katanya.
Komrad Pancasila berharap program Jaga Jakarta Bersih dan Asri dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Menurut Antony, konsistensi edukasi, ketersediaan sarana pendukung, serta keteladanan para pemimpin akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program tersebut.
“Jika pemerintah, aparat, komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat bergerak bersama, Jakarta memiliki peluang besar menjadi kota yang tidak hanya modern dan produktif, tetapi juga bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.



