Jacob Ereste Sentil Pemerintah: Bangsa Bisa Kehilangan Peradaban Jika Seniman Terus Dibiarkan Miskin

0
5 views
Bagikan :

Jacob Ereste: Negara Sibuk Bangun Infrastruktur, Tapi Membiarkan Seniman dan Intelektual Hidup Pas-Pasan

JAKARTA,TelusuR.ID – Indonesia terus membanggakan pembangunan jalan tol, bendungan, kawasan industri, hingga proyek-proyek strategis bernilai triliunan rupiah. Namun di balik gegap gempita pembangunan fisik itu, ada kelompok yang selama ini seolah terlupakan: seniman, budayawan, penulis, peneliti, dan kaum intelektual yang justru menjadi fondasi peradaban bangsa.

Kritik keras itu mengemuka dari budayawan dan penulis Jacob Ereste yang menyoroti minimnya perhatian negara terhadap kesejahteraan pekerja kreatif dan intelektual. Menurutnya, Indonesia sedang menghadapi paradoks besar: negara ingin menjadi bangsa maju berbasis pengetahuan, tetapi membiarkan para produsen gagasan hidup dalam ketidakpastian ekonomi.

“Bagaimana mungkin negara ingin melahirkan karya-karya besar, inovasi, dan pemikiran cemerlang jika para penciptanya masih dipaksa memikirkan biaya hidup dari hari ke hari?” demikian substansi kritik yang mengemuka dalam seminar “Asrul Sani Dalam Dinamika Kebudayaan Indonesia” yang digelar Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI), Sanggar Pelakon, dan Perpustakaan Nasional di Jakarta, 10 Juni 2026.

Dalam forum itu, sosiolog Prof. Dr. Imam Prasodjo mengusulkan pembentukan yayasan atau foundation yang secara khusus menyediakan dukungan pendanaan bagi seniman, budayawan, penulis, dosen, dan peneliti. Gagasan tersebut langsung mendapat sambutan luas karena menyentuh persoalan yang selama ini dianggap tabu: kemiskinan di kalangan pekerja intelektual.

Fakta yang terungkap bahkan cukup menyentak. Imam Prasodjo mengaku pernah menyaksikan langsung banyak seniman mendatangi rumah penyair besar Taufik Ismail hanya untuk meminjam uang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sebuah kenyataan yang menunjukkan bahwa penghormatan terhadap karya seni di Indonesia sering berhenti pada pujian, bukan kesejahteraan.

Lebih ironis lagi, kondisi serupa juga dialami kalangan akademisi. Tidak sedikit dosen yang harus mengajar di beberapa kampus sekaligus, mengambil pekerjaan tambahan, bahkan menjalani aktivitas di luar profesinya demi menutupi kebutuhan ekonomi yang terus meningkat.

Jacob Ereste menilai keadaan ini sebagai alarm serius bagi masa depan bangsa. Menurutnya, negara terlalu sering memuji pentingnya sumber daya manusia unggul, bonus demografi, dan ekonomi kreatif, tetapi gagal menyediakan sistem perlindungan yang layak bagi mereka yang menjadi penggerak utama lahirnya ide, inovasi, dan kebudayaan.

“Bangsa ini tidak akan kekurangan gedung megah, tetapi bisa kehilangan para pemikir besar jika kondisi seperti ini terus dibiarkan,” tulis Jacob Ereste.

Ia menegaskan, banyak negara maju telah lama memiliki dana abadi kebudayaan dan riset untuk menjamin keberlangsungan hidup para pekerja kreatif. Negara-negara tersebut memahami bahwa karya besar tidak lahir dari ruang yang penuh kecemasan ekonomi.

Sebaliknya di Indonesia, para seniman, penulis, budayawan, dan peneliti masih harus berjuang sendirian. Mereka dipuji ketika menghasilkan karya, tetapi sering ditinggalkan saat menghadapi kesulitan hidup.

Karena itu, gagasan pembentukan yayasan atau dana abadi bagi pekerja kreatif dan intelektual dinilai bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sebuah urgensi nasional. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya nasib para seniman atau dosen, melainkan masa depan kualitas peradaban Indonesia.

Pertanyaannya kini sederhana: apakah negara akan terus menggelontorkan triliunan rupiah untuk pembangunan fisik, sementara para pencipta gagasan yang membangun jiwa bangsa dibiarkan bertahan hidup dengan cara mereka sendiri?

Tinggalkan Balasan